• Edisi Nopember 2017
  • Edisi Oktober 2017
  • Edisi September 2017
  • Edisi Agustus 2017
  • Edisi Juli 2017
  • Edisi Juni 2017
  • Edisi Mei 2017
  • Edisi April 2017
  • Edisi Maret 2017
  • Edisi Pebruari 2017
  • Edisi Januari 2017
  • Edisi Desember 2016
  • Edisi Nopember 2016
  • Edisi Oktober 2016
  • Edisi September 2016
  • Edisi Agustus 2016
  • Edisi Juli 2016
  • Edisi Juni 2016
  • Edisi Mei 2016
  • Edisi April 2016
  • Edisi Maret 2016
  • Edisi Februari 2016
  • Edisi Januari 2016
  • Edisi Desember 2015
  • Edisi November 2015
  • Edisi Oktober 2015
  • Edisi September 2015
  • Edisi Agustus 2015
  • Edisi Juli 2015
  • Edisi Juni 2015
  • Edisi Mei 2015
  • Edisi April 2015
  • Edisi Maret 2015
  • Edisi Februari 2015
  • Edisi Januari 2015
  • Edisi Desember 2014
  • Edisi November 2014
  • Edisi Oktober 2014
  • Edisi September 2014
  • Edisi Agustus 2014
  • Edisi Juli 2014
  • Edisi Juni 2014
  • Edisi Mei 2014
  • Edisi April 2014
  • Edisi Maret 2014
  • Edisi Pebruari 2014
  • Edisi Januari 2014
  • Edisi Desember 2013
  • Edisi Nopember 2013
  • Edisi Oktober 2013
  • Edisi September 2013
  • Edisi Agustus 2013
  • Edisi Juli 2013
  • Edisi Juni 2013
  • Edisi Mei 2013
  • Edisi April 2013
  • Edisi Maret 2013
  • Edisi Pebruari 2013
  • Edisi Januari 2013
  • Edisi Desember 2012
  • Edisi Nopember 2012
  • Edisi Oktober 2012
  • Edisi September 2012
  • Edisi Agustus 2012
  • Edisi Juli 2012
  • Edisi Juni 2012
  • Edisi Mei 2012
  • Edisi April 2012
  • Edisi Maret 2012
  • Edisi Pebruari 2012
  • Edisi Januari 2012
  • Edisi Desember 2011
  • Edisi Nopember 2011
  • Edisi Oktober 2011
  • Edisi September 2011
  • Edisi Agustus 2011
  • Edisi Maret 2010
  • Kembali
Majalah Gembala GKJ Nehemia Online

Quo Vadis Toleransi?

Picture
Pendahuluan
Toleransi adalah suatu sikap saling menghormati dan menghargai antar kelompok atau antar individu dalam masyarakat atau dalam ruang lingkup lainnya. Sikap toleransi menghindarkan terjadinya diskriminasi sekalipun banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatu kelompok masyarakat. Contoh sikap toleransi secara umum antara lain: menghargai pendapat dan/atau pemikiran orang lain yang berbeda dengan kita serta saling tolong-menolong untuk kemanusiaan tanpa memandang suku/ras/agama/kepercayaannya.
 
Istilah toleransi mencakup banyak bidang. Salah satunya adalah agama. Toleransi beragama merupakan sikap saling menghormati dan menghargai penganut agama lain. Diantaranya adalah:
1. Tidak memaksakan orang lain untuk menganut agama kita.
2. Tidak mencela/menghina agama lain dengan alasan apapun.
3. Tidak melarang ataupun mengganggu umat agama lain untuk beribadah sesuai agama dan kepercayaannya.
Dalam kehidupan bermasyarakat, tumbuhnya sikap toleransi menimbulkan hidup yang damai saling berdampingan serta menghindarkan permusuhan (wikipedia)

Kata “quo vadis” berasal dari bahasa latin yang artinya: “kemana kamu pergi?” Ini adalah pertanyaan yang diajukan oleh rasul Petrus kepada Yesus saat akan keluar dari Roma (Yohanes 13: 36). Perkataan “quo vadis” yang akhirnya mendunia termasuk pemakaiannya di Indonesia telah diterima secara umum. Hanya saja konteks penggabungan dengan kata-kata yang lain meluas ke segala aspek sehingga artinya menjadi agak sedikit melenceng. Misalnya, “quo vadis” impor beras?. Yang kalau diartikan “mau kemana impor beras?, bandingkan misalnya kalau, “quo vadis” demokrasi?.  Namun pemakaian “quo vadis” bisa diterima generasi milenial mungkin karena agak keren atau gaul kedengarannya. Tulisan berikut ini adalah tentang toleransi kebebasan beragama/berkeyakinan (KBB), definisi, penyebab terjadinya intoleransi serta jalan keluarnya, dan kondisi KBB di Indonesia. 
 
Pengertian toleransi
Definisi toleransi telah cukup lengkap ditulis di pendahulan tetapi yang perlu ditambahkan adalah sikap menahan diri, sabar, dan lapang dada terhadap orang-orang yang memiliki pendapat berbeda. Sikap toleran tidak berarti harus membenarkan pandangan yang berbeda, tetapi lebih dititik beratkan mengakui kebebasan serta hak-hak asasi manusia. Jadi secara umum pengertian toleransi adalah sikap yang membiarkan orang lain berpendapat atau melakukan hal yang tidak satu ide dengan diri kita, tanpa kita intimidasi apalagi teror terhadap orang ataupun kelompok tersebut. Pada umumnya terdapat dua contoh toleransi yaitu: Toleransi agama/kepercayaan dan toleransi sosial. Toleransi agama adalah sikap menghormati keberadaan agama atau kepercayaan yang dianut oleh masyarakat tanpa melihat posisinya sebagai mayoritas atau minoritas didalam suatu Negara. Menjamin kenyamanan melaksanakan ibadah tanpa diganggu atau intimidasi adalah sikap utama dalam toleransi agama. Toleransi sosial adalah sikap menjaga kedamaian dalam masyarakat yang majemuk. Berbagai latar belakang etnis dan suku bangsa tidak membuat orang harus bermusuhan hanya karena berbeda adat dan kebiasaan. Sikap rasialis adalah musuh utama toleransi sosial. Lihat saja pertikaian minoritas dan mayoritas dalam suatu Negara dan tumbuh suburnya rasialisme mengakibatkan perpecahan, bahkan yang paling parah adalah pembersihan etnis atau genosida. 

Mengapa terjadi intoleransi
Mengapa sampai terjadi orang-orang dengan agama yang berbeda membenci satu  sama lain? Dalam banyak hal intoleransi disebabkan oleh ketidaktahuan. Ketidaktahuan dan intoleransi ini seringkali diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, terutama oleh orang yang mempunyai otoritas baik didalam keluarga maupun masyarakat (misalnya orang tua, guru, kepala suku, ulama, dan lain-lain). Ketidaktahuan kadang berujung pada ketakutan; ketakutan berujung pada kebencian; dan akhirnya kebencian menimbulkan kekerasan.
Agama Yahudi, Kristen, dan Islam percaya pada Tuhan yang sama, tetapi mereka juga percaya akan hal-hal lain tentang Tuhan ini. Mereka seperti anak-anak yang berkelahi memperebutkan mainan yang sama, dan masing-masing mengklaim kepemilikan Tuhan yang eksklusif sebagai kebenaran. Ketika agama-agama sangat berbeda total, maka tidak ada sesuatu untuk diperebutkan karena masing-masing memiliki doktrin yang berbeda. Contoh agama Budha dan Shinto di Jepang hidup berdampingan dengan damai karena sangat berbeda satu sama lain. Terkadang lucu juga bila melihat orang Jepang yang kalau meninggal dimakamkan secara Budha, tetapi kalau melahirkan atau perkawinan secara agama Shinto. Agama Budha tidak memberikan banyak perayaan saat pernikahan, demikian pula Shinto tidak memberi banyak alternatif untuk ritual pemakaman. Dalam kasus semacam ini orang bisa menganut dua agama tergantung kebutuhannya, jadi seperti seorang anak yang memiliki dua mainan. Tidak seperti dua atau tiga anak berkelahi untuk memperebutkan satu mainan.
Ketika tiga agama cucu Abraham yang juga disebut sebagai agama samawi ini saling berkompetisi dalam konflik ideologis yang seringkali berujung pada konflik fisik. Orang tidak tahu apapun tentang agama lain, tetapi bisanya hanya beranggapan bahwa agama lain beda dan tidak benar alias salah. Orang cenderung melihat apa yang ingin dilihat, dan mendengar apa yang ingin didengar, sehingga akhirnya agama dijadikan tuhannya; memonopoli kebenaran; dan mengklaim bahwa kunci surga dan neraka ada ditangan mereka.
 
Kebebasan beragama/berkeyakinan (KBB) di Indonesia
Keragaman ras dan agama: Siapakah penduduk asli pribumi di Indonesia? Sebuah pertanyaan yang bakal menimbulkan pertanyaan yang lain. Seorang Anis Baswedan pun, tidak akan mampu mendefinisikan pribumi secara tepat karena ia sendiri nenek moyangnya bukan berasal dari bumi Nusantara. Indonesia yang merupakan bagian terbesar dari Nusantara terdiri dari berbagai macam suku bangsa yang mendiami ribuan pulau. Bila ditarik ke jutaan tahun yang lalu, profil manusia purba di Indonesia sangat berbeda dengan manusia modern Indonesia masa kini. Diperkirakan ras yang berkembang di Nusantara adalah berasal dari Afrika kemudian ke bermigrasi ke Asia
(teori “out of Africa”). Asal-usul agamapun demikian, tidak ada agama yang asli Indonesia. Agama atau kepercayaan orang Indonesia kuno kemungkinan besar adalah penganut animisme dan dinamisme. Setelah orang mengenal literasi barulah agama-agama yang kita kenal saat ini muncul kepermukaan. Itupun tidak ada yang asli Indonesia, karena semua di impor dari luar negeri.

Toleransi yang memudar: Almarhum Gus Dur saat menjadi presiden pernah akan membubarkan Departemen Agama, karena menurut beliau Departemen Agama lebih cocok disebut Departemen satu agama. Beliau yang sangat menjunjung tinggi toleransi sudah merasakan toleransi yang mulai memudar di masyarakat saat itu, dan kini semakin menjadi-jadi ketika agama sudah dijadikan komoditas politik. Kita bisa lihat sendiri dalam beberapa tahun terakhir, para politisi maupun konsultan politik sering menggunakan peta penganut agama untuk memobilisasi pemilih. Kampanye politik mulai dari yang katanya “santun” sampai yang vulgar seperti isu “ayat dan mayat” semakin membuat toleransi menjadi barang langka. Mungkin suatu saat nanti kita harus mengucapkan selamat tinggal toleransi KBB.

Indeks toleransi di Indonesia: Pemerintah Indonesia bersama-sama rakyat selama ini sangat aktif mempromosikan toleransi KBB, baik yang tertuang dalam kebijakan, pernyataan resmi maupun membangun budaya toleransi di masyarakat. Namun demikian kasus intoleransi masih saja terjadi karena ada sebagian masyarakat yang alergi terhadap perbedaan, misalnya dengan melakukan tindakan seperti pembiaran, kriminalisasi keyakinan, atau penyesatan. Bahkan tindakan intoleran juga dilakukan oleh pejabat publik dan tokoh masyarakat. Toleran terhadap intoleran juga merupakan bentuk dari intoleransi itu sendiri, dan ini nyata dihadapan kita.
Penelitian yang dilakukan oleh Setara Institut sejak 3 Agustus sampai 13 November 2015 menghasilkan indeks toleransi KBB di tingkat perkotaan. Indeks ini dilakukan dengan menggunakan skala 1 sampai 7. Satu untuk nilai paling toleran dan tujuh untuk nilai terburuk.
Dari hasil penelitian didapat kota Pematang Siantar, Salatiga, Singkawang, Manado, dan Tual merupakan kota paling toleran dengan skor masing-masing 1,47. Disusul kota Sibolga, Ambon, Sorong, Pontianak dan Palangkaraya dengan skor masing-masing 1,59. Sedangkan kota paling tidak toleran berada di Bogor (5,21), Bekasi (4,68), Banda Aceh(4,58), Tangerang (4,26), Depok(4,26), Bandung(4,16), Serang (4,05), Mataram(4,05), Sukabumi(4,05), Banjar(4,05) dan Tasikmalaya (4). Terlihat bahwa dari sebelas kota yang paling tidak toleran sembilan diantaranya terdapat di Jawa Barat.
Di tingkat propinsi, Jawa Barat menduduki posisi teratas yang kerap melakukan pelanggaran KBB, disusul oleh DKI, Jawa tengah, Jawa timur, dan Bangka Belitung. Papua tercatat sebagai propinsi dengan indeks kerukunan umat beragama tertinggi tahun 2016. Dalam Laporan Tahunan Kehidupan Keagamaan di Indonesia yang dikeluarkan Kementerian Agama indeks di Papua mencapai 75,97. Sulawesi Utara berada di posisi kedua dengan skor 75,59.

Memulihkan toleransi
Telah sering diajarkan bahwa toleransi dimulai dari rumah dengan orang tua dan anak-anak. Tetapi bagaimana bila orang tua sendiri tidak mempunyai sikap toleran? Bagaimana membuat orang dewasa yang tidak toleran menjadi lebih toleran? Ada beberapa cara menghadapi orang dewasa yang tidak toleran:
  1. Kita bisa menjadi model sikap toleran dengan perilaku kita dan cara kita berbicara
  2. Kita dapat berbagi kepada orang lain apa yang kita ketahui tentang agama yang mungkin tidak mereka ketahui. Sedikit pelajaran dapat membuat orang berpikir dua kali tentang apa yang mereka asumsikan. Kita bisa mulai dengan: “tahukah anda bahwa ………..” atau “anda akan kaget bila mendengar bahwa……..”
  3. Kita juga bisa mendengar dengan serius perspektif mereka, mencoba untuk mengerti apa yang mereka rasakan dan apa yang mereka lakukan. Ini menunjukkan rasa hormat kita kepada mereka sehingga diharapkan mereka menjadi lebih terbuka untuk mendengar ucapan kita. Dengan demikian akan terjadi dialog, sehingga bibit toleransi yang telah kita sebarkan akan bersemi di pihak mereka.
Penutup
Sungguh naif bila manusia masa kini yang tidak mengalami sendiri dan hanya mendengar atau membaca tentang sejarah agama-agama dimasa lalu saling bertikai untuk membela kebenaran yang ia sendiri tidak tahu. Misalnya, semua agama memiliki konsep tentang surga yang berbeda-beda, tetapi tidak ada seorangpun didunia ini yang meninggal kemudian hidup lagi dan mampu menceritakan dan membuktikan bahwa disurga ada pesta seks. Hanya orang-orang tidak bernalar saja yang mempercayai hal-hal seperti ini, dan sungguh bodoh bila mempertentangkan perbedaan, karena yang namanya perbedaan sampai kapanpun tetap berbeda. 
Kasus intoleransi yang terjadi di Indonesia dari tahun ketahun telah menambah daftar masyarakat kita yang toleransinya telah luntur dan semakin egosentris. Hal ini menjadi semakin parah dengan mempolitisasi agama untuk kepentingan kekuasaan. Seperti keharusan bahwa yang mayoritas harus menjadi pemimpin tanpa memandang unsur kemampuan dan kompetensi. Kejadian seperti di London dimana walikotanya seorang muslim memimpin kota yang mayoritas Kristen agaknya masih menjadi angan-angan dan pertanyaan: “Quo vadis“ toleransi masih tetap relevan. 
 “Tidak seorangpun lahir untuk membenci orang lain karena warna kulit, latar belakang, atau agama. Jika orang bisa membenci, tentu mereka bisa mengasihi, karena secara alamiah, kasih hadir dalam hati manusia”-Nelson Mandela. Alfred Bawole. Batu, 20 Oktober 2017.

Toleransi dengan Kasih

Picture
“Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi  celakalah orang yang mengadakannya.” ( Luk 17 : 1)
Toleransi merupakan sikap saling menghormati, menghargai, pengertian,  tenggang rasa, dengan tidak memaksakan kehendak pribadi , dapat memahami pola pikir dan sikap dari pihak lain, tetapi mungkin tidak mengamini sehingga perlu berdasarkan kasih. Dalam segala dimensi kehidupan baik di keluarga, masyarakat, berbangsa dan bernegara, bahkan dalam pergaulan internasional toleransi  senantiasa dibutuhkan, namun setiap pribadi mempunyai prinsip-prinsip tentang kebenaran dan keadilan dengan sudut pandang yang berbeda sehingga tanpa toleransi akan timbul gesekan-gesekan dan ketegangan serta bisa terjadi konflik yang membahayakan, sekali lagi toleransi dengan kasih akan mencapai solusi yang berkenan bagi  Allah dan bagi kita semua. Oleh karena itu judul tersebut di atas perlu kita bahas, dengan diawali dengan toleransi dengan kebaikan, kesabaran, pengampunan,. kerendahan hati, kesopanan, kemurahan dan kejujuran, serta tolensi terhadap intoleran. Kritik dan saran yang membangun sangat dinantikan demi kelengkapan materi pembahasan.

TOLERANSI DENGAN KEBAIKAN
Kebaikan bisa dilakukan sebagai individu atau komunitas / persekutuan, secara individu kita pasti mempunyai pengalaman untuk bertoleransi dengan kebaikan terhadap anggota keluarga, tetangga, atau  dalam berinteraksi  dalam kehidupan nyata. Sebagai contoh kesalahan yang dilakukan oleh anggota keluarga tidak perlu dibesar-besarkan tetapi secara bijakasana kita perbaiki  tanpa terjadi keributan walaupun hal itu terjadi berulang-ulang, dengan tetangga pasti sering terjadi kesalahpahaman tentang parkir, sampah, kebisingan, kebocoran rumah dan hal ini senantiasa timbul dalam waktu yang sangat lama  tetapi diperlukan sikap yang baik tanpa henti, dalam berinteraksi dengan sesama pasti kita sering berbuat kesalahan atau orang lain merugikan kita, sehingga perlu kebaikan secara lisan, atau pengorbanan demi solusi bersama. Secara komunitas / persekutuan baik dalam masyarakat atau gereja toleransi dengan kebaikan harus senantiasa dinyatakan dengan pemikiran dan sikap nyata agar hubungan bersama semakin harmonis dan visi, misi kita dapat tercapai tanpa adanya perselisihan yang berkepanjangan.

TOLERANASI DENGAN KESABARAN
Kesabaran berarti menerima ketidaksempurnaan orang lain, hanya tekad untuk mengasihilah yang akan membuat  kita dapat mengembangkan kesabaran di dunia dewasa ini. Semua orang sedang dalam proses untuk menjadi lebih baik dengan melatih kesabaran kita, kesabaran mengharuskan kita melihat orang lain sebagaimana kita ingin dilihat. Tidak semua orang bergerak sesuai dengan prioritas kita, dan kita harus menerima  elemen manusia itu sebagai kenyataan dari hubungan dan memasukkan kenyataan itu  dalam pengharapan kita terhadap orang lain. Ketika seseorang  bersikap tidak sabar terhadap kita, anggaplah itu sebagai  kesempatan  untuk bersikap sabar terhadapnya. Memilih untuk sabar dapat menjadi salah satu pilihan yang paling efektif yang dapat kita buat. Tetapi jika kita ingin mengasihi orang lain, kita perlu bersabar dengan diri kita sendiri, oleh karena itu kesabaran harus berfokus kepada masalah, bukan kepada orangnya.

TOLERANSI DENGAN PENGAMPUNAN
“Pengampunan bukanlah tindakan sekali-kali, itu adalah sikap yang permanen.” (Martin Luther King)
Pengampunan menggunakan kejujuran, belas kasihan, dan kesadaran diri untuk berdamai dengan seseorang yang telah menyakiti kita, dan pengampunan sejati dapat datang hanya ketika keadilan dan kasih bekerja bersama-sama, kita tidak dapat benar-benar mengampuni tanpa partisipasi dari orang yang menyakiti kita. Pengampunan saja tidak memulihkan kepercayaan, tapi tanpa pengampunan kepercayaan tidak dapat dipulihkan, kita harus berlatih dengan menyampaikan pengampunan dalam cara yang sederhana dan memberikan pengampunan terhadap kesalahan yang kecil karena tidak ada hubungan positif jangka panjang yang tetap ada tanpa pengampunan.

TOLERANSI DENGN KESOPANAN
Memperlakukan orang lain sebagai teman pribadi, dan setiap orang yang  kita temui  sangat berharga sehingga kesopanan pasti akan kita nyatakan. Ketika seseorang sedang bersikap kasar , kita perlu mengambil waktu sekitar satu menit untuk mempertimbangkan apa yang mungkin menjadi penyebabnya. Pesaing dari kesopanan adalah kesibukan, karena sibuk dan terburu-buru, gelisah, intensitas, intoleran, ketidakstabilan, pesimisme, bimbang, kekutiran, sehingga mengakibatkan ketidaksopanan.

TOLERANSI DENGAN KERENDAHAN HATI
“Saat kita berpikir telah  memiliki kerendahan hati, justru saat itulah telah kehilangannya.” (Bernard Meltzer)
Kerendahan hati berarti  mengesampingkan diri sendiri untuk menghargai dan meneguhkan nilai orang lain, dan kita perlu bahkan harus korbankan sesuatu yang berharga demi hubungan dengan seseorang. Pada saat  kita menerima kritik yang tidak adil, janganlah kita menyerang kembali, dan kita harus merenungkan untuk memikirkan kritik itu, dan bersedia belajar dari situasi itu, sehingga kelemahan kita dapat menjadi kekuatan ketika kita melihatnya melalui kerendahan hati.

TOLERANSI DENGAN KEMURAHAN
Kemurahan berarti memberikan diri kita kepada orang lain, dengan memberikan perhatian, waktu, kemampuan, uang, dan belas kasihan secara bebas kepada orang lain, semakin banyak kita memberi, semakin banyak kekayaan yang kita miliki, dan tingkatkan minimal satu prosen  pada tahun berikutnya dan setiap tahun berikutnya. Sedangkan pesaing dari kemurahan hati adalah agenda pribadi

TOLERANSI DENGAN KEJUJURAN
Kejujuran adalah menyingkapkan diri kita yang sebenarnya, dan konsiten dalam kata-kata, pemikiran dan perbuatan, dan harus menjadi kebiasaan untuk tidak mengatakan kebohongan  di tempat kerja,atau dengan teman-teman dan keluarga kita.

TOLERAN TERHADAP INTOLERAN
Mula-mula Tuhan Yesus dan murid-muridNya menggabungkan dengan synagoge  tetapi ditolak dan orang Yahudi naik darah, sikap toleran mengahadapi intoleran, sehingga  Tuhan Yesus mengasingkan diri  satu malam untuk berdoa kepada Bapa di surga dan menghasilkan organiaisi gereja di zaman Perjanjian Baru, dan pemangku  jabatan yang pertama  yaitu para rasul bertugas memberi dasar bentuk organisasi gereja, merekalah yang menyaksikan Tuhan Yesus, melihat dengan mata mereka sendiri . mendengar dengan telinga mereka sendiri tentang hidup, sengsara, kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus. Kita semua terikat kepada kesaksian mereka. Kedudukan mereka dalam gereja hanya mempunyai satu dasar, satu alas.

TOLERANSI DENGAN KASIH
Kita wajib toleran dengan kasih, tetapi sering menghadapi toleran terhadap intoleran, sehingga kita perlu meneladani Tuhan Yesus yang mohon pimpinan Bapa di surga untuk mengatasinya, dengan persekutuan organisasi gereja  kita akan diberi kekuatan dan berkat untuk bisa toleran dengan prinsip kasih Bapa dengan menyatakan kebenaranNya, sehinggga Kerajaan Allah  senantiasa diberitakan, dan Amanat Agung untuk menjadikan segala bangsa menjadi muridNya dapat kita laksanakan dengan prinsip bahwa menjadi anak Allah adalah karya Roh Kudus, kita hanya menyampaikan bagi mereka yang dipanggilNya, Tuhan Yesus telah berkomitmen  kepada kita dan memulai pekerjaan yang baik bagi kita akan menyelesaikan masalah intoleran dengan karya penyelamatan di bukit Golgota sekali tetapi berkuasa untuk selamanya. Iman adalah kuncinya, kita berfokus pada kasihNya sehingga kita memiliki kehidupan yang dinamis dari Juruselamat  yang hidup di dalam kita, memampukan kita untuk menghidupi kehidupanNya di dunia ini. Oleh pekerjaan Kristus kita telah diubahkan  menjadi ciptaan baru yang disebut orang kudus, sehingga kita termotivasi menjalanii hidup secara kudus, dan identitas kita di dalam Kristus. “Dan karena kehendakNya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh pesembahan tubuh Yesus Kristus.” (Ibrani 10 : 10). Amin berarti benar dan pasti. JS/PI.

Toleransi a la YESUS Memberi Inspirasi Kemesraan dengan Umat Lain

Picture
Hidup Damai Saling Berdampingan
Indonesia sebagai negara majemuk sangat perlu menjaga dan merawat toleransi. Masyarakat pun punya peran vital dalam menjaga dan merawatnya. Dalam merawat toleransi, diperlukan sikap menghargai dan menghormati satu sama lain tanpa ada tendensi tertentu. Tujuan utama toleransi adalah hidup damai saling berdampingan. “Tolerance implies no lack of commitment to one’s own beliefs. Rather it condemns the oppression or persecution of others.” (John F. Kennedy, Presiden AS, 1917-1963)

Contoh kecil dan nyata toleransi itulah yang dikedepankan oleh beberapa gereja di lingkungannya:
  • GKJ Joyodiningratan, Sala dengan Masjid Al Hikmah. Sudah sejak lama kedua bangunan itu menampilkan perbedaan. Masing-masing bangunan tetap memperlihatkan simbol keyakinan keduanya; gereja menampakkan tanda salib berukuran cukup besar dan tinggi, sementara masjid menonjolkan kubah hijau dan bulan sabit bintang. Harmonisasi dua keyakinan dengan dua tempat ibadah berbeda itu dirawat sejak puluhan tahun lalu; gereja berdiri terlebih dahulu pada tahun 1939, mushola (akhirnya menjadi masjid) pada 1947. Sikap toleransi dilakukan saat dua umat beda keyakinan ini memang beberapa kali "bertabrakan" jadwal dalam kegiatan atau perayaan agama masing-masing.  Ketika Natal, jemaah masjid menghormati umat Kristiani yang sedang menggelar kebaktian Natal; salah satu caranya dengan tidak mengeraskan volume saat azan berkumandang. Karena memahami jika setiap Natal ada malam kebaktian, maka pihak masjid ternyata jauh hari sudah menggelar pengajian sebelum tanggal 24 Desember. Jadwal kebaktian pagi pukul 06.30 WIB pada hari Minggu ditiadakan, bila bersamaan dengan Sholat Idulfitri.
  • Sebuah potret toleransi antar-umat beragama ditunjukkan juga oleh sebuah desa di Kabupaten Karanganyar. Tiga tempat ibadah berbeda masjid Al Mu’min, gereja Sidang Jemaat Allah Pancaran Berkat, dan pura Agra Bhadra Darma, berdiri saling berdampingan. Komunikasi antar pemuka agama menjadi kunci toleransi di desa tersebut. Bangunan-bangunan tersebut berdiri di lahan tanah kas Desa Ngargoyoso sejak belasan tahun silam. Meski saling berdampingan, tak pernah terjadi gesekan antar umat beragama. Mereka hidup saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Kunci keharmonisan antara umat Islam, Kristen, dan Hindu ini adalah komunikasi antar pemuka agama.
  • Teladan Toleransi dari Kampung Sawah. Penghormatan beda agama warga Kampung Sawah di Kota Bekasi menyejukkan di tengah tren kekerasan berbasis agama. Bahkan sebelum Pancasila lahir, kehidupan di Kampung Sawah sudah rukun. Ciri khas dari Kampung Sawah adalah sikap toleransi beda agama antar-warganya, yang berkelindan dengan sejarah dan kisah keluarga. Sikap ini makin penting di tengah kecemasan naiknya tindakan pelarangan ibadah, termasuk diskriminasi dan aksi kekerasan, terhadap minoritas agama di Indonesia. Di sini bisa dijumpai tiga tempat ibadah tertua, satu sama lain jaraknya berdekatan : di antaranya Gereja Katholik Santo Servatius, Gereja Kristen Pasundan, dan Masjid Agung Al Jauhar, Yayasan Pendidikan Fisabilillah. Tak heran saat Magrib tiba, terdengar nyaris bersamaan lonceng gereja dan azan. Saat itu pula jemaah dari tiga agama mengisi bahu jalan; para pria dari umat Nasrani memakai peci hitam, baju koko, dan sarung, sementara para perempuannya memakai kerudung. Pakaian itu bukan simbol agama, ini kekhasan nasional. Orang Kampung Sawah dialeknya Betawi Ora, Betawi pinggiran.  Mereka rukun karena bersaudara secara keturunan dan sesama umat manusia. Tradisi Betawi di Kampung Sawah tidak ditemukan di tempat lain. Sistem marga dari garis bapak mengikat kekerabatan warga; yang berguna mencegah pernikahan antar-marga yang sama.

Sikap Kebersamaan Menghilangkan Diskriminasi

Toleransi merupakan cerminan satu “sikap” seseorang atau kelompok, untuk :
  • saling menghargai antar individu atau antar kelompok dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya.
  • suatu perbuatan yang melarang terjadinya diskriminasi sekalipun banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda dalam masyarakat.
  • saling menjaga perasaan atau saling menghormati, sikap yang tumbuh dari masing-masing individu memberikan nilai tersendiri apabila dia terjun ke masyarakat.
  • memberikan perlindungan pada kelompok minoritas dari kelompok-kelompok mayoritas, atau toleransi sosial yang mengajarkan agar kelompok mayoritas dalam suatu masyarakat menghargai kelompok minoritas
Dan lingkup toleransi bukan hanya pada satu bidang saja namun ada cukup banyak bidang atau lingkup yang membutuhkan sikap toleransi. Adanya toleransi ini akan menghilangkan diskriminasi terhadap kelompok atau golongan yang besar menguasai golongan yang kecil. Dalam masyarakat Indonesia, adanya toleransi sosial menimbulkan hidup yang saling berdampingan dan menghindari permusuhan masing-masing individu. Tanpa adanya toleransi maka di masyarakat bisa sering terjadi pertengkaran, perkelahian ataupun bisa saling mematikan kelompok satu dengan kelompok lainnya.

Toleransi Beragama dalam Pandangan Kristen
“Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan  matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (Mat. 5:45)

Umat Kristiani diajarkan untuk saling menghargai, mengasihi sesama dan berbuat baik pada mereka serta menolong mereka ketika dalam kesusahan, tapi sama sekali tidak dapat dilakukan ataupun menyetujui apa yang mereka pahami, menerima apa yang mereka katakan sebagai kebenaran, apalagi menyesuaikan ajaran agama Kristen dengan ajaran agama mereka. Kalau melakukan hal itu, itu bukanlah lagi “toleransi”,  melainkan “kompromi”.
Karena itu, selama masih ada kesempatan, marilah  berbuat baik kepada “semua orang”, tetapi terutama kepada kawan-kawan “seiman”. Kata “semua orang” itu menandakan bahwa di dalamnya juga termasuk adalah orang-orang yang tidak seiman. Jadi orang yang tidak seiman pun layak untuk mendapatkan perbuatan baik, walaupun bukanlah yang terutama.

“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai,   jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita   berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman”. (Gal. 6:9-10)

Sebagai contoh, misalnya: Yesus tidak menghukum ahli Taurat yang mengajarkan ajaran sesat, Yesus tidak menghukum mati orang-orang kafir yang Ia temui, Ia juga tidak memerintahkan hukuman mati bagi perempuan yang kedapatan berzinah,  padahal jelas Taurat memerintahkan itu. Dalam Perjanjian Baru, seorang ahli Taurat: lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” (Yoh. 8:4-5), dan dalam Perjanjian Lama ada tertulis: “Bila seorang laki-laki berzinah dengan isteri orang lain, yakni berzinah dengan isteri sesamanya manusia, pastilah keduanya dihukum mati, baik laki-laki maupun perempuan yang berzinah itu”. (Imamat 20:10).

Di negara Indonesia misalnya, mau tidak mau, suka tidak suka, orang Kristen hidup berdampingan dengan orang-orang dari berbagai agama dan kepercayaan. Dalam kondisi semacam ini adalah penting bagi orang Kristen untuk memikirkan bagaimana relasinya dengan orang-orang berkepercayaan lain. Toleransi antar umat beragama meyakini bahwa agamaku adalah agamaku, dan agamamu adalah agamamu. Dengan kata lain toleransi beragama adalah saling menghargai agama orang lain dan tidak boleh memaksakan orang lain untuk menganut agama kita. Serta kita tidak diperbolehkan untuk mengejek-ngejek ataupun mencela agama orang lain dengan alasan apapun karena sejatinya kita adalah sama-sama manusia.

Toleransi beragama adalah sikap bersedia menerima keanekaragaman dan kebebasan agama yang dianut dan kepercayaan yang dihayati oleh pihak atau golongan lain. Hal ini dapat terjadi karena keberadaan atau eksistensi suatu golongan, agama, atau kepercayaan, diakui dan dihormati oleh pihak lain. Pengakuan tersebut tidak terbatas pada persamaan derajat, baik dalam tatanan kenegaraan, tatanan kemasyarakatan maupun dihadapan Tuhan yang Esa, tetapi juga perbedaan-perbedaan dalam cara penghayatan dan peribadatannya yang sesuai dengan dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

Sikap Yesus Terhadap Orang Yang Ber-Agama Lain
Pada zaman-Nya, hampir setiap hari Yesus selalu bertemu dengan orang yang beragama lain : Yahudi, Samaria dan Kanani.  Yesus tidak pernah menyalahkan ajaran agama manapun, walaupun tentu Yesus tahu ada ajaran yang salah dalam agama orang yang Dia temui. Bukan hanya sekedar orang yang beragama lain yang Ia temui, tetapi juga tokoh pemimpin-pemimpinnya seperti Nikodemus, pemimpin Parisi, Saduki, dll. Disetiap pertemuan itu, Yesus bukan hanya berbasa-basi, bukan hanya sekedar bertemu, tetapi sebagai Rabbi, Yesus menyampaikan berbagai pengajaran, tegoran, pengharapan, dan bahkan pemikiran yang luar biasa terhadap orang yang beragama lain.

Yesus menghargai dan menghormati ajaran agama lain.
Sabda-Nya: “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya, sebelum lenyap langit dan bumi ini, satu iota, atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi (Mat. 5:17-18).

Terhadap ajaran agama Yahudi; walaupun Yesus bukan pengikut dan bukan penerus agama Yahudi, namun Yesus tetap menghargai dan menghormati ajaran agama Yahudi. Demikian juga ketika Yesus bertemu dengan perempuan Samaria, Yesus tidak menyalahkan agama Samaria. Tetapi ada sikap yang cerdas dari Yesus dengan cara selalu mengutip ajaran atau ayat kitab suci agama orang yang bersangkutan, agar melalui itu orang bersangkutan dapat menerima ajaran baru dari Yesus.

Yesus mengikuti adat kebiasaan Yahudi.
Dalam kehidupan sehari-hari, Yesus mengenakan jubah pakaian orang Yahudi, sehingga Dia tampil dan dikenal sebagi orang Yahudi. Yesus sering mengikuti pesta adat pernikahan orang Yahudi seperti pesta di kota Kana. Yesus juga mengikuti kebiasaan jamuan makan yang dilaksanakan menurut tradisi dan adat Yahudi. Dan yang paling khas, Yesus selalu mencuci kaki sebelum memasuki rumah orang yang menjamu-Nya, atau kaki-Nya dibiarkan dicuci oleh pemilik rumah yang akan menjamu-Nya. Semuanya itu merupakan tradisi adat Yahudi yang dilaksanakan dan diikuti Yesus. Demikian dalam memasuki synagogue, dan membaca kitab suci sebagai pertanda bahwa Yesus mengikuti tradisi keagamaan Yahudi, Yesus mengikuti  sebagian tradisi adat dan tradisi agama orang Yahudi. Yesus mau mengikuti adat dan tradisi tersebut karena Dia hidup di kalangan umat Yahudi. Tujuan Yesus mengikuti tradisi adat dan agama tersebut, supaya melalui kondisi orang Yahudi menerima ajaran-Nya. 

Yesus menentang dan menegor sebagian tradisi adat dan agama Yahudi.
Ternyata tidak semua tradisi adat dan agama Yahudi yang diikuti Yesus. Sebahagian dari tradisi adat dan keagamaan ditentang dan dikritik Yesus. Misalnya, kebiasaan puasa orang Yahudi tidak diikuti dan tak disetujui oleh Yesus dilakukan sesuai hukum agama Yahudi (Lukas 5: 35-39). Demikian juga dengan hukum Sabat, yang secara sengaja tidak diikuti oleh Yesus, karena pemahaman Sabat menurut agama Yahudi tidak disetujui oleh Yesus ( Lukas 6:1-11).

Yesus menawarkan ajaran yang lebih baik untuk diikuti orang Yahudi.
Yesus tidak pernah menyalahkan ajaran agama Yahudi, tetapi menghargai dan menghormati ajarannya. Dan Yesus menawarkan ajaran baru untuk menggenapi dan menyempurnakan ajaran agama Yahudi. Itulah sikap yang sangat bijak dan cerdas dari Yesus yang perlu ditiru oleh orang Kristen. Yesus datang bukan untuk menghancurkan agama Yahudi, tetapi untuk menggenapi dan menyempurnakannya.   Karena itu Yesus datang menawarkan keselamatan berdasarkan anugerah yang disediakan bagi semua orang yang beriman. Yesus datang menawarkan ajaran kasih dan anugerah yang beriman.
Pada masa kini, kita tidak boleh menyalahkan ajaran agama manapun, tetapi kita “menawarkan kesempurnaan Kristus bagi semua orang”. Keberadaan gereja yang berdampingan dengan umat beragama lain perlu dicontoh untuk ditumbuhkembangkan. Jika tak bisa mengakhiri perbedaan, setidaknya kita bisa membuat dunia ini aman bagi perbedaan. (John F. Kennedy). Agus Hardjanta.

ALLAH Berprakarsa Memberi Teladan Toleransi yang Sejati

Picture
“Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya:”Berilah Aku minum.” Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: ”Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta  minum kepadaku, seorang Samaria?” (Yoh.4:7,9 )                                                                                               
 
Keadaan di Padepokan Lebak Bulus kelihatannya dari luar telah normal kembali, setelah bulan lalu ada kegaduhan”Petruk dadi Ratu”. Kang Petruk telah dapat  dikendalikan, disadarkan akan jati dirinya sebagai kawula oleh Rama Semar. ”Kawula Iku Tanpa Wates, Ratu Kuwi Anane Mung Winates” tegas Rama Semar kepada anak yang ia kasihi. Kang Petruk duduk dilantai dengan seragam   penuh, maksudnya lengkap dengan pethel-nya, kapak kecil yang sangat penting bagi menunjang tugas-tugasnya, ia telah mendapatkan jati dirinya kembali untuk mengabdi dalam merealisasikan “Memayu Hayuning Bawana”, yaitu dengan melakukan hal-hal yang baik bagi kepentingan bersama, kepentingan bagi seluruh rakyat. Namun di dalam Pasewakan Agung terlihat Kanjeng Begawan Andreas Hutomo masih kelihatan murung tanpa sinar mata Beliau yang selalu bercahaya. Apa gerangan sebabnya?

“Nuwun sewu Kanjeng Begawan, saya telah melihat dengan mata kepala saya sendiri, bahwa spanduk berisi larangan pagelaran wayang kulit yang terpasang di sekitar Padepokan kita telah diturunkan” sela Gareng memecahkan kesunyian.
“Ya Kanjeng Begawan jangan bermuram durja seperti benci tapi rindu, nanti juga akan indah pada waktunya.” sergap Bagong nimbrung pembicaraan untuk menyemangati Sang Begawan.
“Eeee…mbegegeg ugeg-ugeg, haleluya cemara dhoyong. Thole Gareng dan Bagong wong Kanjeng Begawan sedang bersemedi menunggu wangsit dari Gusti Allah untuk mengatasi masalah yang gawat ini, kok malah diganggu ketenangannya.

Sebenarnya wayang kulit ini kan sudah digunakan sebelum kita merdika untuk media pemersatu dan silaturahmi, dan bahkan juga untuk mengabarkan Injil!
Kanjeng Begawan, saya usulkan untuk memanggil cantrik yang baru di Pesanggrahan Gembala, jongos Elieser, mantan abdi dalemnya Bopo Abraham, untuk menghadap Kanjeng Begawan guna menyampaikan titah Kanjeng Begawan kepada Panglima Alfred, supaya mensosialisasikan toleransi kepada seluruh anggota Padepokan tanpa kecuali.” usul Rama Semar.

“Benar sekali Kakang Semar, Temu Budayawan III GKJ yang akan diseleggarakan di Padepokan Mitra Kinasih Purworejo kan akan segera dilaksanakan. Padahal kita juga sudah memohon Ki Padmono SK untuk memandu rombongan dari Padepokan kita. Kalau gagal apa yang akan kita sampaikan kepada Sekum Sinode Bapa Pendita Aris Widaryanto? Ayo semua cancut tali wanda kita sukseskan acara yang sakral ini, jangan biarkan ada intoleransi di Padepokan kita ini.” sambut Kanjeng Begawan dengan sumringah.
 
Toleransi adalah warisan leluhur bangsa
Dimanapun kita dilahirkan di bumi pertiwi Nusantara ini, pasti kita merasakan kehangatan disekitarnya, ada tawa, ada canda, ada kegotong-royongan, tanpa batas, tanpa pandang muka. Mengapa demikian? Mantan presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama menyatakan dalam Konferensi Diaspora Indonesia ke-4 di Kota Kasablanka, Jakarta, Sabtu 1 Juli 2017, bahwa Toleransi di Indonesia sudah ada dan dipraktekkan oleh leluhur sejak ratusan tahun lalu. Toleransi  yang berkembang di tengah masyarakat majemuk adalah modal Utama bangsa Indonesia. Kata Obama selanjutnya, dengan modal Utama itu bangsa Indonesia dapat menjadi bangsa yang besar di masa depan. Obama mengamati toleransi sudah dipraktekkan oleh nenek moyang bangsa Indonesia, seperti Borobudur adalah candi umat Budha dan Prambanan adalah candi umat Hindu ditengah-tengah umat muslim yang mayoritas, tetap terpelihara dengan baik sampai sekarang. Dan bukan hanya candinya saja, tetapi juga kehidupan umatnya terpelihara dengan guyub dan rukun. Itulah bukti nyata dari toleransi di dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun rakyat Indonesia mayoritas beragama Islam, namun hari Jum’at bukan hari libur nasional, justru hari Minggu yang merupakan hari libur nasional, sehingga mereka yang beragama Kristen dapat menunaikan ibadahnya dengan tenang. Sebaliknya di Arab Saudi hari Jum’at sebagai hari libur nasional dan hari Minggu sebagai hari kerja. Obama mendorong agar bangsa Indonesia tetap mempertahankan tradisi toleransi ini yang dapat menjadikan Indonesia sebagai contoh bagi demokrasi dunia. Apa kita sanggup menanggapi tantangan Obama ini?
 
Ada Burung Gagak dan Onak Duri
Sebagai warga Negara dan warga Padepokan yang baik, kita bukan hanya sanggup, tetapi merupakan suatu keharusan untuk menjaga tradisi toleransi yang baik ini. Apakah itu mudah? Tentu saja tidak! Mengapa? Benih toleransi yang sangat baik dengan kwalitas unggul, bukan kawe-kawean, yang ditabur oleh Sang Penabur telah jatuh di tepi jalan, dan ada burung gagak yang memakannya. “Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis.” ( Luk.8:5 )

Benih toleransi itu bukan hanya habis, tetapi telah digantikan dengan benih baru yang dahsyatnya melebihi virus wannacry, Saracen, ransomware, dan virus-virus lainnya, yang bukan hanya menyerang 74 negara, tetapi di seluruh muka bumi. Virus macam apa itu? Munculnya virus intoleransi dalam bentuk timbulnya kelompok-kelompok radikal dan ekstrem, yang menghalalkan segala cara dalam melampiaskan nafsu kedagingannya. Masak iya sih, kita semua kan sangat menghayati Sila Pertama dari Panca Sila, yaitu Ketuhanan yang Maha Esa? Lho tidak percaya? Jangan jauh-jauh mencari di rumah tetangga, di rumah kita sendiripun ada. Ah masak iya sih? Para Pradata dan Pendeta kan tak henti-hentinya mengadakan perkunjungan kepada domba-domba-Nya, apa kurang manjur? Ini bukti nyatanya: Saulus! Masih tidak percaya? Ini bukti Alkitabiahnya:
“Aku adalah orang Yahudi, lahir di Tarsus di tanah Kilikia, tetapi dibesarkan di kota ini; dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel dalam hukum nenek moyang kita, sehingga aku menjadi seorang yang giat bekerja bagi Allah sama seperti kamu semua pada waktu ini. Dan aku telah menganiaya pengikut-pengikut Jalan Tuhan sampai mereka mati; laki-laki dan perempuan kutangkap dan kuserahkan ke dalam penjara. Tentang hal itu baik Imam Besar maupun Majelis Tua-tua dapat member kesaksian. Dari mereka aku telah membawa surat-surat untuk saudara-saudara di Damsyik dan aku telah pergi ke sana untuk menangkap penganut-penganut Jalan Tuhan, yang terdapat juga di sini dan membawa mereka ke Yerusalem untuk dihukum”. (Kis.22:3-5)

Untungnya Tuhan Yesus menghentikan sang intoleran ini di dekat kota Damsyik:
“Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: ”Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” Jawab Saulus:’SiapakahEngkau, Tuhan?” Kata-Nya:”Akulah Yesus yang kau aniaya itu.”( Kis.9:3-5 )

Nah, sekarang kelihatan bukan? Bahwa diantara kitapun dulu ada kelompok intoleran, tidak usah dicari di rumah tetangga. Agar supaya kita dapat menjaga dan merawat toleransi yang kita janjikan kepada mantan Presiden Barack Obama dari Amerika Serikat, maka kita harus memulainya dari diri kita  sendiri, lalu keluarga kita terus merambat ke seluruh Padepokan. Apakah sudah cukup, kalau kita dapat mempertahankan toleransi warisan dari leluhur kita itu? Nampaknya belum cukup, karena Panglima Alfred dari Pesangrahan Gembala bulan lalu mengingatkan kepada kita demikian: ”Kekristenan perlu menjadikan toleransi sebagai spiritualitas sehari-hari, yakni menjadi bagian dari doa dan karya nyata”. Dan peringatan dari Panglima Alfred ini juga senafas dengan apa yang dikatakan oleh Sang Penabur demikian: ”Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati.”( Luk.:8:7 ) Apakah mudah menjadikan toleransi sebagai spiritualitas sehari-hari, sebagaimana nasihat Panglima Alfred? Tentu saja tidak! Mengapa? Karena onak duri itu akan berusaha untuk menghimpit tumbuhan dari benih pilihan itu, supaya ia akhirnya mati. Namun demikian Sang Penabur tidak akan tinggal diam, dan Ia menyertai kita senantiasa. “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”( Mat.28:20) Dalam perjalanan umat manusia merawat toleransi di dalam kehidupan sehari-hari, agar dapat terus bersemangat dan berpengharan tentunya dibutuhkan suatu keteladanan. Siapakah itu?
 
Allah Selalu Berprakarsa
Di dalam kehidupannya umat manusia di muka bumi saling tidak bergaul atau saling membenci seperti orang Yahudi dan orang Samaria pada masa pelayanan Yesus ( Yoh.4:9 ), dan orang Yahudi dengan orang Jerman pada masa Perang Dunia II, malahan sampai sekarang masih terjadi di beberapa Negara di Timur Tengah. Yesus Kristus membuat suatu gebrakan yang sangat spektakuler, Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama mereka. Itulah makna toleransi yang sejati yang diprakarsai oleh Tuhan sendiri, dan Ia memberikan teladan toleransi yang sempurna. Ayo kita meneladani-Nya! Tuhan Yesus memberkati. Elsoro.                                          

Toleransi Dalam Kehidupan

Picture
Di setiap komunitas gereja, pasti ada satu atau dua orang yang memiliki karakter spesifik, antara lain : emosional, senang mengeritik, suka mengatur, mau menang sendiri, merasa lebih pandai dari yang lain, senang membesar-besarkan masalah, mengadu domba dan sebagainya. Namun hebatnya teman-teman sekomunitas hampir semua memiliki toleransi yang luar biasa, sehingga keutuhan komunitas terjaga, paling-paling menggerutu dan jarang ada yang berani menegur, berarti di komunitas tersebut sudah dapat menangkap pelajaran yang diberikan Allah tentang toleransi “Empat puluh hari lagi maka Niniwe akan ditunggang-balikkan” (Yunus 3 : 4), namun manusia dan ternak di Niniwe berselubung kain kabung dan berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan kekerasan yang dilakukannya, sehingga Allah menyesal akan rancangan malapetaka yang dijatuhkan di Niniwe, sehingga Allah tidak melakukannya.

Allah mencelikkan dan mengajar Arni bahwa tidak saja di komunitas gereja yang melakukan toleransi dengan baik. Kenyataannya seorang penjual pecel dapat melakukan toleransi dengan baik, yakni menjual dagangannya dengan harga disesuaikan pembelinya. Bila pembelinya kuli bangunan atau pengumpul barang bekas, maka harganya diturunkan dari harga normal dengan tetap mendapat keuntungan. Kalau secara umum dia memperoleh untung 10-20%, namun untuk kuli bangunan dan pengumpul barang bekas hanya mengambil untung 5%.

Peristiwa lain terjadi pula pada ibu yang membuka salon di mana pelanggannya adalah tetangga sekitarnya, sehingga ia tahu persis keadaan ekonomi pelanggannya. Bukan suatu kebetulan peristiwa ini terjadi, tetapi Allah hendak mengajarkan kepada Arni tentang toleransi dalam hidup. Arni hendak potong rambut di salon tersebut dan dengan hati sabar menunggu karena seorang ibu dengan berbusana pesta dan rambut terurai berulang kali berkata: “Cepat dong, rambutku disasak untuk disanggul, tamu sudah banyak kan, aku sudah di make up cantik.”
Ibu salon menjawab: “Ya.” namun tidak menyasak rambut ibu tersebut, hanya menyisir dan menyemprot dengan blower. Sekitar 5 menit kemudian datanglah anak ibu tersebut dan spontan ibu tersebut bertanya kepada anaknya: “Tamunya sudah banyak ya..? ini mama belum disanggul.” anaknya menjawab sambil mengedipkan matanya ditujukan kepada Arni “Pestanya besok, tamunya sudah pulang”. Lalu anak ibu tersebut bertanya kepada ibu salon: “Berapa biaya perawatan ibu..?”
Ibu salon menjawab: “70.000 rupiah.” segera anak tersebut memapah ibunya untuk pulang. Usai mereka pergi, Arni mulai diurus rambutnya dan ibu salon bercerita kalau suami ibu tersebut yang mengantar, dikenakan biaya Rp 35.000.
 Arni bertanya: “Kenapa beda..?”
“Karena suaminya pensiunan, kalau anaknya lumayan baik ekonominya.  Ibu tersebut ingatannya hanya memakai baju pesta saja dan ke salon dua kali seminggu”.

Dari peristiwa penjual pecel dan ibu salon, Arni mendapat pelajaran dari Allah, bagaimana mentolerir pasangan hidupnya yang mirip dengan pelanggan salon. Pasangan hidupnya kurang dapat mengungkapkan perasaan maupun keinginnya, sehingga Arni kurang dapat menangkap maksud dari ucapan pasangannya. Arni mulai menekuni dan mempelajari sebab meningkatnya emosi pasangannya. Kemudian diperoleh jawabannya, sehingga dapat mengurangi kemarahan pasangannya, yang semula 4x seminggu menjadi 2x seminggu. Semoga dengan memahami hal-hal yang menimbulkan emosi dan menghindarinya, maka kemarahan pasangannya akan sirna. Terima kasih Allah atas pelajaran toleransi dalam kehidupan ini, sehingga membawa damai dalam keluarga. Amin. Djani PAS.

Harta yang Paling Berharga adalah Keluarga (?)

Picture
“Coba sekarang teman-teman tulis di kertas, apa yang paling kalian tidak suka dari Ibu dan Bapak kalian?” ucapnya sembari berjalan mengamati rekan-rekan pemuda dan remaja KPR Nehemia dalam kegiatan GPS, yang dilaksanakan pada 21 Oktober lalu. Pertanyaan itu dilontarkan oleh Ibu Conny Subarto. Seorang guru sekolah minggu dari Komisi Anak GKJ Nehemia.

Dengan seksama, Ibu Conny menyimpulkan temuan-temuan yang ditulis kaum muda saat itu. Masih dalam bulan Masa Penghayatan Hidup Berkeluarga, KPR Nehemia pun juga turut membahas keluarga di dalam diskusi dan pemahaman alkitab lewat GPS bulan Oktober. Melalui tema “Harta yang Paling Berharga Adalah Keluarga (?)” mengajak dan merefleksikan bagaimana pemuda dan remaja GKJ Nehemia melihat dan memaknai arti keluarga yang sesungguhnya. Ibu Conny menyampaikan bahwa hal terpenting di dalam keluarga adalah komunikasi. Ketika komunikasi antara orang tua dan anak tidak terjalin, tentunya hubungan yang harmonis pun tidak terjalin. Ibu Conny juga meyakinkan pemuda dan remaja untuk selalu berkomunikasi juga kepada Tuhan. Selalu mengandalkan Tuhan dalam kondisi apapun terutama di dalam keluarga. Terkadang pemuda dan remaja kerap mendapati suasana yang tidak enak di dalam keluarga, baik karena kesalahpahaman atau karena kurangnya komunikasi.

Seusai pembahasan tema, Ibu Conny pun mengajak rekan-rekan pemuda dan remaja KPR Nehemia untuk mendoakan keluarganya dan memulai untuk mengubah pola pikir yang tidak egosentris terhadap orang tuanya, namun melalui doa-doa itu, Ibu Conny juga mengajak rekan-rekan pemuda untuk berserah dan mengandalkan Tuhan sebagai “kapten” dalam keluarganya. Tidak berhenti sampai disitu, adapun sesi tanya jawab tentang keluarga, mulai dari rekan-rekan Ekklesia dan KPR. Melalui pengalaman yang dibagikan, Ibu Conny juga mengajak rekan pemuda untuk terbuka terhadap persoalan keluarga dan juga melibatkan Tuhan untuk tetap membuat keluarga sebagai harta yang paling berharga. Fany Ningrum

Gloria di Baran-Rongkop

Picture
Pagi itu cuaca masih gelap ketika beberapa orang menuju bus yang diparkir di samping Carefour Lebak Bulus. Ada duapuluh dua orang yang terdiri dari tigabelas ibu dan sembilan bapak dengan seragam hijau bertuliskan Gloria Choir. Rupanya mereka rombongan PS Gloria dari wilayah Pondok Indah-GKJ Nehemia yang akan berwisata rohani. Di antara rombongan ada Ketua Majelis Dkn. Andreas Hutomo yang juga dapat pembagian kaos Gloria Choir. Para Majelis yang mendampingi dan juga sebagai anggota PS Gloria adalah Pnt. Yuliaman Zendrato, Pnt. Winarno dan Dkn. Christina, sementara Pnt. Suradji tidak bisa ikut karena kesibukannya.

Pukul 05.30 bus Blue Bird meninggalkan Lebak Bulus dengan para penumpang yang berwajah ceria karena bus dengan kapasitas 43 tempat duduk itu hanya diisi 22 orang sehingga sebagian bisa selonjor. Namun wajah yang ceria itu menjadi muram ketika jalan tol mulai dilanda kemacetan berkepanjangan akibat pembangunan jalan di daerah Cikarang sehingga pukul 12.00 baru sampai di Karawang Timur. Banyak rencana yang tidak bisa terlaksana seperti mau jalan-jalan sore di kota Semarang, karena bus memasuki kota Semarang sudah hampir pukul 21.00 kemudian memasuki hotel Amaris untuk istirahat. Pagi-pagi sekali bus meninggalkan kota Semarang dan mampir sebentar di Pagoda Watu Gong karena rombongan ingin foto bersama. Perjalanan diteruskan ke arah Magelang dan sempat makan siang di sana. Sampai di Jogja sudah sore dan langsung ke Malioboro, ada yang beli souvenir atau jalan-jalan saja. Seperti biasa kalau yang namanya belanja, apalagi ibi-ibu walaupun sudah dibatasi waktunya tetap saja molor sehingga sampai di Wonosari sudah hampir pukul 20.00.

Peserta Paduan Suara ini menginap di rumah keluarga Ibu Neneng Titus di Mijahan-Semanu. Setelah mandi dan makan malam, latihan paduan suara sebentar untuk mengisi pada kebaktian Minggu di GKJ Baran. Sore hari sebelumnya Pak Andreas  menelepon Pdt. Paulus Suparman, jam berapa Kebaktian di GKJ Baran dilaksanakan. Mendapat jawaban bahwa kebaktian pk. 06.00 Pak Andreas segera berunding dengan Pimpinan PS Gloria Ibu Pandamsih bagaimana baiknya, karena jarak tempat menginap ke GKJ Baran sekitar 18 km. Akhirnya disampaikan kepada Pdt. Paulus bahwa PS Gloria tidak bisa ikut kebaktian pk. 06.00 Pak Andreas selaku Ketua Majelis yang membawa amanat dari Tim Peduli Kasih untuk memberikan tali kasih bagi GKJ Baran mohon agar kebaktian diundur karena diperkirakan akan terlambat kalau kebaktian dimulai pk. 06.00. Akhirnya disepakati bersama bahwa Kebaktian Minggu, 22 Oktober’17 diundur mulai pk. 07.00   
 
Minggu pk. 06.00 rombongan berangkat menuju GKJ Baran yang berjarak sekitar 18 km. Ternyata perkiraan Pak Andreas salah, karena jarak tempuh yang diperkirakan hampir satu jam hanya ditempuh dalam waktu singkat karena sampai di GKJ Baran baru pk. 06.15. Jalan yang dilalui memang bagus dan sepi sehingga perjalanan lancar sekali, sementara Pak Andreas bersama majelis Radio Dalam waktu ke Baran beberapa waktu yang lalu malam hari dan sampai di GKJ Baran sekitar pk. 21.30. Rombongan disambut hangat oleh Pdt. Paulus beserta keluarga dan jemaat serta disuguhi teh hangat dengan camilan khas Gunungkidul, gatot dan balung kethek yang terbuat dari singkong. Makanan itu segera diserbu karena mereka jarang sekali menikmatinya, karena kali ini tidak seorangpun dari rombongan yang berasal dari Gunungkidul, kecuali bu Titus yang suaminya berasal dari Semanu.

Pukul 07.00 kebaktian dimulai, dipimpin oleh Pdt. Paulus Suparman yang meski dengan tangan kiri tidak bisa digerakkan dan kaki kiri diseret kalau berjalan karena sudah tujuh tahun menderita stroke, suaranya masih lantang dalam menyampaikan firman Tuhan. GKJ Baran mempunyai 9 Pepanthan yang letaknya cukup jauh dan sebagian hanya bisa dilalui dengan kendaraan roda dua. Jumlah jemaat keseluruhan ada 670 warga dewasa dan 170 anak-anak sehingga total ada 840 0rang. Bertahun-tahun Pdt. Paulus Suparman melayani demikian banyak jemaat dengan sukacita dan segenap hati dengan kondisi fisik yang sedemikian rupa. Untunglah pada tgl, 31 Maret’17 yang lalu GKJ Baran meneguhkan satu Pendeta lagi yaitu Pdt. Andreas Sabat Prayogi, SSi sehingga beban Pak Paulus berkurang.

Setelah kebaktian Dkn. Andreas Hutomo selaku Ketua Majelis GKJ Nehemia menyampaikan tali kasih dari Tim Peduli Kasih sebesar 5 juta rupiah yang diterima oleh Ketua Majelis GKJ Baran Pnt. Sunarto, kemudian seluruh rombongan foto bersama dengan Pdt. Paulus Suparman dan majelis setempat.
Rombongan PS Gloria segera mohon diri untuk kembali ke Jakarta dan ternyata Pdt. Paulus harus khotbah lagi pk. 09.00 di salah satu pepanthan, sementara Pdt. Sabat khotbah di pepanthan yang lain. Sebelum kembali ke Jakarta PS Gloria sempat mengunjungi Pantai Siung melalui jalan yang naik turun berliku-liku namun indah dengan deburan ombaknya, kemudian foto-foto.

Dalam perjalanan pulang Pak Andreas sempat membaca warta jemaat GKJ Baran yang berisi laporan keuangan.  Betapa terkejutnya dan dengan mata berkaca-kaca dilihatnya ada beberapa pepanthan yang persembahan dalam kebaktian minggu itu kolekte-nya hanya 20 dan 32 ribu  rupiah saja. Suatu hal yang sangat mengharukan melihat kesungguhan jemaat berbakti kepada Tuhan dengan segala kekurangannya. Beberapa anggota Gloria sempat meneteskan air mata melihat kondisi baik persembahan maupun semangat yang luar biasa dari pelayanan Pdt. Paulus Suparman, STh yang sekitar 6 tahun lagi akan memasuki masa emeritus. Gusti mberkahi. 

Sowan Pak Sularso Sopater

Picture
Hari Selasa, 7 Nopember’17 Panitia natal GKJ Nehemia yang diketuai Pak Dewo Asmoro didampingi Ketua Majelis Dkn. Andreas Hutomo, Pdt. Lusindo Tobing, M.Th dan Majelis ilayah Kebayoran Baru Pnt. Sugiyarto DS mengunjungi Bapak Pdt. Em. Prof. Sularso Sopater di kediamannya daerah Pondok Gede. Ikut dalam rombongan tersebut Ibu Sugiyarto dan Widhewani Suwandi mahasiswi stage dari UKDW.

Pak Sularso kelihatan lebih segar di usianya yang 83 th lebih menerima kedatangan rombongan dengan sukacita. Beliau sudah hafal betul bahwa setiap menjelang Paskah maupun Natal pasti datang rombongan dari GKJ Nehemia sehingga beliau sudah hafal betul dengan Pak Andreas. Bahkan dalam kelakarnya beliau menyebut Ketua Majelis abadi, kalau perlu di daur ulang.  Dalam pecakapan selanjutnya Pak Larso menceritakan perjuangannya sekitar tahun 1966 ketika harus memberitakan Injil di Kabupaten Gunung Kidul yang pada waktu itu tiba-tiba jumlah jemaat gereja meledak, dampak dari tragedi G30S. Pada waktu itu jalan-jalan masih berbatu serta berdebu dan untuk memperoleh air sulitnya bukan main. Konon waktu itu orang jarang mandi karena untuk memperoleh air harus berjalan berkilo-kilometer dan turun masuk ke dalam gua yang ada airnya. Beliau harus mengunjungi jemaat seorang diri sampai ke pelosok desa terpencil di daerah Gunungkidul selaku Pendeta yang bertugas di Yogyakarta.  

Beliau mendapat bantuan sebuah jeep Landrover yang saat itu masih merupakan barang langka, dan disopiri sendiri. Waktu itu beliau memang baru berusia sekitar 32 tahun sehingga menjadi perhatian penduduk setiap kali beliau lewat jalan berbatu mengendarai Landrover nya. Beliau juga menceritakan ada seorang Mantri Pathek (frambusia) yang juga menjadi Guru Injil, cuma beliau lupa namanya. Pathek itu semacam penyakit kulit yang mengerikan dan belum ada obatnya, oleh karena itu perlu adanya Mantri Kesehatan khusus pathek. Penduduk setempat berusaha mengobati luka tersebut dengan prusi (seperti kristal) berwarna biru yang ditumbuk. Menurut kabar di daerah Baran-Rongkop ada Mantri Pathek bernama Surjono dan di Wonosari ada Mantri Pathek bernama Tegoroso yang mengabarkan Injil ke seluruh pelosok Gunungkidul. Kemarin salah seorang jemaat sepuh dari GKJ Baran menanyakan apakah Pak Larso masih sugeng. Ketika diberitahu pak Andreas yang kebetulan berkunjung kesana, dengan mata berkaca-kaca menceritakan Pak Sularso lah yang menjadikan dia pengikut Kristus. Sebelum pamit pulang rombongan foto bersama Pak Sularso sebagai kenang-kenangan.

Kunjungan Kasih Ibu-ibu PD. RIBKA SENIOR ke Desa Karanggedang

Picture
Dengan disertai rasa kepedulian serta kasih yang mendalam, ibu-ibu PD. RIBKA SENIOR telah melaksanakan acara kunjungan kasih ke Desa Karanggedang Sumpyuh Kabupaten Banyumas dipimpin oleh Pdt. Taswan dari GKJ Karanggedang, berupa bantuan Pengobatan Gratis bagi masyarakat kurang mampu. Rabu 11 Oktober yang lalu. Tempat dilaksanakan acara ini di Balai Desa Karanggedang yang baru saja mengalami musibah banjir besar atas jebolnya tanggul sungai Kalireja yang berhadapan dengan Balai Desa yang akan digunakan acara tersebut (3 hari sebelum kunjungan ibu-ibu PD. RIBKA ke desa tersebut). Namun semua ini berkat pertolongan Tuhan semuanya dapat terlaksana dengan baik dengan cuaca yang benar benar cerah, aman dan tentram di Balai Desa ini.

Sebelum diadakan pertemuan dengan Pdt. Tawan dan beberapa majelis + jemaat di Gedung GKJ Karanggedang yang letaknya tidak jauh dari tempat diadakannya acara Pengobatan Gratis, dibuka dengan Doa dan sumbutan oleh Pdt. Taswan serta perkenalan/laporan tentang kedatangan ibu-ibu RIBKA SENIOR disertai puji-pujian bersama. Diakhiri dengan penyerahan sumbangan kasih secara langsung dan diterima oleh Pdt. Taswan sebesar Rp. 4.000.000,- (Empat Juta Rupiah), dilanjutkan dengan sambutan upacara terimakasih yang sebesar-besarnya kepada ibu-ibu PD. RIBKA JAKARTA, yang dengan kasih dan ketulusan hati bersedia memberikan bantuan yang memang sangat dibutuhkan.

Acara pembukaan pengobatan dimulai pukul 10.30 dengan sambutan pembukaan Bpk. Kayum, Wakil Kepala Desa Karanggedang (Kepala Desa Bpk. Andi sedang ikut rapat bersana PEMDA setempat tentang musibah banjir saat itu), dilanjutkan sambutan Pdt. Taswan (GKJ Karanggedang), dan persembahan 2 buah lagu oleh ibu-ibu PD. RIBKA SENIOR :
1. Tuhan Yesus Setia
2. Tanah Airku tidak kulupakan (diikuti semua yang hadir saat itu (kebetulan bisa menguasai sema lagu tersebut).
Diiringi music keyboard oleh Pdt. Taswan sendiri Acara pengobatran dibantu 1 orang dokter + 3 orang paramedic dari PUSKESMAS setempat bagi 40 orang warga yang hadir (Sakit), dengan cara dipanggil sesuai dengan nomor urut. Tidak lupa kami atas nama seluruh anggota PS ibu-ibu RIBKA SENIOR ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada ibu-ibu/bapak yang juga memberikan bantuan dengan kasih dan sukacita sehingga acara peduli kasih ini dapat terlaksana dengan baik. Tuhan Yesus Memberkati Jakarta 19 Oktober 2017. Yanti Dharmono.

Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat bagian 3

Picture
Berakhirnya Kerajaan Mataram
Pada hari Kamis Kliwon, 29 Rabingulakir 1680 tahun Be wuku Langkir atau 13 Februari 1755 di desa Giyanti, ditandatanganilah Perjanjian Perdamaian oleh pihak Kompeni Belanda, Sunan Pakubuwana III dan Pangeran Mangkubumi. Dari pihak Kompeni adalah N Hartingh, W van Ossenberch, JJ Steenmulder, C Donkel dan W Fockens. Perjanjian ini terkenal dengan Perjanjian Giyanti dan juga disebut Perjanjian Palihan Nagari. Dengan ditandatanganinya perjanjian tersebut maka berakhirlah Kerajaan Mataram sebagai negara yang independen.

Sultan Hamengkubuwana
Perjanjian Perdamaian tersebut terdiri dai 9 pasal
Pasal 1. Pangeran Mangkubumi diwisuda sebagai Sultan Hamengku Buwana Senapati Ing Alaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah untuk separuh Negeri Mataram, yang diberikan dengan hak turun-temurun kepada ahli waris, yaitu Pangeran Adipati Anom Bendara Raden Mas Sundara.      
Pasal 2. Akan selalu dijaga hubungan baik antara rakyat yang di bawah penguasaan Kompeni dan dan rakyat Kasultanan.
Pasal 3. Patih dan para Bupati sebelum menjalankan tugasnya harus melaksanakan sumpah setia kepada Gubernur Jenderal VOC. Pada intinya pengangkatan Patih harus dibicarakan dulu dengan pihak Kompeni untuk ijin menduduki jabatan tersebut.
Pasal 4. Sri Sultan tidak bisa mengangkat maupun mencopot Patih dan Bupati sebelum mendapat persetujuan dari Kompeni. Intinya, Sri Sultan tidak mempunyai wewenang penuh karena semua keputusan harus se ijin Kompeni.
Pasal 5. Sri Sultan akan mengampuni para Bupati yang selama dalam peperangan Mangkubumen memihak Kompeni.
Pasal 6. Sri Sultan tidak akan menggugat hak kewenanngan Pulau Madura dan daerah pesisir yang sudah diserahkan kepada Kompeni oleh Sunan Pakubuwana II, sebaliknya Kompeni akan memberikan kompensasi sebesar 10.000 real tiap tahun.
Pasal 7. Sri Sultan akan membantu Sunan Pakubuwana III sewaktu-waktu diperlukan.
Pasal 8. Sri Sultan berjanji bersedia menjual bahan pangan dengan harga yang ditentukan oleh Kompeni.
Pasal 9. Sri Sultan bersedia menepati seluruh perjanjian yang baru saja ditandatangani, antara lain Perjanjian antara Mataram dengan Kompeni beberapa waktu yang lalu seperti pada tahun 1705, 1733, 1743, 1746 dan 1749.
Patih Kerajaan atau Pepatih Dalem (Rijks-Bestuurder atau Chief of Administration Officer), dengan ijin Residen atau Gubernur Belanda merupakan penguasa eksekutif harian yang sebenarnya.

Berdirinya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Dalam Perjanjian Palihan Nagari tersebut adalah wilayah Kerajaan Mataram Surakarta dibagi menjadi dua yaitu :
1. Wilayah sebelah Timur Kali Opak
Mulai dari perbatasan Prambanan ke timur menjadi daerah kekuasaan Kraton Mataram Surakarta dengan Raja Sunan Pakubuwana III dan Surakarta Hadiningrat sebagai kotaraja.
2. Wilayah sebelah Barat Kali Opak
Mulai dari perbatasan Prambanan ke barat menjadi daerah kekuasaan Pangeran Mangkubumi dengan Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai kotaraja.

Sebulan kemudian pada hari Kamis Pon, 29 Jumadilawal 1680 tahun Be wuku Kuruwelut atau tanggal 13 Maret 1755, Sultan Hamengkubuwana I menyatakan bahwa separuh dari Kerajaan Mataram yang dikuasainya tersebut diberi nama Ngayogyakarta Hadiningrat, dengan ibukota Ngayogyakarta. Dan tanggal 29 Rabingulakir 1680 tahun Be atau tanggal 13 Februari 1755 ditetapkan menjadi hari berdirinya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Pada hari Kamis Pon, 3 Sura 1681 tahun Wawu wuku Kuruwelut atu 9 Oktober 1755 untuk sementara Sultan Hamengkubuwana I tinggal di Pesanggrahan Tlaga Ambar Ketawang, Gamping. Kemudian Sultan Hamengkubuwana I memerintahkan membangun Kraton Ngayogyakarta di desa Pacethokan di dalam hutan Beringin.

Setahun kemudian pada hari Kamis Pahing, 13 Sura 1682 tahun Jimakir wuku Julungwangi atau 7 Oktober 1756 dengan ditandai sengkalan Dwi naga rasa tunggal Sri Sultan Hamengkubuwana I beserta seluruh kerabat kerajaan meninggalkan Pesanggrahan Ambar Ketawang menuju ke Kraton Ngayogyakarta, dan sementara berada di Gedhong Sedahan. Pada tanggal, 7 Oktober 1756 oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta ditetapkan sebagai hari jadi kota Yogyakarta.

Nama Garjitawati berubah menjadi Ngayogyakarta
Pada suatu saat Sunan Amangkurat IV (ayahanda Pangeran Mangkubumi) memegang tampuk kekuasaan di Mataram Kartasura, pernah mendapat wisik atau suara gaib bahwa wahyu kraton akan jatuh di hutan Beringin. Kemudian Sunan Amangkurat IV berniat untuk memindahkan kraton Kartasura ke hutan Beringin dengan dimulai membangun Pesanggrahan di Garjiwati sebagai calon kraton. Namun belum sempat membangun kraton yang baru keburu meninggal dan digantikan oleh Sunan Pakubuwana II.

Pada Jaman pemerintahan Sunan Pakubuwana, nama Garjiwati diubah menjadi Ngayogyakarta yang artinya wis purna winangun kanthi becik atau sudah selesai dibangun dengan baik. Arti yang lain, Yogyakarta dari kata yogya yang artinya baik dan karta yang artinya makmur. Pada waktu itu Pesanggrahan Garjiwati (dulu dekat Tamansari) merupakan tempat yang dianggap wingit atau angker, karena sebagai tempat peristirahatan jenasah raja dan golongan ningrat dari Surakarta sebelum dimakamkan di Pemakaman Raja-raja di Imogiri.

Kalau dilihat secara topografis, kota Yogyakarta secara simetris diapit oleh 6 sungai yaitu Kali Code yang paling dekat kraton, Kali Gajah Wong dan Kali Bedhog yang agak jauh dari kraton dan Kali Opak serta Kali Praga yang paling jauh dari kraton. Di sebelah utara kota Yogyakarta berdiri dengan megahnya Gunung Merapi dan di sebelah selatan kota Yogyakarta membentang luas Samudera Hindia atau Laut Kidul. Dengan posisi kraton yang demikian maka Sultan Hamengkubuwana menciptakan sumbu imajiner yaitu hubungan antara Gunung Merapi – Tugu/Pal putih Golong-gilig – kraton Ngayogyakarta – Panggung Krapyak – Laut Kidul. *sumber PS dll. Oka Respati.

Mengenal Kesenian Tradisional: Longser

Picture
Longser merupakan seni Teater dan Sandiwara Rakyat yang bisa kita jumpai di daerah Rancamanyar-Pameungpeuk dan sekitarnya di Bandung Selatan. Seorang tokoh Longser yang terkenal bernama Mang Ateng Japar yang dari kecil sudah mulai menggemarinya kemudian belajar menggarap Longser di bawah bimbingan Bang Talil dan Bang Tawes yang pensiunan Longser.

Konon Longser garapan Mang Ateng ini sudah terkenal dan mengesankan sehingga bila terdengar kabar Longsernya akan pentas pasti penonton berduyun-duyun untuk melihatnya.

Setelah penonton yang mengitari panggung cukup banyak maka gamelan pembuka segera dipukul dan beberapa penari yang cantik dengan senyum yang menawan mempertunjukkan kebolehannya disambut tepuk tangan para penonton.  

Begitu pertunjukan tarian selesai maka muncullah Mang Ateng ke atas panggung dan dengan gayanya yang khas di sela banyolan-banyolan yang menggelikan menyampaikan ucapan selamat datang dan terima kasih kepada para penonton sambil memperkenalkan nama para penari yang tentu saja dengan nama samaran seperti Si Lenyay, Si Kumpay, Si Mujaer dsb. Mang Ateng menyampaikan kepada penonton bahwa Longser merupakan teater yang banyak menampilkan tarian berpasangan. Para penonton juga diberi kesempatan untuk ikut menari berpasangan dengan para penari.

Seusai sambutan maka para niyaga mulai menabuh gamelan dan bersamaan dengan itu muncullah seorang penari yang paling cantik di antara mereka dengan tarian yang meliuk-liuk lemah gemulai sehingga membuat gemas penonton. Ketika sang primadona sedang menari beberapa penonton ada yang mengalungkan syal, memakaikan jam tangan bahkan melilitkan sarung dipinggang penari. Setelah selesai menari, sang primadona mengembalikan barang-barang tersebut kepada pemiliknya dengan imbalan uang sebagai tebusan.

Kembali Mang Ateng muncul di atas panggung menghaturkan terimakasih kepada penonton yang sudah memberikan tebusan, dan tiba-tiba muncul seseorang yang ternyata pelawak yang mengocok perut penonton dengan banyolannya sehingga betul-betul memeriahkan suasana. Kemudian tampillah para penari seperti yang disebutkan Mang Ateng di muka dan menari dengan gaya yang memikat penonton. Oleh Mang Ateng para penonton dipersilakan untuk ikut menari namun dibatasi jumlahnya sesuai dengan jumlah penari. Semakin malam pertunjukan semakin ramai karena banyaknya penonton yang ingin ikut menari bahkan sampai berebut. Untung Mang Ateng segera menenangkan mereka dan berjanji semua akan kebagian ikut menari. Dalam pentas Longser ini kadang diseling dengan cerita rakyat seperti kisah Suganda-Sugandi.

Alkisah Ki Haji Sobana mempunyai dua orang putra yaitu Suganda dan Sugandi. Suganda yang terlahir lebih tua mempunyai kegemaran minum, judi, main perempuan dan menghabiskan harta kekayaan orang tuanya. Sebaliknya Sugandi yang terlahir lebih muda berperilaku baik, sopan, hormat dan sayang pada orang tuanya serta rajin belajar dan bercita-cita untuk bisa menunaikan ibadah haji.

Suatu hari Suganda dimintai uang oleh kekasihnya namun dia tidak punya, akhirnya nekad mencuri dan menguras perhiasan orang tuanya, sementara kantong tempat perhiasan itu dimasukkan ke kantong celana Sugandi yang sedang tertidur lelap. Pagi harinya Ibu Sobana ketika sedang berhias diri kaget melihat seluruh perhiasan emas lenyap berikut kantongnya, dicari kesana-kemari tidak juga ketemu. Akhirnya Haji Sobana segera mengumpulkan seluruh anggota keluarganya termasuk para pembantu di rumah itu. Kemudian Suganda usul agar seluruh anggota keluarga digeledah, dan barang siapa yang terdapat kantong perhiasan itu bisa dipastikan dialah pencurinya. Seluruh anggota keluarga digeledah dan kantong perhiasan itu ditemukan di kantong celana Sugandi. Tentu saja Sugandi sangat terkejut karena dia merasa tidak mencuri perhiasan itu. Tanpa basa-basi akhirnya Sugandi diusir dan pergi meninggalkan rumah tersebut. Betapa pedih hati Sugandi mengalami hal tersebut dan merasa bahwa dirinya sebagai korban fitnah yang keji.

Setelah pergi terlunta-lunta tanpa jelas tujuannya maka Sugandi sampailah ke sebuah Padepokan persilatan, kemudian berguru silat di situ. Setelah tamat menjalani pelatihan silat kemudian mengembara dengan tujuan membasmi kejahatan dimana-mana. Suatu saat Sugandi bisa menggagalkan perampokan terhadap Haji Sukma dan sebagai ungkapan terimakasih maka Sugandi dinikahkan dengan puterinya yang bernama Siti Halimah. Mereka hidup rukun dan damai dengan harta yang cukup untuk mengarungi rumah tangga.

Suatu hari Sugandi bersama isterinya mohon pamit untuk menengok orang tuanya yang sudah lama ditinggalkan. Namun betapa terkejutnya ketika sampai di rumahnya, ternyata sudah dijual kepada orang lain. Menurut si empunya rumah, semua harta kekayaan Haji Sobana dihabiskan oleh Suganda dan kedua orang tuanya diusir. Akhirnya diketemukannya Haji Sobana yang hidup menderita dalam sebuah gubug reyot, kemudian diboyong oleh Sugandi ke rumahnya. Sementara Suganda hidup sengsara karena hanya mengandalkan harta orang tuanya yang semakin habis. Longser yang pentas pada waktu siang disebut Lontang. Longser dan Lontang lebih banyak pentas pada acara hajatan seperti sunatan dan perkawinan. Longser yang mencapai puncak kejayaannya sekitar tahu limapuluhan sekarang masih eksis, meski jarang pentas. *dari berbagai sumber. Satrio Pinandhito.

Basa Jawa: Sumber Semangat

Kata semangat menurut Kamus Indonesia-Jawa hasil dari Kongres Bahasa Jawa 1991 bekerjasama dengan Duta Wacana University Press mempunyai arti: greget, grengseng, karep. Sumber semangat merupakan sumber dari greget, grengseng dan karep atau niat.

Berikut kami sampaikan kalimat permata sebagai dorongan sumber semangat.
  • Diweruh ing suba-sita, nanging aja pisan-pisan ngasorake awak, awit suba-sita bisa gawe kajening manungsa. Dene wong kang ngasor-ngasorake awake, bisa gawe ewaning ati.
Agar tahu tata-krama, tetapi jangan sekali-kali merendahkan diri, karena tata-krama membuat orang dihormati. Sedangkan orang yang merendahkan diri, dapat membuat iri hati.
  • Kalumrahane kang diarani mitra iku upama ayang-ayang, yen srengenge padhang ngetutake kang duwe ayang-ayang. Sasuruping srengenege, ayang-ayang mau ora katon, dadi kadang konang.
Biasanya yang disebut sahabat itu seperti bayang-bayang, kalau matahari terang mengikuti yang empunya bayang-bayang. Ketika matahari terbenam, bayang-bayang tadi tidak kelihatan sehingga menjadi sahabat semu.
  • Saupama ora ana pati kang nyirnakake sangsaramu, mesthi kowe ora pegat ngundamana ing papesthen, dene kowe linuputake ing pati.
Seandainya tidak ada maut yang menghapuskan sengsaramu, pasti kamu tidak  putusnya menggerutu dalam takdir, karena kamu diluputkan dari maut.
  • Uriping manungsa iku kaya banyu mili, ora bali-bali, ananing pati bareng lan laire; saben dina prasasat mati, awit saben dina etunging uripe terus suda; uripe kang wus kelakon ing saiki wus ora ana.
Hidup manusia itu bagaikan air mengalir, tidak pernah kembali, adanya maut bersamaan dengan lahirnya; setiap hari seolah-olah mati, karena tiap hari hitungan umur selalu berkurang; hidup yang telah dijalani sekarang sudah tidak ada.
  • Diasih marang sapepadhaning tumitah, nanging aja kalawan pamrih. Ngapuraa marang samubarang piala, nanging aja kok alem.
Cintailah sesamamu manusia, tetapi jangan mengharapkan imbalan. Maafkan terhadap segala kejahatan, tetapi jangan dipuji.
  • Sira kang tansah eling sarta memuji kaluhuraning Gusti Kang Maha Agung kanthi sucining ati., tanpa duwe pepenginan apa-apa. Terkadhang sira nampa kanugrahan kang luwih aji katimbang kanugrahan kang tinampa dening wong kang nyenyuwun.
Ingatlah serta memuji keagungan Tuhan Yang Mahaagung dengan setulus hati, tanpa sesuatu keinginan. Kadang-kadang akmu menerima anugerah yang lebih berharga daripada anugerah yang diterima oleh orang yang meminta-minta.
  • Pepalange wong ulah kebatinn iku yen isih kadunungan pepenginan supaya kinacek ing liyan, pepenginan kang supaya wong liya elinga marang dheweke.
Halangan bagi orang yang menganut kebatinan itu kalau masih mmpunyai keinginan agar berbeda dengan orang lain, keinginan supaya orang lain selalu mengingat dirinya.            
  • Ngeningake cipta tumuju marang gumelaring alam, bisa nyingkirake gagasan kang ngambra-ambra lan ngalamun tanpa guna.
Mengheningkan cipta menuju alam terkembang, dapat menyingkirkan pikiran yang tidak karuan dan melamun tiada guna.  
  • Memikir kanthi temen-temen kahanane sakehing dumadi, iku pakarti kang pinuji tumrap agama apa wae. Mula akeh wong kang nindakake tafakur, semedi, dikir, wohe bakal saya kacedhak marang Pangeran.
Mikir dengan sungguh-sunggu keadaan dari semua yang terjadi, itu perilaku yang terpuji untuk agama apa saja. Oleh karena itu banyak orang yang melakukan tafakur, meditasi, zikir, buahnya akan makin dekat kepada Tuhan.
  • Metani alane dhewe, mawas dhiri pribadi, iku sawijining pakarti kang pinuji. Mula becike kita diseneng metani kekurangan kita dhewe, sadurunge dipetani dening liyan.
Meneliti kejahatan yang dilakukan sendiri, mawas diri sendiri, itu perilaku yang terpuji. Oleh karena itu sebaiknya kita lebih menyukai untuk meneliti kekurangan kita sendiri, sebelum diteliti oleh orang lain.
  • Ora ana wong kang seneng nampa pamuring-muring kang mangka wong mau ora rumangsa luput. Mula saka iku yen sira nedya muring-muring, sabarna dhisik, telitinen sajroning ati, apa kang nedya sira uring-uring mau nyata-nyata luput temenan apa ora.
Tidak ada orang yang senang menerima kemarahan padahal orang tersebut tidak merasa bersalah. Oleh karena itu kalau engkau berniat untuk marah sabarlah dahulu, teliti kembali dalam hati, apakah niat memarahi orang itu betul-betul salah atau benar.
  • Yen sira nuju nindakake pratingkah sasar kang kok kira ora ana sing meruhi, sira kudu eling yen sejatine pribadinira dhewe kang murni ngosikake sira supaya aja nindakake pakarti sasar mau.          
Kalau engkau melakukan tindakan yang keliru dengan mengira tidak ada yang tahu, engkau harus ingat bahwa sesungguhnya pribadimu yang murni mengingatkan kamu agar jangan melakukan perilaku keliru tersebut.
  • Wong ngibadah kang isih kadunungan watak dhemen dialembana, pangibadahe ora klebu ing golongane panembah kang akarana Allah, dene isih andarbeni pamrih 
  • Manungsa iku kudu teguh marang Agamane dhewe, sarta kudu bisa ngilangi wewatekan pangina lan gething marang Agama liyane 
*sumber dari Panyebar Semangat. Andreas Hutomo.

Gembala Punya Cerita: Pergiwati Dibawa Pergi

Picture
Mendung tebal menggantung di atas istana kerajaan Hastina, seperti gelapnya hati Prabu Kurupati alias Prabu Suyudana, Duryudana, Gendarisuta sang raja. Mukanya muram, dahinya mengkerut, alisnya hampir bertemu, pertanda hatinya sedang galau gundah dan gulana. Dihadapannya duduk Patih Mahaculas Harya Suman alias Sengkuni, Resi Kumbayana alias Pendita Durna dan Narpati Ngawangga Karna Basusena.

“Aduh paman Sengkuni, sudah berkali-kali anakku Lesmana Mandrakumara itu selalu gagal  setiap ingin menikah. Apa sebabnya, paman?”
“Ooo he-he, saya juga heran lho angger Prabu, kurangnya si Lesmana itu apa, ya?   Mau kawin sama Pergiwa disamber Gatutkaca duluan, mau nikah sama Siti Sendari didului  Abimanyu, sekarang naksir Pergiwa terlanjur ditunangkan dengan Pancawala. Jadi maksud angger Prabu bagaimana?”
“Bapa Pendita Durna.”
“We lha, gombyor monyor-monyor . . emprit ganthil buntute bedhug udhag-udhug.   Eee, angger Prabu memanggil saya? Jangan resah dan gelisah angger, Arjuna ayahnya  Pergiwati dan Puntadewa ayahnya Pancawala itu kan murid saya semua, jadi biarlah saya   yang gurunya ini bicara sama mereka, he  . he  . . “
“Saya serahkan sepenuhnya saja sama Bapa Pendita, kepala saya sudah mumet nggak karuan.”
“Lapan anam angger, keng Bapa siap melaksanaken tugas!”


Mendengar hal tersebut bukan main gumbiranya Raden Lesmana Mandrakumara yang sedang sarapan sega gurih dengan lauk ingkung ayam alas.
“Wee . . lha dalah, aku jadi kawin yaaang  .  .  . , mendah gumbiranya hatikuuu  .  .  .  .“    
“Oo .  . othok-othok .  .  tekeeek,  godhong gori eh don’t worry angger Pangeran, Eyang yang   akan mberesken semuanya.”
“Bentuul, eh betul, eyaaang .  .  . aduh gendhuk Wati Pergia .  .  eee malah kleruu .  . gendhuk  Pergiwati  .  .  ai lap yu .  .  .  .”


Di halaman belakang sedang duduk dengan kaki ongkang-ongkang di lincak bambu Kapten Dursasana sambil nyedot rokok siong, satria Banjarjungut adik kandung Prabu Kurupati. Matanya merem-melek menikmati asep rokok sambil nyruput kopi nggereng, anggere ireng hasil dari bubukan areng bathok tanpa gula. Begitu melihat Patih Sngkuni berjalan tertatih-tatih menuruni paseban segera dia berdiri sambil setengah teriak.
“Kepripun keprimen minta ampun ketiban semen .  .  .  e, e, ada warta-warti kabar apa Man?”
“Oo, bocah ndlobog jangan keras-keras kalau ngomong, kupingku mak peeeng .  . suaramu kaya kaleng dibanting. Ponakanmu Lesmana akan kawin dengan Pergiwati.”

“Lho, lho .  .  . saya denger sudah tunangan sama Pancawala putra dimas Puntadewa, Maan . .”
“He. . he .  . wakne Gondhel Durna yang akan menggagalkan pertunangan itu. Arjuna dan  Puntadewa kan muridnya, jadi mau di glembuk, dipersuasi, kalau perlu di intimidasi ha2  .  .  .”
“Weh hladalah .  .  .  golek perkara. Guru itu digugu dan ditiru bukan wagu tur saru, tidak boleh  begitu man, bocah gemblung doyan slingkuh kok dibelain, bisa merusak persaudaraan maan.”
“Husss .  .  . jangan banyak nylekop, sigra siapken pasukanmu, sontoloyo!”
“Lapan anam maan, sontolokenyuuut .  .  . !”


Pasukan Kurawa segera disiapkan untuk berangkat ke Madukara rumahnya Dewi Pergiwati. Syahdan di kerajaan Karangsembung Sang Prabu Candra Baskara sedang berbincang dengan Patih Candra Kartika dan Tumenggung Candra Lukita. Sang Prabu berbicara pelan:    
“Beraat .  .  .  berat rasanya orang ceblok dhemen alias jatuh cinta itu Patiih .  .  . Beberapa hari  yang lalu ketika saya sedang nganglang jagat melihat telaga yang begitu jernih airnya. Saya  langsung saja terjun bebas, tapi betapa kaget dan malunya aku ketika kulihat seorang gadis  cantik jelita hanya berbalut kain sebatas dada tersebyum sambill melirik aku. Aduuuh .  .    cleesss .  .  .  rasa hatiku bagai disiram air es tanpa sirup, tiiih .  .  .”
“Wah heemmm .  .  . Paduka menemukan permata sebakul, sinuwun.”
“Huusss .  .  .  dengkulmu anjlog! Dia lari membawa hatiku, tiih .  .  . kau jaga kerajaan, aku mau  mencari gadis itu sampai ketemu!
“Siapa gerangan nama gadis itu dan dari mana asalnya Sang Prabu?”
“Namanya Pergiwati dari kasatrian Madukara, tih.”
“Sendika dawuh Sang Prabu, saya siap menjaga keamanan kerajaan Karangsembung.”


Di Kasatrian Madukara Raden Arjuna sedang duduk dihadap ke tiga isterinya yaitu Wara Sembadra, Dewi Larasati dan Wara Srikandi. Kelihatan ke tiga isteri Arjuna itu hidup rukun tenang dan damai karena tidak dibeda-bedakan satu sama yang lain .  .   .   jarene, katanya. Tiba-tiba dikejutkan dengan datangnya Pendita Durna dan Patih Sengkuni diikuti Kapten Dursasana dan satu kompi prajuritnya, yang pada intinya meminta agar Pergiwati dapat dipersunting oleh Putra Mahkota Hastina Raden Lesmana Mandrakumara putra Dewi Banowati yang notabene menjadi wil nya Arjuna. Arjuna bingung karena Lesmana itu putra Banowati yang menjalin cinta dengannya lewat belakang alias backstreet.

“Kami serahkan sepenuhnya kepada ananda Pergiwati saja, Bapa.” Demikian jawab Arjuna setengah hati.
“Lho, bagaimana kangmas Arjuna ini. Kan Pergiwati sudah ditunangkan dengan Pancawala?”
Rupanya Arjuna sudah terkena gendam pesona Pendita Durna sehingga menurut saja.
“Tidak ada masalah yayi Wara Sembadra, semua bisa diatur,”      
 
Mendengar hal tersebut Nakula dan Sadewa yang kebetulan lewat di situ segera menggebrak kudanya dan dipacu sekencang-kencangnya menuju Amarta untuk menghadap kakandanya Prabu Puntadewa. Sang Prabu Puntadewa yang terkenal sangat rendah hati hanya diam seribu bahasa mendengar laporan Nakula dan Sadewa. Namun tidak demikian dengan Dewi Drupadi sang isteri yang melihat kejadian tersebut segera menjerit nyaring saking jengkelnya. Padahal Dewi Drupadi adalah wanita yang dikenal lemah lembut dan sangat santun. Namun begitu menyangkut nasib Raden Pancawala putra yang dikasihinya, Dewi Drupadi tak bisa menahan diri dan konon jeritannya sekian ribu decibel sehingga sampai terdengar di kayangan para Dewa. Prabu Yudistira yang terusik akan jeritan isterinya segera duduk bersila mengheningkan panca indera nutupi babahan hawa sanga. Tiba-tiba tubuhnya berubah menjadi Dewa Amral raksasa sebesar gunung, ketika kakinya menjejak bumi terjadi gempa bumi yang dahsyat. Kakinya melangkah dengan cepat dan setiap langkahnya menimbulkan lubang yang dalam seperti luweng di Gunungkidul, dengan tujuan melabrak Arjuna di Madukara.

Pendita Durna dan Patih Sengkuni begitu melihat raksasa sebesar gunung langsung ngibrit melarikan diri sampai sendal jepitnya ketinggalan. Dursasana diikuti para prajuritnya berebut lari saling mendahului sehinga banyak yang terinjak-injak teman sendiri sampai melet dan mecedhel. Sementara Arjuna begitu melihat Dewa Amral yang sedang marah segera melarikan diri sambil lari marathon menuju kerajaan Dwarawati langsung menghadap Prabu Kresna.
“Ampun kakanda Prabu Kresna, hamba mohon perlindungan.”
“Lho ada apa ta, kok lari seperti dikejar setan alas?”
“Kakang Prabu Puntadewa marah sehingga berubah wujud menjadi Dewa Amral.”
“Lho, rayi Puntadewa itu orang yang sangat lembut. Kalau sampai dia marah pasti ada sesuatu  yang tidak beres. Apa yang terjadi?”
“Pertunanagan Pergiwati dan Pancawala saya putuskan karena permintaan Bapa Guru Durna.”


Mendengar hal tersebut Prabu Kresna sambil geleng-geleng kepala segera mengeluarkan senjata Cakra dari telapak tangannya. Senjata Cakra berputar seperti kipas angin di stel angka 5 saking cepetnya terbang ke angkasa kemudian menukik menuju sasaran yaitu Dewa Amral. Benturan senjata Cakra dengan tubuh Dewa Amral menggelegar menggetarkan bumi dan berubahlah wujud kembali menjadi Prabu Puntadewa. Arjuna kemudin meminta maaf dan akan meneruskan pertunangan Pergiwati dan Pancawala sampai ke jenjang perkawinan. Syahdan di kahyangan Sapta pratala, Sang Hyang Antaboga dewa seluruh ular naga panjangnya sedang dihadap oleh Antareja cucunya. Antareja adalah putra Bimasena dan Dewi Nagagini dalam lakon Bale sigala-gala. Syang Hyang Antaboga memerintahkan Antareja segera menuju Kasatrian Madukara karena indera ke tujuh-nya merasakan kekacauan di sana.
 
Di tengah malam yang sunyi senyap tanpa bintang di langit dan desir angin, tiba-tiba kasatrian Madukara digegerkan dengan hilangnya Dewi Pergiwati digondol maling. Raden Antareja yang baru manyuk di taman segera mengejar larinya maling yang sekelebatan dilihatnya. Ketika kecandhak alias tertangkap, diterjangnya habis-habisan maling itu yang ternyata Prabu Candra Baskara dari Karangsembung.  Tibaknya Candra Baskara itu sakti mandraguna dhatan tedhas tapak paluning pandhe sehingga perkelahian itu belum selesai juga menjelang fajar. Karena jengkelnya maka disemburnya Prabu Candra Baskara oleh Antareja dengan bisa ular tingkat tinggi jauh diatas King Kobra sehingga badannya Prabu Candra Baskara mlonyoh seketika. Dewi Pergiwati segera digandeng Raden Pancawala untuk menghadap ayahanda Arjuna di Madukara. Seluruh kerabat Pandawa yang hadir segera menyaksikan pemberkatan nikah Dewi Pergiwati melawan Raden Pancawala. Perhelatan besar-besaran dilaksanakan dengan makanan yang berlimpah dan segala macam tontonan tradisionil seperti Kethoprak dan Ludruk Nehemia. Tidak ketinggalan Kroncong SNN, Kentrung Seruni dan Ben Kesot memeriahkan suasana. *sumber pewayangan. Andreas Hutomo.

Picture
Powered by Create your own unique website with customizable templates.