Tanggung Jawab Kemerdekaan
“Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.” ( Gal 2 : 16 )
Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya kehidupan kebangsaan yang bebas , maka rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya. Kemerdekaan akan menghasilkan suatu kewenangan atau kuasa yang sebenarnya berasal dari Allah yang harus dipertanggungjawabkan kepadadNya, tetapi sering disalahgunakan demi kepentingan pribadi atau kelompoknya saja. Kemerdekaan diperoleh atas perjuangan para pahlawan bangsa berkat anugerah Allah dan bertujuan untuk mecapai kesejahteraan rakyat,, kemerdekaan atas kasih karunia Allah atas karya penyelamatan Yesus Kristus menghasikan damai sejahtera Allah. Alangkah indahnya kalau hasil kemerdekaan bangsa kita mencapai kesejahteraan rakyat dan disempurnakan dalam damai sejahtera Allah. Atas dasar hal tersebut maka judul tersebut dia atas disajikan dan diiringi doa serta usaha kiranya karya Allah menjadi nyata dalam kehidupan bangsa dan gereja kita.
Perlu diawalai dengan pembahasan singkat tentang kemerdekaan akibat adanya kolonialisme, imperialisme, neokolonialisme, neoimperialisme, korupsi, kolusi, dan nepotisme. Kemerdekaan atas karya penyelamatan Yesus Kistus intinya karena dosa manusia, m,enghasilakan damai sejahtera Allah yaitu terpeliharanya tubuh, jiwa dan roh secara sempurna. Kritik dan saran yang membangun sangat dinantikan demi kelengkapan materi pembahasan.
KOLONIALISME
Kolonialisme adalah pengembangan kekuasaan sebuah negara atas wilayah dan manusia di luar batas negaranya, untuk mencari dominasi ekonomi dan sumber daya alam dan manusia serta pasar wilayah tersebut, Para pendukung kolonialisme berpendapat bahwa kolonial menguntungkan negara yang dikolonikan dengan mengembangkan infrastrukutur ekonomi dan politik yang dibutuhkan untuk pemodernisasian dan demokrasi. Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Hong Kong, dan Singapura sebagai contoh sukses pasca kolonialisme. Tetapi kolonialisme banyak yang hanya mengeksploitasi negara yang dikolonikan seperti Indonesia dan Timor Leste, Ghana karena kolonialisme hanya pemindahan kekayaan dari daerah yang dikolonisasi ke negara pengkolonialisasi bahkan merusak politik, psikologi, moral negara terkolonisasi.
NEOKOLONIALISME
Neokolonialisme adalah praktek kapitalisme, globalisasi dan kultural untuk mengontrol sebuah negara sebagai ganti kontrol politik atau militer secara langsung, bisa berupa budaya, bahasa, media, korporasi, pinjaman, alih teknologi, pemasaran, gaya hidup, dan hiburan.
IMPERIALISME
Imperialisme adalah sebuah kebijakan di mana negara besar dapat memegang kendali atau pemerintahan negara lain, bahkan negara besar bisa menetap / mengusai negara lain, sehingga timbul istilah imperialisme politik, ekonomi, kebudayaan dan imperialism militer.
NEOIMPERIALISME
Neoimperialisme adalah kebijakan untuk memegang kendali atau pemerintahan dengan menggunakan teknologi terbaru, permodalan besar, dengan menggunkan sumber daya yang ada di daerah jajahan mereka.
KORUPSI
Korupsi adalah penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana, memperkaya diri sendiri, orang lain, atau koporasi, merugikan negara atau perekoniamian negara. Selain itu ada tindakan korupsi lain seperti memberi atau menerima hadiah atau janji penyuapan, penggelapan dan pemerasan dalam jabatan, menerima gratifikasi bagi pegawai negeri / penyelenggara negara. Dalam arti luas korupsi adalah penyalahgunaan jabatan resmi untuk kepentingan pribadi sehingga digolongkan menjadi tindak pidana.
KOLUSI
Kolusi paling sering terjadi dalam suatu bentuk oligopoli, dimana keputusan beberapa perusahaan untuk bekerja sama secara signifikan mempengaruhi pasar secara keseluruhan sehingga merupakan sikap dan perbuatan yang tidak jujur untuk memperoleh keuntungan yang sangat tidak wajar dan merugikan konsumen.
NEPOTISME
Nepotisme berarti memilih saudara atau teman akrab berdasarkan hubungan bukan berdasarkan kemampuannya. Keputusan akibat nepotisme akan sangat merugikan organisasi atau pemerintahan suatu negara.
KEMERDEKAAN UNTUK LEPAS DARI PENJAJAHAN
Akibat kolonialisme, imperialisme menghasilkan penjajahan yang sangat merugikan negara terjajah dan menguntungkan negara penjajah, sehingga muncullah para pejuang kemerdekaan agar terlepas dari praktek eksploitasi negara asing dan menghasilkan kemerdekaan suatu negara dan kewenangan mengelola atas kekuasaan negara berada ditangan bangsa sendiri, namun sayang setelah lepas dari penjajahan bangsa asing, secara terselubung kita dijajah oleh bangsa sendiri dengan muncul beberapa tindak pidana korupsi, kolusi dan nepotisme. Oleh karena itu diperlukan tanggungjawab kemerdekaan demi kesejahteraan masyarakat, Indonesia telah merdeka 71 tahun tetapi kesejahteraan masyarakat masih jauh dari harapan kita, jurang antara yang kaya dan yang miskin makin melebar sangat dalam, hal ini perlu menjadi perhatian secara sungguh-sungguh bagi pemerintah dan seluruh bangsa kita terutama para pemimpin formal maupun pemimpin masyarakat agar menjadi teladan bagi masyarakat secara keseluruhannya. Warga jemaat wajib menjadi terang dan garam dunia dan tekun dalam doa dan karya nyata agar kuasa Allah menjadi nyata dalam kehidupan baik jasmani maupun rohani bagi bangsa kita., dan gereja menjadi pelopor terwujudnya Kerajaan Allah di muka bumi terutama di Indonesia.
TANGGUNG JAWAB KEMERDEKAAN DEMI KERAJAAN ALLAH
Pada awal penciptaan alam semesta sesuai dengan visi Allah yang penuh kasih sehingga manusia sebagai gambar Allah diberi kemerdekaan untuk mengelolanya, tetapi karena dosa maka muncullah berbagai kesulitan beraneka ragam, bahkan sejarah mencatat pendirian menara Babel, perbudakan, Bait Suci dimsnahkan, Yesus ke dunia sebagai Juruselamat, rasul memeberitakan kabar baik, gereja bertumbuh dengan pelayanan yang berkelanjutan, namun dampak kolonialisme, imperialisme, korupsi, kolusi dan nepotisme sulit dibendung,seakan masyarakat adil dan makmur bagai fatamorgana, warga jemaat tidak boleh berputus asa, karena kuasa Allah senantiasa nyata, sehingga kita harus tekun berdoa, dan berusaha kiranya bukan kehendakku, namun kehendakMu yang menjadi nyata.
Jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga
“Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.” ( Rom 14 : 17 )
Tanggung jawab kemerdekaan yang lebih utama adalah kebenaran baik secara universal dan yang lebih utama kasih karunia / Yesus Kristus adalah kebenaran sejati, damai sejahtera Allah adalah terpeliharanya tubuh, jiwa dan roh secara sempurna, hal ini hanya dimungkinkan kalau kita berakar kepada pokok anggur yang benar dan kita adalah ranting-rantingnya sehingga dimampukan untuk bertumbuh dan berbuah hanya karena kuasaNya, walau kita sakit, menderita, termarginalkan, tetapi dikuatkan oleh kuasaNya, sukacita oleh Roh Kudus akan diperoleh kalau kita yakin Roh Kudus senantiasa menyertai dan menguasai kita secara berkesinambungan, walau kita sering tidak merasakan atau melupakanNya, namun Dia penuh setia dan tidak pernah meninggalkan kita, sehingga kita tidak pernah mendukakanNya. Kita harus yakin karya penyelamatan Tuhan Yesus di kayu salib yang hanya terjadi sekali itu adalah karya yang sempurna dan kuasaNya menjadi nyata sepanjang masa. “Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. BagiNya kemuliaan, sekarang dan selama-lamanya.” (2 Pet 3 :18 ) Amin. JS/PI
Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya kehidupan kebangsaan yang bebas , maka rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya. Kemerdekaan akan menghasilkan suatu kewenangan atau kuasa yang sebenarnya berasal dari Allah yang harus dipertanggungjawabkan kepadadNya, tetapi sering disalahgunakan demi kepentingan pribadi atau kelompoknya saja. Kemerdekaan diperoleh atas perjuangan para pahlawan bangsa berkat anugerah Allah dan bertujuan untuk mecapai kesejahteraan rakyat,, kemerdekaan atas kasih karunia Allah atas karya penyelamatan Yesus Kristus menghasikan damai sejahtera Allah. Alangkah indahnya kalau hasil kemerdekaan bangsa kita mencapai kesejahteraan rakyat dan disempurnakan dalam damai sejahtera Allah. Atas dasar hal tersebut maka judul tersebut dia atas disajikan dan diiringi doa serta usaha kiranya karya Allah menjadi nyata dalam kehidupan bangsa dan gereja kita.
Perlu diawalai dengan pembahasan singkat tentang kemerdekaan akibat adanya kolonialisme, imperialisme, neokolonialisme, neoimperialisme, korupsi, kolusi, dan nepotisme. Kemerdekaan atas karya penyelamatan Yesus Kistus intinya karena dosa manusia, m,enghasilakan damai sejahtera Allah yaitu terpeliharanya tubuh, jiwa dan roh secara sempurna. Kritik dan saran yang membangun sangat dinantikan demi kelengkapan materi pembahasan.
KOLONIALISME
Kolonialisme adalah pengembangan kekuasaan sebuah negara atas wilayah dan manusia di luar batas negaranya, untuk mencari dominasi ekonomi dan sumber daya alam dan manusia serta pasar wilayah tersebut, Para pendukung kolonialisme berpendapat bahwa kolonial menguntungkan negara yang dikolonikan dengan mengembangkan infrastrukutur ekonomi dan politik yang dibutuhkan untuk pemodernisasian dan demokrasi. Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Hong Kong, dan Singapura sebagai contoh sukses pasca kolonialisme. Tetapi kolonialisme banyak yang hanya mengeksploitasi negara yang dikolonikan seperti Indonesia dan Timor Leste, Ghana karena kolonialisme hanya pemindahan kekayaan dari daerah yang dikolonisasi ke negara pengkolonialisasi bahkan merusak politik, psikologi, moral negara terkolonisasi.
NEOKOLONIALISME
Neokolonialisme adalah praktek kapitalisme, globalisasi dan kultural untuk mengontrol sebuah negara sebagai ganti kontrol politik atau militer secara langsung, bisa berupa budaya, bahasa, media, korporasi, pinjaman, alih teknologi, pemasaran, gaya hidup, dan hiburan.
IMPERIALISME
Imperialisme adalah sebuah kebijakan di mana negara besar dapat memegang kendali atau pemerintahan negara lain, bahkan negara besar bisa menetap / mengusai negara lain, sehingga timbul istilah imperialisme politik, ekonomi, kebudayaan dan imperialism militer.
NEOIMPERIALISME
Neoimperialisme adalah kebijakan untuk memegang kendali atau pemerintahan dengan menggunakan teknologi terbaru, permodalan besar, dengan menggunkan sumber daya yang ada di daerah jajahan mereka.
KORUPSI
Korupsi adalah penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana, memperkaya diri sendiri, orang lain, atau koporasi, merugikan negara atau perekoniamian negara. Selain itu ada tindakan korupsi lain seperti memberi atau menerima hadiah atau janji penyuapan, penggelapan dan pemerasan dalam jabatan, menerima gratifikasi bagi pegawai negeri / penyelenggara negara. Dalam arti luas korupsi adalah penyalahgunaan jabatan resmi untuk kepentingan pribadi sehingga digolongkan menjadi tindak pidana.
KOLUSI
Kolusi paling sering terjadi dalam suatu bentuk oligopoli, dimana keputusan beberapa perusahaan untuk bekerja sama secara signifikan mempengaruhi pasar secara keseluruhan sehingga merupakan sikap dan perbuatan yang tidak jujur untuk memperoleh keuntungan yang sangat tidak wajar dan merugikan konsumen.
NEPOTISME
Nepotisme berarti memilih saudara atau teman akrab berdasarkan hubungan bukan berdasarkan kemampuannya. Keputusan akibat nepotisme akan sangat merugikan organisasi atau pemerintahan suatu negara.
KEMERDEKAAN UNTUK LEPAS DARI PENJAJAHAN
Akibat kolonialisme, imperialisme menghasilkan penjajahan yang sangat merugikan negara terjajah dan menguntungkan negara penjajah, sehingga muncullah para pejuang kemerdekaan agar terlepas dari praktek eksploitasi negara asing dan menghasilkan kemerdekaan suatu negara dan kewenangan mengelola atas kekuasaan negara berada ditangan bangsa sendiri, namun sayang setelah lepas dari penjajahan bangsa asing, secara terselubung kita dijajah oleh bangsa sendiri dengan muncul beberapa tindak pidana korupsi, kolusi dan nepotisme. Oleh karena itu diperlukan tanggungjawab kemerdekaan demi kesejahteraan masyarakat, Indonesia telah merdeka 71 tahun tetapi kesejahteraan masyarakat masih jauh dari harapan kita, jurang antara yang kaya dan yang miskin makin melebar sangat dalam, hal ini perlu menjadi perhatian secara sungguh-sungguh bagi pemerintah dan seluruh bangsa kita terutama para pemimpin formal maupun pemimpin masyarakat agar menjadi teladan bagi masyarakat secara keseluruhannya. Warga jemaat wajib menjadi terang dan garam dunia dan tekun dalam doa dan karya nyata agar kuasa Allah menjadi nyata dalam kehidupan baik jasmani maupun rohani bagi bangsa kita., dan gereja menjadi pelopor terwujudnya Kerajaan Allah di muka bumi terutama di Indonesia.
TANGGUNG JAWAB KEMERDEKAAN DEMI KERAJAAN ALLAH
Pada awal penciptaan alam semesta sesuai dengan visi Allah yang penuh kasih sehingga manusia sebagai gambar Allah diberi kemerdekaan untuk mengelolanya, tetapi karena dosa maka muncullah berbagai kesulitan beraneka ragam, bahkan sejarah mencatat pendirian menara Babel, perbudakan, Bait Suci dimsnahkan, Yesus ke dunia sebagai Juruselamat, rasul memeberitakan kabar baik, gereja bertumbuh dengan pelayanan yang berkelanjutan, namun dampak kolonialisme, imperialisme, korupsi, kolusi dan nepotisme sulit dibendung,seakan masyarakat adil dan makmur bagai fatamorgana, warga jemaat tidak boleh berputus asa, karena kuasa Allah senantiasa nyata, sehingga kita harus tekun berdoa, dan berusaha kiranya bukan kehendakku, namun kehendakMu yang menjadi nyata.
Jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga
“Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.” ( Rom 14 : 17 )
Tanggung jawab kemerdekaan yang lebih utama adalah kebenaran baik secara universal dan yang lebih utama kasih karunia / Yesus Kristus adalah kebenaran sejati, damai sejahtera Allah adalah terpeliharanya tubuh, jiwa dan roh secara sempurna, hal ini hanya dimungkinkan kalau kita berakar kepada pokok anggur yang benar dan kita adalah ranting-rantingnya sehingga dimampukan untuk bertumbuh dan berbuah hanya karena kuasaNya, walau kita sakit, menderita, termarginalkan, tetapi dikuatkan oleh kuasaNya, sukacita oleh Roh Kudus akan diperoleh kalau kita yakin Roh Kudus senantiasa menyertai dan menguasai kita secara berkesinambungan, walau kita sering tidak merasakan atau melupakanNya, namun Dia penuh setia dan tidak pernah meninggalkan kita, sehingga kita tidak pernah mendukakanNya. Kita harus yakin karya penyelamatan Tuhan Yesus di kayu salib yang hanya terjadi sekali itu adalah karya yang sempurna dan kuasaNya menjadi nyata sepanjang masa. “Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. BagiNya kemuliaan, sekarang dan selama-lamanya.” (2 Pet 3 :18 ) Amin. JS/PI
Kemerdekaan Orang Kristen
Pendahuluan
Hidup di alam kemerdekaan memberi banyak kenyamanan dan kebebasan.Orang punya banyak pilihan dalam berbagai hal, seperti memilih partai sebagai kendaraan politik, kebebasan berbicara dan mengutarakan pendapat. Kemerdekaan memberi wadah kebebasan berkreativitas untuk melakukan apa saja.Ada kebebasan yang diartikan seperti orang yang baru saja dilepaskan dari tahanan karena perbuatan kriminal, ada pula kebebasan untuk membeli apa saja baik kontan maupun berhutang. Pendek kata “merdeka” berarti bebas, tidak terikat, dan tidak tergantung pada orang lain.
Kemerdekaan berpolitik adalah suatu yang hebat, tetapi kemerdekaan spiritual jauh lebih hebat, karena kita akan menikmatinya tidak terpengaruh pada siapapun yang memegang tampuk pemerintahan. Selain itu kemerdekaan spiritual dapat berlangsung selamanya. John Piper dalam tulisannya “You will know the truth and the truth will set you free” menyebutkan: kita sepenuhnya bebas bila memiliki keinginan, kemampuan, dan kesempatan melakukan hal-hal yang membuat kita tidak akan menyesal selamanya. Bila kita tidak memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu, atau kita memiliki keinginan tapi tidak memiliki kemampuan, atau kita memiliki keinginan dan kemampuan, tapi tidak memiliki kesempatan, maka kita tidak akan bebas melakukannya. Sebaliknya bila kita memiliki keinginan, kemampuan, dan kesempatan, tapi pada akhirnya menghancurkan diri sendiri, maka kita juga tidak sepenuhnya bebas.
Ketika kemerdekaan itu dipahami sebagai kebebasan dan kebahagiaan pribadi, saat itulah justru kebebasan dan kebahagiaan membuat orang kehilangan makna kemerdekaan yang sesungguhnya.Karena kemerdekaan tidak bisa dipisahkan dengan tanggung jawab termasuk risiko sebagai individu yang saling berinteraksi ditengah masyarakat.Memang, bila kemerdekaan yang sesungguhnya itu tidak dijalankan secara bertanggungjawab atau disalahgunakan, disinilah titik awal orang tidak lagi menjadi sungguh-sungguh merdeka.
Bagaimana dengan orang Kristen?Ketika orang-orang Kristen merasa bebas memilih.beribadah atau tidak, memberi persembahan atau tidak, berkorban atau tidak, melakukan atau tidak melakukan tetap dianggap sama saja. Tanpa merasa ada tuntutan apa-apa, tidak ada yang mengikat.Tiap orang bebas berbuat, bebas memilih.pokoknya bebas merdeka! Kelihatannya memang merdeka, tapi sesungguhnya tidak merdeka sebab diperhamba oleh kuasa dosa yang memperbudaknya.Sekalipun rasul Paulus menegaskan status kita saat berkata: “Karena itu saudara-saudara, kita bukanlah anak-anak hamba perempuan, melainkan anak-anak perempuan merdeka.” (Galatia 4:31), tetapi apa arti sebenarnya kemerdekaan itu?, merdeka dari apa? merdeka yang bagaimana?. Karena tidak jarang orang-orang Kristen statusnya saja sebagai orang-orang merdeka, tapi jiwanya tidak merdeka, bahkan hidup sehari-hari terkurung dalam kegelapan, tidak bebas, tidak dapat menikmati sukacita serta kebahagiaan dalam kemerdekaan yang sesungguhnya.Kemerdekaan orang-orang Kristen yang paling asasi adalah kemerdekaan dari perbudakan dosa yang mengikat.Kemerdekaan asasi itu telah dibayar mahal melalui pengorbanan Kristus.Hanya melalui Kristuslah manusia beroleh kemerdekaan asasi itu.“Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka” (Yoh. 8:36).
Dua sisi mata uang kemerdekaan
Tidak mengherankan bila Alkitab mengatakan beberapa hal tentang kemerdekaan, yang bagi sebagian pembacanya terkesan sebagai seperangkat aturan-aturan yang ketat. Dalam kenyataannya, bila kita berpikir lebih jauh, Alkitab justru membantu kita membedakan antara apa artinya “merdeka dari sesuatu” dengan “merdeka untuk melakukan atau menjadi sesuatu”. Dengan kata lain “merdeka dari” dan“merdeka untuk” adalah dua sisi dari mata uang kemerdekaan.
Sungguh menarik bahwa banyak kebebasan yang kita cari saat ini akan berakhir dengan sendirinya sebagai tujuan akhir dari pencarian kebebasan. Sepertinya bila kebebasan itu telah kita peroleh maka semua masalah akan teratasi. Mengapa? Karena kita telah mendapatkan kebebasan! Tetapi bebas dari apa? Dan bebas melakukan atau menjadi apa?
Sebagai contoh misalnya, kita mempunyai utang dalam jumlah besar. Kita akan berusaha sekuat tenaga untuk melunasinya. Perlu waktu beberapa bulan, beberapa tahun, bahkan berpuluh tahun untuk melunasinya.Tetapi saat kita telah melunasi dan terbebas dari hutang tersebut, apakah kita benar-benar bebas?Ternyata tidak selamanya demikian, karena perasaan hati kita yang pertama kali menggerakkan keinginan untuk berhutang tidak pernah berubah.Dalam banyak kasus, dan ini sering terjadi, bila kita telah bebas dari hutang justru kembali terjebak dalam hutang berikutnya.Mengapa?Karena hati kita terlanjur jatuh cinta dan menikmati sesuatu seolah-olah kita tidak bisa hidup tanpa hutang. Jadi, bila hati kita tidak berubah, jangan harap perilaku atau kebiasaan kita akan berubah. Itulah sebabnya Alkitab mengatakan kemerdekaan atau kebebasan dimulai dari hati.Kita berbuat atas dasar pikiran dan berperilaku sesuai dengan keinginan hati kita.
Menariknya, Alkitab mengibaratkan hati manusia bagaikan pohon: “Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik(Matius 7:17-18).Sikap kita sangat tergantung dari hati kita, bila hati kita telah berpenyakit, maka buahnya (apa yang kita lakukan) juga akan membusuk. Tentu saja saja sangat baik bila kita tidak punya hutang, tetapi ini ibaratnya hanya terapi sementara untuk menghilangkan rasa sakit, tetapi tidak menyembuhkan penyakitnya. Kemerdekaan sejati akan kita peroleh bila hati kita berubah, bukan bila hutang kita lunas. Kemerdekaan sejati hanya muncul dari hati yang berubah dan membuat sesuatu manjadi baru.
Apakah kemerdekaan sejati itu?
Tuhan menciptakan manusia untuk memuliakan nama-Nya dan bersukacita didalam-Nya selamanya. Tapi mengapa kita justru melawan dan meninggalkan sang pencipta hanya karena kita ingin melakukan apa saja untuk kepentingan diri kita sendiri. Pemberontakan terhadap Tuhan dikenal sebagai kejatuhan, karena manusia jatuh dalam ketidaktahuan tentang tujuan penciptaan dan akhirnya jatuh didalam dosa.Karena dosa, konsekuensinya secara spiritual maupun fisik manusia telah mati. Kematian spiritual (terpisah dari Tuhan) dan pada saatnya secara fisik juga akan mati. Tidak hanya ini, tetapi dalam seluruh hidup kita dampak dari dosa meracuni apapun yang kita lakukan. Efek merusak dari dosa akan menyebar diantara kita, memutarbalikkan cara berpikir kita, termasuk perilaku kita sehari-hari. Semua pikiran, perasaan, dan tingkah laku dikotori oleh dosa kita.Namun, terlepas dari semua ini manusia tetap merdeka. Merdeka untuk melakukan apa yang diinginkannya. Karena hati manusia telah rusak dan menjadi budak kejahatan, maka apapun yang dilakukan, dan sekalipun kita bebas untuk memilih, kita selalu memilih dosa.
Di saat Tuhan mengutus Anak-Nya ke bumi dan mati untuk dosa-dosa manusia, maka siapa saja yang menyerahkan seluruh hidupnya didalam Yesus Kristus akan diampuni dosanya dan akan dibebaskan dari ikatan dosa dan memperoleh hidup yang kekal dalam hubungan pribadi dengan Tuhan sendiri. Inilah yang dinamakan sebagai “kemerdekaan sejati”.Kemerdekaan sejati hanya ada didalam Kristus. Melalui Roh Kudus Tuhan mengubah jalan hidup kita, dan memberi kebebasan melakukan apa saja seturut dengan tujuan penciptaan Tuhan atas manusia dibumi.
Kemerdekaan orang Kristen
Secara rohani orang Kristen adalah orang yang bebas merdeka, yaitu bebas dari kutukan dosa, bebas dari maut, bebas dari iblis, dan bebas dari melakukan hukum Taurat sebagai syarat keselamatan. Masalahnya kemerdekaan spiritual yang dianugrahkan Allah kepada kita masih bisa disalahgunakan menjadi kemerdekaan semu tanpa disiplin, yaitu kebebasan tanpa kebenaran dan keadilan, yang dilecehkan oleh orang Kristen sendiri.Kemerdekaan orang Kristen adalah kemerdekaan yang terkendali bukan kemerdekaan suka-suka tanpa disiplin rohani.
Rasul Paulus menjelaskan apa yang bukan kemerdekaan orang Kristen :
Penutup
Marilah kita kembali kepada catatan John Piper diawal tulisan ini: “kita sepenuhnya bebas bila memiliki keinginan, kemampuan, dan kesempatan melakukan hal-hal yang membuat kita tidak akan menyesal selamanya”. Bila kita betul-betul percaya didalam Kristus, Ia akan memberikan kepada kita suatu keinginan untuk menyenangkan Tuhan yang berbalaskan berkat Tuhan atas kita. Tuhan memberi kita kemampuan untuk mentaati Firman-Nya saat kita berjalan didalam Roh yang tinggal bersama kita. Tuhan memberi kita tiap hari kesempatan untuk mengatakan “Tidak” kepada dosa dan egoisme saat melayani orang lain dengan penuh kasih. Dan pada akhirnya kita akan tetap tinggal bersama Tuhan selamanya. Inilah kemerdekaan orang Kristen yang sejati yang berakar pada kesetiaan dan kepatuhan pada Firman Tuhan. Bila kita masih menjadi budak dosa, Tuhan Yesus akan memberikan kepada kita kemerdekaan yang sejati.
“Saudara-saudara memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” (Gal. 5:13). Alfred Bawole.
Hidup di alam kemerdekaan memberi banyak kenyamanan dan kebebasan.Orang punya banyak pilihan dalam berbagai hal, seperti memilih partai sebagai kendaraan politik, kebebasan berbicara dan mengutarakan pendapat. Kemerdekaan memberi wadah kebebasan berkreativitas untuk melakukan apa saja.Ada kebebasan yang diartikan seperti orang yang baru saja dilepaskan dari tahanan karena perbuatan kriminal, ada pula kebebasan untuk membeli apa saja baik kontan maupun berhutang. Pendek kata “merdeka” berarti bebas, tidak terikat, dan tidak tergantung pada orang lain.
Kemerdekaan berpolitik adalah suatu yang hebat, tetapi kemerdekaan spiritual jauh lebih hebat, karena kita akan menikmatinya tidak terpengaruh pada siapapun yang memegang tampuk pemerintahan. Selain itu kemerdekaan spiritual dapat berlangsung selamanya. John Piper dalam tulisannya “You will know the truth and the truth will set you free” menyebutkan: kita sepenuhnya bebas bila memiliki keinginan, kemampuan, dan kesempatan melakukan hal-hal yang membuat kita tidak akan menyesal selamanya. Bila kita tidak memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu, atau kita memiliki keinginan tapi tidak memiliki kemampuan, atau kita memiliki keinginan dan kemampuan, tapi tidak memiliki kesempatan, maka kita tidak akan bebas melakukannya. Sebaliknya bila kita memiliki keinginan, kemampuan, dan kesempatan, tapi pada akhirnya menghancurkan diri sendiri, maka kita juga tidak sepenuhnya bebas.
Ketika kemerdekaan itu dipahami sebagai kebebasan dan kebahagiaan pribadi, saat itulah justru kebebasan dan kebahagiaan membuat orang kehilangan makna kemerdekaan yang sesungguhnya.Karena kemerdekaan tidak bisa dipisahkan dengan tanggung jawab termasuk risiko sebagai individu yang saling berinteraksi ditengah masyarakat.Memang, bila kemerdekaan yang sesungguhnya itu tidak dijalankan secara bertanggungjawab atau disalahgunakan, disinilah titik awal orang tidak lagi menjadi sungguh-sungguh merdeka.
Bagaimana dengan orang Kristen?Ketika orang-orang Kristen merasa bebas memilih.beribadah atau tidak, memberi persembahan atau tidak, berkorban atau tidak, melakukan atau tidak melakukan tetap dianggap sama saja. Tanpa merasa ada tuntutan apa-apa, tidak ada yang mengikat.Tiap orang bebas berbuat, bebas memilih.pokoknya bebas merdeka! Kelihatannya memang merdeka, tapi sesungguhnya tidak merdeka sebab diperhamba oleh kuasa dosa yang memperbudaknya.Sekalipun rasul Paulus menegaskan status kita saat berkata: “Karena itu saudara-saudara, kita bukanlah anak-anak hamba perempuan, melainkan anak-anak perempuan merdeka.” (Galatia 4:31), tetapi apa arti sebenarnya kemerdekaan itu?, merdeka dari apa? merdeka yang bagaimana?. Karena tidak jarang orang-orang Kristen statusnya saja sebagai orang-orang merdeka, tapi jiwanya tidak merdeka, bahkan hidup sehari-hari terkurung dalam kegelapan, tidak bebas, tidak dapat menikmati sukacita serta kebahagiaan dalam kemerdekaan yang sesungguhnya.Kemerdekaan orang-orang Kristen yang paling asasi adalah kemerdekaan dari perbudakan dosa yang mengikat.Kemerdekaan asasi itu telah dibayar mahal melalui pengorbanan Kristus.Hanya melalui Kristuslah manusia beroleh kemerdekaan asasi itu.“Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka” (Yoh. 8:36).
Dua sisi mata uang kemerdekaan
Tidak mengherankan bila Alkitab mengatakan beberapa hal tentang kemerdekaan, yang bagi sebagian pembacanya terkesan sebagai seperangkat aturan-aturan yang ketat. Dalam kenyataannya, bila kita berpikir lebih jauh, Alkitab justru membantu kita membedakan antara apa artinya “merdeka dari sesuatu” dengan “merdeka untuk melakukan atau menjadi sesuatu”. Dengan kata lain “merdeka dari” dan“merdeka untuk” adalah dua sisi dari mata uang kemerdekaan.
Sungguh menarik bahwa banyak kebebasan yang kita cari saat ini akan berakhir dengan sendirinya sebagai tujuan akhir dari pencarian kebebasan. Sepertinya bila kebebasan itu telah kita peroleh maka semua masalah akan teratasi. Mengapa? Karena kita telah mendapatkan kebebasan! Tetapi bebas dari apa? Dan bebas melakukan atau menjadi apa?
Sebagai contoh misalnya, kita mempunyai utang dalam jumlah besar. Kita akan berusaha sekuat tenaga untuk melunasinya. Perlu waktu beberapa bulan, beberapa tahun, bahkan berpuluh tahun untuk melunasinya.Tetapi saat kita telah melunasi dan terbebas dari hutang tersebut, apakah kita benar-benar bebas?Ternyata tidak selamanya demikian, karena perasaan hati kita yang pertama kali menggerakkan keinginan untuk berhutang tidak pernah berubah.Dalam banyak kasus, dan ini sering terjadi, bila kita telah bebas dari hutang justru kembali terjebak dalam hutang berikutnya.Mengapa?Karena hati kita terlanjur jatuh cinta dan menikmati sesuatu seolah-olah kita tidak bisa hidup tanpa hutang. Jadi, bila hati kita tidak berubah, jangan harap perilaku atau kebiasaan kita akan berubah. Itulah sebabnya Alkitab mengatakan kemerdekaan atau kebebasan dimulai dari hati.Kita berbuat atas dasar pikiran dan berperilaku sesuai dengan keinginan hati kita.
Menariknya, Alkitab mengibaratkan hati manusia bagaikan pohon: “Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik(Matius 7:17-18).Sikap kita sangat tergantung dari hati kita, bila hati kita telah berpenyakit, maka buahnya (apa yang kita lakukan) juga akan membusuk. Tentu saja saja sangat baik bila kita tidak punya hutang, tetapi ini ibaratnya hanya terapi sementara untuk menghilangkan rasa sakit, tetapi tidak menyembuhkan penyakitnya. Kemerdekaan sejati akan kita peroleh bila hati kita berubah, bukan bila hutang kita lunas. Kemerdekaan sejati hanya muncul dari hati yang berubah dan membuat sesuatu manjadi baru.
Apakah kemerdekaan sejati itu?
Tuhan menciptakan manusia untuk memuliakan nama-Nya dan bersukacita didalam-Nya selamanya. Tapi mengapa kita justru melawan dan meninggalkan sang pencipta hanya karena kita ingin melakukan apa saja untuk kepentingan diri kita sendiri. Pemberontakan terhadap Tuhan dikenal sebagai kejatuhan, karena manusia jatuh dalam ketidaktahuan tentang tujuan penciptaan dan akhirnya jatuh didalam dosa.Karena dosa, konsekuensinya secara spiritual maupun fisik manusia telah mati. Kematian spiritual (terpisah dari Tuhan) dan pada saatnya secara fisik juga akan mati. Tidak hanya ini, tetapi dalam seluruh hidup kita dampak dari dosa meracuni apapun yang kita lakukan. Efek merusak dari dosa akan menyebar diantara kita, memutarbalikkan cara berpikir kita, termasuk perilaku kita sehari-hari. Semua pikiran, perasaan, dan tingkah laku dikotori oleh dosa kita.Namun, terlepas dari semua ini manusia tetap merdeka. Merdeka untuk melakukan apa yang diinginkannya. Karena hati manusia telah rusak dan menjadi budak kejahatan, maka apapun yang dilakukan, dan sekalipun kita bebas untuk memilih, kita selalu memilih dosa.
Di saat Tuhan mengutus Anak-Nya ke bumi dan mati untuk dosa-dosa manusia, maka siapa saja yang menyerahkan seluruh hidupnya didalam Yesus Kristus akan diampuni dosanya dan akan dibebaskan dari ikatan dosa dan memperoleh hidup yang kekal dalam hubungan pribadi dengan Tuhan sendiri. Inilah yang dinamakan sebagai “kemerdekaan sejati”.Kemerdekaan sejati hanya ada didalam Kristus. Melalui Roh Kudus Tuhan mengubah jalan hidup kita, dan memberi kebebasan melakukan apa saja seturut dengan tujuan penciptaan Tuhan atas manusia dibumi.
Kemerdekaan orang Kristen
Secara rohani orang Kristen adalah orang yang bebas merdeka, yaitu bebas dari kutukan dosa, bebas dari maut, bebas dari iblis, dan bebas dari melakukan hukum Taurat sebagai syarat keselamatan. Masalahnya kemerdekaan spiritual yang dianugrahkan Allah kepada kita masih bisa disalahgunakan menjadi kemerdekaan semu tanpa disiplin, yaitu kebebasan tanpa kebenaran dan keadilan, yang dilecehkan oleh orang Kristen sendiri.Kemerdekaan orang Kristen adalah kemerdekaan yang terkendali bukan kemerdekaan suka-suka tanpa disiplin rohani.
Rasul Paulus menjelaskan apa yang bukan kemerdekaan orang Kristen :
- Kemerdekaan orang Kristen bukanlah kemerdekaan untuk menuruti keinginan daging (Galatia 5:19-21; Galatia 5:24)
- Kemerdekaan orang Kristen bukanlah kemerdekaan untuk merugikan sesama.
- Kemerdekaan orang Kristen bukanlah kemerdekaan untuk mengabaikan hukum Allah
Penutup
Marilah kita kembali kepada catatan John Piper diawal tulisan ini: “kita sepenuhnya bebas bila memiliki keinginan, kemampuan, dan kesempatan melakukan hal-hal yang membuat kita tidak akan menyesal selamanya”. Bila kita betul-betul percaya didalam Kristus, Ia akan memberikan kepada kita suatu keinginan untuk menyenangkan Tuhan yang berbalaskan berkat Tuhan atas kita. Tuhan memberi kita kemampuan untuk mentaati Firman-Nya saat kita berjalan didalam Roh yang tinggal bersama kita. Tuhan memberi kita tiap hari kesempatan untuk mengatakan “Tidak” kepada dosa dan egoisme saat melayani orang lain dengan penuh kasih. Dan pada akhirnya kita akan tetap tinggal bersama Tuhan selamanya. Inilah kemerdekaan orang Kristen yang sejati yang berakar pada kesetiaan dan kepatuhan pada Firman Tuhan. Bila kita masih menjadi budak dosa, Tuhan Yesus akan memberikan kepada kita kemerdekaan yang sejati.
“Saudara-saudara memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” (Gal. 5:13). Alfred Bawole.
Kemerdekaan Identik Kebebasan
Kemerdekaan bukanlah kebebasan. Meski identik, keduanya punya tujuan yang secara esensi berbeda. Jika yang pertama hendak keluar dari tekanan pihak-pihak lain, yang kedua lebih menonjolkan partisipasi secara bersama untuk tujuan bersama pula.
Istilah “kemerdekaan dan kebebasan” tak hanya diidentikkan secara tidak proporsional. Keduanya bahkan dipandang bisa saling bergantian dalam penggunaannya. Yang merdeka adalah yang bebas; Yang bebas adalah yang merdeka. Dan kadang-kadang makna kemerdekaan dan kebebasan acapkali didefinisikan secara terbalik. Pada kemerdekaan, konsep ini dipandang sebagai tujuan, adapun kebebasan adalah prasyaratnya
Kebebasan adalah hak manusia untuk mencapai kebahagiaan individu tanpa merusak kebebasan individu lain. Kebebasan merupakan tempat bergantungnya ketinggian harga diri manusia. Setiap kebebasan hakikatnya adalah aturan yang menjadi pilihan. Akal dan kecerdasan tidak ada artinya tanpa kebebasan. Kebebasan juga dapat berarti kehendak bebas manusia yang dengannya kita dapat memutuskan suatu hal dari banyak pilihan-pilihan dan peristiwa yang terjadi dalam hidup kita. Kebebasan atau kemerdekaan, tak ada tekanan, paksaan, ketakutan, sebuah kondisi yang memungkinkan kita untuk menjadi diri sendiri dan membuat pilihan tanpa ada intervensi apapun dari pihak manapun. Kebebasan bukan berarti tanpa sebuah keterikatan, namun keterikatan terjadi saat dengan sadar diri rela untuk mengikatkan diri. Pada dasarnya kemerdekaan adalah kerinduan setiap orang. Namun seringkali tidak mendapatkannya karena tidak memahami makna kemerdekaan itu sendiri, yaitu : Hidup tanpa penjajahan, Hidup dengan potensi maximal, Hidup yang mampu mengalahkan setiap musuh dan Hidup yang mengalami rencana Tuhan yang sempurna
Karunia Allah
Kemerdekaan itu telah dikaruniakan oleh :
Sebagai mitra kerja Tuhan di bumi, yang mempunyai kehendak bebas, harus dapat memilih untuk melayani Tuhan, karena ingin menyenangkan Dia atau karena suatu keharusan. Yang menentukan kesuksesan dengan pilihan-pilihan yang dibuat, bahkan saat tidak membuat pilihan apapun, sebenarnya sudah memilih untuk tidak memakai kehendak sendiri.
Kemerdekaan Kristen
Apa kata Alkitab tentang kemerdekaan dan kebebasan :
Istilah “kemerdekaan dan kebebasan” tak hanya diidentikkan secara tidak proporsional. Keduanya bahkan dipandang bisa saling bergantian dalam penggunaannya. Yang merdeka adalah yang bebas; Yang bebas adalah yang merdeka. Dan kadang-kadang makna kemerdekaan dan kebebasan acapkali didefinisikan secara terbalik. Pada kemerdekaan, konsep ini dipandang sebagai tujuan, adapun kebebasan adalah prasyaratnya
Kebebasan adalah hak manusia untuk mencapai kebahagiaan individu tanpa merusak kebebasan individu lain. Kebebasan merupakan tempat bergantungnya ketinggian harga diri manusia. Setiap kebebasan hakikatnya adalah aturan yang menjadi pilihan. Akal dan kecerdasan tidak ada artinya tanpa kebebasan. Kebebasan juga dapat berarti kehendak bebas manusia yang dengannya kita dapat memutuskan suatu hal dari banyak pilihan-pilihan dan peristiwa yang terjadi dalam hidup kita. Kebebasan atau kemerdekaan, tak ada tekanan, paksaan, ketakutan, sebuah kondisi yang memungkinkan kita untuk menjadi diri sendiri dan membuat pilihan tanpa ada intervensi apapun dari pihak manapun. Kebebasan bukan berarti tanpa sebuah keterikatan, namun keterikatan terjadi saat dengan sadar diri rela untuk mengikatkan diri. Pada dasarnya kemerdekaan adalah kerinduan setiap orang. Namun seringkali tidak mendapatkannya karena tidak memahami makna kemerdekaan itu sendiri, yaitu : Hidup tanpa penjajahan, Hidup dengan potensi maximal, Hidup yang mampu mengalahkan setiap musuh dan Hidup yang mengalami rencana Tuhan yang sempurna
Karunia Allah
Kemerdekaan itu telah dikaruniakan oleh :
- Allah Bapa : Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih. (Kol 1:13)
- Yesus Kristus : Demikian pula kita : selama kita belum akil balig, kita takluk juga kepada roh-roh dunia. Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak. (Gal 4:3-5). Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. (Gal 5:1)
- Roh Kudus : Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” (Rom 8:15). Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan. (2Kor 3:17)
- Tidak mau diperhamba : Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. (Gal 5:1)
- Siap hidup sebagai hamba Allah : Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah. (1Petrus 2:16)
Sebagai mitra kerja Tuhan di bumi, yang mempunyai kehendak bebas, harus dapat memilih untuk melayani Tuhan, karena ingin menyenangkan Dia atau karena suatu keharusan. Yang menentukan kesuksesan dengan pilihan-pilihan yang dibuat, bahkan saat tidak membuat pilihan apapun, sebenarnya sudah memilih untuk tidak memakai kehendak sendiri.
- Tahu kebenaran : Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yoh 8 :31-32)
- Menolak dosa : Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.” (Yoh 8:35-36)
- Dipimpin Roh Kudus : Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan. (2Kor 3:17)
Kemerdekaan Kristen
Apa kata Alkitab tentang kemerdekaan dan kebebasan :
- Telah dinubuatkan : untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara. (Yes 42:7)
- Telah ditetapkan oleh Kristus : Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.” (Yoh 8:36)
- Telah dinyatakan oleh Kristus : Roh Tuhan Allah ada padaku, oleh karena Tuhan telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara (Yes 61:1) -- Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab itu Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku (Luk 4:18)
- Sebagai pelayan Kristus : Sebab seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan-Nya, adalah orang bebas, milik Tuhan. Demikian pula orang bebas yang dipanggil Kristus, adalah hambanya. (1Kor 7:22)
- Dinamakan kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah : tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah. (Roma 8:21)
- Orang-orang ‘kudus’ dipanggil untuk melayani : Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. (Gal 5:13)
Menolak Kebebasan Tanpa Batas
“Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.” (1 Petrus 2: 16)
Jepang menyerah kepada Sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945 setelah dua buah kotanya, Hiroshima dan Nagasaki, rata dengan tanah setelah dijatuhi bom atom yang pertama di muka bumi. 17 Agustus adalah momentum puncak perjuangan kemerdekaan. Dengan sebuah upacara sederhana, di halaman sebuah rumah di Pegangsaan Timur nomor 10, berbaju putih dan bercelana putih, Soekarno membacakan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia di depan beberapa orang tokoh perjuangan. Pada saat itu yang dikibarkan bendera Sang Saka Merah Putih yang diiringi nyanyian Indonersia Raya gubahan W.R. Supratman.
Perjuangan Menyongsong Kemerdekaan
Jika pada masa sebelumnya, perjuangan kemerdekaan dilakukan bersifat kedaerahan, pada masa ini tumbuh nasionalisme dan kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan secara bersama-sama dari seluruh komponen bangsa. Berdirinya Budi Oetomo (20 Mei 1908), yang diikuti oleh organisasi-organisasi lain yang pada puncaknya melahirkan ikrar nasional Soempah Pemoeda (28 Oktober 1928). Jadi, inti dari kebangkitan nasional adalah kebersamaan dari seluruh komponen bangsa untuk melawan segala bentuk penjajahan untuk memperoleh kemerdekaan.
Perjuangan Belum Selesai
Meskipun sudah 71 tahun merdeka, namun kehidupan sebagian masyarakat, bangsa Indonesia masih memprihatinkan. Kehidupan masyarakat masih diwarnai oleh kecenderungan suka mengamuk dan tawuran., tamak dan serakah, maraknya korupsi, kurang peduli dan kurang hormat kepada sesama. Seolah nilai luhur Pancasila dikesampingkan sedemikian rupa sehingga menimbulkan berbagai ‘bencana’. Setiap warga Negara yang baik pasti merasa terpanggil untuk membangun generasi dengan hati. Sebab siapa lagi yang harus bertanggungjawab, kalau bukan warga Negara sendiri?
Saat ini, sebagai suatu bangsa, Indonesia sudah merdeka. Namun belum berarti bahwa penjajahan telah usai. Kini muncul bentuk penjajahan yang baru, yaitu penjajahan manusia oleh manusia lain (exploitation d’ lhomme par lhomme). Segala perilaku yang menimbulkan ketakutan pada pihak lain-misalnya pelanggaran hak azasi manusia (HAM), pelecehan seksual, dan terorisme-adalah suatu bentuk penjajahan yang berkembang saat ini. Perilaku yang memperkaya diri sendiri dengan mengorbankan pihak lain - seperti korupsi, perdagangan narkoba, dan perdagangan manusia (human trafficking) – juga merupakan bentuk penjajahan lain yang berkembang saat ini. Sebagaimana penjajahan bangsa lain pada masa lalu tidak bisa diatasi secara terpisah-pisah, bentuk penjajahan sekarang ini pun membutuhkan keterlibatan seluruh komponen bangsa.
Inilah saatnya bagi seluruh komponen bangsa untuk bersama-sama melawan segala bentuk penjajahan manusia atas manusia lain. Korban-korban penjajahan manusia atas manusia ini adalah kelompok lemah yang sering tersisihkan dalam pergaulan. Mereka bukan untuk dijauhi, melainkan membutuhkan pertolongan kita.
Membangun Indonesia adalah suatu keharusan. Keharusan untuk berbuat yang terbaik bagi negeri ini. Keharusan ini didorong oleh motivasi spiritual, bahwa untuk menjadikan diri sendiri sebagai makhluk yang mulia di hadapan Tuhan, maka kita perlu menjadikan sesama manusia yang lain sebagai pribadi yang mulia pula.
Negara Demokrasi
Hasil perjuangan kemerdekaan adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang dibangun diatas pondasi Demokrasi. Ini adalah kesepakatan seluruh komponen bangsa kita. Paham yang dianggap mempersatukan bangsa Indonesia yang beragam ini. Kita sudah merdeka 71 tahun, namun kebencian dan penolakan menjadi potret kehidupan saat ini. Ditolak karena berasal dari suku tertentu, agama tertentu, status sosial atau dianggap orang berdosa. Setiap hari bentuk penolakan, kebencian dan penghakiman yang terjadi dalam kehidupan bersama kita semakin kuat dan makin ditularkan kepada orang lain. Bahasa cinta menjadi komersiil, artificial, tidak terwujud dalam relasi.
Sebagai Negara penganut demokrasi, maka demokrasi bukanlah kehidupan tanpa regulasi. Kita semua sepakat bahwa demokrasi harus ditegakkan dalam Negara-bangsa ini. Negara yang demokratis membutuhkan adonan yang pas antara : kebebasan dan peraturan. Masyarakat yang terlalu bebas tanpa aturan akan cenderung anarkis. Sebaliknya, pemerintahan yang terlalu ketat dengan aturan tanpa kebebasan akan mematikan kehidupan demokratis.
Kita pernah mengalami kehidupan berbangsa dengan aturan yang terlalu mengekang, dan agaknya sekarang sedang mengarah kepada kebebasan yang mulai tanpa batas. Kedua-duanya menyimpan problematikanya sendiri. Saat ini, pendapat bisa dilontarkan siapa saja, bahkan yang berbau makar, menentang hingga menyerukan penggulingan pemerintah . Mencaci golongan lain yang berbeda pandangan.Demonstrasi massal yang berujung pada kekerasan dan kematian.
Kebebasan berpendapat dan berorganisasi itupun akhirnya berimbas kepada kebebasan beragama. Perbedaan pendapat dan pemahaman dalam beragama sudah ada sejak zaman dahulu. Namun, perbedaan demikian seharusnya tidak menjadi dasar pembenar bagi kekerasan apalagi pembunuhan.
Di negeri yang ber- Bhineka Tunggal Ika dan ber-Pancasila, keberagaman dalam beragama harus disikapi dengan toleransi yang tinggi, bukan dengan pengerahan massa apalagi pembunuhan yang keji. Pelanggaran hukum tidak dapat ditolerir, meski berlindung dibalik pembelaan agama .
Indonesia Optimis
Indonesia memang menghadapi banyak tantangan, dari masalah korupsi, masalah narkoba, masalah HAM, masalah terorisme, masalah ekonomi, dsb, dsb. Tetapi Indonesia mempunyai banyak alasan untuk optimis. Banyak capaian faktual yang mendasari sikap optimistis ini.
Pertama, reformasi tidak mati suri. Reformasi tidak hanya menghadirkan konstitusi yang lebih demokratis, Indonesia yang lebih menghargai perbedaan pendapat, Indonesia yang lebih menjamin kebebasan pers.
Kedua, Human Development Index, termasuk bidang pendidikan, kesehatan dan penghasilan, menunjukkan kecenderungan yang terus membaik. Indeks persaingan (global competitiveness index), bahkan indeks negara gagal (failed states index) menunjukkan kondisi Indonesia yang terus membaik, makin jauh dari negara gagal.
Ketiga, pada bidang antikorupsi yang penuh dengan tantangan berat, Indonesia telah pula menorehkan capaian. Indeks persepsi korupsi Indonesia telah meningkat dari 2,0 di tahun 2004 menjadi 2,8 di tahun 2010. Kenaikan 0,8 tersebut merupakan capaian yang signifikan yang harus tetap sama-sama kita syukuri. Indonesia karenanya tidak punya alasan untuk menolak optimisme. Indonesia justru harus menolak pesimisme. Dengan tetap berpinjak pada realitas. Menyadari bahwa tantangan dan persoalan yang menghadang tetap harus dihadapi, dan upaya perbaikan harus terus dilakukan.
Gereja dan Demokrasi
Berkait dengan masalah demokrasi, Gereja sebagai elemen bangsa adalah pelaksana demokrasi yang telah teruji. Contoh nyata: Dalam proses pemanggilan pendeta, dalam pemilihan anggota majelis, dalam kehidupan yang damai. Biar kekhasan ini menjadi bagian dari pemberitaan keselamatan Allah di bumi.
Gereja tidak bermain api dengan fanatisme keagamaan dan tidak melakukan intimidasi, meskipun kita mendambakan bahwa pelanggaran hukum terkait agama diproses secara berkeadilan, sebagai wujud kehadiran Negara dalam mengurus kepentingan dan ketertiban umum, menjadi perekat kesatuan bangsa. Sebagai orang percaya, kita tidak perlu terjebak untuk bertindak tidak demokratis. 1 Petrus 2: 16, menasihatkan: “Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.” Tentunya harapan kita bersama,semakin bertambah usia kita merdeka, semakin dewasa pula kita berdemokrasi. Jayalah Indonesia- ku. Merdeka!!! Dari beberapa sumber. Depok, 15 Juli 2016. Munari.
Jepang menyerah kepada Sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945 setelah dua buah kotanya, Hiroshima dan Nagasaki, rata dengan tanah setelah dijatuhi bom atom yang pertama di muka bumi. 17 Agustus adalah momentum puncak perjuangan kemerdekaan. Dengan sebuah upacara sederhana, di halaman sebuah rumah di Pegangsaan Timur nomor 10, berbaju putih dan bercelana putih, Soekarno membacakan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia di depan beberapa orang tokoh perjuangan. Pada saat itu yang dikibarkan bendera Sang Saka Merah Putih yang diiringi nyanyian Indonersia Raya gubahan W.R. Supratman.
Perjuangan Menyongsong Kemerdekaan
Jika pada masa sebelumnya, perjuangan kemerdekaan dilakukan bersifat kedaerahan, pada masa ini tumbuh nasionalisme dan kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan secara bersama-sama dari seluruh komponen bangsa. Berdirinya Budi Oetomo (20 Mei 1908), yang diikuti oleh organisasi-organisasi lain yang pada puncaknya melahirkan ikrar nasional Soempah Pemoeda (28 Oktober 1928). Jadi, inti dari kebangkitan nasional adalah kebersamaan dari seluruh komponen bangsa untuk melawan segala bentuk penjajahan untuk memperoleh kemerdekaan.
Perjuangan Belum Selesai
Meskipun sudah 71 tahun merdeka, namun kehidupan sebagian masyarakat, bangsa Indonesia masih memprihatinkan. Kehidupan masyarakat masih diwarnai oleh kecenderungan suka mengamuk dan tawuran., tamak dan serakah, maraknya korupsi, kurang peduli dan kurang hormat kepada sesama. Seolah nilai luhur Pancasila dikesampingkan sedemikian rupa sehingga menimbulkan berbagai ‘bencana’. Setiap warga Negara yang baik pasti merasa terpanggil untuk membangun generasi dengan hati. Sebab siapa lagi yang harus bertanggungjawab, kalau bukan warga Negara sendiri?
Saat ini, sebagai suatu bangsa, Indonesia sudah merdeka. Namun belum berarti bahwa penjajahan telah usai. Kini muncul bentuk penjajahan yang baru, yaitu penjajahan manusia oleh manusia lain (exploitation d’ lhomme par lhomme). Segala perilaku yang menimbulkan ketakutan pada pihak lain-misalnya pelanggaran hak azasi manusia (HAM), pelecehan seksual, dan terorisme-adalah suatu bentuk penjajahan yang berkembang saat ini. Perilaku yang memperkaya diri sendiri dengan mengorbankan pihak lain - seperti korupsi, perdagangan narkoba, dan perdagangan manusia (human trafficking) – juga merupakan bentuk penjajahan lain yang berkembang saat ini. Sebagaimana penjajahan bangsa lain pada masa lalu tidak bisa diatasi secara terpisah-pisah, bentuk penjajahan sekarang ini pun membutuhkan keterlibatan seluruh komponen bangsa.
Inilah saatnya bagi seluruh komponen bangsa untuk bersama-sama melawan segala bentuk penjajahan manusia atas manusia lain. Korban-korban penjajahan manusia atas manusia ini adalah kelompok lemah yang sering tersisihkan dalam pergaulan. Mereka bukan untuk dijauhi, melainkan membutuhkan pertolongan kita.
Membangun Indonesia adalah suatu keharusan. Keharusan untuk berbuat yang terbaik bagi negeri ini. Keharusan ini didorong oleh motivasi spiritual, bahwa untuk menjadikan diri sendiri sebagai makhluk yang mulia di hadapan Tuhan, maka kita perlu menjadikan sesama manusia yang lain sebagai pribadi yang mulia pula.
Negara Demokrasi
Hasil perjuangan kemerdekaan adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang dibangun diatas pondasi Demokrasi. Ini adalah kesepakatan seluruh komponen bangsa kita. Paham yang dianggap mempersatukan bangsa Indonesia yang beragam ini. Kita sudah merdeka 71 tahun, namun kebencian dan penolakan menjadi potret kehidupan saat ini. Ditolak karena berasal dari suku tertentu, agama tertentu, status sosial atau dianggap orang berdosa. Setiap hari bentuk penolakan, kebencian dan penghakiman yang terjadi dalam kehidupan bersama kita semakin kuat dan makin ditularkan kepada orang lain. Bahasa cinta menjadi komersiil, artificial, tidak terwujud dalam relasi.
Sebagai Negara penganut demokrasi, maka demokrasi bukanlah kehidupan tanpa regulasi. Kita semua sepakat bahwa demokrasi harus ditegakkan dalam Negara-bangsa ini. Negara yang demokratis membutuhkan adonan yang pas antara : kebebasan dan peraturan. Masyarakat yang terlalu bebas tanpa aturan akan cenderung anarkis. Sebaliknya, pemerintahan yang terlalu ketat dengan aturan tanpa kebebasan akan mematikan kehidupan demokratis.
Kita pernah mengalami kehidupan berbangsa dengan aturan yang terlalu mengekang, dan agaknya sekarang sedang mengarah kepada kebebasan yang mulai tanpa batas. Kedua-duanya menyimpan problematikanya sendiri. Saat ini, pendapat bisa dilontarkan siapa saja, bahkan yang berbau makar, menentang hingga menyerukan penggulingan pemerintah . Mencaci golongan lain yang berbeda pandangan.Demonstrasi massal yang berujung pada kekerasan dan kematian.
Kebebasan berpendapat dan berorganisasi itupun akhirnya berimbas kepada kebebasan beragama. Perbedaan pendapat dan pemahaman dalam beragama sudah ada sejak zaman dahulu. Namun, perbedaan demikian seharusnya tidak menjadi dasar pembenar bagi kekerasan apalagi pembunuhan.
Di negeri yang ber- Bhineka Tunggal Ika dan ber-Pancasila, keberagaman dalam beragama harus disikapi dengan toleransi yang tinggi, bukan dengan pengerahan massa apalagi pembunuhan yang keji. Pelanggaran hukum tidak dapat ditolerir, meski berlindung dibalik pembelaan agama .
Indonesia Optimis
Indonesia memang menghadapi banyak tantangan, dari masalah korupsi, masalah narkoba, masalah HAM, masalah terorisme, masalah ekonomi, dsb, dsb. Tetapi Indonesia mempunyai banyak alasan untuk optimis. Banyak capaian faktual yang mendasari sikap optimistis ini.
Pertama, reformasi tidak mati suri. Reformasi tidak hanya menghadirkan konstitusi yang lebih demokratis, Indonesia yang lebih menghargai perbedaan pendapat, Indonesia yang lebih menjamin kebebasan pers.
Kedua, Human Development Index, termasuk bidang pendidikan, kesehatan dan penghasilan, menunjukkan kecenderungan yang terus membaik. Indeks persaingan (global competitiveness index), bahkan indeks negara gagal (failed states index) menunjukkan kondisi Indonesia yang terus membaik, makin jauh dari negara gagal.
Ketiga, pada bidang antikorupsi yang penuh dengan tantangan berat, Indonesia telah pula menorehkan capaian. Indeks persepsi korupsi Indonesia telah meningkat dari 2,0 di tahun 2004 menjadi 2,8 di tahun 2010. Kenaikan 0,8 tersebut merupakan capaian yang signifikan yang harus tetap sama-sama kita syukuri. Indonesia karenanya tidak punya alasan untuk menolak optimisme. Indonesia justru harus menolak pesimisme. Dengan tetap berpinjak pada realitas. Menyadari bahwa tantangan dan persoalan yang menghadang tetap harus dihadapi, dan upaya perbaikan harus terus dilakukan.
Gereja dan Demokrasi
Berkait dengan masalah demokrasi, Gereja sebagai elemen bangsa adalah pelaksana demokrasi yang telah teruji. Contoh nyata: Dalam proses pemanggilan pendeta, dalam pemilihan anggota majelis, dalam kehidupan yang damai. Biar kekhasan ini menjadi bagian dari pemberitaan keselamatan Allah di bumi.
Gereja tidak bermain api dengan fanatisme keagamaan dan tidak melakukan intimidasi, meskipun kita mendambakan bahwa pelanggaran hukum terkait agama diproses secara berkeadilan, sebagai wujud kehadiran Negara dalam mengurus kepentingan dan ketertiban umum, menjadi perekat kesatuan bangsa. Sebagai orang percaya, kita tidak perlu terjebak untuk bertindak tidak demokratis. 1 Petrus 2: 16, menasihatkan: “Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.” Tentunya harapan kita bersama,semakin bertambah usia kita merdeka, semakin dewasa pula kita berdemokrasi. Jayalah Indonesia- ku. Merdeka!!! Dari beberapa sumber. Depok, 15 Juli 2016. Munari.
Kemerdekaan Jemaat Sadrach
ciri khas yang menonjol dari kehidupan jemaat Sadrach adalah jiwa mereka yang mandiri dan merdeka
Kemandirian merupakan ciri khas kehidupan pedesaan di Jawa. Hal ini dapat dilihat pada para pendirinya yang berbasis pertanian. Pada awalnya mereka berladang, kemudian dengan bergotong royong mereka membuat lahan yang di lembah menjadi persawahan. Para cikal bakal desa ini di kemudian hari makamnya menjadi pundhen atau yang dikeramatkan. Sifat kemandirian itu tercermin dalam pola kehidupan para pemimpin, seperti para Wakil Sadrach yaitu Yohanes, Markus dan Musa yang mantan guru ngelmu itu tidak pernah menerima imbalan untuk kerja mereka dalam jemaat. Kebanyakan dari mereka bekerja sebagai petani dan ada juga yang menjadi pedagang kecil. Sudah merupakan kebiasaan bahwa kerja spiritual sangat dihargai dan dihormati, tetapi tidak menerima imbalan. Para Kiai di pesantren Jawa tidak menerima imbalan, tetapi ia termotivasi untuk bekerja karena ia percaya bahwa itu merupakan amal yang bermanfaat bagi masyarakat.
Meski demikian sumbangan berupa materi tidak ditolaknya sepanjang itu untuk kemajuan pendidikan keagamaan. Hal ini juga terjadi pada jemaat Sadrach.
Kedatangan Sadrach pertama kali ke daerah Bagelen digambarkan oleh Yotham sebagai berikut. Sadrach pergi ke Kampung Tuksongo di kota Purworejo tempat tinggal Pandhito Steven-Philips, yang sebelumnya merupakan sinder perkebunan nila. Philips merupakan orang Belanda yang fasih berbahasa Jawa, demikian juga isterinya. Philips mengajarkan agama Kristen dan menjadi Pendeta seperti halnya isterinya. Philips dan isterinya menjalin hubungan baik dengan para penduduk pribumi dengan lemah lembut tidak seperti orang Belanda pada umumnya.
Philips mengerti dengan baik tentang pertanian, lumbungnya penuh dengan padi yang dimanfaatkan untuk membantu orang-orang Kristen Jawa. Karena Philips tidak mempunyai anak maka Sadrach kemudian diambil menjadi anak angkat dan dengan sukacita membantu Philips dan isterinya mengajar agama Kristen untuk orang-orang Jawa. Kemudian Sadrach berangkat ke Kutoarjo, sekitar 10 km dari Purworejo dan menjelajah pelosok sekeliling Kutoarjo untuk memulai pekabaran Injil dengan gayanya sendiri.
Orang yang pertama didatangi Sadrach adalah Kiai Ibrahim yang tinggal di desa Sruwah sebelah utara Kutoarjo, dan Sadrach berhasil mengkristenkan Ibrahim. Sejak itu Sadrach tinggal di desa tersebut dan kemudian ketika Sadrach menyatakan keinginannya untuk mengajarkan agama Kristen di Karangjoso Ibrahim mengantarnya ke desa itu. Yang ditemuianya adalah Kiai Kasanmentaram yang juga berasal dari Sruwah kemudian pindah ke Karangjoso. Kiai Sadrach kemudian tinggal dirumah Kiai Kasanmentaram dan diterima dengan senang hati, karena ternyata keduanya sudah saling mengenal ketika keduanya sama-sama menuntut ilmu di sebuah pesantren di Jawa Timur. Kedua Kiai ini kemudian terlibat dalam perdebatan seru mengenai agama masing-masing berhari-hari tanpa mengenal waktu. Akhirnya pada suatu saat Kiai Kasanmentaram tersentuh juga hatinya dan dengan tulus masuk agama Kristen.
Cara Kiai Sadrach menyebarkan agama Kristen yaitu dengan berjalan kaki kemana-mana dan mengunjungi guru-guru agama yang terkemuka di daerah itu serta meyakinkan mereka tentang ajaran agama Kristen. Jika tidak berhasil maka ditantangnya mereka untuk berdebat di depan umum untuk mengetahui siapa diantaranya yang lebih hebat ilmunya. Kemudian kedua tokoh itu duduk saling berhadapan dan para muridnya duduk dibelakangnya. Peraturannya ialah, bila Sadrach kalah ia dengan sukarela akan kembali memeluk agama Islam. Tetapi bila menang, maka lawannya harus masuk agama Kristen berikut para muridnya.
Sadrach berani menantang karena merasa ilmunya sudah lebih dari cukup, disamping memiliki ngelmu Jawa, dia juga pernah belajar di dua pesantren di Jawa Timur ditambah ilmunya yang baru yaitu tentang kekristenan. Oleh karena itu Sadrach tidak pernah kalah dalam debat beradu ilmu sehingga lawannya yang kalah segera memeluk agama Kristen beserta seluruh pengikutnya. Begitulah cara Sadrach mengkristenkan beberapa Kiai dalam waktu beberapa tahun saja, antara lain Kiai Ibrahim, Kiai Kasanmentaram, Kiai Coyontani dan Kiai Ronokusumo.
Perlu diketahui bahwa dalam kurun waktu sepuluh tahun suami-isteri Philips hanya berhasil mengkristenkan 29 orang termasuk wanita dan anak-anak. Diantara mereka adalah orang-orang yang bekerja di rumah keluarga Philips sebagai pembantu rumah tangga dan lain-lain. Orang-orang Kristen Jawa ini di gereja merupakan kelompok minoritas. Berkat upaya Sadrach yang tak mengenal lelah, pengkristenan berlangsung dengan cepat. Tanggal 6 Februari 1871 Pendeta Troostenburg de Bruijn membaptis Kiai Kasanmentaram bersama isteri dan 19 orang Jawa lainnya. Dalam kurun waktu 3 tahun Kiai Sadrach telah berhasil membaptiskan 612 orang di sekitar Bagelen. Selama tiga tahun tersebut kini orang Kristen Belanda terbalik menjadi kelompok minoritas di gerejanya.
Hal ini menyebabkan renggangnya hubungan kedua golongan yaitu orang Kristen Belanda dan orang Kristen Jawa. Akibat renggangnya hubungan ini orang-orang Jawa lambat-laun menjauhi upacara-upacara yang dilakukan di Gereja Purworejo, antara lain karena Bahasa Belanda yang digunakan dalam kebaktian tidak dimengerti oleh mereka, dan juga ada alasan yang lain. Tahun 1871 Kiai Sadrach dengan bantuan pengikutnya membangun sebuah gereja dari kayu, yang merupakan gereja pertama di Karangjoso dan di situlah Sadrach memimpin kebaktian. Jemaat Sadrach mempunyai gaya kebaktian dan sistem ritual sendiri yang terikat erat dengan tradisi budaya Jawa yang ada. Mereka sama sekali tidak mengenal pakaian Barat seperti setelan jas, dasi, celana panjang dan topi. Mereka mengenakan busana Jawa yang terdiri dari kain sarung atau kain batik , surjan dan ikat kepala dari kain. Jemaat pria akan menanggalkan ikat kepalanya pada waktu mengiuti kebaktian. Karena mereka sebagian besar buta aksara alias tidak bisa membaca dan menulis, maka pujian dilantunkan dalam bentuk tembang yang iramanya rata-rata sudah mereka hafal, hanya syairnya yang bernuansa rohani.
Sebagai contoh untuk menghafal Sepuluh Perintah Allah digubah dalam tembang Kinanthi yang terdiri dari 18 pupuh (bait). Pengakuan Iman Rasuli dilantunkan dalam tembang Macapat yang terdiri dari 4 bait dan Doa Bapa Kami digubah dalam tembang Pucung yang terdiri dari 7 bait. Doa Pembukaan dilantunkan dalam tembang Dandhanggula yang terdiri 3 bait, Doa Pagi dilantunkan dalam tembang Maskumambang, Doa Makan menggunakan tembang Mijil dan Doa Malam dengan tembang Macapat yang terdiri dari 14 bait.
Penggunaan tembang dalam upaya mengkomunikasikan Injil memiliki arti yang sangat penting, karena tembang telah digunakan dalam kesusateraan Jawa selama berabad-abad, terutama digunakan dalam pengajaran moral dan etika. Kemudian timbul masalah setelah para pekabar Injil Belanda mengadakan kontak dengan jemaat Sadrach. Para pekabar Injil itu tidak melihat manfaat adat Jawa dalam berjemaat dan menuntut supaya orang-orang bertobat dan meninggalkan praktek semacam itu. Sebaliknya orang Jawa melihat adat sebagai sesuatu yang berharga yang sangat mempengaruhi pola kehidupan orang Jawa. Mereka berpendapat, menjadi orang Kristen tidak berarti harus meninggalkan adat Jawa sebagai warisan leluhur dan identitas budaya mereka. Jemaat Sadrach menolak pandangan bahwa adat akan memperbudak mereka dan karenanya berjuang dengan keras untuk melawan penilaian para pekabar Injil Belanda tersebut.
Sadrach dan para pengikutnya bersikukuh untuk melestarikan adat dan tradisi tersebut dan menjalankannya tanpa ragu-ragu karena merasa sudah disesuaikan dengan iman Kristen. Para anggota jemaat menyadari sepenuhnya bahwa adat sebagai bagian dari kehidupan orang Jawa yang berfungsi memperkaya kehidupan spiritual jemaat. Hal tersebut kemudian menimbulkan konflik antara para Penginjil Belanda dan Kiai Sadrach beserta para pengikutnya, karena Pekabar Injil yang lain mengatakan bahwa adat Jawa dianggap sebagai kekafiran dan bersifat takhayul. Dalam penginjilan yang menggunakan pendekatan adat dan tradisi budaya Jawa tersebut Kiai Sadrach berhasil menjala dan membaptiskan ribuan orang.
Gereja Protestan Purworejo yang pada dasarnya diperuntukkan bagi orang Belanda kemudian membentuk sebuah komite paroki yang anggotanya terdiri orang-orang Belanda yang terpanggil untuk mengkristenkan orang Jawa. Tahun 1872 muncul konflik yang kemungkinan besar diakibatkan oleh sangat banyaknya orang Jawa yang menjadi jemaat gereja tersebut berkat Kiai Sadrach. Orang-orang Belanda menjadi kurang senang terhadap membanjirnya kaum pribumi di lingkungan mereka sehingga Gereja Protestan ingin memutuskan hubungan dengan orang-orang Kristen Jawa dan menerapkan sistem pemisahan secara rasial. Betapa sakit hati Sadrach dan pengikutnya diperlakukan demikian oleh orang-orang Belanda bahkan Thieme, Pendetanya sendiri menutup pintu Gereja Purworejo bagi mereka.
Dalam keadaan yang demikian suami isteri Philips tetap mendukung Sadrach beserta pengikutnya dan secara bersama-sama mengorganisasikan sebuah turne atau perjalanan dengan mengundang Misionaris Vermeer untuk membaptis orang-orang yang masuk Kristen, memberkati perkawinan dsb. Dalam perjalanan selama 17 hari itu sekitar 1.000 orang Jawa dibaptiskan. Kemudian nyonya Philips jatuh sakit berkepanjangan sehingga tidak bisa lagi mendukung kegiatan Sadrach. Vermeer mengira bahwa orang-orang itu menyatakan diri masuk Kristen berkat dakwah pasangan suami-isteri Philips dan bukan oleh Sadrach. Ketika nyonya Philips tidak bisa melayani jemaat lagi maka Vermeer mengambil alih kedudukannya dan berupaya menggabungkan jemaat Sadrach di daerah Banyumas ke dalam kelompoknya.
Namun hal tersebut di tentang keras oleh Soleman, penyebar agama Kristen di daerah itu, karena pengikut Sadrach tidak berhubungan dengan Londo Kristen sementara hubungan antar Sadrach dan Soleman selama ini berjalan lancar. Rupanya Misionaris Vermeer, seperti orang-orang Belanda lainnya menganggap enteng keberadaan Sadrach. Pertentanganpun menjadi semakin tajam. AkhirnyaVermeer minta bantuan Philips sebagai penengah antara dia dan Sadrach. Sadrachpun menyetujui dengan mengirim tangan kanannya Markus untuk berunding dengan Vermeer. Perundingan antara Vermeer dan Markus berkembang menjadi perselisihan sehingga hubungan Sadrach dengan Gereja-gereja Kristen sejak saat itu betul-betul putus. Kemudian Sadrach membangun gereja di Jambangan sebagai gereja ke tiga setelah Karangjoso dan Banjur. Gereja itu terletak di dekat rumah bekas gurunya yang kemudian di kristenkannya yaitu Kiai Coyontani.
Waktu itu tahun 1874 terdapat 2.500 orang pengikut Sadrach dari tiga gereja. Kiai Sadrach kemudian menyempurnakan organisasinya karena jemaatnya yang makin meluas dan mengadakan pertemuan di Karangjoso antara pemimpin-pemimpin pelbagai jemaat dan kelompok setiap selapan (35 hari) sekali yaitu pada hari Selasa Kliwon. Dalam organisasinya ia mencoba untuk mencampurkan unsur modern dan tradisional. Segala keputusan diambil secara musyawarah antara para guru Injil dan para sesepuh yang menjadi wakil tiap kelompok. Wakil-wakil inilah yang setiap Selasa Kliwon datang ke Karangjoso, disitu mereka bertemu dengan para guru Injil keliling yang bertugas menjala pengikut baru dari desa ke desa. Di puncak organisasi ini Kiai Sadrach menggembalakan jemaatnya.
Pemerintah lokal di bawah pimpinan Residen Ligtvoet, beberapa kali berusaha memasukkan kelompok Sadrach ke dalam Gereja dan menempatkan mereka di bawah Pendeta, dengan demikian secara tidak kentara bermaksud menyingkirkan Sadrach. Hal ini dilakukan karena sebenarnya memang menjadi tugas seorang Residen untuk mengawasi perkumpulan para pribumi termasuk kelompok Sadrach. Dia juga berpendapat tidaklah layak apabila orang-orang Kristen hidup di luar gereja dan lepas dari pimpinan pendeta. Dia yakin bahwa masalah ini akan segera beres karena sebagai orang jawa mereka akan tunduk pada keputusannya. Namun ternyata Residen Ligtvoet menghadapai jalan buntu, karena pendeta yang diharapkan bisa membujuk Sadrach adalah Thieme yang pernah mengucilkan Sadrach dan pengikutnya.
Akhirnya Residen Ligtvoet mengambil dua keputusan yaitu mendatangkan kembali Pendeta Troostenburg de Bruijn dari negeri Belanda yang sebelumnya pernah disingkirkan karena kedekatannya dengan orang-orang Jawa termasuk Sadrach dan pengikutnya. De Bruijn kembali ke Purworejo menggantikan Pendeta Thieme, dan pada saat itu otang Kristen Jawa berjumlah sekitar 3.000 orang. Kembalinya Troostenburg de Bruijn yang diangkat kedua kalinya sebagai Pendeta di Purworejo ternyata tidak bisa mengubah situasi yang ada saat itu. Kemudian didatangkanlah Bieger yang ditunjuk oleh NGZV atau De Nederlandsche Gereformeerde Zendings Vereniging atau masyarakat misionaris yang mengelola sebagian wilayah Jawa Tengah untuk menyebarkan Injil di Bagelen dan tinggal di Kutoarjo yang hanya berjarak 7 km dari Karangjoso. Bieger kemudian menemui Sadrach dan menawarkan bantuannya untuk melakukan pembaptisan, penyelenggaraan ekaristi dan pengajaran agama. Kedatangan Bieger ini mula-mula diterima Sadrach dengan baik. Naum ketika Bieger menghendaki untuk memperluas tugasnya ke bidang yang lain Sadrach menolaknya, sehingga tidak ada titik temu dalam percakapan tersebut. Rupanya Bieger ingin menguasai sepenuhnya orang-orang Kristen Jawa dengan atau tanpa Sadrach.
Konflik yang tajam terjadi antara Bieger yang didukung orang-orang Eropa dan aparat pemerintah dengan Sadrach. Orang kulit putih tersebut ingin mencopot kedudukan Sadrach sebagai guru Jawa. Pada awalnya dicoba menyelesaikan pertikaian tersebut dengan jalan damai diprakarsai Brower dengan mempertemukan Bieger dan Sadrach di rumahnya yang pernah ditempati Sadrach kemudian juga ditempati oleh Bieger. Dalam beberapa kali pertemuan dengan Sadrach, Bieger mendesak agar mempercayakan seluruh jemaatnya kepadanya dan agar mengundurkan diri saja atau pulang ke Jepara. Tentu saja Sadrach menolak mentah-mentah permintaan Bieger tersebut.
Berbagai cara diupayakan oleh Bieger dengan bantuan penguasa Kolonial bahkan dengan segala macam fitnah dan ancaman namun Sadrach tidak mengenal rasa takut kepada siapapun karena mengajak orang-orang Jawa masuk Kristen adalah panggilan Tuhan. Oleh karena itu Kiai Sadrach tetap pada pendiriannya dan bersama pengikutnya mandiri sebagai Golongane Wong Kristen Kang Mardika.
Catatan:
Kiai Sadrach terlahir dengan nama Radin di daerah dekat Jepara sekitar tahun 1835. Dibaptis tgl, 14 April 1867 oleh Rev. Ader, pendeta dari Indische Kerk, Buitenkerk-Batavia. Meninggal pada tgl, 14 Nopember 1924 di Karangjoso dan pada saat itu jemaat Sadrach mencapai jumlah sekitar 20.000 orang. *dari berbagai sumber. Ode Pamungkas.
Kemandirian merupakan ciri khas kehidupan pedesaan di Jawa. Hal ini dapat dilihat pada para pendirinya yang berbasis pertanian. Pada awalnya mereka berladang, kemudian dengan bergotong royong mereka membuat lahan yang di lembah menjadi persawahan. Para cikal bakal desa ini di kemudian hari makamnya menjadi pundhen atau yang dikeramatkan. Sifat kemandirian itu tercermin dalam pola kehidupan para pemimpin, seperti para Wakil Sadrach yaitu Yohanes, Markus dan Musa yang mantan guru ngelmu itu tidak pernah menerima imbalan untuk kerja mereka dalam jemaat. Kebanyakan dari mereka bekerja sebagai petani dan ada juga yang menjadi pedagang kecil. Sudah merupakan kebiasaan bahwa kerja spiritual sangat dihargai dan dihormati, tetapi tidak menerima imbalan. Para Kiai di pesantren Jawa tidak menerima imbalan, tetapi ia termotivasi untuk bekerja karena ia percaya bahwa itu merupakan amal yang bermanfaat bagi masyarakat.
Meski demikian sumbangan berupa materi tidak ditolaknya sepanjang itu untuk kemajuan pendidikan keagamaan. Hal ini juga terjadi pada jemaat Sadrach.
Kedatangan Sadrach pertama kali ke daerah Bagelen digambarkan oleh Yotham sebagai berikut. Sadrach pergi ke Kampung Tuksongo di kota Purworejo tempat tinggal Pandhito Steven-Philips, yang sebelumnya merupakan sinder perkebunan nila. Philips merupakan orang Belanda yang fasih berbahasa Jawa, demikian juga isterinya. Philips mengajarkan agama Kristen dan menjadi Pendeta seperti halnya isterinya. Philips dan isterinya menjalin hubungan baik dengan para penduduk pribumi dengan lemah lembut tidak seperti orang Belanda pada umumnya.
Philips mengerti dengan baik tentang pertanian, lumbungnya penuh dengan padi yang dimanfaatkan untuk membantu orang-orang Kristen Jawa. Karena Philips tidak mempunyai anak maka Sadrach kemudian diambil menjadi anak angkat dan dengan sukacita membantu Philips dan isterinya mengajar agama Kristen untuk orang-orang Jawa. Kemudian Sadrach berangkat ke Kutoarjo, sekitar 10 km dari Purworejo dan menjelajah pelosok sekeliling Kutoarjo untuk memulai pekabaran Injil dengan gayanya sendiri.
Orang yang pertama didatangi Sadrach adalah Kiai Ibrahim yang tinggal di desa Sruwah sebelah utara Kutoarjo, dan Sadrach berhasil mengkristenkan Ibrahim. Sejak itu Sadrach tinggal di desa tersebut dan kemudian ketika Sadrach menyatakan keinginannya untuk mengajarkan agama Kristen di Karangjoso Ibrahim mengantarnya ke desa itu. Yang ditemuianya adalah Kiai Kasanmentaram yang juga berasal dari Sruwah kemudian pindah ke Karangjoso. Kiai Sadrach kemudian tinggal dirumah Kiai Kasanmentaram dan diterima dengan senang hati, karena ternyata keduanya sudah saling mengenal ketika keduanya sama-sama menuntut ilmu di sebuah pesantren di Jawa Timur. Kedua Kiai ini kemudian terlibat dalam perdebatan seru mengenai agama masing-masing berhari-hari tanpa mengenal waktu. Akhirnya pada suatu saat Kiai Kasanmentaram tersentuh juga hatinya dan dengan tulus masuk agama Kristen.
Cara Kiai Sadrach menyebarkan agama Kristen yaitu dengan berjalan kaki kemana-mana dan mengunjungi guru-guru agama yang terkemuka di daerah itu serta meyakinkan mereka tentang ajaran agama Kristen. Jika tidak berhasil maka ditantangnya mereka untuk berdebat di depan umum untuk mengetahui siapa diantaranya yang lebih hebat ilmunya. Kemudian kedua tokoh itu duduk saling berhadapan dan para muridnya duduk dibelakangnya. Peraturannya ialah, bila Sadrach kalah ia dengan sukarela akan kembali memeluk agama Islam. Tetapi bila menang, maka lawannya harus masuk agama Kristen berikut para muridnya.
Sadrach berani menantang karena merasa ilmunya sudah lebih dari cukup, disamping memiliki ngelmu Jawa, dia juga pernah belajar di dua pesantren di Jawa Timur ditambah ilmunya yang baru yaitu tentang kekristenan. Oleh karena itu Sadrach tidak pernah kalah dalam debat beradu ilmu sehingga lawannya yang kalah segera memeluk agama Kristen beserta seluruh pengikutnya. Begitulah cara Sadrach mengkristenkan beberapa Kiai dalam waktu beberapa tahun saja, antara lain Kiai Ibrahim, Kiai Kasanmentaram, Kiai Coyontani dan Kiai Ronokusumo.
Perlu diketahui bahwa dalam kurun waktu sepuluh tahun suami-isteri Philips hanya berhasil mengkristenkan 29 orang termasuk wanita dan anak-anak. Diantara mereka adalah orang-orang yang bekerja di rumah keluarga Philips sebagai pembantu rumah tangga dan lain-lain. Orang-orang Kristen Jawa ini di gereja merupakan kelompok minoritas. Berkat upaya Sadrach yang tak mengenal lelah, pengkristenan berlangsung dengan cepat. Tanggal 6 Februari 1871 Pendeta Troostenburg de Bruijn membaptis Kiai Kasanmentaram bersama isteri dan 19 orang Jawa lainnya. Dalam kurun waktu 3 tahun Kiai Sadrach telah berhasil membaptiskan 612 orang di sekitar Bagelen. Selama tiga tahun tersebut kini orang Kristen Belanda terbalik menjadi kelompok minoritas di gerejanya.
Hal ini menyebabkan renggangnya hubungan kedua golongan yaitu orang Kristen Belanda dan orang Kristen Jawa. Akibat renggangnya hubungan ini orang-orang Jawa lambat-laun menjauhi upacara-upacara yang dilakukan di Gereja Purworejo, antara lain karena Bahasa Belanda yang digunakan dalam kebaktian tidak dimengerti oleh mereka, dan juga ada alasan yang lain. Tahun 1871 Kiai Sadrach dengan bantuan pengikutnya membangun sebuah gereja dari kayu, yang merupakan gereja pertama di Karangjoso dan di situlah Sadrach memimpin kebaktian. Jemaat Sadrach mempunyai gaya kebaktian dan sistem ritual sendiri yang terikat erat dengan tradisi budaya Jawa yang ada. Mereka sama sekali tidak mengenal pakaian Barat seperti setelan jas, dasi, celana panjang dan topi. Mereka mengenakan busana Jawa yang terdiri dari kain sarung atau kain batik , surjan dan ikat kepala dari kain. Jemaat pria akan menanggalkan ikat kepalanya pada waktu mengiuti kebaktian. Karena mereka sebagian besar buta aksara alias tidak bisa membaca dan menulis, maka pujian dilantunkan dalam bentuk tembang yang iramanya rata-rata sudah mereka hafal, hanya syairnya yang bernuansa rohani.
Sebagai contoh untuk menghafal Sepuluh Perintah Allah digubah dalam tembang Kinanthi yang terdiri dari 18 pupuh (bait). Pengakuan Iman Rasuli dilantunkan dalam tembang Macapat yang terdiri dari 4 bait dan Doa Bapa Kami digubah dalam tembang Pucung yang terdiri dari 7 bait. Doa Pembukaan dilantunkan dalam tembang Dandhanggula yang terdiri 3 bait, Doa Pagi dilantunkan dalam tembang Maskumambang, Doa Makan menggunakan tembang Mijil dan Doa Malam dengan tembang Macapat yang terdiri dari 14 bait.
Penggunaan tembang dalam upaya mengkomunikasikan Injil memiliki arti yang sangat penting, karena tembang telah digunakan dalam kesusateraan Jawa selama berabad-abad, terutama digunakan dalam pengajaran moral dan etika. Kemudian timbul masalah setelah para pekabar Injil Belanda mengadakan kontak dengan jemaat Sadrach. Para pekabar Injil itu tidak melihat manfaat adat Jawa dalam berjemaat dan menuntut supaya orang-orang bertobat dan meninggalkan praktek semacam itu. Sebaliknya orang Jawa melihat adat sebagai sesuatu yang berharga yang sangat mempengaruhi pola kehidupan orang Jawa. Mereka berpendapat, menjadi orang Kristen tidak berarti harus meninggalkan adat Jawa sebagai warisan leluhur dan identitas budaya mereka. Jemaat Sadrach menolak pandangan bahwa adat akan memperbudak mereka dan karenanya berjuang dengan keras untuk melawan penilaian para pekabar Injil Belanda tersebut.
Sadrach dan para pengikutnya bersikukuh untuk melestarikan adat dan tradisi tersebut dan menjalankannya tanpa ragu-ragu karena merasa sudah disesuaikan dengan iman Kristen. Para anggota jemaat menyadari sepenuhnya bahwa adat sebagai bagian dari kehidupan orang Jawa yang berfungsi memperkaya kehidupan spiritual jemaat. Hal tersebut kemudian menimbulkan konflik antara para Penginjil Belanda dan Kiai Sadrach beserta para pengikutnya, karena Pekabar Injil yang lain mengatakan bahwa adat Jawa dianggap sebagai kekafiran dan bersifat takhayul. Dalam penginjilan yang menggunakan pendekatan adat dan tradisi budaya Jawa tersebut Kiai Sadrach berhasil menjala dan membaptiskan ribuan orang.
Gereja Protestan Purworejo yang pada dasarnya diperuntukkan bagi orang Belanda kemudian membentuk sebuah komite paroki yang anggotanya terdiri orang-orang Belanda yang terpanggil untuk mengkristenkan orang Jawa. Tahun 1872 muncul konflik yang kemungkinan besar diakibatkan oleh sangat banyaknya orang Jawa yang menjadi jemaat gereja tersebut berkat Kiai Sadrach. Orang-orang Belanda menjadi kurang senang terhadap membanjirnya kaum pribumi di lingkungan mereka sehingga Gereja Protestan ingin memutuskan hubungan dengan orang-orang Kristen Jawa dan menerapkan sistem pemisahan secara rasial. Betapa sakit hati Sadrach dan pengikutnya diperlakukan demikian oleh orang-orang Belanda bahkan Thieme, Pendetanya sendiri menutup pintu Gereja Purworejo bagi mereka.
Dalam keadaan yang demikian suami isteri Philips tetap mendukung Sadrach beserta pengikutnya dan secara bersama-sama mengorganisasikan sebuah turne atau perjalanan dengan mengundang Misionaris Vermeer untuk membaptis orang-orang yang masuk Kristen, memberkati perkawinan dsb. Dalam perjalanan selama 17 hari itu sekitar 1.000 orang Jawa dibaptiskan. Kemudian nyonya Philips jatuh sakit berkepanjangan sehingga tidak bisa lagi mendukung kegiatan Sadrach. Vermeer mengira bahwa orang-orang itu menyatakan diri masuk Kristen berkat dakwah pasangan suami-isteri Philips dan bukan oleh Sadrach. Ketika nyonya Philips tidak bisa melayani jemaat lagi maka Vermeer mengambil alih kedudukannya dan berupaya menggabungkan jemaat Sadrach di daerah Banyumas ke dalam kelompoknya.
Namun hal tersebut di tentang keras oleh Soleman, penyebar agama Kristen di daerah itu, karena pengikut Sadrach tidak berhubungan dengan Londo Kristen sementara hubungan antar Sadrach dan Soleman selama ini berjalan lancar. Rupanya Misionaris Vermeer, seperti orang-orang Belanda lainnya menganggap enteng keberadaan Sadrach. Pertentanganpun menjadi semakin tajam. AkhirnyaVermeer minta bantuan Philips sebagai penengah antara dia dan Sadrach. Sadrachpun menyetujui dengan mengirim tangan kanannya Markus untuk berunding dengan Vermeer. Perundingan antara Vermeer dan Markus berkembang menjadi perselisihan sehingga hubungan Sadrach dengan Gereja-gereja Kristen sejak saat itu betul-betul putus. Kemudian Sadrach membangun gereja di Jambangan sebagai gereja ke tiga setelah Karangjoso dan Banjur. Gereja itu terletak di dekat rumah bekas gurunya yang kemudian di kristenkannya yaitu Kiai Coyontani.
Waktu itu tahun 1874 terdapat 2.500 orang pengikut Sadrach dari tiga gereja. Kiai Sadrach kemudian menyempurnakan organisasinya karena jemaatnya yang makin meluas dan mengadakan pertemuan di Karangjoso antara pemimpin-pemimpin pelbagai jemaat dan kelompok setiap selapan (35 hari) sekali yaitu pada hari Selasa Kliwon. Dalam organisasinya ia mencoba untuk mencampurkan unsur modern dan tradisional. Segala keputusan diambil secara musyawarah antara para guru Injil dan para sesepuh yang menjadi wakil tiap kelompok. Wakil-wakil inilah yang setiap Selasa Kliwon datang ke Karangjoso, disitu mereka bertemu dengan para guru Injil keliling yang bertugas menjala pengikut baru dari desa ke desa. Di puncak organisasi ini Kiai Sadrach menggembalakan jemaatnya.
Pemerintah lokal di bawah pimpinan Residen Ligtvoet, beberapa kali berusaha memasukkan kelompok Sadrach ke dalam Gereja dan menempatkan mereka di bawah Pendeta, dengan demikian secara tidak kentara bermaksud menyingkirkan Sadrach. Hal ini dilakukan karena sebenarnya memang menjadi tugas seorang Residen untuk mengawasi perkumpulan para pribumi termasuk kelompok Sadrach. Dia juga berpendapat tidaklah layak apabila orang-orang Kristen hidup di luar gereja dan lepas dari pimpinan pendeta. Dia yakin bahwa masalah ini akan segera beres karena sebagai orang jawa mereka akan tunduk pada keputusannya. Namun ternyata Residen Ligtvoet menghadapai jalan buntu, karena pendeta yang diharapkan bisa membujuk Sadrach adalah Thieme yang pernah mengucilkan Sadrach dan pengikutnya.
Akhirnya Residen Ligtvoet mengambil dua keputusan yaitu mendatangkan kembali Pendeta Troostenburg de Bruijn dari negeri Belanda yang sebelumnya pernah disingkirkan karena kedekatannya dengan orang-orang Jawa termasuk Sadrach dan pengikutnya. De Bruijn kembali ke Purworejo menggantikan Pendeta Thieme, dan pada saat itu otang Kristen Jawa berjumlah sekitar 3.000 orang. Kembalinya Troostenburg de Bruijn yang diangkat kedua kalinya sebagai Pendeta di Purworejo ternyata tidak bisa mengubah situasi yang ada saat itu. Kemudian didatangkanlah Bieger yang ditunjuk oleh NGZV atau De Nederlandsche Gereformeerde Zendings Vereniging atau masyarakat misionaris yang mengelola sebagian wilayah Jawa Tengah untuk menyebarkan Injil di Bagelen dan tinggal di Kutoarjo yang hanya berjarak 7 km dari Karangjoso. Bieger kemudian menemui Sadrach dan menawarkan bantuannya untuk melakukan pembaptisan, penyelenggaraan ekaristi dan pengajaran agama. Kedatangan Bieger ini mula-mula diterima Sadrach dengan baik. Naum ketika Bieger menghendaki untuk memperluas tugasnya ke bidang yang lain Sadrach menolaknya, sehingga tidak ada titik temu dalam percakapan tersebut. Rupanya Bieger ingin menguasai sepenuhnya orang-orang Kristen Jawa dengan atau tanpa Sadrach.
Konflik yang tajam terjadi antara Bieger yang didukung orang-orang Eropa dan aparat pemerintah dengan Sadrach. Orang kulit putih tersebut ingin mencopot kedudukan Sadrach sebagai guru Jawa. Pada awalnya dicoba menyelesaikan pertikaian tersebut dengan jalan damai diprakarsai Brower dengan mempertemukan Bieger dan Sadrach di rumahnya yang pernah ditempati Sadrach kemudian juga ditempati oleh Bieger. Dalam beberapa kali pertemuan dengan Sadrach, Bieger mendesak agar mempercayakan seluruh jemaatnya kepadanya dan agar mengundurkan diri saja atau pulang ke Jepara. Tentu saja Sadrach menolak mentah-mentah permintaan Bieger tersebut.
Berbagai cara diupayakan oleh Bieger dengan bantuan penguasa Kolonial bahkan dengan segala macam fitnah dan ancaman namun Sadrach tidak mengenal rasa takut kepada siapapun karena mengajak orang-orang Jawa masuk Kristen adalah panggilan Tuhan. Oleh karena itu Kiai Sadrach tetap pada pendiriannya dan bersama pengikutnya mandiri sebagai Golongane Wong Kristen Kang Mardika.
Catatan:
Kiai Sadrach terlahir dengan nama Radin di daerah dekat Jepara sekitar tahun 1835. Dibaptis tgl, 14 April 1867 oleh Rev. Ader, pendeta dari Indische Kerk, Buitenkerk-Batavia. Meninggal pada tgl, 14 Nopember 1924 di Karangjoso dan pada saat itu jemaat Sadrach mencapai jumlah sekitar 20.000 orang. *dari berbagai sumber. Ode Pamungkas.
Renungan: Merdeka!!
Merdeka! Kata itu dipekikkan oleh setiap orang setelah Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Para pejuang kemerdekaan memekikkan kata itu sambil mengangkat tangan. Pekik merdeka terdengar di mana-mana dan kata itu menjadi salam perjuangan. Ada yang berteriak sambil mengepalkan tangan ke atas “merdeka”. Ada yang sambil mengangkat senjata berteriak “merdeka”. Dinding-dinding tembok ditulisi dengan kata-kata “sekali merdeka tetap merdeka”, atau “merdeka ataoe mati”, tetapi juga ada tulisan yang berbunyi “merdeka atawa mati”.
Kata merdeka menjadi semboyan perjuangan, yang diungkapkan dengan tekad yang tinggi, tekad untuk mempertahankan negerinya dengan taruhan nyawa. Dalam buku 30 tahun Indonesia merdeka yang diterbitkan oleh PT Tira Pustaka tahun 1983, peristiwa tanggal 1 September 1945 diberi ulasan tentang Pekik Perjuangan “Merdeka”. Di halaman 29 ditampilkan tulisan tangan Ir. Soekarno yang baru saja memproklamasikan kemerdekaan, yang berbunyi, “sedjak 1 September 1945 kita memekikkan pekik “merdeka” itoe sebagai dengoengan Djiwa jang merdeka! Djiwa merdeka, jang berdjoang dan bekerdja! BERDJOANG dan BEKERDJA! Boektikan itoe!”
Sejak tanggal 1 September 1945, kata “Merdeka” dijadikan pekik perjuangan bangsa Indonesia. Kesimpangsiuran cara memaknai kata itu diatur dalam sebuah maklumat pemerintah bertanggal 31 Agustus 1945 yang menetapkan: (1) pekik perjuangan “Merdeka” sebagai salam nasional yang berlaku sejak tanggal 1 September 1945; (2) cara memekikkan salam perjuangan itu dengan mengangkat tangan kanan setinggi bahu, dengan telapak tangan menghadap ke depan, dan bersamaan dengan itu memekikkan “merdeka”.
Maklumat pemerintah itu tidak pernah dicabut atau diralat. Di jaman Orde Baru, Pemerintahan Soeharto tidak suka dengan salam perjuangan itu. Hanya Partai Demokrasi Indonesia yang merupakan fusi 5 partai di tahun 1973 yang menggunakannya sebagai salam perjuangan. Dalam surat menyurat atau pidato selalu diawali dengan kata “merdeka”. Akhir dasawarsa 1980-an dan memasuki dasawarsa 1990-an, salam perjuangan “merdeka” semakin seru, menyeruak di antara salam berbahasa Arab, “assalamualaikum warahmatulahi wabarakatuh” yang semakin menguat. Ketika mengucapkan kata “merdeka”, tangan diangkat keatas sambil mengepal. Tetapi dalam pidato-pidato terdengar, setelah salam perjuangan “merdeka”, lalu diikuti pula dengan “assalamualaikum”. Ada pula yang diikuti dengan kalimat “salam sejahtera”. Dengan banyaknya salam itu kita bisa merasakan seolah-olah salam perjuangan “merdeka” itu merupakan salam nasional, lalu “assalamualaikum” menjadi salam yang islami, yang menunjukkan bahwa yang berpidato atau memberi sambutan itu beragama Islam, dan “salam sejahtera” itu ditujukan kepada orang-orang yang bukan muslim, yang seolah-olah sipembicara itu menghormati orang yang tidak seagama dengannya.
Ada pemahaman di sebagian umat muslim yang mengklaim bahwa salam berbahasa Arab “assalamualaikum” itu adalah salam yang hanya diperuntukkan bagi umat muslim, sehingga orang yang beragama lain tidak boleh mengucapkannya. Atau kalau ada yang mengucapkannya padahal bukan muslim, tidak perlu dijawab. Padahal Alkitab terbitan tahun-tahun 1960-an, Maria ketika berkunjung kerumah Elizabeth mengucapsalam “Assalamualaikum” (Lukas 1). Dalam terjemahan baru salam seperti itu sudah dihapuskan.
Berada dalam situasi seperti itu orang-orang Kristen kebingungan untuk mengucapkan salam. Maka dipakailah salam dari bahasaI brani yang digunakan oleh orang-orang Yahudi, “shalom aleykem” yang artinya damai sejahtera ada pada kamu. Lalu kata “shalom” seolah-olah menjadi salamnya orang Kristen. Umat Hindu pun tidak ketinggalan dengan salamnya. Mereka berucap salam dengan “ohm, swatiastu” dan menghakhiri dengan “ohm, shanti, shanti ohm”.
Kacau dach! Negeri ini dan warga bangsa yang sudah merdeka 71 tahun ini tidak semakin mengkristal tetapi justru semakin terbelah, terpcah-pecah berdasarkan agama. Salam nasional “Merdeka” ditinggalkan. Orang lebih bangga disebut sebagai orang Islam dari pada orang Indonesia, orang Kristen dibandingkan sebagai orang Indonesia. Agama menjadi label baru bagi manusia justru ketika label kesukuan atau ras mulai ditinggalkan! Awas, budaya asing mengancam dan budaya global akan menggerus kita. SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA! Patmono SK.
Kata merdeka menjadi semboyan perjuangan, yang diungkapkan dengan tekad yang tinggi, tekad untuk mempertahankan negerinya dengan taruhan nyawa. Dalam buku 30 tahun Indonesia merdeka yang diterbitkan oleh PT Tira Pustaka tahun 1983, peristiwa tanggal 1 September 1945 diberi ulasan tentang Pekik Perjuangan “Merdeka”. Di halaman 29 ditampilkan tulisan tangan Ir. Soekarno yang baru saja memproklamasikan kemerdekaan, yang berbunyi, “sedjak 1 September 1945 kita memekikkan pekik “merdeka” itoe sebagai dengoengan Djiwa jang merdeka! Djiwa merdeka, jang berdjoang dan bekerdja! BERDJOANG dan BEKERDJA! Boektikan itoe!”
Sejak tanggal 1 September 1945, kata “Merdeka” dijadikan pekik perjuangan bangsa Indonesia. Kesimpangsiuran cara memaknai kata itu diatur dalam sebuah maklumat pemerintah bertanggal 31 Agustus 1945 yang menetapkan: (1) pekik perjuangan “Merdeka” sebagai salam nasional yang berlaku sejak tanggal 1 September 1945; (2) cara memekikkan salam perjuangan itu dengan mengangkat tangan kanan setinggi bahu, dengan telapak tangan menghadap ke depan, dan bersamaan dengan itu memekikkan “merdeka”.
Maklumat pemerintah itu tidak pernah dicabut atau diralat. Di jaman Orde Baru, Pemerintahan Soeharto tidak suka dengan salam perjuangan itu. Hanya Partai Demokrasi Indonesia yang merupakan fusi 5 partai di tahun 1973 yang menggunakannya sebagai salam perjuangan. Dalam surat menyurat atau pidato selalu diawali dengan kata “merdeka”. Akhir dasawarsa 1980-an dan memasuki dasawarsa 1990-an, salam perjuangan “merdeka” semakin seru, menyeruak di antara salam berbahasa Arab, “assalamualaikum warahmatulahi wabarakatuh” yang semakin menguat. Ketika mengucapkan kata “merdeka”, tangan diangkat keatas sambil mengepal. Tetapi dalam pidato-pidato terdengar, setelah salam perjuangan “merdeka”, lalu diikuti pula dengan “assalamualaikum”. Ada pula yang diikuti dengan kalimat “salam sejahtera”. Dengan banyaknya salam itu kita bisa merasakan seolah-olah salam perjuangan “merdeka” itu merupakan salam nasional, lalu “assalamualaikum” menjadi salam yang islami, yang menunjukkan bahwa yang berpidato atau memberi sambutan itu beragama Islam, dan “salam sejahtera” itu ditujukan kepada orang-orang yang bukan muslim, yang seolah-olah sipembicara itu menghormati orang yang tidak seagama dengannya.
Ada pemahaman di sebagian umat muslim yang mengklaim bahwa salam berbahasa Arab “assalamualaikum” itu adalah salam yang hanya diperuntukkan bagi umat muslim, sehingga orang yang beragama lain tidak boleh mengucapkannya. Atau kalau ada yang mengucapkannya padahal bukan muslim, tidak perlu dijawab. Padahal Alkitab terbitan tahun-tahun 1960-an, Maria ketika berkunjung kerumah Elizabeth mengucapsalam “Assalamualaikum” (Lukas 1). Dalam terjemahan baru salam seperti itu sudah dihapuskan.
Berada dalam situasi seperti itu orang-orang Kristen kebingungan untuk mengucapkan salam. Maka dipakailah salam dari bahasaI brani yang digunakan oleh orang-orang Yahudi, “shalom aleykem” yang artinya damai sejahtera ada pada kamu. Lalu kata “shalom” seolah-olah menjadi salamnya orang Kristen. Umat Hindu pun tidak ketinggalan dengan salamnya. Mereka berucap salam dengan “ohm, swatiastu” dan menghakhiri dengan “ohm, shanti, shanti ohm”.
Kacau dach! Negeri ini dan warga bangsa yang sudah merdeka 71 tahun ini tidak semakin mengkristal tetapi justru semakin terbelah, terpcah-pecah berdasarkan agama. Salam nasional “Merdeka” ditinggalkan. Orang lebih bangga disebut sebagai orang Islam dari pada orang Indonesia, orang Kristen dibandingkan sebagai orang Indonesia. Agama menjadi label baru bagi manusia justru ketika label kesukuan atau ras mulai ditinggalkan! Awas, budaya asing mengancam dan budaya global akan menggerus kita. SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA! Patmono SK.
Peran Musik Dalam Ibadah
Musik sangat berkenan bagi TUHAN.
Tempat bekerja adalah tempat ibadah kita bisa menjadi Garam + Pelita (saksinya).
“kita nyanyikan apa yang kita hayati dan kita hayati apa yang kita nyanyikan”, hal ini menguatkan komitmen penyerahan seluruh hidup/keberadaan kita dalam Tuhan. Kita memuji Tuhan, karena kita butuh kehadiran-Nya setiap saat, bukan karena kita sudah diselamatkan.
Musik memiliki bobot theologia yang agung, motivasi ibadah yang benar dalam kedewasaan rohani semaikin ditingkatkan.
Musik berperan sangat penting, mempengaruhi emosi dan perasaan kita, ada kedamaian dan keharmonisan. Melalui musik dan pujian, kuasa roh-roh jahat bisa dikalahkan.
Contoh: Paulus dan Silas dalam penjara, berdoa dan memuji TUHAN, kepala penjara jadi percaya TUHAN YESUS (Kisah Para Rasul 16: 25). Daud memainkan kecapi, roh-roh mundur.
Demikianlah, antara lain ceramah pelayanan atau sharing kami di GKJ Rewulu Yogyakarta tanggal 17 Juni yang baru lalu. Dibuka oleh Pdt. Kris Aprianto dengan doa, dihadiri oleh +/- 40 orang warga jemaat GKJ Rewulu termasuk beberapa orang bapak/ibu adiyuswo, dengan diselingi banyak puji-pujian. TUHAN memberkati. Yanti Dharmono.
Tempat bekerja adalah tempat ibadah kita bisa menjadi Garam + Pelita (saksinya).
“kita nyanyikan apa yang kita hayati dan kita hayati apa yang kita nyanyikan”, hal ini menguatkan komitmen penyerahan seluruh hidup/keberadaan kita dalam Tuhan. Kita memuji Tuhan, karena kita butuh kehadiran-Nya setiap saat, bukan karena kita sudah diselamatkan.
Musik memiliki bobot theologia yang agung, motivasi ibadah yang benar dalam kedewasaan rohani semaikin ditingkatkan.
Musik berperan sangat penting, mempengaruhi emosi dan perasaan kita, ada kedamaian dan keharmonisan. Melalui musik dan pujian, kuasa roh-roh jahat bisa dikalahkan.
Contoh: Paulus dan Silas dalam penjara, berdoa dan memuji TUHAN, kepala penjara jadi percaya TUHAN YESUS (Kisah Para Rasul 16: 25). Daud memainkan kecapi, roh-roh mundur.
Demikianlah, antara lain ceramah pelayanan atau sharing kami di GKJ Rewulu Yogyakarta tanggal 17 Juni yang baru lalu. Dibuka oleh Pdt. Kris Aprianto dengan doa, dihadiri oleh +/- 40 orang warga jemaat GKJ Rewulu termasuk beberapa orang bapak/ibu adiyuswo, dengan diselingi banyak puji-pujian. TUHAN memberkati. Yanti Dharmono.
PA Outdoor Pangkalan Jati
Hari Sabtu, tgl. 23 Juli 2016 pukul 05.30 WIB para peserta yang terdiri dari ibu-ibu rombongan PA-Wilayah Pangkalan Jati sudah harus berkumpul di GKJN. PA-Outdoor yang diikuti oleh lebih kurang 60 orang warga wilayah P.Jati ini memang huebat karena pengurus PA-nya dapat mengikut sertakan para bapak-bapaknya juga. Pengurus PA telah menyusun acara tersebut dua bulan sebelumnya sehingga oleh karenanya acara-acara lain yang bersamaan waktunya tidak bisa dihadiri oleh sebagian warga wilayah P.Jati, Untuk itu mohon maaf.
Tepat pukul 06.00 WIB dari GKJN rombongan menuju Wisma Kompas Karangbolong - Anyer menggunakan bis. Sebelum berangkat berdoa sekaligus doa-sarapan didalam bis oleh bapak Pdt.Simon Rachmadi. PA-Outdoor ini dipimpin oleh ibu Nina Karyoso dan bapak Pdt.Simon Rachmadi yang kebetulan ibu Simon (mbak Nunik) dan putrinya juga turut mendampingi dalam acara ini. Didalam perjalanan menuju Anyer terjadi obrolan-obrolan, sarapan, selfie-selfie, bernyanyi dalam hati dan ada yang tidur lagi (kata bu Rina). Pukul 08.30 WIB rombongan sudah sampai di Wisma Kompas Anyer yang disambut dengan welcome-drink dan snack hangat serta klethikan yang dilanjutkan dengan foto-foto bersama.
Tepat pukul 09.30 Ibadah sebelum PA dimulai didahului dengan sambutan ibu Yuwono selaku Koordinator Ibu-ibu Wilayah P.Jati. Semua Majelis yang hadir dan beberapa ibu peserta PA mendapat tugas sebagai Liturgos dan Lektor. PA dengan thema "MEMULIHKAN PERSEKUTUAN YANG RETAK", ternyata dibahas dengan seru, hangat dan heboh. PA dibuat dengan cara berkelompok yang terdiri dari 6 kelompok dan tiap-tiap kelompok lebih-kurang 10 orang. Para peserta PA tidak ingin dan tidak mau melukai hati Tuhan Yesus maka semua peserta PA berjanji untuk meletakkan semua hal keberadaan, masalah, pergumulan, dihadapan Allah agar dilengkapi dengan sentuhan-sentuhan darah Kristus yang menyembuhkan.
Peserta PA ini menyadari bahwa ketika mengalami luka dengan tabah menghadapinya, maka hal itu adalah seperti memikul salib yang berat. Karena melukai diri sendiri, melukai orang lain sama dengan melukai Tuhan Yesus. Mengingat terbatasnya waktu, PA diakhiri pukul 12.00 tepat. Setelah acara PA selesai dilanjutkan dengan sambutan dari Koordinator Majelis Wilayah P.Jati bapak Ch.Sunardi, sambutan dari Calon Ketua Panitia Natal Pusat dan wakilnya (bpk.Ari Saptama dan bpk.Budi Setiadi) yang dilanjutan dengan doa makan siang oleh ibu Oemi Sutarman. Setelah acara makan siang diteruskan dengan permainan dan acara bebas. Permainan kemesraan diikuti oleh pasangan-pasangan sebagai berikut: Bpk. Heri Noorwanto dan ibu, bpk. Budi Setiadi dan ibu, bpk Waskito dan ibu, bpk. Ch.Sunardi dan ibu, bpk. Ari Saptama dan ibu, bpk. Sutarno dan ibu, bpk. Sudarno dan ibu, bpk. Sunardi dan ibu. Adapun permainan-permainan yang lain seperti balapan-bakyak, balapan-karung, main pasir dipimpin oleh ibu Wiwiek PIA, tidak ketinggalan Pdt.Simon juga asyik bermain pasir dengan putri tercintanya, adapun bu Bekti dan bu Tinuk karena masih kelebihan energy maka mereka main tarik-tambang sendiri dan dimenangkan oleh bu Bekti.
Puji Tuhan seharian cuaca sangat bagus, tidak hujan, pantainya indah, gelombang bersahabat sehingga main-pasir dan foto-foto serta naik banana-boat dilakukan dengan happy-happy. Dilain pihak ada yang memanfaatkan jasa juru-pijat antara lain bu Danar dan pak Budi. Sedangkan para "paparazzi" yakni bpk. Danar dan bpk. Dadi terus beraksi ceprat-cepret walaupun harus klebus kena air laut. Setelah puas bermain dilanjutkan dengan acara menari poco-poco, sajojo dan goyang-Mamere dengan instruktur bpk.Waskito dan ibu Thum Evelyne. Pukul 17.00 acara selesai rombongan kembali ke bis menuju Cilegon untuk makan-malam di restoran Sarikuring Indah, selanjutnya perjalanan pulang menuju GKJN tiba pukul 21.45 ditutup doa oleh bpk.Waskita. Semua senang walaupun capai cepat-cepat pulang karena ada yang harus bangun pagi-pagi untuk pelayanan Minggu paginya pukul 06.00. Bersama Yesus semua menjadi indah, karena kita semua dimudahkan, dikuatkan dan diberkati. Amin.
Tepat pukul 06.00 WIB dari GKJN rombongan menuju Wisma Kompas Karangbolong - Anyer menggunakan bis. Sebelum berangkat berdoa sekaligus doa-sarapan didalam bis oleh bapak Pdt.Simon Rachmadi. PA-Outdoor ini dipimpin oleh ibu Nina Karyoso dan bapak Pdt.Simon Rachmadi yang kebetulan ibu Simon (mbak Nunik) dan putrinya juga turut mendampingi dalam acara ini. Didalam perjalanan menuju Anyer terjadi obrolan-obrolan, sarapan, selfie-selfie, bernyanyi dalam hati dan ada yang tidur lagi (kata bu Rina). Pukul 08.30 WIB rombongan sudah sampai di Wisma Kompas Anyer yang disambut dengan welcome-drink dan snack hangat serta klethikan yang dilanjutkan dengan foto-foto bersama.
Tepat pukul 09.30 Ibadah sebelum PA dimulai didahului dengan sambutan ibu Yuwono selaku Koordinator Ibu-ibu Wilayah P.Jati. Semua Majelis yang hadir dan beberapa ibu peserta PA mendapat tugas sebagai Liturgos dan Lektor. PA dengan thema "MEMULIHKAN PERSEKUTUAN YANG RETAK", ternyata dibahas dengan seru, hangat dan heboh. PA dibuat dengan cara berkelompok yang terdiri dari 6 kelompok dan tiap-tiap kelompok lebih-kurang 10 orang. Para peserta PA tidak ingin dan tidak mau melukai hati Tuhan Yesus maka semua peserta PA berjanji untuk meletakkan semua hal keberadaan, masalah, pergumulan, dihadapan Allah agar dilengkapi dengan sentuhan-sentuhan darah Kristus yang menyembuhkan.
Peserta PA ini menyadari bahwa ketika mengalami luka dengan tabah menghadapinya, maka hal itu adalah seperti memikul salib yang berat. Karena melukai diri sendiri, melukai orang lain sama dengan melukai Tuhan Yesus. Mengingat terbatasnya waktu, PA diakhiri pukul 12.00 tepat. Setelah acara PA selesai dilanjutkan dengan sambutan dari Koordinator Majelis Wilayah P.Jati bapak Ch.Sunardi, sambutan dari Calon Ketua Panitia Natal Pusat dan wakilnya (bpk.Ari Saptama dan bpk.Budi Setiadi) yang dilanjutan dengan doa makan siang oleh ibu Oemi Sutarman. Setelah acara makan siang diteruskan dengan permainan dan acara bebas. Permainan kemesraan diikuti oleh pasangan-pasangan sebagai berikut: Bpk. Heri Noorwanto dan ibu, bpk. Budi Setiadi dan ibu, bpk Waskito dan ibu, bpk. Ch.Sunardi dan ibu, bpk. Ari Saptama dan ibu, bpk. Sutarno dan ibu, bpk. Sudarno dan ibu, bpk. Sunardi dan ibu. Adapun permainan-permainan yang lain seperti balapan-bakyak, balapan-karung, main pasir dipimpin oleh ibu Wiwiek PIA, tidak ketinggalan Pdt.Simon juga asyik bermain pasir dengan putri tercintanya, adapun bu Bekti dan bu Tinuk karena masih kelebihan energy maka mereka main tarik-tambang sendiri dan dimenangkan oleh bu Bekti.
Puji Tuhan seharian cuaca sangat bagus, tidak hujan, pantainya indah, gelombang bersahabat sehingga main-pasir dan foto-foto serta naik banana-boat dilakukan dengan happy-happy. Dilain pihak ada yang memanfaatkan jasa juru-pijat antara lain bu Danar dan pak Budi. Sedangkan para "paparazzi" yakni bpk. Danar dan bpk. Dadi terus beraksi ceprat-cepret walaupun harus klebus kena air laut. Setelah puas bermain dilanjutkan dengan acara menari poco-poco, sajojo dan goyang-Mamere dengan instruktur bpk.Waskito dan ibu Thum Evelyne. Pukul 17.00 acara selesai rombongan kembali ke bis menuju Cilegon untuk makan-malam di restoran Sarikuring Indah, selanjutnya perjalanan pulang menuju GKJN tiba pukul 21.45 ditutup doa oleh bpk.Waskita. Semua senang walaupun capai cepat-cepat pulang karena ada yang harus bangun pagi-pagi untuk pelayanan Minggu paginya pukul 06.00. Bersama Yesus semua menjadi indah, karena kita semua dimudahkan, dikuatkan dan diberkati. Amin.
Suksesi di Mataram bagian 3
Mas Jolang yang kemudian menjadi Raja Mataram kedua dan bergelar Panembahan Hanyakrawati, dari perkawinannya dengan Dyah Banowati mempunyai tiga orang putra, yaitu Den Mas Rangsang, Ratu Pandhansari dan Den Mas Pamenang, sementara perkawinannya dengan Ratu Tulung Ayu berputera dua orang yaitu Den Mas Martapura dan Den Mas Cakra.
Pangeran Hanyakrawati sudah bertahta selama duabelas tahun dan saat itu sedang menderita sakit keras di Krapyak, ditunggui para putra dan kerabat kerajaan. Dalam masa kritis Panembahan Hanyakrawati berpesan kepada Eyang Adipati Mandaraka dan kakaknya Pangeran Purbaya:
“Eyang, Ki Mas, kelak jika saya dipanggil Yang Kuasa, yang saya tunjuk untuk menggantikan saya adalah Den Mas Rangsang. Kerajaannya akan menjadi lebih besar dari sekarang dan seluruh orang Jawa akan bersujud kepadanya. Tetapi berhubung dulu saya sudah berjanji bahwa anak saya dengan Ratu Tulungayu akan menjadi raja menggantikan saya, tolong Den Mas Martapura agar dinobatkan menjadi raja meski cuma sebentar, kemudian diserahkan kepada Den Mas Rangsang.”
Panembahan kemudian berkata kepada para kerabat kerajaan:
“Anak-anakku semua rukun-rukunlah selalu dalam persaudaraan. Siapa yang mendahului berbuat jahat tidak akan selamat. Sudah, selamat tinggal.”
Kemudian Panembahan Hanyakrawati meninggal dan dimakamkan di sebelah barat masjid, berdekatan dengan makam ayahnya Panembahan Senopati dan eyangnya Ki Gede Pemanahan pada tahun 1565. Kemudian hari Panembahan Hanyakrawati juga dikenal dengan sebutan Panembahan Seda Krapyak.
Sultan Agung
Den Mas Martapura yang baru berumur 8 tahun kemudian dinobatkan oleh Ki Adipati Mandaraka dan Pangeran Purbaya menjadi raja Mataram sesuai dengan pesan Panembahan Hanyakrawati sebelum wafatnya. Den Mas Martapura meski masih kecil dinobatkan menjadi raja karena dia dilahirkan ketika Panembahan Hanyakrawati sudah menjadi raja, sementara Den Mas Rangsang dilahirkan ketika Panembahan Hanyakrawati masih menjadi Adipati Anom atau Putera Mahkota. Sebenarnya Den Mas Martapura mengidap penyakit jiwa sejak kecil yang disebut edan tahunan.
Pada hari Soma (Senin) pada Pisowanan Agung, Prabu Martapura duduk di singgasana emas diapit oleh Ki Adipati Mandaraka dan Pangeran Purbaya, kemudian Ki Adipati Mandaraka membisiki Prabu Martapura agar lengser keprabon serta menyerahkan tahtanya kepada Den Mas Rangsang. Kemudian Prabu Martapura segera lengser dari tahta dan oleh Ki Adipati Mandaraka, Den Mas Rangsang dipersilakan duduk di kursi emas tahta kerajaan. Pada saat dinobtkan menjadi raja itu usia Den Mas Rangsang 20 tahun. Prabu Martapura hanya satu hari satu malam saja bertahta sebagai raja Mataram.
Pangeran Purbaya berseru:
“Setiap orang di Mataram, kalian jadilah saksi bahwa Den Mas Rangsang dinobatkan menjadi sultan bergelar Sultan Agung Ing Ngalaga. Siapa orang Mataram yang tidak setuju, akulah lawanmu.”
Semua yang hadir dalam Pisowanan Agung mendukung penobatan itu. Kenaikan tahta Sultan Agung juga berdasarkan trah, karena dia dilahirkan di Kota Gede tahun 1593 oleh Dyah Banowati puteri Pangeran Benawa Raja Pajang. Dengan demikian Sultan Agung adalah keturunan Raja Majapahit dan Pajang, sementara Den Mas Martapura dilahirkan oleh Putri Tulung Ayu dari Ponorogo, yang secara trah lebih rendah derajatnya. Sultan Agung juga bergelar Panembahan Hanyakrakusuma, oleh karena itu beliau juga di sebut Sultan Agung Hanyakrakusuma.
Keadaan ibu kota kerajaan Mataram
Para utusan Belanda dari Batavia yang datang ke Mataram sekitar tahun 1623 memberikan gambaran mengenai kota Mataram dan sosok Sultan Agung.
Mereka melihat tanah datar dan subur yang begitu luas dengan desa yang banyak dan jalan-jalan yang ramai karena penduduk yang bepergian ke pasar.
Ada yang memikul hasil bumi, mengangkut padi dengan gerobak atau pedati yang ditarik sapi, para kerabat kerajaan ada yang naik kereta, menunggang kuda bahkan ada bangsawan yang menunggang gajah. Di ibu kota Mataram penduduknya cukup padat, tempat pemotongan hewan selalu ramai sehingga menunjukkan bahwa rakyat Mataram hidup makmur. Apabila gong yang berada di pojok-pojok kota dibunyikan sebagi tanda bahaya, maka dalam waktu singkat berkumpullah sekitar 200 ribu orang bersenjata lengkap yang datang dari kampung-kampung dan siap melaksanakan tugas yang diperintahkan Sultan. Kota Mataram diibaratkan gemah ripah loh jinawi dan penduduknya hidup makmur tentrem kartaraharja.
Sifat dan kepribadian Sultan Agung
Kesan dari Van Suck utusan Belanda dan Balthasar van Eindhoven terhadap Sultan Agung adalah seorang raja yang tidak boleh dianggap remeh, seorang raja yang memerintah dengan keras dan memiliki kekuasaan yang besar. Ketika tahun 1622 De Haen utusan Belanda datang ke Mataram, lebih teliti lagi dalam menggambarkan sosok Sultan Agung. Menurut De Haen, Sultan Agung yang berada pada puncak kehidupannya ketika berumur 20 – 30 tahun, berbadan bagus dengan kulit kehitaman, berwajah bulat dan tenang. Ia seorang yang cerdas, tegas dan selalu ingin tahu serta bila memandang sekeliling tatapan matanya seperti singa.
Sifat tegas Sultan Agung terlihat ketika empat pembesar kerajaan bermain curang dalam permainan mirobolani (memakai buah kemiri). Sultan memerintahkan agar kuda tunggang mereka diambil dan pemiliknya diminta menghadap Sultan. Kemudian kuda-kuda tersebut dipenggal kepalanya, dan Sultan mengancam kalau perbuatan curang itu diulangi lagi maka nasibnya akan sama dengan kuda-kuda mereka. Seorang Belanda bernama Antonie Paulo oleh Sultan Agung dilemparkan ke danau yang penuh buaya, karena dituduh melakukan perbuatan sihir. Tahanan Belanda bernama Thomas Locatier juga dibunuh dengan kejam sebagai bukti kemarahan Sultan Agung pada tahun 1640.
Namun Sultan Agung dalam melaksanakan hukumannya tidak pandang bulu, tidak memandang pangkat ataupun derajat dan semua diperlakukan sama.
Hukuman pernah dijatuhkan kepada Putera Mahkota yang dilaporkan berbuat tidak senonoh dengan isteri Tumenggung Wiraguna. Putera mahkota dihukum dengan cara dikucilkan, tidak boleh bertatap muka dengan ayahnya selama 3 tahun, baru kemudian kembali dipanggil ke istana. Sifat amarah Sultan Agung menimbulkan rasa takut yang luar biasa bagi seluruh aparat kerajaan. Ketika terjadi pemberontakan di Sumedang, Sultan Agung memerintahkan kepada para prajuritnya untuk menumpas dan memusnahkan penduduk dengan membunuh semua laki-laki, merampas wanita dan anak-anak, merampok harta penduduk dan membakar rumahnya.
Terhadap para prajurit yang meninggalkan medan perang dijatuhi hukuman mati. Namun tidak selamanya Sultan Agung menjadi pemarah, adakalanya bersifat lembut, sabar dan pemaaf. Hal ini terlihat ketika seorang Penghulu bernama Kiai Ahmad yang disayangi dan diberi kemuliaan oleh Sultan Agung tidak mau lagi menghadap ke istana ketika Sultan Agung berulang tahun dan mengadakan kenduri atau selamatan di istana. Betapa marah Sultan Agung waktu itu kemudian menanyakan apa sebabnya, Kiai Ahmad menjawab: “Jika hamba mendoakan keselamatan Paduka, semua hidangan tidak akan dapat dimakan oleh para tamu, dan para abdi akan mendapat malu.” Dengan suara yang menggelegar Sultan Agung berseru: Saya ingin tahu buktinya!” Kiai Penghulu kemudian mengangkat sembah dan mulai berdoa. Ketika baru dua kali terdengar amiin, semua hidangan berubah bentuknya dan ketika terdengar suara amiin yang ketiga semua hidangan menjadi mentah kembali. Sultan Agung keheranan melihat apa yang terjadi, kemudian Kiai Penghulu Ahmad diijinkan pulang dan diberi beberapa hadiah. Oka Respati. *sumber babad tanah jawi
Pangeran Hanyakrawati sudah bertahta selama duabelas tahun dan saat itu sedang menderita sakit keras di Krapyak, ditunggui para putra dan kerabat kerajaan. Dalam masa kritis Panembahan Hanyakrawati berpesan kepada Eyang Adipati Mandaraka dan kakaknya Pangeran Purbaya:
“Eyang, Ki Mas, kelak jika saya dipanggil Yang Kuasa, yang saya tunjuk untuk menggantikan saya adalah Den Mas Rangsang. Kerajaannya akan menjadi lebih besar dari sekarang dan seluruh orang Jawa akan bersujud kepadanya. Tetapi berhubung dulu saya sudah berjanji bahwa anak saya dengan Ratu Tulungayu akan menjadi raja menggantikan saya, tolong Den Mas Martapura agar dinobatkan menjadi raja meski cuma sebentar, kemudian diserahkan kepada Den Mas Rangsang.”
Panembahan kemudian berkata kepada para kerabat kerajaan:
“Anak-anakku semua rukun-rukunlah selalu dalam persaudaraan. Siapa yang mendahului berbuat jahat tidak akan selamat. Sudah, selamat tinggal.”
Kemudian Panembahan Hanyakrawati meninggal dan dimakamkan di sebelah barat masjid, berdekatan dengan makam ayahnya Panembahan Senopati dan eyangnya Ki Gede Pemanahan pada tahun 1565. Kemudian hari Panembahan Hanyakrawati juga dikenal dengan sebutan Panembahan Seda Krapyak.
Sultan Agung
Den Mas Martapura yang baru berumur 8 tahun kemudian dinobatkan oleh Ki Adipati Mandaraka dan Pangeran Purbaya menjadi raja Mataram sesuai dengan pesan Panembahan Hanyakrawati sebelum wafatnya. Den Mas Martapura meski masih kecil dinobatkan menjadi raja karena dia dilahirkan ketika Panembahan Hanyakrawati sudah menjadi raja, sementara Den Mas Rangsang dilahirkan ketika Panembahan Hanyakrawati masih menjadi Adipati Anom atau Putera Mahkota. Sebenarnya Den Mas Martapura mengidap penyakit jiwa sejak kecil yang disebut edan tahunan.
Pada hari Soma (Senin) pada Pisowanan Agung, Prabu Martapura duduk di singgasana emas diapit oleh Ki Adipati Mandaraka dan Pangeran Purbaya, kemudian Ki Adipati Mandaraka membisiki Prabu Martapura agar lengser keprabon serta menyerahkan tahtanya kepada Den Mas Rangsang. Kemudian Prabu Martapura segera lengser dari tahta dan oleh Ki Adipati Mandaraka, Den Mas Rangsang dipersilakan duduk di kursi emas tahta kerajaan. Pada saat dinobtkan menjadi raja itu usia Den Mas Rangsang 20 tahun. Prabu Martapura hanya satu hari satu malam saja bertahta sebagai raja Mataram.
Pangeran Purbaya berseru:
“Setiap orang di Mataram, kalian jadilah saksi bahwa Den Mas Rangsang dinobatkan menjadi sultan bergelar Sultan Agung Ing Ngalaga. Siapa orang Mataram yang tidak setuju, akulah lawanmu.”
Semua yang hadir dalam Pisowanan Agung mendukung penobatan itu. Kenaikan tahta Sultan Agung juga berdasarkan trah, karena dia dilahirkan di Kota Gede tahun 1593 oleh Dyah Banowati puteri Pangeran Benawa Raja Pajang. Dengan demikian Sultan Agung adalah keturunan Raja Majapahit dan Pajang, sementara Den Mas Martapura dilahirkan oleh Putri Tulung Ayu dari Ponorogo, yang secara trah lebih rendah derajatnya. Sultan Agung juga bergelar Panembahan Hanyakrakusuma, oleh karena itu beliau juga di sebut Sultan Agung Hanyakrakusuma.
Keadaan ibu kota kerajaan Mataram
Para utusan Belanda dari Batavia yang datang ke Mataram sekitar tahun 1623 memberikan gambaran mengenai kota Mataram dan sosok Sultan Agung.
Mereka melihat tanah datar dan subur yang begitu luas dengan desa yang banyak dan jalan-jalan yang ramai karena penduduk yang bepergian ke pasar.
Ada yang memikul hasil bumi, mengangkut padi dengan gerobak atau pedati yang ditarik sapi, para kerabat kerajaan ada yang naik kereta, menunggang kuda bahkan ada bangsawan yang menunggang gajah. Di ibu kota Mataram penduduknya cukup padat, tempat pemotongan hewan selalu ramai sehingga menunjukkan bahwa rakyat Mataram hidup makmur. Apabila gong yang berada di pojok-pojok kota dibunyikan sebagi tanda bahaya, maka dalam waktu singkat berkumpullah sekitar 200 ribu orang bersenjata lengkap yang datang dari kampung-kampung dan siap melaksanakan tugas yang diperintahkan Sultan. Kota Mataram diibaratkan gemah ripah loh jinawi dan penduduknya hidup makmur tentrem kartaraharja.
Sifat dan kepribadian Sultan Agung
Kesan dari Van Suck utusan Belanda dan Balthasar van Eindhoven terhadap Sultan Agung adalah seorang raja yang tidak boleh dianggap remeh, seorang raja yang memerintah dengan keras dan memiliki kekuasaan yang besar. Ketika tahun 1622 De Haen utusan Belanda datang ke Mataram, lebih teliti lagi dalam menggambarkan sosok Sultan Agung. Menurut De Haen, Sultan Agung yang berada pada puncak kehidupannya ketika berumur 20 – 30 tahun, berbadan bagus dengan kulit kehitaman, berwajah bulat dan tenang. Ia seorang yang cerdas, tegas dan selalu ingin tahu serta bila memandang sekeliling tatapan matanya seperti singa.
Sifat tegas Sultan Agung terlihat ketika empat pembesar kerajaan bermain curang dalam permainan mirobolani (memakai buah kemiri). Sultan memerintahkan agar kuda tunggang mereka diambil dan pemiliknya diminta menghadap Sultan. Kemudian kuda-kuda tersebut dipenggal kepalanya, dan Sultan mengancam kalau perbuatan curang itu diulangi lagi maka nasibnya akan sama dengan kuda-kuda mereka. Seorang Belanda bernama Antonie Paulo oleh Sultan Agung dilemparkan ke danau yang penuh buaya, karena dituduh melakukan perbuatan sihir. Tahanan Belanda bernama Thomas Locatier juga dibunuh dengan kejam sebagai bukti kemarahan Sultan Agung pada tahun 1640.
Namun Sultan Agung dalam melaksanakan hukumannya tidak pandang bulu, tidak memandang pangkat ataupun derajat dan semua diperlakukan sama.
Hukuman pernah dijatuhkan kepada Putera Mahkota yang dilaporkan berbuat tidak senonoh dengan isteri Tumenggung Wiraguna. Putera mahkota dihukum dengan cara dikucilkan, tidak boleh bertatap muka dengan ayahnya selama 3 tahun, baru kemudian kembali dipanggil ke istana. Sifat amarah Sultan Agung menimbulkan rasa takut yang luar biasa bagi seluruh aparat kerajaan. Ketika terjadi pemberontakan di Sumedang, Sultan Agung memerintahkan kepada para prajuritnya untuk menumpas dan memusnahkan penduduk dengan membunuh semua laki-laki, merampas wanita dan anak-anak, merampok harta penduduk dan membakar rumahnya.
Terhadap para prajurit yang meninggalkan medan perang dijatuhi hukuman mati. Namun tidak selamanya Sultan Agung menjadi pemarah, adakalanya bersifat lembut, sabar dan pemaaf. Hal ini terlihat ketika seorang Penghulu bernama Kiai Ahmad yang disayangi dan diberi kemuliaan oleh Sultan Agung tidak mau lagi menghadap ke istana ketika Sultan Agung berulang tahun dan mengadakan kenduri atau selamatan di istana. Betapa marah Sultan Agung waktu itu kemudian menanyakan apa sebabnya, Kiai Ahmad menjawab: “Jika hamba mendoakan keselamatan Paduka, semua hidangan tidak akan dapat dimakan oleh para tamu, dan para abdi akan mendapat malu.” Dengan suara yang menggelegar Sultan Agung berseru: Saya ingin tahu buktinya!” Kiai Penghulu kemudian mengangkat sembah dan mulai berdoa. Ketika baru dua kali terdengar amiin, semua hidangan berubah bentuknya dan ketika terdengar suara amiin yang ketiga semua hidangan menjadi mentah kembali. Sultan Agung keheranan melihat apa yang terjadi, kemudian Kiai Penghulu Ahmad diijinkan pulang dan diberi beberapa hadiah. Oka Respati. *sumber babad tanah jawi
Bahasa Jawa: Ngudi Kautaman
nulada laku utama, tumraping wong tanah Jawi
priyagung ing Ngeksiganda, Panembahan Senopati
kapati amarsudi, sudaning hawa lan nepsu
pinesu tapa brata, tanapi ing siyang ratri
amemangun karyenak tyasing sesama
(Wedhatama)
Manusia di dunia ini harus memilih jalan hidup, sementara dalam mengarungi kehidupan akan banyak ditemui jalan. Oleh karena itu kita harus mengupayakan dengan ketekunan, keteguhan dan kesungguhan sehingga kita menemukan jalan yang benar dan menjadi manusia yang baik.
Ajinipun tiyang gesang punika mboten sanes inggih namung tekad tuwin pasrah - Nilai dari orang yang menjalani kehidupan itu tiada lain hanyalah tekad dan pasrah
Seorang lelaki tidak perlu mempelajari ilmu yang aneh-aneh dan tidak lumrah, tetapi yang penting mempunyai tekad yang baik dan kepasrahan pada Sang Pencipta. Apapun profesinya asal ditekuni dengan tekad yang baik dan kepasrahan yang benar pasti akan membuahkan hasil yang baik. Kalau memang kemungkinan tidak terjangkau apa yang bakal diraihnya itu tidak harus memaksakan kehendak, tetapi pasrah dengan benar dan tidak juga langsung menyerah begitu saja alias putus asa.
Ala lan becik iku dumunung ana awake dhewe – Buruk dan baik itu tergantung pada dirinya sendiri.
Dalam menjalani kehidupan itu kita sering menemui banyak hal yang bersifat baik maupun yang tidak baik. Kita harus bisa menempatkan diri untuk bisa memilih dan menentukan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Mana jalan yang akan kita tempuh harus dipilih dengan cermat dan benar agar apa yang kita lakukan itu tidak menghasilkan yang tidak baik, dan semua itu sangat tergantung pada diri kita sendiri.
Aja dadi wong kang kuciwa uripe, iku dudu wong kang utama – Jangan menjadi orang yang menyesali kehidupannya, itu bukan orang yang arif.
Semestinya orang hidup harus berupaya sebisa mungkin agar hidupnya berhasil dan tidak justru menyesali hidupnya. Orang tidak boleh menyerah begitu saja terhadap keadaan tanpa mau berusaha untuk mengubahnya. Berdoa dan bekerjalah karena Tuhan akan mengabulkan permintaanmu, bila kamu meminta dengan sungguh.
Aja lali marang panggawe becik, jalaran iku mujudake dalan kanggo kamulyanira – Jangan lupa terhadap perbuatan baik, karena perbuatan baik itu merupakan jalan menuju kemuliaan.
Dari kecil kita diajar oleh orang tua untuk selalu berbuat baik, karena kalau tidak maka berdosa. Berbuat baik kepada sesama tanpa harus memandang status sosialnya merupakan jalan menuju kemuliaan.
Anetepana budi luhur – Berketetapanlah berbudu luhur.
Orang Jawa secara turun-temurun diajarkan untuk selalu berbuat kebaikan dan berbudi luhur. Orang berani mengalah untuk kebaikan, karena mengalah bukan berarti kalah. Menjunjung tinggi harkat dan martabat sesama menunjukkan keluhuran budi, demikian juga dengan menghargai hak azasi sesama.
Bener kanga sale saka Pangeran iku tanpa ndarbeni sifat angkara murka – Kebenaran yang dari Tuhan itu tidak mempunyai sifat angkara murka.
Kalau ada orang yang bersifat tamak, rakus dan hasilnya menyengsarakan orang lin itu tidak mungkin berasal dari Tuhan. Sifat itu dipunyai orang yang tidak mensyukuri karunia Tuhan sehingga seolah-olah keberhasilan dalam hidupnya itu semata-mata dari usahanya sendiri. Orang tidak akan berhasil dalam hidupnya tanpa campur tangan Tuhan serta anugerah-Nya.
Durung menang yen durung wani kalah – Belum menang kalau belum berani kalah.
Hidup di dunia ini memang serba dua, ada gelap ada terang, ada malam ada siang, ada kalah ada menang. Orang tidak selamanya akan meraih kemenangan, karena segala sesuatu itu ada waktunya. Dalam meraih kemenangan tidak akan disebut menang kalau belum berani kalah. Belum berani kalah artinya melakukan sesuatu terlalu percaya diri sehingga belum-belum sudah memastikan kalau usahanya pasti berhasil, padahal sebenarnya ada saja batu sandungannya.
Janma linuwih iku bisa nyumurupi anane jaman kelanggengan tanpa pralaya – Manusia utama itu bisa melihat jaman keabadian meski belum pernah meninggal.
Manusia yang sudak mencapai tingkat kesempurnaan karena olh batin yang luar biasa bisa melihat masa depan. Banyak orang jaman dulu yang isa meramalkan keadaan jaman juh sebelum terjadi seperti Jayabaya, Ranggawarsita dsb. Ramalannya hampir semua menjadi kenyataan, seperti Pulo Jawa besuk bakal kalungan wesi (rel kereta dari Anyer sampai Banyuwangi), ana kreta bisa mabur (pesawat terbang) dsb.
Lamun ana petenging ati aja seneng muring-muring – Kalau hati sedang gundah jangan suka marah-marah.
Banyak orang yang dalam menjalani kehidupannya menemui masalah yang sering membikin jengkel bahkan menyakitkan. Namun sebaiknya cobalah untuk mengendapkan emosi dan mengendalikan kemarahan dengan jalan memohon pertolongan Tuhan agar diberi pencerahan. Dengan adanya pencerahan maka kesal dan marah-marah bisa terhindarkan.
Menang tanpa mejahi tuwin nyakiti – Menang tanpa harus membunuh dan menyakiti.
Janganlah kekerasan dilawan dengan kekerasan, karena kekerasan lebih sering tidak memuahkan hasi yang bail. Kekerasan itu sebenarnya di dalam lubuk yang paling dalam ada juga kelembutan. Kekerasan itu akan mencair apabila dihadapi dengan kata-kata yang manis, lemah-lembut bahkan dengan tetesan air mata. Dan ketika kemenangan itu telah diperoleh, seyogyanya tidak dipertunjukkan melalui kesombongan tetapi diterima dengan sukacita dan kerendahan hati.
Mumpung anom ngudiya laku utama – Mumpung masih muda upayakan untuk berbuat utama.
Berbuat utama khususnya kebaikan, kejujuran, keikhlasan tidak mudah untuk dilksanakan. Oleh karena itu harus dimulai selagi muda sehingga ada waktu untuk menjalaninya sehingga pada waktunya nanti laku utama itu bisa dijalankan dengan sebaik-baiknya.
Ngudi laku utama kanthi santosaning budi – Berusaha berbuat baik dengan kekuatan budi.
Kekuatan budi atau kekuatan hati dan kekuatan tekad merupakan sarana untuk berbuat baik. Karena berbuat baik saja tanpa landasan budi yang luhur bisa berakibat sia-sia saja, karena sasaran yang dicapai dengan perbuatan baik itu tuidak tercapai.
Nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake – Berperang tanpa bala tentara, meraih kemenangan tanpa harus mengalahkan.
Memerangi kegelapan harus dilakukan dengan penuh cinta kasih, sehingga memperoleh kemenangan tanpa merasa mengalahkan. Dengan melakukan cinta kasih itu maka akan mendapat perlindungan dari Tuhan yang Mahakasih pula sehingga tercipta kedamaian dalam hati masing-masing. Andreas Hutomo. *saka maneka sumber
priyagung ing Ngeksiganda, Panembahan Senopati
kapati amarsudi, sudaning hawa lan nepsu
pinesu tapa brata, tanapi ing siyang ratri
amemangun karyenak tyasing sesama
(Wedhatama)
Manusia di dunia ini harus memilih jalan hidup, sementara dalam mengarungi kehidupan akan banyak ditemui jalan. Oleh karena itu kita harus mengupayakan dengan ketekunan, keteguhan dan kesungguhan sehingga kita menemukan jalan yang benar dan menjadi manusia yang baik.
Ajinipun tiyang gesang punika mboten sanes inggih namung tekad tuwin pasrah - Nilai dari orang yang menjalani kehidupan itu tiada lain hanyalah tekad dan pasrah
Seorang lelaki tidak perlu mempelajari ilmu yang aneh-aneh dan tidak lumrah, tetapi yang penting mempunyai tekad yang baik dan kepasrahan pada Sang Pencipta. Apapun profesinya asal ditekuni dengan tekad yang baik dan kepasrahan yang benar pasti akan membuahkan hasil yang baik. Kalau memang kemungkinan tidak terjangkau apa yang bakal diraihnya itu tidak harus memaksakan kehendak, tetapi pasrah dengan benar dan tidak juga langsung menyerah begitu saja alias putus asa.
Ala lan becik iku dumunung ana awake dhewe – Buruk dan baik itu tergantung pada dirinya sendiri.
Dalam menjalani kehidupan itu kita sering menemui banyak hal yang bersifat baik maupun yang tidak baik. Kita harus bisa menempatkan diri untuk bisa memilih dan menentukan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Mana jalan yang akan kita tempuh harus dipilih dengan cermat dan benar agar apa yang kita lakukan itu tidak menghasilkan yang tidak baik, dan semua itu sangat tergantung pada diri kita sendiri.
Aja dadi wong kang kuciwa uripe, iku dudu wong kang utama – Jangan menjadi orang yang menyesali kehidupannya, itu bukan orang yang arif.
Semestinya orang hidup harus berupaya sebisa mungkin agar hidupnya berhasil dan tidak justru menyesali hidupnya. Orang tidak boleh menyerah begitu saja terhadap keadaan tanpa mau berusaha untuk mengubahnya. Berdoa dan bekerjalah karena Tuhan akan mengabulkan permintaanmu, bila kamu meminta dengan sungguh.
Aja lali marang panggawe becik, jalaran iku mujudake dalan kanggo kamulyanira – Jangan lupa terhadap perbuatan baik, karena perbuatan baik itu merupakan jalan menuju kemuliaan.
Dari kecil kita diajar oleh orang tua untuk selalu berbuat baik, karena kalau tidak maka berdosa. Berbuat baik kepada sesama tanpa harus memandang status sosialnya merupakan jalan menuju kemuliaan.
Anetepana budi luhur – Berketetapanlah berbudu luhur.
Orang Jawa secara turun-temurun diajarkan untuk selalu berbuat kebaikan dan berbudi luhur. Orang berani mengalah untuk kebaikan, karena mengalah bukan berarti kalah. Menjunjung tinggi harkat dan martabat sesama menunjukkan keluhuran budi, demikian juga dengan menghargai hak azasi sesama.
Bener kanga sale saka Pangeran iku tanpa ndarbeni sifat angkara murka – Kebenaran yang dari Tuhan itu tidak mempunyai sifat angkara murka.
Kalau ada orang yang bersifat tamak, rakus dan hasilnya menyengsarakan orang lin itu tidak mungkin berasal dari Tuhan. Sifat itu dipunyai orang yang tidak mensyukuri karunia Tuhan sehingga seolah-olah keberhasilan dalam hidupnya itu semata-mata dari usahanya sendiri. Orang tidak akan berhasil dalam hidupnya tanpa campur tangan Tuhan serta anugerah-Nya.
Durung menang yen durung wani kalah – Belum menang kalau belum berani kalah.
Hidup di dunia ini memang serba dua, ada gelap ada terang, ada malam ada siang, ada kalah ada menang. Orang tidak selamanya akan meraih kemenangan, karena segala sesuatu itu ada waktunya. Dalam meraih kemenangan tidak akan disebut menang kalau belum berani kalah. Belum berani kalah artinya melakukan sesuatu terlalu percaya diri sehingga belum-belum sudah memastikan kalau usahanya pasti berhasil, padahal sebenarnya ada saja batu sandungannya.
Janma linuwih iku bisa nyumurupi anane jaman kelanggengan tanpa pralaya – Manusia utama itu bisa melihat jaman keabadian meski belum pernah meninggal.
Manusia yang sudak mencapai tingkat kesempurnaan karena olh batin yang luar biasa bisa melihat masa depan. Banyak orang jaman dulu yang isa meramalkan keadaan jaman juh sebelum terjadi seperti Jayabaya, Ranggawarsita dsb. Ramalannya hampir semua menjadi kenyataan, seperti Pulo Jawa besuk bakal kalungan wesi (rel kereta dari Anyer sampai Banyuwangi), ana kreta bisa mabur (pesawat terbang) dsb.
Lamun ana petenging ati aja seneng muring-muring – Kalau hati sedang gundah jangan suka marah-marah.
Banyak orang yang dalam menjalani kehidupannya menemui masalah yang sering membikin jengkel bahkan menyakitkan. Namun sebaiknya cobalah untuk mengendapkan emosi dan mengendalikan kemarahan dengan jalan memohon pertolongan Tuhan agar diberi pencerahan. Dengan adanya pencerahan maka kesal dan marah-marah bisa terhindarkan.
Menang tanpa mejahi tuwin nyakiti – Menang tanpa harus membunuh dan menyakiti.
Janganlah kekerasan dilawan dengan kekerasan, karena kekerasan lebih sering tidak memuahkan hasi yang bail. Kekerasan itu sebenarnya di dalam lubuk yang paling dalam ada juga kelembutan. Kekerasan itu akan mencair apabila dihadapi dengan kata-kata yang manis, lemah-lembut bahkan dengan tetesan air mata. Dan ketika kemenangan itu telah diperoleh, seyogyanya tidak dipertunjukkan melalui kesombongan tetapi diterima dengan sukacita dan kerendahan hati.
Mumpung anom ngudiya laku utama – Mumpung masih muda upayakan untuk berbuat utama.
Berbuat utama khususnya kebaikan, kejujuran, keikhlasan tidak mudah untuk dilksanakan. Oleh karena itu harus dimulai selagi muda sehingga ada waktu untuk menjalaninya sehingga pada waktunya nanti laku utama itu bisa dijalankan dengan sebaik-baiknya.
Ngudi laku utama kanthi santosaning budi – Berusaha berbuat baik dengan kekuatan budi.
Kekuatan budi atau kekuatan hati dan kekuatan tekad merupakan sarana untuk berbuat baik. Karena berbuat baik saja tanpa landasan budi yang luhur bisa berakibat sia-sia saja, karena sasaran yang dicapai dengan perbuatan baik itu tuidak tercapai.
Nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake – Berperang tanpa bala tentara, meraih kemenangan tanpa harus mengalahkan.
Memerangi kegelapan harus dilakukan dengan penuh cinta kasih, sehingga memperoleh kemenangan tanpa merasa mengalahkan. Dengan melakukan cinta kasih itu maka akan mendapat perlindungan dari Tuhan yang Mahakasih pula sehingga tercipta kedamaian dalam hati masing-masing. Andreas Hutomo. *saka maneka sumber
Gembala Punya Cerita: Mayat Wong Ayu Ngambang di Kali
Raden Burisrawa ksatria dari Cindhe Kembang yang berperawakan gagah, tinggi besar pagi itu mengenakan jaket kulit made in Cibaduyut dan memakai kacamata rayben made in Tigaraksa kelihatan berjalan mondar-mandir sambil menyenandungkan sebuah lagu campursari :
. . . . prawan randha, kanggoku ‘ra pati penting . . . .
Lagu sebaris itu diulang-ulang tiada hentinya sambil mondar-mandir dan kadang kepalanya menggeleng ke kanan dan ke kiri. Rupanya dia sedang kasmaran alias mabuk cinta pada seorang perempuan cantik yang bukan perawan maupun janda, tetapi . . . isteri orang. Meski dia sebagai seorang putera Raja, yakni putera Prabu Salya dari Mandaraka tahu betul bahwa menurut paugeran, itu bakal ngrusak pager ayu tapi dia tak ambil puyeng.Mau ngrusak pager ayu, pager layu maupun pager bambu yang penting dia suka dan cinta pula. Dia sedang tergila-gila pada Lara Ireng alias Sembadra yang sudah menjadi isteri Arjuna dan sudah mempunyai anak semata wayang bernama Abimanyu. Rupanya wayang satu kotak itu menurut Raden Burisrawa tidak ada yang cantiknya menandingi Sembadra, oleh karena itu meski sudah punya suami dan anak diubernya terus, hingga yang diuber sampai gidro-gidro.
Prabu Salya raja Mandaraka merasa malu punya anak yang demikian, padahal kakak-kakaknya adalah putri-putri yang cantik. Putri pertama Dewi Erawati diperisteri Prabu Baladewa, putri kedua Dewi Surtikanthi diperisteri Adipati Karna dan putri ketiga Dewi Banowati diperisteri Prabu Duryudana. Burisrawa terlahir bontot dan berwajah setengah manusia setengah raksasa sehingga babar blas tidak ada cakep-cakepnya. Kelakuannyapun ndugal kuwarasan, jauh dari tatakrama dan unggah-ungguh, sehingga segala petuah ayahandanya tidak digubris sama sekali malah dijawab dengan tembang :
. . . . situ gintung warungnya bakmi, sungguh beruntung kalau jadi suami . . . .
Sambil minum saguer cap tikus dari Menado dan ciu gambar manuk dari Bekonang yang dioplos jadi satu sehingga jalannya gloyoran karena mabuk berat, bahkan sempat kejlungup di selokan sehingga badannya gluprut endhut. Merasa tidak mendapat dukungan dari keluarga kerajaan Mandaraka bahkan di bully para kerabatnya maka Burisrawa segera minta bantuan Bethari Durga di hutan Setra Gandamayit, yang artinya kuburan bau bangkai. Dia yakin bahwa wanita berparas mengerikan seperti Mak Lampir dan selalu nyengenges itu pasti mau membantu dirinya.
Dari Mandaraka Burisrawa menuju setasiun Sudimara lalu naik kereta api ke Rangkasbitung dan diteruskan jalan kaki ke hutan Setra Gandamayit. Ketika ayam jantan berkokok dua kali sampailah Burisrawa di perbatasan hutan Setra Gandamayit dan dicegat oleh anak buah Bethari Durga yaitu Banaspati, Glundhung Pringis, Wewe Gombel dan Sundel Bolong. Ketika mereka masing-masing diberi kepala monyet, maka Burisrawa diperbolehkan lewat dan bertemu Bethari Durga. Bethari Durga yang memang sakti dan tahu tujuan Burisrawa langsung menegur:
“Buat apa kamu kejar-kejar isteri orang, sekarang banyak artis yang bisa diajak kawin, kok.”
“Wah kawin sama artis repot Mam, hobynya kawin cerai. Kalau duitku habis pasti minta cerai.”
“Kalau kamu memang nekad mau kawin sama Sembadra boleh saja, tapi pasokanku daging celeng ke Cindhe Kembang 10 ton sebulan kamu acc ya, soalnya nyangkut di Pondok Cabe.”
“Rebes, eh beres Mam. Itu masalah keciil . . . semua bisa diatur.”
Setelah perjanjian pasokan daging celeng ditandatangani bersama maka Burisrawa diberi ajian panglemunan alias bisa menghilang tanpa bekas. Ajian panglemunan dari Bethari Durga memang sakti bukan main, dalam tempoh sesingkat-singkatnya Burisrawa sudah sampai di Taman Banoncinawi keputren Madukara tempat Sembadra berdomisili. Kebetulan Arjuna waktu itu sedang berburu hantu, maksudnya berburu wong ayu karena itu sudah merupakan hobynya seperti Don Yuan atau Casanova dan sudah menjadi wataknya dari sononya, oleh karena itu anaknya pating tlecek dimana-mana.
Waktu itu Sembadra yang sedang dipetani oleh dayangnya terkejut bukan main karena tiba-tiba saja Burisrawa sudah berada di depannya sambil menyanyi:
. . . . mbok mbadraaa . . . tak gendhong, kemana-mana . . . tak gendhong kemana-mana . . .
sambil berjoged ria dan tertawa-tawa sehingga giginya yang mrongos itu terlihat mengerikan. Kemudian menyerahkan seperangkat alat kecantikan merek Mesti Nyander bikinan Tigaraksa.
“Trimalah alat kecantikan ini mbok mBadraaa . . . tapi kamu harus jadi isteriku, yaa . .”
Sembadra menjadi kamigilan melihat tingkah Burisrawa yang memang nggilani dan pemberian itu ditolaknya setengah mentah. Berkali-kali Burisrawa ngglembuk Sembadra agar mau menjadi isterinya tetapi selalu ditolaknya.
“Kakang Burisrawa, aku kan sudah punya suami kangmas Arjuna, mbok ya jangan diganggu. Kecuali kalau aku belum kawin, pasti aku . . . nggak mau banget!”
Mendengar jawaban itu Burisrawa menjadi geregetan dan diambilnya keris yang disengkelit di pinggangnya untuk menakut-nakuti Sembadra. Melihat gelagat itu Sembadra menjadi nekad, dari pada dipersunting Burisrawa yang menjijikkan itu lebih baik mati saja. Maka ditubruknya keris yang dipegang Burisrawa itu sehingga menembus jantungnya dan matilah duaketika. Burisrawa pun terkejut bukan main melihat kejadian yang tak disangka-sangkanya itu, dan saking paniknya dia melompat keluar taman sampai celananya sobek kecantol pager.
Taman Banoncinawi di kasatrian Madukara menjadi gempar akibat teriakan-teriakan para dayang melihat majikannya tewas mengenaskan. Seluruh kerabat Pandawa layat ke Madukara, demikian juga Prabu Kresna raja Dwarawati kakak kandung Sembadra. Prabu Kresna yang sakti itu segera membuat siasat untuk mengetahui siapa sebenarnya yang membunuh Sembadra. Jenazah Sembadra ditaruh di dalam peti mati warna putih dengan dinding kaca bening bikinan pak Bagyo kemudian ditaruh di atas rakit dan dihanyutkan di Sungai Cisadane (dalam cerita wayang beneran lakonnya Sembadra larung), dengan harapan pembunuhnya akan muncul. Raden Gatutkaca ksatria Pringgadani yang bisa terbang tanpa sayap ditugasi untuk memantau jalannnya rakit dari udara.
Ketika rakit pembawa jenazah sedang melaju tiba-tiba muncul seorang ksatria gagah dari dalam sungai. Melihat jenazah wong ayu yang ngambang di kali itu timbul rasa belas kasihnya, kemudian jenazah itu diberikan pernafasan buatan dan hiduplah kembali Sembadra. Belum sempat memperkenalkan diri tiba-tiba ksatria gagah itu diterjang raden Gatutkaca dari angkasa dengan kecepatan menyamai jet supersonic karena dikira dialah pembunuhnya. Diluar dugaan Raden Gatutkaca, ternyata ksatria tersebut bisa mengimbangi kesaktiannya. Sebelum perkelahian berlanjut Sembadra segera melerainya kemudian mereka saling memperkenalkan diri. Rupanya ksatria gagah itu bernama Raden Antareja putera Dewi Nagagini dan cucu Sang Hyang Antaboga dari Sapta Pratala yang sedang mencari Bima, ayahandanya. Raden Gatutkaca dan Antareja saling berpelukan dan cium pipi kanan-pipi kiri karena ternyata saudara satu ayah lain ibu.
Dengan hidupnya kembali Sembadra maka kasatrian Madukara bersuka ria bertepatan dengan datangnya Raden Arjuna yang pulang berburu. Setelah Raden Antareja diakui sebagai anaknya oleh Bima atau Werkudara maka Antareja ditugasi untuk menangkap Burisrawa di Cinde Kembang. Tak berapa lama Burisrawa berhasil dihadapkan ke Madukara dengan jempol terikat. Burisrawa mengakui segala kesalahannya dan meminta maaf sambil merintih dengan wajah memelas sehingga Arjuna dan kerabat Pandawa merasa kasihan dan memafkannya, apalagi Arjuna dan Burisrawa masih kerabat dekat. Andrwas Hutomo *sumber pewayangan
. . . . prawan randha, kanggoku ‘ra pati penting . . . .
Lagu sebaris itu diulang-ulang tiada hentinya sambil mondar-mandir dan kadang kepalanya menggeleng ke kanan dan ke kiri. Rupanya dia sedang kasmaran alias mabuk cinta pada seorang perempuan cantik yang bukan perawan maupun janda, tetapi . . . isteri orang. Meski dia sebagai seorang putera Raja, yakni putera Prabu Salya dari Mandaraka tahu betul bahwa menurut paugeran, itu bakal ngrusak pager ayu tapi dia tak ambil puyeng.Mau ngrusak pager ayu, pager layu maupun pager bambu yang penting dia suka dan cinta pula. Dia sedang tergila-gila pada Lara Ireng alias Sembadra yang sudah menjadi isteri Arjuna dan sudah mempunyai anak semata wayang bernama Abimanyu. Rupanya wayang satu kotak itu menurut Raden Burisrawa tidak ada yang cantiknya menandingi Sembadra, oleh karena itu meski sudah punya suami dan anak diubernya terus, hingga yang diuber sampai gidro-gidro.
Prabu Salya raja Mandaraka merasa malu punya anak yang demikian, padahal kakak-kakaknya adalah putri-putri yang cantik. Putri pertama Dewi Erawati diperisteri Prabu Baladewa, putri kedua Dewi Surtikanthi diperisteri Adipati Karna dan putri ketiga Dewi Banowati diperisteri Prabu Duryudana. Burisrawa terlahir bontot dan berwajah setengah manusia setengah raksasa sehingga babar blas tidak ada cakep-cakepnya. Kelakuannyapun ndugal kuwarasan, jauh dari tatakrama dan unggah-ungguh, sehingga segala petuah ayahandanya tidak digubris sama sekali malah dijawab dengan tembang :
. . . . situ gintung warungnya bakmi, sungguh beruntung kalau jadi suami . . . .
Sambil minum saguer cap tikus dari Menado dan ciu gambar manuk dari Bekonang yang dioplos jadi satu sehingga jalannya gloyoran karena mabuk berat, bahkan sempat kejlungup di selokan sehingga badannya gluprut endhut. Merasa tidak mendapat dukungan dari keluarga kerajaan Mandaraka bahkan di bully para kerabatnya maka Burisrawa segera minta bantuan Bethari Durga di hutan Setra Gandamayit, yang artinya kuburan bau bangkai. Dia yakin bahwa wanita berparas mengerikan seperti Mak Lampir dan selalu nyengenges itu pasti mau membantu dirinya.
Dari Mandaraka Burisrawa menuju setasiun Sudimara lalu naik kereta api ke Rangkasbitung dan diteruskan jalan kaki ke hutan Setra Gandamayit. Ketika ayam jantan berkokok dua kali sampailah Burisrawa di perbatasan hutan Setra Gandamayit dan dicegat oleh anak buah Bethari Durga yaitu Banaspati, Glundhung Pringis, Wewe Gombel dan Sundel Bolong. Ketika mereka masing-masing diberi kepala monyet, maka Burisrawa diperbolehkan lewat dan bertemu Bethari Durga. Bethari Durga yang memang sakti dan tahu tujuan Burisrawa langsung menegur:
“Buat apa kamu kejar-kejar isteri orang, sekarang banyak artis yang bisa diajak kawin, kok.”
“Wah kawin sama artis repot Mam, hobynya kawin cerai. Kalau duitku habis pasti minta cerai.”
“Kalau kamu memang nekad mau kawin sama Sembadra boleh saja, tapi pasokanku daging celeng ke Cindhe Kembang 10 ton sebulan kamu acc ya, soalnya nyangkut di Pondok Cabe.”
“Rebes, eh beres Mam. Itu masalah keciil . . . semua bisa diatur.”
Setelah perjanjian pasokan daging celeng ditandatangani bersama maka Burisrawa diberi ajian panglemunan alias bisa menghilang tanpa bekas. Ajian panglemunan dari Bethari Durga memang sakti bukan main, dalam tempoh sesingkat-singkatnya Burisrawa sudah sampai di Taman Banoncinawi keputren Madukara tempat Sembadra berdomisili. Kebetulan Arjuna waktu itu sedang berburu hantu, maksudnya berburu wong ayu karena itu sudah merupakan hobynya seperti Don Yuan atau Casanova dan sudah menjadi wataknya dari sononya, oleh karena itu anaknya pating tlecek dimana-mana.
Waktu itu Sembadra yang sedang dipetani oleh dayangnya terkejut bukan main karena tiba-tiba saja Burisrawa sudah berada di depannya sambil menyanyi:
. . . . mbok mbadraaa . . . tak gendhong, kemana-mana . . . tak gendhong kemana-mana . . .
sambil berjoged ria dan tertawa-tawa sehingga giginya yang mrongos itu terlihat mengerikan. Kemudian menyerahkan seperangkat alat kecantikan merek Mesti Nyander bikinan Tigaraksa.
“Trimalah alat kecantikan ini mbok mBadraaa . . . tapi kamu harus jadi isteriku, yaa . .”
Sembadra menjadi kamigilan melihat tingkah Burisrawa yang memang nggilani dan pemberian itu ditolaknya setengah mentah. Berkali-kali Burisrawa ngglembuk Sembadra agar mau menjadi isterinya tetapi selalu ditolaknya.
“Kakang Burisrawa, aku kan sudah punya suami kangmas Arjuna, mbok ya jangan diganggu. Kecuali kalau aku belum kawin, pasti aku . . . nggak mau banget!”
Mendengar jawaban itu Burisrawa menjadi geregetan dan diambilnya keris yang disengkelit di pinggangnya untuk menakut-nakuti Sembadra. Melihat gelagat itu Sembadra menjadi nekad, dari pada dipersunting Burisrawa yang menjijikkan itu lebih baik mati saja. Maka ditubruknya keris yang dipegang Burisrawa itu sehingga menembus jantungnya dan matilah duaketika. Burisrawa pun terkejut bukan main melihat kejadian yang tak disangka-sangkanya itu, dan saking paniknya dia melompat keluar taman sampai celananya sobek kecantol pager.
Taman Banoncinawi di kasatrian Madukara menjadi gempar akibat teriakan-teriakan para dayang melihat majikannya tewas mengenaskan. Seluruh kerabat Pandawa layat ke Madukara, demikian juga Prabu Kresna raja Dwarawati kakak kandung Sembadra. Prabu Kresna yang sakti itu segera membuat siasat untuk mengetahui siapa sebenarnya yang membunuh Sembadra. Jenazah Sembadra ditaruh di dalam peti mati warna putih dengan dinding kaca bening bikinan pak Bagyo kemudian ditaruh di atas rakit dan dihanyutkan di Sungai Cisadane (dalam cerita wayang beneran lakonnya Sembadra larung), dengan harapan pembunuhnya akan muncul. Raden Gatutkaca ksatria Pringgadani yang bisa terbang tanpa sayap ditugasi untuk memantau jalannnya rakit dari udara.
Ketika rakit pembawa jenazah sedang melaju tiba-tiba muncul seorang ksatria gagah dari dalam sungai. Melihat jenazah wong ayu yang ngambang di kali itu timbul rasa belas kasihnya, kemudian jenazah itu diberikan pernafasan buatan dan hiduplah kembali Sembadra. Belum sempat memperkenalkan diri tiba-tiba ksatria gagah itu diterjang raden Gatutkaca dari angkasa dengan kecepatan menyamai jet supersonic karena dikira dialah pembunuhnya. Diluar dugaan Raden Gatutkaca, ternyata ksatria tersebut bisa mengimbangi kesaktiannya. Sebelum perkelahian berlanjut Sembadra segera melerainya kemudian mereka saling memperkenalkan diri. Rupanya ksatria gagah itu bernama Raden Antareja putera Dewi Nagagini dan cucu Sang Hyang Antaboga dari Sapta Pratala yang sedang mencari Bima, ayahandanya. Raden Gatutkaca dan Antareja saling berpelukan dan cium pipi kanan-pipi kiri karena ternyata saudara satu ayah lain ibu.
Dengan hidupnya kembali Sembadra maka kasatrian Madukara bersuka ria bertepatan dengan datangnya Raden Arjuna yang pulang berburu. Setelah Raden Antareja diakui sebagai anaknya oleh Bima atau Werkudara maka Antareja ditugasi untuk menangkap Burisrawa di Cinde Kembang. Tak berapa lama Burisrawa berhasil dihadapkan ke Madukara dengan jempol terikat. Burisrawa mengakui segala kesalahannya dan meminta maaf sambil merintih dengan wajah memelas sehingga Arjuna dan kerabat Pandawa merasa kasihan dan memafkannya, apalagi Arjuna dan Burisrawa masih kerabat dekat. Andrwas Hutomo *sumber pewayangan