• Edisi Nopember 2017
  • Edisi Oktober 2017
  • Edisi September 2017
  • Edisi Agustus 2017
  • Edisi Juli 2017
  • Edisi Juni 2017
  • Edisi Mei 2017
  • Edisi April 2017
  • Edisi Maret 2017
  • Edisi Pebruari 2017
  • Edisi Januari 2017
  • Edisi Desember 2016
  • Edisi Nopember 2016
  • Edisi Oktober 2016
  • Edisi September 2016
  • Edisi Agustus 2016
  • Edisi Juli 2016
  • Edisi Juni 2016
  • Edisi Mei 2016
  • Edisi April 2016
  • Edisi Maret 2016
  • Edisi Februari 2016
  • Edisi Januari 2016
  • Edisi Desember 2015
  • Edisi November 2015
  • Edisi Oktober 2015
  • Edisi September 2015
  • Edisi Agustus 2015
  • Edisi Juli 2015
  • Edisi Juni 2015
  • Edisi Mei 2015
  • Edisi April 2015
  • Edisi Maret 2015
  • Edisi Februari 2015
  • Edisi Januari 2015
  • Edisi Desember 2014
  • Edisi November 2014
  • Edisi Oktober 2014
  • Edisi September 2014
  • Edisi Agustus 2014
  • Edisi Juli 2014
  • Edisi Juni 2014
  • Edisi Mei 2014
  • Edisi April 2014
  • Edisi Maret 2014
  • Edisi Pebruari 2014
  • Edisi Januari 2014
  • Edisi Desember 2013
  • Edisi Nopember 2013
  • Edisi Oktober 2013
  • Edisi September 2013
  • Edisi Agustus 2013
  • Edisi Juli 2013
  • Edisi Juni 2013
  • Edisi Mei 2013
  • Edisi April 2013
  • Edisi Maret 2013
  • Edisi Pebruari 2013
  • Edisi Januari 2013
  • Edisi Desember 2012
  • Edisi Nopember 2012
  • Edisi Oktober 2012
  • Edisi September 2012
  • Edisi Agustus 2012
  • Edisi Juli 2012
  • Edisi Juni 2012
  • Edisi Mei 2012
  • Edisi April 2012
  • Edisi Maret 2012
  • Edisi Pebruari 2012
  • Edisi Januari 2012
  • Edisi Desember 2011
  • Edisi Nopember 2011
  • Edisi Oktober 2011
  • Edisi September 2011
  • Edisi Agustus 2011
  • Edisi Maret 2010
  • Kembali
Majalah Gembala GKJ Nehemia Online

"Pemutihan" adalah keputusan

Picture
Pemimpin memang harus mengambil keputusan. Adalah tugas yang berat dalam hal keputusan tersebut merupakan keputusan yang tidak diprogram, tidak biasa-biasa saja. Banyak masalah yang dihadapi oleh organisasi termasuk Gereja. Diantara permasalahan tersebut pasti ada yang tidak dapat dipecahkan dalam tempo singkat karena pelik dan berpotensi menimbulkan konflik internal. Pemutihan adalah salah satu alternative keputusan yang dapat dipilih oleh Pemimpin.

Keputusan
Barangkali contoh berikut dapat memberikan gambaran apa itu tindakan “pemutihan”:
Guilty By Suspicion, adalah film yang berdasar kejadian sebenarnya, yang menceritakan pihak keamanan AS mengadakan penyelidikan terhadap warga Negara yang dicurigai menjadi anggota Partai Komunis. Pendek cerita, akibat dari kecurigaan tersebut sungguh mengharukan ratusan ribu orang menderita, kehilangan pekerjaan, jatuh miskin dan tersisih dari pergaulan masyarakat. Untunglah, kurang lebih dua puluh tahun kemudian tahun 1970, nama-nama orang yang dicurigai bersalah itu dipulihkan kembali dana menerima ganti rugi dari pemerintah AS.

Pemerintah Indonesia banyak juga mengambil tindakan pemutihan, misalnya dalam hal tagihan pajak, dalam masalah pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), dalam masalah kewarganegaraan. Jadi boleh dikatakan bahwa “pemutihan” adalah satu keputusan keorganisasian.  Pemutihan merupakan keputusan yang lebih bersifat kompromistis, karena suatu keadaan atau suatu masalah yang telah berjalan lama dan sulit untuk diselesaikan. Masalah yang telah menyita waktu, energi dan biaya yang tinggi, tetapi tetap tidak terselesaikan, sehingga diperlukan keputusan khusus dan formal.  Pemutihan masuk dalam kategori keputusan yang tidak diprogram (non-programmed decision), yakni keputusan yang berkenaan dengan masalah-masalah khusus, khas atau tidak biasa. Beda dengan keputusan yang rutin dan berulang-ulang dibuat. Mengingat keputusan ini sangat spesifik bagi pemecahan suatu masalah, maka harus dilakukan oleh orang yang mempunyai otoritas tinggi atau mempunyai kewibawaan yang tinggi. Dan sebaikanya “pemutihan” tidak menjadi presedent untuk waktu-waktu mendatang. Sebagai organisasi, GKJ Nehemia pasti pernah mengambil keputusan khas “pemutihan” terhadap suatu masalah yang pelik.

Satu masalah dalam organisasi yang dalam jangka cukup lama tidak dapat diselesaikan karena berbagai pertimbangan dan kepentingan membawa potensi menimbulkan gunjingan, rumor dan prasangka-prasangka yang lain. Keadaan ini dapat menimbulkan konflik antar anggota, antar pengurus atau pengurus dengan anggota. Sehingga kadang-kadang masalahnya pokoknya sendiri sudah tidak dirasakan menjadi masalah, tetapi konflik yang ditimbulkan tersebut  menimbulkan masalah baru. Untuk ini, seorang pimpinan organisasi apalagi gereja perlu segera memecahkan masalah dengan mengambil keputusan yang cepat, relatif rasional, relatif adil, dan memberikan dampak yang berimbang bagi organisasi. Pembuatan keputusan adalah bagian kunci kegiatan pimpinan. Pembuatan keputusan menggambarkan proses melalui mana serangkaian kegiatan dipilih sebagai penyelesaian masalah tertentu. Dalam hal keputusan, seorang pimpinan memang dihadapkan pada keadaan yang dilematis. Pimpinan tidak mungkin untuk tidak mengambil keputusan. Satu keputusan untuk tidak mengambil keputusan adalah semacam keputusan yang membawa konsekuensi. Kita dapat secara aktif mengambil keputusan dan memikul tanggungjawab atasnya. Atau secara pasif kita dapat mengambil keputusan itu dengan membiarkan orang-orang dan peristiwa-peristiwa berjalan terus tanpa campur tangan kita. Sering kali orang-orang Kristen berusaha untuk mengelakkan perkara yang ruwet karena semua pihak dalam perkara itu bercampur baur, antara baik dan buruk. Mereka tidak mau mengambil keputusan yang tidak murni. Akan tetapi keputusan untuk tidak melibatkan diri sebenarnya juga tidak  murni. Sikap itu juga membawa konsekuensi untuk baik dan buruk. Keputusan untuk tidak bertindak adalah keputusan untuk tidak mengubah situasi. Kalau memang situasi tidak perlu diperbaiki atau tidak mugkin diperbaiki, kita tidak usah bertindak. Tetapi kalau situasi dapat diperbaiki, tidak berbuat apa-apa merupakan keputusan yang salah.

Pemutihan dikatakan sebagai keputusan yang sifatnya kompromistis karena  alasan:
  1. untuk mencapai penyelesaian sementara bagi isu-isu yang kompleks.
  2. untuk mencapai pemecahan cepat karena desakan waktu.
  3. digunakan  sebagai landasan apabila cara kolaborasi atau persaingan (sebagai cara lain dalam mengatasi konflik) tidak berhasil.  

Konflik
Konflik dapat menimbulkan macam-macam dampak negatif. Salah satu problim yang biasanya dihadapi, adalah bahwa konflik memiliki kecederungan untuk mengalihkan upaya dari pencapaian tujuan. Kadang-kadang sumber daya keorganisasian bukan terutama ditujukan pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditetapkan, tetapi sumber daya tersebut habis digunakan untuk berupaya menyelesaikan konflik. Waktu dan uang merupakan dua macam sumber daya yang sering kali dipergunakan dalam penyelesaian konflik. Konflik juga dapat menyebabkan timbulnya “biaya” atas kesejahteraan psikologikal, karena menurut penelitian, pendapat-pendapat yang berbenturan satu sama lain, dapat menyebabkan timbulnya “perasaan tidak senang”, timbulnya “ketegangan”, dan “ketidaktenteraman”.

Pimpinan mempunyai 5 kemungkinan keputusan dalam penyelesaian konflik, yakni keputusan yang menimbulkan:
  1. Kolaborasi
  2. Persaingan
  3. Akomodasi
  4. Menghindari, dan
  5. Kompromis
Pemutihan masuk dalam kategori yang kompromis.

Kemungkinan-kemungkinan di atas berkait dengan tujuan apakah keputusan tersebut menimbulkan/tidak menimbulkan dimensi kerja sama atau kooperatif dan dimensi kemungkinan sifat asertif. Pemutihan sebagai keputusan yang kompromis, dia berada pada posisi moderat (di tengah-tengah), 50% kooperatif dan 50% ada asertifnya. Dengan demikian diharapkan keputusan pemutihan dapat diterima oleh semua pihak, tidak menimbulkan potensi konflik baru, walaupun dalam pemutihan pasti ada kelompok yang diuntungkan dan ada kelompok yang dirugikan.

Mengapa Gereja  mengambil keputusan “pemutihan”?
Orang –orang Kristen sependapat bahwa Allah adalah pusat dan sumber dari semua yang baik. Allah adalah hakim terkahir yang memutuskan apa yang benar dan apa yang salah. Semua patokan moral tunduk kepada ketentuan Nya. Karena itu tanggungjawab manusia yang pokok adalah melakukan apa yang dikehendaki Allah. Di dalam pengambilan keputusan tentang apa yang harus dilakukan, semua orang Kristen mencari kehendah Allah. Pemutihan dapat dipahami bahwa kita bersama-sama mengalami pengampunan Tuhan dan berusaha bersama memikul beban-beban kehidupan kita. Kondisi yang mendasari karena Gereja mempunyai sifat-sifat (antara lain) yang sangat menonjol berikut ini::

  1. Gereja sebagai jemaat pertanggungan-jawab etis.
Dalam Gereja kita diperingatkan akan dosa-dosa kita dan penghakiman Allah. Kita ditolong untuk bertobat dari dosa kita dan kembali kepada Allah. Dalam Gereja dosa dapat dipandang sebagai dosa. Dosa tidak diremehkan melainkan dianggap pemberontakan melawan Allah. Hal ini tidak berarti anggota-anggota gereja menjadi polisi rohani yang menghakimi anggota lain. Namun setiap anggota wajib menyesali dosanya sendiri serta dosa anggota lain.
  1. Gereja sebagai jemaat pengampunan
Pertama, dalam Gereja kita mengalami kasih karunia Allah. Dosa-dosa kita diampuni, jika kita mengaku dosa kita. Jadi meyakinkan orang tentang kasih Allah kepadanya meskipun ia berdosa adalah lebih penting daripada menganjurkan orang itu untuk berbuat baik dan tidak berdosa.
Kedua, Gereja terdiri dari orang-orang yang saling mengampuni. Karena mereka diterma Allah walaupun mereka orang-orang berdosa, mereka lebih sanggup menerima orang lain yang berdosa. Penerimaan ini adalah berdasarkan kasih Allah kepada mereka, bukan berdasarkan kebaikan mereka sendiri.
Namun perlu juga diperhatikan bahwa “pemutihan” sebagai keputusan dan menjadi diskresi pimpinan, dalam aras GKJ yang menganut azas presbiterial-sinodal, keputusan tertinggi adalah pada Rapat Majelis Lengkap. Sehingga Pemimpin seharusnya mendapatkan legalisasi dari Rapat Majelis sebelum keputusan “pemutihan” diambil.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sikap saling mengasihi satu dengan yang lain dengan rela dan sadar menjadi penting dipelihara sebagai roh yang membuat jemaat tetap dalam kehidupan yang sejahtera, damai dan benar. Semoga bermanfaat. Dari beberapa sumber. Depok, 20 Maret 2012. Munari.

Dalam Pemutihan Kebenaran Harus Tetap Dinyatakan

Picture
Administrasi gereja bisa saja kurang lengkap, tetapi kita harus berusaha mengadakan perbaikan sehingga dapat memancarkan suatu kebenaran yang merupakan elemen dasar suatu kesaksian kita. Terlebih menyangkut administrasi keuangan kalau dikelola kurang konsisten dan tanpa diiringi suatu tekad yang kuat dari para pengelola keuangan untuk senantiasa tertib akan menghasilkan suatu keadaan yang cukup berat untuk dibenahi, terlebih kalau sudah berlangsung cukup lama, sehingga perlu diadakan  suatu pemutihan agar langkah ke depan kita memiliki titik awal guna perbaikannya. Atas dasar latar belakang tersebut maka judul tersebut disajikan. Perlu diawali dengan pembahasan  tentang logika sederhana sebagai landasan berpikr, data yang tersedia sebagai bahan monitoring, evaluasi dari hasil monitoring, faktor internal dan eksternal sebagai pertimbangan interpretasii, kesimpulan dan rekomendasi bagi pemegang kewenangan kebijakan (Majelis Gereja). dalam mengambil keputusan, serta langkah ke depan untuk lebih akuntabel dan transparan. Dalam tulisan ini banyak kelemahan dan kekurangan sehingga memerlukan kritik dan saran yang membangun demi kelengkapan dan kesempurnaan materi pembahasan, agar kita semua berperan aktif untuk merealisasikan kehadiran Kerajaan Allah melalui persekutuan, pelayanan dan kesaksian di gereja kita.

LOGIKA SEDERHANA SEBAGAI LANDASAN BERPIKIR.
TIap  tahun keuangan gereja tidak pernah defisit.
Hampir semua gereja, terutama GKJ Nehemia tiap tahun laporan keuangannya tidak pernah defisit atau senantiasa surplus sehingga secara logika sederhana sebagai landasan berpikir maka dalam kurun waktu tahunan tentu kita memiliki suatu jumlah saldo yang cukup besar untuk mendukung operasianal pelayanan kita. Hal ini jangan sampai menyurutkan partisipasi kita dalam mendukung pelayanan gereja, baik dalam doa, pemikiran, saran, aktivitas nyata melalui peran serta secara aktif dalam pelaksanaan pragaram-progam yang telah dicanangkan terutama dalam menyampaikan persembahan.

Kuantitas dan kualitas pelayanan semakin meningkat.
Dari segi kuantitas jumlah jenis kebaktian bertambah dengan pelayanan kebaktian nuansa muda, kelas-kelas Sekolah Minggu semakin banyak katagorinya bahkan Sekolah Minggu GKJ Nehemia dengan peserta sekitar 350 anak adalah setara jemaat suatu gereja. Peserta kebaktian rutin  mencapai sekitar 1700 setiap ibadah Minggu, tetapi perlu didata seberapa banyak tamu yang ikut kebaktian, karena lokasi gereja sangat strategis sehingga sangat mudah dijangkau jemaat baik warga atau tamu. Secara kualitas perubahan kehidupan rohani maupun jasmani jemaat kita semakin meningkat dengan dinyatakan dalam pelaksanaan ibadah yang semakin baik, kesadaran dalam partisipasi kelompok Pemahaman Alkitab, Paduan Suara, Kelompok doa,  Retreat, kegiatan Komis-komisi semakin  kreatif baik  untuk menunjang kehidupan berjemaat dan untuk pelayanan pada masyarakat dan lingkungan kita.

DATA YANG TERSEDIA UNTUK BAHAN MONITORING.
Data statistik dari sensus warga.
Pada tahun 2008 GKJ Nehemia pernah melaksanakan sensus warga jemaat sehingga kita memiliki database riil, tetapi seiring perjalanan waktu data statistik kita sudah kurang up to date lagi, sehingga kita perlu mengupdate data tersebut secara periodik sehingga kita memiliki data yang benar-benar valid., pada tahun 2013 sebaiknya kita perlu mengadakan sensus warga jemaat lagi dan selain anggota majelis dan diakaen sebaiknya dibentuk personil pelaksana sensus yang cukup memadai baik jumlah maupun kemampuannya untuk melaksanakan sensus sehingga akan diperoleh data yang lebih akurat.

Data dari warta jemaat
Setiap hari Minggu kita menerbitkan warta jemaat yang bisa dipakai sebagai media komunikasi antara majelis gereja, komisi-komisi, wilayah-wilayah dengan segenap warga jemaat atau para tamu dan simpatisan kita. Warta jemaat itu  boleh disebut sebagai potret mingguan jemaat dari pengelolaan gereja kita .Dari warta jemaat itu dapat dianalisa mana materi yang menunjukkan informasi yang akuntabel atau masih diperlukan perbaikan dalam menyajikannya. Sebagai contoh nomor kartu persembahan yang sering berubah, dalam menyampaikan laporan keuangan tidak disebut rincian berapa di Bank, dan  di Kas. Dalam meyampaikan persembahan dengan amplop ( sebaiknya di beri nomor oleh majelis sebelum amplop dibagikan ), sehingga pelaporannya lebih dapat dipertanggungjawabkan.

Data dari lporan tahunan.
Dari laporan tahunan dapat dianalisa aktivitas kita dalam satu tahun berjalan,dan langkah ke depan selanjutnya, tetapi kehidupan berjemaat adalah berkesinambungan sehingga sebaiknya bahkan seharusnya  laporan tahunan tidak berdiri sendiri tetapi tetap harus merekam pokok utama hasil laporan tahun-tahun sebelumnya, sehingga laporan tahunan dapat menyampaikan informasi secara utuh dan merupakan pondasi untuk berpijak operasional kehidupan berjemaat masa yang akan datang.

Data administrasi gereja.
Data adminisxtrasi gereja terutama administrasi keuangan  adalah wilayah yang hanya bisa diteliti oleh petugas yang punya wewenang dan keahlian untuk melaksanakan tugasnya. Dan petugas itu adalah bisa dari kantor resmi yang indenpenden atau petugas yang dibentuk oleh Majelis Gereja. Secara  berkala petugas tersebut mengadakan audit / verifikasi dan laporannya disampaikan kepada Majelis, bahkan secara teratur sebelum laporan tahunan atau semester disampaikan ke warga sebaiknya diaudit terlenih dulu, sehingga tanggaung jawab majelis atau personil pengelola keuangan dapat diperingan dan akuntabel.

EVALUASI  DARI HASIL MONITORING.
Dari data yang tersedia untuk monitoring dapat dieavluasi penyebab terjadinya permasalahan yang diperlukan pembenahan dan perbaikan. Dan penyebab tersebut bisa dari faktor internal  dan faktor eksternal organisasi / gereja. Faktor internal bisa dari masalah  tekad dan kemauan pembuat kebijakan, budaya kerja, kemampuan sumber daya manusia, systems dan procedures yang berlaku, sedangkan faktor eksternal yang lebih dominan adalah masalah  pengawasan.

FAKTOR INTERNAL YANG PERLU DIBENAHI.
Niat dan tekad yang kuat dan berkesinambungan dari pemegang kebijakan.
Dalam organisasi gereja pemegang kebijakan tertinggi adalah Majelis Gereja yang dapat memutuskan kebijakan mealalui rapat pleno majelis dan secara rutin dlaksanakan sebulan sekali. Jadi kalau membenahi dan mengadakan perbaikan  administrasi terutama di bidang keuangan maka harus di mulai pembenahan struktur organisasi di bidang tersebut baik systems dan proceduresnya, mau pun personilnya, terutama peningkatan pengawasannya.

Pelaksanaan operasianal gereja berdasarkan buku Pedoman Bagi Majelis Dan Badan Pembantu Majelis.
GKJ Nehemia telah memiliki buku Pedoman Pelayanan Bagi Majelis Dan Badan Pembantu Majelis yang berisi Bagan Organisasi Majelis GKJ Nehemisa Jakarta beserta uraian tugas dan tanggung jawabnya. Tetapi sayangnya operasional gereja kita kurang mengacu pada buku pedoman itu. Bahkan ada elemen organisasi yang tidak aktif tanpa ada tindakan yang cepat dari kita. Bagan Organisasi Majelis ada yang diubah yang mengakibatkan pelemahan di bidang pengawasan keuangan administrasi gereja kita. Kalau Majelis hendak mengadakan perbaikan sebaiknya segera mengadakan pembenahan struktur Organisasi Majelus dan mennsosialisaikan uraian tugas dan tanggung jawab sesuai dengan buku perdoman tersebut.

Peningkatan kinerja sumber daya manusia tergantung kemampuan managerial pimpinan.
Terdapat motto yang menyebutkan tidak ada prajurit yang salah dan itu tergantung jendralnya. Kiranya kita berebenah dari atas dan bawahan akan segera mengikutinya, terutama dalam budaya kerja yang mengacu pada visi, misi, dan strategi yang kita canangkan. Oleh karena itu visi, misi dan strategi sebaiknya realistik, mudah dipahami, konsisten, berkesinambungan dalam pelaksanaannya.

Visi, misi dan strategi  lama kita (waktu masih bernama GKJ Kebayoran Baru). 
Visi GKJ Kebayoran Baru, tidak pernah atau jarang ditulis dalam penyampaian informasi baik melalui warta jemaat mau pun dalam laporan tahunan, tetapi visi GKJ Kebayoran Baru adalah “Untuk Memuliakan Tuhan” senantasa dijadikan budaya kerja dalam operasional gereja sehingga tanpa ada slogan yang didengungkan setiap elemen organisasi gereja dan warga tertanam semangat  untuk memuliakan Tuhan. Adapun misi dan strategi selalu disesuaikan dengan situasi dalam jangka pendek seperti bersaksi melalui wilayah dan lingkunagn kita, strateginya adalah pembenahan struktur organiasasi untuk merealisasikan pembangunan gedung gereja, sehingga Tuhan melimpahkan  berkat dalam meralisasikan Gedung Gereja Yeremia Depok, Gedung Gereja GKJ Tangerang dan dengan penuh tantangan kita dapat memilikI Gedung Gereja GKJ Nehemia ini.  Memang dalam mensosialisasikan visi, misi dan strategi perlu informasi secara tertulis dan lisan, tetapi harus menjadi budaya kerja untuk mencapai sasaran yang kita canangkan, termasuk segala admnistrasi yang akuntabel.

Vis, misi dan strategi GKJ Nehemia saat ini.
Visi GKJ Nehemia : “Menjadi Gereja yang bersekutu dan melayani untuk bersaksi ikut menghadirkan Langit dan Bumi Baru”, sedang misinya adalah bertumbuh dan berbuah bersama keluarga, jemaat dan masyarakat. Adalah sebuah visi dan misi yang bagus, Dalam rapat jemaat empat tahun yang lalu dipertanyakan oleh seorang ibu PNS Kementerian Pertanian dari wilayah Ciputat  : Apa itu Langit Baru dan Bumi Baru ? Bapak yang cukup senior dari Wilayah Tebet mengemukakan bahwa langit dan bumi baru akan terjadi  secara otomatis tanpa ada pengaruh kegiatan kita. Bahkan Wakil Ketua Majelis kita pernah menyampaikan bahwa  visi dan misi kita saat ini baru sebatas slogan. Oleh karena itu perlu kerja keras darti kita terutama Majelis, Komisi KSP3J, untuk membuat tahapan-tahapan visi dan misi yang lebih membumi dan dapat dijadikan budaya kerja kita agar program-pragram yang dicanangkan dapat direlisasikan dengan pertumbuhan Gereja menjadi bagian dari pertumbuhan Kerajaan Allah.

FAKTOR EKSTERNAL YANG PERLU KITA PERTIMBANGKAN.
Tamu yang senantiasa beribadah di GKJ Nehemia.
Karena lokasi gereja sangat strategis maka banyak tamu yang beribadah di GKJ Nehemia, kita sangat bersyukur karena kehadiran GKJ Nehemia  dapat melayani warga dan para tamu yang ikut bersekutu bersama. Namun  perlu ada pengkajian yang lebih mendalam agar para tamu itu bisa terdata ( dari formulir keikutsertaan dalam skramen Perjamuan Kudus), sehingga peran serta tamu dapat  mendatangkan berkat dan penghiburan bagi kita terutama bagi GKJ Nehemia.

Faktor sosial, ekonomi, politik dan derasnya pengaruh aliran diluar ( yang tidak seazas dengan GKJ ).
Kondisi sosial, ekonomi dan politik yang semakin meningkat pergesekannya kiranya perlu disadari agar kita tidak terseret pada salah satu kelompok yang mendikotomi secara sempit, sedang pengaruh alran yang tidak seazas dengan GKJ, kita harus semakin kreatif dalam pelayanan agar warga kita tidak tergiur dengan kelebihan aliran yang tidak sazas dengan GKJ.

Faktor internal dan eksternal sebagai pertimbangan interpretasi.
Interpretasi yang lebih akurat adalah dari ahlinya, Majelis Gereja memiliki wewenang untuk memutuskan suatu  kebijakan, dari data-data yang ada maka tim independxen yang memiliki keahlian dapat dimintai pertimbangan tentang permasalahan yang ada sehingga interpretasinya objektif dan Majelis akan memperoleh saran dan rekomendasi sebagai pertimbangan untuk  mengambil keputusan dalam langkah selanjutnya.

Kesimpulan dan rekomendasi tim ahli independen sebagai petimbangan Majelia Gereja.
Keputusan Majels Gereja  berdasar saran dan rekomendxasi tim ahli independen merupakan titik awal sebagai dasar langkah ke depan sehingga GKJ memilliki adminitarsi secara akuntabel dan transparan. Saran dan kesimpulan itu bisa berupa pemutihan atau suatu kerugian yang perlu diterima, bahkan mungkin bisa memberi kejelasan dari hal-hal yang selama ini menjadi bahan pertanyaan  tetapi kebenaran harus tetap dinyatakan sehingga sasaran untuk tidak menjatuhkan seseorang tercapai tetapi keselamatan yang sempurna dalam mempertahankan iman kita untuk  mengatasi penggodaan bisa terwujud, karena itulah tujuan kita berjemaat. Langkah ke depan kita berpegang pada Alkitab, Pokok-pokok Ajaran GKJ, Tata Gereja dan Tata Laksana GKJ dan Pedoman Pelayanan Bagi Majelis Dan Badan Pembantu Makelis.

DI SELURUH MUKA BUMI TIDAK ADA GEREJA YANG SEMPURNA.
Di muka bumi ini tidak ada gereja yang sempurna, tetapi hendaklah kita sebagai orang beriman menjadi bagian dari proses menuju kearah kesempurnaan. Tuhan senantiasa memberkati kita dan selamat berperan secara aktif baik dalam doa, pelayanan yang sesuai dengan talenta dan panggilan kita. GKJ Nehemia senantiasa bertumbuh dan berbuah untuk realisasi kehadiran Kerajaan Allah di muka bumi. Amin.

Menjadi Putih

Picture
Iklan produk kosmetik pembersih kulit seringkali mengklaim produknya bisa memutihkan kulit dan mengandung ekstrak buah bengkuang yang kebetulan warnanya putih. Iklan ini dipicu oleh keinginan orang terutama kaum hawa untuk berkulit bersih yang diidentikkan dengan kulit yang “putih” tanpa peduli bahwa aslinya yang bersangkutan berkulit hitam legam. Dikalangan masyarakat Jawa dikala seseorang sedang mengandung dianjurkan minum kelapa muda (degan) agar anak yang dikandungnya kelak berkulit putih, sesuatu yang dibantah mentah-mentah oleh mertua saya yang juga orang Jawa dengan mengatakan bahwa sebanyak-banyaknya minum degan tidak akan memutihkan orang Afrika. Ilustrasi di atas mengawali tulisan berikut sesuai dengan tema Gembala bulan Maret yaitu Pemutihan. Berdasarkan referensi yang terdapat dalam http:/kamusbahasaindonesia.org, pemutihan adalah: (1) proses, cara, perbuatan memutihkan; (2) keringanan bagi wajib pajak untuk tidak membayar pajak tahun-tahun sebelumnya walaupun barang atau harta itu sudah menjadi miliknya sejak beberapa tahun. Namun dalam perkembangannya bukan hanya wajib pajak saja yang mendapat fasilitas pemutihan melainkan sudah melebar ke bidang-bidang lainnya seperti, pemutihan surat perjalanan para TKI di luar negeri, pemutihan SIM dan STNK, pemutihan IMB, pemutihan KTP, pemutihan ijin usaha, pemutihan akte kelahiran, pemutihan surat nikah, dan lain-lain. Pemutihan mengandung makna pengampuan atas kesalahan atau kelalaian masa lalu (biasanya kesalahan/kelalaian administratif) untuk kemudian diperbaiki di masa yang akan datang. Harapannya agar kesalahan serupa tidak terulang kembali di kemudian hari.

Kesalahan atau kelalaian terkadang secara sengaja maupun tidak sengaja ditutup-tutupi dan ini berlangsung sekian lama tanpa adanya sangsi atau konsekuensi apapun sepanjang tidak ketahuan. Berjalan dengan waktu dan ditambah dengan lemahnya sistim pengawasan maka sempurnalah kesalahan atau kelalaian itu menjadi suatu kebenaran sampai orang sadar bahwa salah kaprah telah terjadi, dan mumpung belum terlambat diambillah langkah-langkah pemutihan. Langkah ini terpaksa diambil karena tidak ada waktu lagi untuk saling menyalahkan atau mencari-cari dosa siapa. Kesalahan hendaknya jangan dilihat sebagai sesuatu yang mengerikan, karena semua orang berbuat kesalahan. Yang penting dipahami adalah dengan melakukan kesalahan ada indikasi bahwa kita harus melakukan perbaikan. Fakta buruk masa lalu tidak bisa dihilangkan begitu saja, tetapi fakta bahwa perbaikan yang terjadi saat ini dapat menjadi pemicu untuk mengoreksi kesalahan masa lalu. Disinilah maksud dan tujuan dari pemutihan yaitu unsur pengampunan dan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dapat menjadi nyata.

Kemauan memperbaiki kesalahan dengan meningkatkan keterampilan dapat membuktikan bahwa kita bisa menjadi lebih baik dan lebih profesional. Di dalam suatu organisasi dimana unsur kerjasama dan koordinasi menjadi sangat dominan tidak berarti apa-apa tanpa keterampilan yang memadai. Karena tidak ada orang yang serba bisa dan keahlian seseorang belum tentu dimiliki oleh orang lain. Dengan demikian tidak ada lagi orang yang mengatakan “untung ada saya”, dan semua orang bekerja sesuai dengan talenta dan keahliannya masing-masing. Mengasah keterampilan secara berkesinambungan mutlak diadakan agar mengurangi tingkat kesalahan secara signifikan.

Kejujuran dan sikap pengendalian diri merupakan kesatuan yang tak terpisahkan. Standar etika dan moral membuat orang harus mampu mengendalikan diri agar tidak berbuat hal-hal yang negatif dan merugikan orang lain. Bila kita tahu bahwa korupsi itu tidak baik dan seperti kanker yang sudah menyebar ke mana-mana, tentunya peringatan dini alam pikiran kita akan mengatakan jangan lakukan itu. Dan bila mekanisme pengendalian kita berjalan baik maka sudah pasti tidak akan kita lakukan. Kejujuran membutuhkan keberanian untuk mengatakan atau mengakui kebenaran sama seperti mengatakan dan mengakui kesalahan. Sekalipun pengendalian diri kita kuat namun tak ada gading yang tak retak, sesekali dorongan untuk melakukan kesalahan selalu ada dalam diri kita. Godaan yang menggiurkan selalu berada di sekitar kita dan siap menjerat kita untuk melakukan kesalahan. Dan bila kita bersalah, apakah nilai-nilai kejujuran masih kita pegang teguh atau tidak, dan apakah kita mampu untuk mengakui kesalahan kita. Melakukan perbaikan, meningkatkan keterampilan, bersikap jujur dan pengendalian diri yang prima dapat menjadi modal utama dalam langkah berikutnya setelah dilakukan pemutihan.

Bagaimana dengan organisasi gereja? Sebagai organisasi nir laba gereja seringkali dikelola secara amatiran, dimana personilnya melakukan pekerjaannya secara sambilan. Contoh yang paling menonjol bila kita sudah membicarakan soal keuangan gereja dan laporan pertanggungjawabannya. Karena di bagian keuangan gerejalah seringkali terjadi konflik-konflik internal maupun gosip-gosip tak sedap. Pemahaman sempit tentang arti bendahara gereja yaitu mencatat penerimaan dan pengeluaran saja sering menjadikan perkerjaan bendahara tidak memiliki arti apapun selain memberi informasi uang yang ada di kas masih sisa berapa. Padahal bila informasi keuangan dikelola secara baik akan menjadi sumber informasi yang menarik dan memiliki arti dalam mengambil kebijakan-kebijakan.

Organisasi gereja yang terjebak dalam rutinitas akan menjadikan gereja seperti menara gading yang mandul dan kebal kritik. Jawaban atas pertanyaan : ‘Mengapa begini” yang selalu dijawab: “Dari dulu juga sudah begitu dan aman-aman saja” akan menghalangi pembaruan gereja di segala bidang. Kerinduan akan penyempurnaan sistim dan prosedur keuangan seringkali terhadang oleh budaya ewuh pekewuh yang akan menyulitkan reformasi bidang keuangan gereja. Sebagai pemimpin organisasi gereja biasanya akan mengambil jalan yang “bijaksana” yaitu melakukan pemutihan terhadap kesalahan-kesalahan masa lalu sambil membenahi sistim keuangan yang ada agar lebih transparan, kredibel, dan akuntabel.

Kasus keuangan gereja biasanya memiliki masa inkubasi yang lama (bertahun-tahun) sampai organisasi atau unit kerja tidak merasa ada masalah keuangan, mengabaikan, atau menganggap tidak penting. Organisasi baru menyadari dan kebingungan ketika kasusnya sudah meledak dan tidak terkendali. Pernyataan bahwa organisasi gereja hanya bertanggung jawab kepada Tuhan tidak bisa diterima sebagai jawaban atas pertanyaan kritis dari anggota jemaat tentang laporan pertanggungjawaban keuangan gereja. Bagaimana sebuah organisasi gereja dapat bertanggungjawab terhadap Tuhan yang tidak kelihatan, sementara terhadap jemaatnya yang kelihatan saja tidak bisa.

“Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia” (1 Korintus 15:19).

Apabila ditarik mundur ke visi-misi organisasi gereja dan setelah melakukan pemutihan, maka sudah selayaknya dirancang suatu kerangka prinsip-prinsip dasar pengelolaan keuangan, misalnya: pertanggungjawaban, prinsip-prinsip pengendalian, peraturan dan ketentuan penerimaan dan pengeluaran dana, pemanfaatan asset, dan lain sebagainya. Sebagai contoh format keuangan merancang keterangan-keterangan pokok apa yang harus tampak dalam laporan keuangan, sehingga dapat memberi informasi keberadaan organisasi jika dilihat dari kacamata keuangan. Format laporan keuangan yang dibuat sudah semestinya mampu menunjukkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan : rekening pengeluaran rutin, jenis kegiatan atau program, sarana dan prasarana, asset dan sebagainya.

Reformasi di bidang keuangan gereja yang dilengkapi dengan pengendalian internal diharapkan bisa mengawasi prosedur-prosedur serta catatan-catatan yang berhubungan dengan aktiva(asset gereja) dan dapat dipercayanya catatan-catatan keuangan. Dengan adanya pengendalian internal maka diharapkan:
1.  Transaksi-transaksi dilaksanakan sesuai dengan otorisasi dari manajemen
2.  Transaksi-transaksi telah dicatat, yaitu untuk (a) memungkinkan penyusunan laporan keuangan yang sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum atau kriteria lain yang perlu untuk laporan-laporan tersebut dan (b)menunjukkan pertanggungjawaban atas aktiva
3.     Aktiva hanya dapat digunakan berdasarkan otorisasi manajemen
4.     Tanggungjawab aktiva menurut catatan dibandingkan dengan aktiva yang ada pada suatu periode waktu tertentu dan untuk setiap perbedaan-perbedaan yang terjadi maka akan diambil tindakan seperlunya.

Sebagai saran untuk memberdayakan dan pengembangan sistim pengendalian internal maka perlu diadakan hal-hal berikut ini:
1.     Pemisahan fungsi keuangan: Kasir(menerima dan membayar) dengan yang mencatat dalam pembukuan dan yang membuat laporannya(operator)
2.     Perlunya otorisasi yang berhak menyetujui pengeluaran dalam jumlah tertentu
3.     Diperlukan catatan-catatan keuangan dan bukti-bukti (kwitansi) yang memadai
4.     Dibutuhkan laporan-laporan pemanfaatan dana dengan bukti-bukti yang mamadai
5.     Pengawasan terhadap kebenaran catatan-catatan keuangan dan keberadaan asset

Pengendalian internal yang baik akan menjamin harta gereja dari segi keamanannya, ekonomis dan efisien dalam pemanfaatannya. Dalam salah satu artikelnya Rm.Indra Sanjaya secara ekstrim mengatakan “The first sin in the church was a financial crime”, yang kalau diterjemahkan secara bebas: “dosa utama dalam gereja adalah kejahatan keuangan”. Penyimpangan keuangan di gereja pada umumnya terjadi karena lemahnya pengendalian internal. Solusi yang ampuh dan bijaksana adalah pemutihan dan terus berusaha untuk memperbaiki manajemen organisasi gereja agar menjadi organisasi yang sehat dan bertanggungjawab. Alfred Bawole.

Valentine Day Forum Keluarga Muda: Sebuah Pandangan

Picture
Sejak Forum Keluarga Muda terbentuk pada 27 Mei 2011, hari Sabtu 25 Pebruari merupakan tanggal dimana acara perdana Forum Keluarga Muda diadakan, dalam acara yang berjudul Valentine Keluarga Muda, mengambil setting candlelight dinner, cukup romantis mengingatkan saya pada masa-masa pacaran dulu dan dengan tema "Setiakah Aku Padamu, Sayang...??" cukup pas sebagai bahan ajakan para keluarga muda untuk dapat saling setia, acara ini dipimpin oleh Pendeta Lusindo Tobing dan dimeriahkan oleh Teater Emji dan pemusik spesialis lagu-lagu oldies yang dibawakan oleh Trio Los Boncos. Acara pada hari itu cukup seru dan yah...agak-agak mengharukan dimana ketika pasangan-pasangan saling membagikan harapan dan menceritakan apa yang membuat mereka bisa saling mengasihi, terus terang saja buat saya ini mengejutkan sekali ketika acara ini ternyata bisa menjadi saluran berkat bagi para pasangan-pasangan muda yang hadir dan saya yakin seusai acara ini mereka akan lebih mantap melangkah kedepan menata masa depannya dengan pasangan masing-masing. Acara Valentine Keluarga Muda yang  dimulai tepat waktu pukul 18.30 WIB selesai pada pukul 21.30, padahal awalnya panitia cuma menargetkan acara selesai sekitar pukul 20.00, ternyata di luar dugaan dalam acara ini para pasangan muda dapat menemukan semangat dan rasa yang mungkin sempat terpendam dan terbenam dalam kesibukan rumah tangga baik dalam pekerjaan maupun mengurus anak, mungkin bisa  dikatakan mendapat pencerahan dalam kehidupannya.

Acara yang berlangsung 3 jam tersebut sangat tidak terasa panjang, dan bahkan dirasakan masih kurang, karena dengan acara ini rasa yang pernah ada waktu  masih pacaran dapat dirasakan lagi oleh para pasangan keluarga muda, beberapa dari keluarga muda yang hadir sudah menikah diatas 8 tahun, jadi dengan acara ini mereka merasakan gairah dan sensasi romantisme sewaktu mereka belum menikah yang sekarang mungkin sudah agak terlupakan. Hanya sangat disayangkan kerja keras panitia dan suksesnya acara keluarga muda ini kurang direspon dengan baik oleh para keluarga muda nehemia yang lain, padahal di salah satu pasangan yang hadir terselip satu pasang keluarga muda dari GKJ Kanaan. Kalau kita sempat melihat jumlah sensus tahun lalu kita dapat melihat jumlah jemaat GKJ Nehemia sekitar 2700 orang dan sekitar 25%nya adalah pasangan keluarga muda berarti sekitar 300 pasang, jumlah yang luar biasa, cuma kenapa para keluarga muda ini tidak mau sedikit saja meluangkan waktu untuk menghadiri acara tersebut, saya sadar dan sangat paham kalau para pasangan muda ini mempunyai problem dan kesibukan yang sangat banyak, dan segala macam aktifitas yang menyita waktu, karena saya juga merasakan hal yang sama. Akan tetapi apakah segala macam  kesibukan dan aktifitas menjadi penghalang kita untuk bersekutu dengan Tuhan? Padahal saya ingat sewaktu masih gabung di pemuda ada lagu yang sering dinyanyikan yang saya yakin keluarga muda yang seangkatan saya juga mengenal lagu itu, sebuah lagu yang menyatakan bahwa lebih baik semenit di pelataran-Mu daripada seribu tahun di tempat lain. Mengapa saya  mengatakan hal ini karena dari banyak keluarga muda yang saya undang secara langsung mengatakan mereka lebih memilih berada di tempat lain dibandingkan mengikuti acara ini. Apakah mungkin mereka juga merasa sudah banyak bersekutu melalui acara lain atau mungkin mereka belum merasa penting dengan adanya Forum Keluarga Muda ini, sehingga acara apapun yang Forum Keluarga Muda adakan tidak akan ada artinya bagi mereka, atau mungkin karena saya dan panitia yang lain yang mengundang, jadi tidak begitu penting untuk datang atau tidaknya?  Oleh karena itu saya dan panitia lain merasa agak sedih dan kecewa bahwa acara yang sudah dipersiapkan dengan begitu luar biasa dan dilakukan dengan penuh kerja keras kurang mendapat sambutan yang berarti dari keluarga muda yang lain, padahal dari segi publikasi sudah cukup gencar dan dari media komunikasi yang lain pun tidak ketinggalan, mulai dari BBM, SMS bahkan telpon langsung, panitia juga  sudah lakukan, tapi yah mau bagaimana lagi kalau kenyataannya dari target 25 pasang hanya 10 pasang saja yang datang, jumlah yang sangat menyedihkan.

Kawan-kawan panitia banyak yang membesarkan hati dengan berkata bahwa pertama kali adalah saat yang paling sulit, dalam hal ini saya benar-benar merasakannya, namun bukan itu yang membuat saya sedih dan kecewa, hal yang benar-benar mematahkan hati saya adalah dimana dulunya sewaktu saya masih lajang dan belum menikah dan sebagian besar kawan-kawan saya juga belum menikah, kami bisa begitu dekatnya dan saling mendukung, dimana kegiatan kami adalah sebuah acara kebersamaan baik dalam kegiatan yang bersifat kerohanian ataupun kegiatan lain. Akan tetapi lain ceritanya ketika banyak diantara kami sudah berumahtangga dan mempunyai anak, seolah-olah apa yang pernah kami alami bersama tidak ada artinya lagi, ketika kami bertemu di gereja menjadi seperti orang lain yang baru saling mengenal. Kenapa hal ini saya katakan, karena ketika saya mengundang sahabat-sahabat saya untuk mendukung acara keluarga muda tersebut, tidak ada satupun dari sahabat-sahabat lama saya yang muncul, begitu kontras dengan apa yang saya alami sewaktu kami semua masih lajang, padahal sewaktu saya sudah menikah dan memiliki anak dan beberapa dari sahabat saya masih melajang, saya berusaha mengatur waktu saya untuk selalu mendukung mereka bila mereka memerlukan pertolongan saya, bukankah kita jauh lebih dulu mengenal sahabat kita dibandingkan dengan istri atau suami kita. Apakah harus selalu demikian, ketika kita memulai hidup baru dengan menikah maka hidup kita yang lama kita abaikan seolah-olah tidak pernah terjadi? Ketika kita mempunyai seorang pasangan hidup maka sahabat-sahabat kita yang dulu pernah memberi warna dan mendampingi kita lalu kita tinggalkan begitu saja? Jawabannya mungkin saja tidak, akan tetapi itulah yang saya rasakan ketika mengadakan acara keluarga muda tanggal 25 Pebruari lalu, praktis semua yang terlibat dalam acara tersebut merupakan sahabat-sahabat saya yang baru, yang beberapa belum setahun mengenal saya, dalam benak saya kemana semua sahabat-sahabat saya ketika saya benar-benar membutuhkan mereka.

Forum Keluarga Muda GKJ Nehemia merupakan bentuk organisasi yang baru, sebagai salah satu calon komisi, kami benar-benar membutuhkan banyak dukungan, kalau diibaratkan pengurus di dalamnya adalah tembok-tembok dalam suatu rumah, bila salah satu dari kami tidak terlibat maka calon komisi ini akan bubar dengan cepat, berbeda dengan komisi lain yang sudah terbentuk lama, sebagai contohnya istri saya adalah guru sekolah minggu dan aktif di Komisi Anak dari tahun 1998 sampai menikah di tahun 2006, ketika dia meninggalkan sekolah minggu, apakah Komisi Anak bubar, jelas tidak, karena Komisi Anak adalah komisi yang sudah mapan, kalau diibaratkan lagi istri saya itu cuma sebagai sebuah genting dalam sebuah rumah, bila lepas tidak akan merobohkan rumah tersebut. Dalam hal ini sangat berbeda dengan Forum Keluarga Muda, diantara kami kalau sekarang ini ada yang meninggalkan organisasi ini, habislah sudah riwayat Forum Keluarga Muda yang baru seumur jagung ini. Apakah ini yang sebenarnya diinginkan oleh para keluarga muda di Nehemia? Saya sangat berharap bahwa jawabannya adalah TIDAK.

Melalui tulisan ini saya hanya ingin mengingatkan dan mengetuk hati jemaat keluarga muda terutama para sahabat-sahabat saya bahwa kami dalam Forum Keluarga Muda sangat-sangat membutuhkan dukungan dalam kegiatan-kegiatan keluarga muda dan dukungan yang paling mudah dilakukan adalah dengan hadir dalam kegiatan-kegiatan keluarga muda tersebut, sebagus apapun atau sehebat apapun acara yang diadakan dengan kerja keras para pengurus untuk mewujudkannya  dan sedahsyat apapun berkat dilimpahkan dalam acara-acara keluarga muda, apalah artinya kalau tidak ada peminatnya,  bukankah Tuhan pernah berjanji bahwa setiap usaha dan waktu kita yang kita lakukan demi kemuliaan-Nya, maka hal itu tidak akan sia-sia. Masih ingatkah kita bahwa saling menolong dan mengasihi adalah hal terpenting  yang Yesus ajarkan dalam hidup kita, menolong orang lain bisa jadi tidak perlu berpikir terlalu jauh dengan memberi santunan yatim piatu atau memberi makan orang miskin, mulai saja dengan yang paling dekat yaitu dengan menolong kami membesarkan Forum Keluarga Muda ini, dengan hadir di setiap kegiatan, biarkan Forum Keluarga Muda ini menjadi saluran berkat bagi sesama dan bagi keluarga muda khususnya. Tolonglah kami sahabat, jangan biarkan hal indah yang penuh berkat ini gugur sia-sia, dukung kami maka yakinlah bahwa TUHAN yang punya kuasa akan hidup dan keluarga kita akan mengaruniakan yang terindah dalam kehidupan kita dan untuk para pengurus keluarga, tiada yang sia-sia dengan pekerjaan dalam Tuhan. Tetap semangat, Tuhan memberkati!

Pemutihan Dosa

Picture
Istilah Pemutihan sempat populer tahun 70-an manakala kepemilikan tanah “semrawut” tidak karuan. Banyaknya orang berduit yang menjadi tuan tanah yang “mencaplok” lahan milik penduduk maupun tanah Negara dimulai sejak jaman Orde Baru karena banyak pejabat yang berurusan dengan kepemilikan tanah masuk bui atau dipecat lantaran disangka “terlibat” makar terhadap Pemerintah. Waktu itu memang banyak rakyat terutama di pedesaan yang mempunyai lahan tetapi tidak memiliki “girik” atau akte kepemilikan tanah sehingga Pemerintah memandang perlu untuk mengadakan “pemutihan” dengan membuatkan Akte kepemilikan tanah itu melalui kantor “kadaster” atau Agraria.

Ketika Pemerintah DKI kewalahan mendata Surat Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) yang semrawut akhirnya diambil keputusan untuk mengadakan “pemutihan” IMB bagi penduduk yang membangun rumah di DKI.  Artinya penduduk yang sudah terlanjur membangun tanpa ijin dibolehkan untuk mengurus IMB-nya kemudian. Ketika seseorang terlibat perbuatan kriminal kemudian orang ini meninggal maka perkaranya kemudian “diputihkan” alias tidak diteruskan, karena tidak mungkin menghukum orang yang sudah mati.Ketika seseorang meninggal dunia, biasanya sebelum proses pemakaman wakil dari keluarga mempersilakan kepada “pelayat” seandainya almarhum terkait utang-piutang harap menghubungi keluarganya. Namun biasanya orang lalu “memutihkan” utang almarhum tersebut,  kecuali utangnya banyak banget. Dari rangkaian cerita di atas bisa dimaknai bahwa “pemutihan” adalah akibat dari suatu hal yang pada hakikatnya menyulitkan, lalu daripada bikin repot maka lebih baik diadakan “pemutihan” saja.

Belajar mengampuni
“dan ampunilah kami akan kesalahan kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami “  (Matius 6 : 12)

Bagian dari doa Bapa Kami tersebut diajarkan sendiri oleh Tuhan Yesus dan itu pasti ditepatiNya.  Kemudian manakala setiap kali kita diajak untuk berdoa seperti itu,  bisakah kita menepatinya? Kalau mau jujur lebih dari 90% orang tidak pernah bisa menepatinya kecuali ngomongnya doang meski batinnya bilang tidak.  Karena konon pada hakikatnya manusia itu termasuk jenis makhluk “pendendam.”  Jangankan kesalahan berat yang dilakukan orang lain kepada kita, sedangkan kesalahan kecil saja kadang kita sulit untuk memaafkan. Contoh kecil dalam kehidupan bertetangga, ketika anak kita sedang bermain dengan anak tetangga kemudian anak-anak itu berantem  lalu orang tuapun ikut nimbrung,  anak-anak yang berantem sudah bermain bersama kembali sambil tertawa-tawa sementara orang tua mereka masih saling “diem-dieman.”

Ada sebuah cerita konon ada sepasang suami isteri yang karena sesuatu hal timbul percekcokan sehingga tidak saling menegor. Malampun mereka tidur “ungkur-ungkuran” dan masih belum bertegur sapa. Karena esok paginya sang suami harus tugas keluar kota dan mesti bangun pagi-pagi benar,  maka dia menulis di secarik kertas untuk isterinya kemudian ditaruh di atas meja kecil dekat tempat tidur yang bunyinya : “Ma, tolong jam 04.00 aku dibangunin.” Ketika keesokan harinya dia bangun kesiangan langsung saja dia marah-marah pada isterinya.  Dengan acuh tak acuh si isteri menunjuk secarik kertas di atas meja yang bertuliskan : “Pa,  sudah jam 04.00,  bangun,  nanti kesiangan.” Bagaimana mau mengampuni orang lain, lha wong sesama suami isteri saja tidak mau saling mengampuni,  kok! Padahal dalam Alkitab ada ayat yang berbunyi : “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa; janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.”  (Efesus 4 : 26)    

Persiapan Perjamuan
Banyak warga kita kalau diundang untuk Pemahaman Alkitab (PA) agar lebih tahu apa sebenarnya makna yang tertulis dalam Alkitab itu,  sedikit sekali yang datang. Mereka tidak bisa hadir dengan berbagai alasan seperti pulang kerja sudah malam,  rumahnya jauh dan macet dan berbagai alasan lain yang masuk akal bahkan yang  tidak masuk akal sekalipun.  Padahal tuan rumah sudah menyiapkan segala sesuatu termasuk makan malam dengan susah dan payah. Tetapi tatkala diundang untuk kebaktian persiapan Perjamuan Kudus, yang datang lumayan banyak. Barangkali mereka berharap bisa ikut “pemutihan” bila nantinya bisa ikut perjamuan Kudus. Malah ada yang beranggapan makin banyak minum anggur perjamuan makin banyak pula dosanya yang diputihkan. Oleh karena itu beberapa waktu yang lalu ketika Perjamuan Kudus berbahasa Jawa masih menggunakan “tuwung” lumayan banyak jemaat yang hadir supaya minumnya bisa “mak glenggeng.” Itupun waktu persiapan Perjamuan Kudus ada saja yang nitip karena tidak bisa datang. 

Budaya ini jelas menyalahi makna Perjamuan Kudus itu sendiri karena rupanya mereka memperlakukan persiapan Perjamuan Kudus seperti nitip surat pada “Titipan Kilat.”  Dan pada waktu Perjamuan Kudus ternyata gereja memang penuh karena mereka beranggapan kalau sudah mengaku dosa dan bertobat alias “kapok,” kemudian makan roti dan minum anggur dosanya sudah “diputihkan”. Padahal barangkali tobatnya atau kapoknya cuma “kapok lombok” atau “tomat,” (habis tobat terus kumat) untuk berbuat dosa lagi. Toh nanti kalau berbuat salah dan dosa  masih bisa ikut Perjamuan Kudus lagi.  Ada baiknya menjadi bahan pemikiran Majelis Perjamuan Kudus tidak setiap 3 bulan sekali tetapi 2 bulan sekali sehingga kesempatan berbuat dosa bagi jemaat makin kecil ketika mereka masih punya anggapan seperti itu. 

Pemutihan dan pengampunan dosa
Manusia hidup karena hembusan “roh” Allah sehingga sebenarnya roh manusia itu sungguh hebat karena berasal dari Allah. (Kej. 2 : 7) Tetapi roh itu akan mati tatkala manusia jatuh dalam dosa. Dengan penebusan oleh darah Tuhan Yesus maka roh yang mati itu pun diberi kesempatan untuk hidup atau bangkit kembali. Roh Kudus yang dimeteraikan di dalam diri kita akan menuntun roh kita untuk bisa berfungsi kembali. Roh manusia yang berasal dari Allah itulah yang akan menguasai jiwa dan mengendalikan seluruh kehidupannya. Tetapi tetap saja manusia itu lalu jatuh dalam dosa lagi, karena kedagingan kita ini biasanya paling suka memakai “dalil pembenaran.”  Ketika seorang pemimpin jemaat yang alim sekalipun lalu karena sesuatu hal berbuat kesalahan dan jatuh dalam dosa maka dengan entengnya tanpa rasa bersalah sama sekali kita akan berkata :  “Ah, dia kan juga manusia.”

Di dalam buku sejarah manapun di dunia ini baik yang sekuler maupun yang sakral tidak ada yang “berani” secara gamblang menulis tentang kelemahan para tokoh utamanya, apalagi kalau itu menyangkut segi moral dari kehidupan pribadinya. Seandainya disinggung juga,  pasti dengan nada yang lembut dan akan selalu ada “dalil pembenaran.” Tetapi penulis Alkitab secara tegas dan berani justru mengungkapkan kelemahan-kelemahan para tokohnya.  Penyelewengan moral tidak ditulis secara lembut dan hati-hati demi menjaga reputasi dan nama baik tokoh itu,  karena yang diutamakan Alkitab adalah kemuliaan dan kesucian Allah dan bukan “keagungan” manusia. Alkitab mendidik para pembacanya untuk tidak “memuja” manusia betapapun hebat dan berjasanya tokoh tersebut.   Salah satu contoh cerita dalam Alkitab yang merupakan tragedi yang cukup “memilukan” adalah “kisah  birahi” Daud dan Batsyeba. (II Samuel 11 : 1 – 27). Daud sama sekali tidak sedang jatuh cinta pada Batsyeba, tetapi tanpa disengaja dia melihat seorang wanita cantik yang “menggiurkan.” Dan hal ini tidak berhenti pada rasa kagum melihat tubuh yang indah, wajah yang cantik dan lembut saja tetapi Daud jatuh kedalam dosa manakala ia membiarkan rasa birahinya menguasai dirinya.  Inilah awal yang menjadi  “kisah hitam”  bagi Daud.

Kalau mau dirunut dari awal, Daud terpandang akan seorang wanita cantik rupawan. Ini hal yang normal dan lumrah saja, siapa sih yang tidak mau melihat yang cantik-cantik. Melihat sesuatu yang indah,  bagus, cantik kemudian timbul rasa senang adalah hal yang baik dan sehat.  Kalau tidak malah dianggap tidak normal. Sayangnya Daud tidak berhenti disitu saja, ia justru “vivere peri coloso” berani menyerempet bahaya. Ia lalu mengutus orang untuk menyelidiki siapakah perempuan cantik itu. Setelah ia mengetahui siapa sebenarnya perempuan itu maka dia memanggil Batsyeba ke istana. Disinilah Daud membuat keputusan yang keliru dan berbahaya dan menuju langkah ke jurang dosa. Sejak saat itu jatuhlah Daud dalam dosa,  kemudian menyusul tindakan-tindakan yang menjurus kepada dosa-dosa yang lain untuk menutupinya. Akibat “kisah birahi”  itu mengandunglah Batsyeba. Uria, suami Batsyeba adalah seorang panglima perang yang sangat setia kepada Daud. Uria dipanggil pulang oleh Daud untuk cuti dan kembali berkumpul dengan isterinya, dengan harapan apabila nanti ada bayi lahir dari kandungan Batsyeba itu adalah anak Uria. Berbagai akal dipergunakan untuk menjebak Uria,  tetapi tak satupun mempan. Akhirnya ditaruhlah Uria dimedan perang paling depan dan paling ganas sehingga gugurlah dia sebagai prajurit sejati. Kisah selengkapnya bisa anda baca di Alkitab. Syukurlah “kisah hitam” itu tidak terhenti disitu,  tetapi seorang nabi bernama Nathan diutus Tuhan untuk menegur dan menelanjangi dosa Raja Daud. Daud pun menyesal dan bertobat serta mengakui segala kesalahan dan dosanya. Ternyata Tuhan Mahapengasih dan Pengampun karena betapapun berat dosa itu dilakukan oleh umatNya,  apabila mau bertobat dan mengakui semua dosa dan kesalahannya, Tuhan akan “memutihkan” atau menghapus dosanya.

“Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju;  sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.”  (Yesaya 1 : 18)

Jadi kalau anda ingin menerima “pemutihan,” segeralah bertobat,  jangan “tomat” dan “kapok lombok” tetapi menyesal, mengakui segala dosa dan jangan setitikpun punya niat untuk mengulangi berbuat dosa lagi. Selamat bertobat ! Gunungsindur,  Medio Maret’12.      

Hubungan dan Persekutuan dengan TUHAN

Picture
I. Hakekat kekristenan.
Kekristenan adalah relasi. Relasi kita secara pribadi dengan Allah. Kekristenan bukanlah ritual dan aktivitas. Tetapi ritual dan aktivitas merupakan buah relasi kita dengan Allah. Relasi yang benar dengan Allah akan menghasilkan pertumbuhan dan pelayanan. Ada 2 kata penting dalam pemahaman kita tentang relasi kita dengan Tuhan. Ketika kita memahami hal ini dengan tepat, pertumbuhan rohani kita pun dibangun di atas dasar atau pondasi yang benar. Sebagaimana sebuah bangunan, pondasi yang kokoh akan memberikan jaminan bahwa gedung yang dibangun di atasnya akan kuat. Kedua kata tersebut yakni, hubungan dan persekutuan.

II. Hubungan (Relationship).
Sebelum seseorang percaya dan mengenal Kristus, maka semua manusia disebut orang berdosa dihadapan Allah (Roma 3 : 23). Apapun agama, etnik, pendidikan, status dan derajat sosialnya, semua orang adalah berdosa dihadapan Allah. Mereka mati secara rohani, terhilang, berjalan dalam kegelapan dan terancam hukuman oleh Allah. Namun Tuhan Yesus datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang (Lukas 19 : 10). Oleh karena itu siapapun yang percaya dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya, ia dimeteraikan menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1 : 12). Sekarang ia tidak lagi disebut sebagai orang berdosa dihadapan Allah, melainkan sebagai anak Allah dan Allah menjadi Bapanya. Inilah hubungan (relationship) yang baru dengan Allah. Hubungan antara anak dan bapa atau bapa dan anak didunia merupakan gambaran yang memperjelas hubungan kita dengan Allah, yakni bahwa hubungan kita dengan ayah kita adalah tetap. Demikian pula hubungan kita dengan Allah adalah kekal selama-lamanya. Tidak ada siapapun dan apapun yang dapat merampas kita dari tangan Allah, Bapa kita (Yohanes 10 : 27-29, Roma 8 : 38-39). Dengan kata lain kita memiliki hubungan yang kekal dengan Allah.

III. Persekutuan (Fellowship).
Ada kata lain dalam relasi kita dengan Tuhan, yakni persekutuan(fellowship). Kata ini berbeda dengan kata hubungan. Dalam hal ini seringkita temui pertanyaan-pertanyaan berikut. Bagaimana jika kita jatuh kedalam dosa? Bagaimana hubungan kita dengan Allah Bapa kita? Apakahdosa dapat memisahkan kita dari Allah? Hubungan kita dengan Allah bersifat kekal. Kita tetap menjadi anak-anak Bapa selama-lamanya. Dosa tidak dapat memisahkan kita lagi dengan Allah. Tetapi persekutuan kita dengan Bapa dapat menjadi rusak oleh pelanggaran dan dosa kita. Sebagaimana persekutuan seorang anak yang memberontak terhadap ayahnya menjadi tidak harmonis atau rusak, tetapi anak itu tetap menjadi anak dari ayahnya. Hal itu dilukiskan Tuhan dalam perumpamaan “Anak Yang Hilang” (Lukas 15 : 11 – 32). Ketika kita jatuh ke dalam dosa, persekutuan kita dengan Tuhan menjadi tidak harmonis. Kita menjauhkan diri dari Tuhan. Tidak saja persekutuan kita menjadi rusak, tetapi jam-jam kebersamaan kita secara pribadi dengan Tuhan (saat teduh) akan merosot, Alkitab menjadi sebuah buku sastra kuno yang tidak menarik, doa-doa kita juga tidak didengar, relasi kita dengan keluarga dan orang-orang lainpun menjadi kurang nyaman dan ada banyak konsekuensi lain akan menjadi bagian kita. Misalnya, kita tidak dapat menghasilkan buah-buah yang baik bagi Tuhan, kita akan hidup dalam kekacauan dan kekecewaan, kehidupan rohani mundur, dlsb.

IV. Memulihkan persekutuan yang rusak.
Jika kita jatuh ke dalam dosa, maka persekutuan kita dengan Tuhan menjadi rusak. Bagaimana memperbaikinya? Sebagaimana seorang anak yang memiliki persekutuan yang rusak dengan ayahnya, ia harus datang kepada ayahnya, meminta maaf dan kembali hidup dalam ketaatan pada ayahnya. Demikian pula dengan kita. Kita datang kepada Tuhan, mengakui dosa kita, dan memohon pengampunan serta menaati-Nya kembali (1 Yoh 1:9).

V. Mengembangkan persekutuan pribadi kita dengan Tuhan.
Hubungan kita dengan Allah bersifat tetap, tidak berubah. Tetapi persekutuan dengan Tuhan bersifat progresif. Kita dapat semakin akrab dan menjadi karib, atau sebaliknya menjadi renggang dan semakin menjauh dari-Nya. Dengan kata lain, kita dapat bertumbuh maju atau merosot mundur.

Oleh karenanya dalam memelihara pertumbuhan rohani, kita memiliki tanggung jawab untuk mengembangkannya melalui :
a. Hidup dalam Firman Tuhan ( 2 Timotis 3 : 16-17).
b. Hidup dalam doa (Yakobus 5 : 15 – 16).
c. Hidup dalam ketaatan (1 Petrus 1 : 13 – 17).
d. Hidup melewati kesulitan dan tantangan (Mazmur 34 : 20).
e. Hidup dalam persekutuan dengan saudara-saudara seiman (Ibrani 10 : 25).
f. Dan menyaksikan iman kita kepada mereka yang belum percaya (Kisah Rasul 1 : 8). Didik Rohadi.

Cerpen: Seputih Kapas

Picture
Rindangnya pohon sawo di depan rumah pak Legowo semakin meneduhkan halaman rumahnya. Bahkan keteduhan di bawah pohon sawo itu bak seteduh pikiran pak Legowo di masa tuanya. Ada kenangan yang tak mudah dilupakan Jaka, ketika sedang duduk-duduk bersantai di kursi bambu yang sudah tidak begitu kekar dan hanya diperbaiki seperlunya. Sungguh sangat mengesankan, apalagi ketika ia tengah mengobrol di bawah pohon sawo dengan pak Legowo setahun silam, hampir semua orang yang melintasi jalan di depan rumah pak Legowo itu selalu menyapanya dengan ramah, bahkan keramahan mereka tidak cukup dengan sekadar berucap permisi, nderek langkung, nuwun sewu dan sebagainya, bahkan banyak orang yang menyempatkan mampir dan menyalaminya.

Kenangan-kenangan setahun silam itulah yang mengakibatkan Jaka tidak sabar lagi untuk segera sampai di rumah pak Legowo. Di dalam perjalanan, Jaka sudah membayangkan seperti apa kondisi pak Legowo. Masihkah ia begitu yakin dengan burung-burung prenjak yang berkicau ketika akan ada tamu yang datang ke rumahnya, dan masihkah ia nampak muda seperti tahun lalu? Angan-angan dan rasa kapang yang tertahan segera terjawab ketika taksi yang mengantarnya sudah berhenti di depan rumah. Serta merta, pak Legowo keluar dari dalam rumahnya sambil memperhatikan siapa yang datang.

“Kula nuwun, pakde”.
“Mangga-mangga” jawab pak Legowo sambil mendekati Jaka dan menjulurkan tangannya untuk bersalaman
“Wah ternyata pakde masih seperti dulu juga. Apa khabar pakde?”
“Puji Tuhan, seperti yang kamu lihat, pakde sehat. Ehmmm, kamu Jaka, kan?” tanya pak Legowo sambil mengingat-ingat dan memperhatikan wajah Jaka.
“Iya pakde, saya Jaka”
“Aduh-aduh, pantesan sejak kemarin burung prenjak di pohon sawo itu ngganter banget, ternyata kamu ta, tamunya, ayo-ayo, masuk Jaka” pak Legowo mempersilakan, kemudian memanggil bu Legowo dengan riang.
 “Bune, ini keponakan kita datang” teriak pak Legowo sambil mempertemukan kedua telapak tangan di antara kedua pipinya sehingga membentuk corong penghantar suara lebih nyaring ketika memanggil istrinya, dan bu Legowo pun segera menghampirinya.
“Walah-walah..., Jaka, apa khabar?”
“Baik-baik saja Bude. Bude sehat kan?” tanya Jaka sambil menyalami bu Legowo dan menyerahkan oleh-oleh ala kadarnya.
“Puji Tuhan, bude sehat-sehat saja. We lha da la, kok pakai bawa oleh-oleh segala, wong pakde dan bude disambangi saja sudah seneng banget kok malah pakai repot-repot segala, ta?
“mboten kenapa-napa bude, wong mboten seberapa kok”. Jawab Jaka dengan berbahasa jawa sebisa-bisanya sehingga bu Legowo, tersenyum-senyum, lantaran lucu kedengarannya.
“Ya, ya, ya, matur nuwun oleh-olehnya. Wis ndang duduk-duduk atau istirahat dulu sana, biar bude buatkan teh panas dulu”
“mboten usah repot-repot bude, karena tadi saya sudah mangan dan ngopi di warung pecel wadher”
“Wis ora apa-apa, wong tinggal nggawe saja kok, sana, sambil ngobrol-ngobrol dengan pakde, mau di ruang tamu depan, atau di bawah pohon sawo, biar nanti bude segera menyusul, atau mungkin mau di dapur saja biar tambah asyik, terserah kamu saja”.
“Iya, bude” jawab Jaka sambil menaruh tas gendong pada kursi, di sekeliling meja yang berada di dapur.

Dapur yang luasnya sekitar satu kavling town hause di Jakarta itu hampir mengalihkan pikiran Jaka pada suasana Jakarta yang semakin dipadati penduduk dan macetnya kendaraan di sana sini, bahkan pikirannya mulai terbayang-bayang wajah Dewi yang kini sedang berada di Jakarta dan mungkin sibuk dengan urusan Dody yang sedang dioperasi. Itu sebabnya Jaka segera mengalihkan pikirannya dengan melihat-lihat foto keluarga pak Legowo yang dipajang pada sisi-sisi tertentu, agar mudah dipandang dari berbagai arah, lantas bertanya,

“Yang ini mbak Menik ya De?” tanya Jaka sambil menunjuk satu di antara deretan foto keluarga, sehingga pak Legowo mendekat dan menjelaskannya.
“Iya, ini Menik yang tinggal di Bantul, yang di sebelah kanannya ini suaminya, dan ketiga perempuan yang masih kecil-kecil ini adalah anak mereka, tetapi sekarang mereka sudah besar-besar dan sudah bersekolah semua.  Yang pertama sudah kelas satu SMA, yang kedua, kelas dua SMP dan yang ketiga, baru kelas lima”
“Mereka sering berkunjung?”
“Kalau nggak ada acara, terkadang hampir setiap malam minggu mereka nginep di sini, kata mereka, supaya keesokan harinya bisa mengajak pakde dan bude ke gereja bersama-sama”.
“Kalau yang ini mas Teguh kan ?” tanya Jaka
“Iya, itu Teguh. Dia juga sudah menikah, anaknya baru satu, tapi sepertinya hampir dua, karena sebentar lagi istrinya akan melahirklan. Dan yang ini adalah Lala, yang baru selesai kuliah tahun kemarin. Sejak semester lima, Lala sudah membuka usaha Bimbingan Belajar sendiri. Lala mengajak teman-teman kuliahnya yang pandai dalam pelajaran matematika dan bahasa inggris untuk mengajar di bimbelnya. Puji Tuhan, rupanya bimbel itu semakin diminati, karena yang pada belajar di bimbel yang dibina Lala itu rata-rata berprestasi di sekolahnya, jadi bimbel yang semakin membaik itu akan ditangani lebih serius lagi, agar berkembang lebih baik”.
“Syukurlah kalau begitu, dari pada cari kerjaan susah-susah, kalau bisa menciptakan pekerjaan sendiri kan lebih baik”, kata Jaka mendukung.
“Oh ya, ngomong-ngomong, kamu sudah punya pacar apa belum?” tanya pak Legowo.
“Sebenarnya sudah pakde, tapi nggak tahulah, sepertinya belum jelas juga jadi dan tidaknya, karena untuk ketemuan sama dia saja sulitnya bukan main, gimana mau jadi? Coba pakde bayangkan! Saya pergi ke Jogja ini, selain ingin menengok pakde, sebenernya, juga kepingin ketemuan dengan dia, eee, dia nya malah ke Jakarta”.
Pak Legowo tertawa terkekeh-kekeh ketika mendengar apa yang Jaka ceritakan, sementara itu Jaka justru tersipu malu dengan apa maksud dari tertawaan pakdenya.
“Kok pakde malah tertawa seperti itu, memangnya kenapa?”
“Ya karena lucu saja. Karena pakde menganggapnya, itu adalah salah satu penyakit orang yang sedang jatuh cinta. Orang kalau sedang jatuh cinta, segalanya jadi serba salah. Coba pakde tanya sama kamu. Apakah ketika kamu mau pergi ke Jogja, kamu bilang sama dia atau tidak?”
“Memang tidak pakde, tapi maksud saya, sebenarnya kan kepingin bikin kejutan untuk dia”, sanggah Jaka. “Eee, nggak tahunya malah begini jadinya” sesalnya.
Pak Legowo tertawa lagi, sehingga suara tertawaan yang terdengar lucu itu seperti mengingatkan bu Legowo. Tak lama kemudian, sambil menyangga nampan berisi tiga cangkir teh panas dan sepiring singkong goreng, bu Legowo pun datang dan bertanya
“Ada apa sih, tertawa kok sampai kemekelen begitu?” tanya bu Legowo penasaran.
“Jaka bilang, selain ingin menengok kita, sebenernya, juga kepingin ketemuan dengan si dia, eee, dia nya malah ke Jakarta”.
“Dia itu siapa? Kalau ngomong itu mbok yang jelas. Kalau nggak jelas, lucu kan jadinya. Lihat tuh pakde mu kalau sedang tertawa, wajahnya memerah” kata bu Legowo seraya menunjuk wajah pak Legowo. “Coba perhatikan rambutnya yang seputih kapas itu! akibatnya jadi kontras dengan wajahnya”, gurau bu Legowo untuk menetralisir suasana yang terdengar serius. “Ayo sambil diminum tehnya!” bu Legowo melanjutkan pembicaraan sambil memandangi Jaka yang hendak tertawa ketika memperhatikan wajah pak Legowo yang memang nampak lucu karena wajahnya yang memerah sehingga kontras dengan rambutnya yang seputih kapas.
“Dia itu siapa, tinggalnya di mana?”, bu Legowo kembali menegaskan pertanyaannya.
“Namanya Dewi, dia itu tinggal di Jogja, bude. Tetapi Jogjanya di mana, saya juga belum tahu. Sebenarnya saya sangat mencintai dia, sayangnya, yang namanya mau ketemuan sama dia itu, ampun-ampun susahnya bukan main, kadang saya membatin, apakah ini firasat bahwa dia itu bukan jodoh saya”.
 “Yah, itu kan perasaan kamu saja, atau mungkin nasibmu saja yang belum beruntung. Sabarlah, namanya juga sedang berpacaran”, saran bu Legowo.
“Kalau menurut pakde, sebenarnya itu bukan masalah untung atau belum beruntung, tetapi mungkin Tuhan sedang menguji imanmu”, maaf ya, pakde tidak tahu apakah selama kamu dekat dengan Dewi, kamu sudah berdoa memohon pada Tuhan agar membimbing sikap dan kepribadian kamu dengan dia apa belum? Kalau belum, mungkin wajar, seandainya dia belum yakin dengan pernyataan cinta kamu. Ya maaf-maaf saja, yang namanya manusia, kalau lagi seneng, biasanya lupa pada Tuhan, dan yang diburu biasanya hanya kesenangan, kesenangan dan kesenangan”.
“Jadi malu, nih”
“Yo nggak usah malu, sebab kalau kamu tidak bercerita sama pakde kan malah tambah pusing”, kata pak Legowo. “Tukar kawruh, sharing, atau apalah namanya, bagi siapa pun, itu sangatlah penting, karena dengan sharing seperti ini, selain ada manfaat, juga dapat meringankan beban dan masalah”, imbuhnya dan lantas bertanya “Memangnya, sudah sejauh mana sih cinta kamu sama Dewi itu?”
“Sebenarnya sih memang baru dalam taraf penjajagan, tetapi sepertinya saya sudah manteb banget, sama dia”.
“Nah sekarang jujur saja nggak usah malu-malu. Apakah selama ini kamu sudah berdoa, apa belum?”
 “Lupa pakde” jawab Jaka tersipu
“Nah, bener kan dugaan pakde. Maaf ya, pakde bukan bermaksud menggurui, tetapi anggaplah ini sekedar menambah wawasan saja. Kalau memang kamu sudah manteb sama dia, apalagi dia juga seiman dengan kamu, kini saatnya kamu harus sudah mulai paham diri dan berjanji setulus hati bahwa kamu benar-benar sudah mencintai dia”, saran pak Legowo
“Dan jangan lupa pada Tuhan, karena kamu bisa berada di dunia ini oleh karena cinta kasih Tuhan, dan tetaplah berdoa, karena doa besar kuasanya. Selain berdoa, tetaplah berusaha, karena doa tanpa usaha juga kurang sempurna. bu Legowo menyambung pembicaraan seraya membenahi gelung rambutnya yang telah seputih kapas, Berusahalah dengan cara-cara yang baik, jangan sembrono, sebab kalau kamu sembrono dan hanya menuruti kemauan asal senang yang tidak ada habisnya, selain dosa, mungkin justru kegagalan yang kamu dapatkan”, imbuhnya.
“Mungkin benar apa saran bude mu itu, karena modal untuk hidup berumah tangga, selain hal-hal yang tidak perlu pakde sebutkan, yang terpenting adalah kesadaran, saling pengertian dan kasih tanpa batas. Jika kamu sudah paham diri dan cintamu sudah semurni emas dua puluh empat karat, ibarat warna, adalah cinta yang telah berwarna seputih kapas, semoga Tuhan mengabulkan harapanmu”.

Saran Seputih Kapas yang baru didengar dari pak Legowo dan istrinya yang rambutnya sudah Seputih Kapas, bagaikan air dingin yang menyiram sekujur tubuh Jaka, bahkan dinginnya air itu begitu kuat menyegarkan dan memotivasi harapannya. Sayangnya, kedatangan Lala bersama seorang wanita dengan rambut ikal teruari hingga di punggungnya itu, sungguh mengakibatkan Jaka penasaran, siapa sebenarnya wanita itu. Bersambung...

Manfaat Air Kelapa

Picture
Percayakah saudaraku kalau air kelapa dapat menumbuhkan rambut? Ya, benar. Air kelapa adalah air yang terjadi karena proses pertumbuhan dari pohon kelapa. Kejadian nyata dialami oleh Eko yang sangat sayang dan percaya kepada kakak perempuannya yang bekerja di salon. Suatu hari Eka kakak Eko membawa minyak rambut dengan aroma harum, dan menyarankan Eko untuk memakai minyak rambut tersebut agar rambut tampak segar dan berkilau, karena Eko yakin kalau minyak rambut yang dibawa kakanya Eka akan membuatnya rambutnya menjadi macho. Dua minggu setelah Eko memakai minyak rambut tersebut satu persatu rambutnya jatuh berguguran sehingga rambutnya jadi macho karena kepalanya berambut seperti gugusan pulau alias botak setempat dan berambut setempat. Ci  Ami terkejut ketika berjumpa dengan Eko yang kepalanya seperti gugusan kepulauan, lalu ci Ami menyarankan pada Eko untuk membabat habis rambutnya alias botak plontos, lalu menyarankan juga setelah botak untuk membasahi kepalanya setiap hari dengan air kelapa, dalam waktu sebulan kepala Eko yang botak, telah ditumbuhi rambut yang lebat. Mau coba ? Silahkan! Djani Pas.

Sehatnya Jalan Bertelanjang Kaki

Picture
Kaki merupakan anggota tubuh yang sangat diperlukan manusia. Itulah mengapa kesehatan kaki perlu diperhatikan, meskipun masih banyak orang yang sedikit mengacuhkannya. Salah satu cara yang murah dan mudah adalah berjalan tanpa alas kaki secara rutin bagi kesehatan. Berikut ini beberapa manfaat sehat yang bisa Anda rasakan dengan melakukan jalan santai bertelanjang kaki, yang dikutip melalui medicmagic, Senin (2/4).

Mencerahkan pikiran
Saat kaki melangkah tanpa alas kaki, tingkat kesadaran kita akan meningkat secara spontan. Setidaknya pada benda di sekitar yang akan kita pijak, seperti duri, kerikil tajam atau benda lain yang bisa melukai telapak kaki. Tanpa disadari, kondisi ini akan membuat pikiran jadi lebih cerah dan merangsang fokus pikiran lebih baik.

Yoga kaki gratis
Berjalan kaki tanpa menggunakan alas kaki, seperti sepatu atau sendal, juga akan membantu meregangkan sekaligus memperkuat otot tendon, ligamen dalam, pergelangan kaki dan betis, ketegangan lutut dan masalah punggung, sehingga akan membantu mencegah cidera. Jalan nyeker juga mengaktifkan kerja otot tertentu yang membantu menjaga postur tubuh dan keseimbangan badan. Otot ini tak aktif ketika mengenakan alas kaki.

Refleksi gratis
Kaki memiliki beberapa titik refleksi yang terhubung ke hampir semua organ tubuh. Benjolan kecil, batu atau permukaan kasar akan menstimulasi titik refleks di kaki. Meski terasa sakit, namun memiliki efek positif untuk meredakan gejala penyakit di tubuh.

Redakan stres
Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa berjalan tanpa alas kaki di atas rumput membantu mengurangi kecemasan dan depresi sebesar 62 persen. Selain itu, jalan tanpa alas kaki juga meningkatkan kadar endorfin sehingga memicu timbulnya rasa senang.

Tidur malam lebih berkualitas
Ada beberapa orang yang percaya bahwa berjalan kaki tanpa alas merupakan obat terbaik untuk mengatasi insomnia.

Detoksifikasi
Bumi memiliki muatan ion negatif yang berperan dalam detoksifikasi tubuh, mengurangi efek peradangan, sinkronisasi siklus ritme hormonal dan fisiologis, serta memberikan efek yang menenangkan. Jadi, saat Anda sedang bermain di pantai, cobalah untuk melepaskan alas kaki.

Menyehatkan jiwa
Berjalan tanpa alas kaki membuat Anda terhubung dengan alam sekitar. Lebih mudah untuk merasakan hangatnya sinar matahari atau desiran angin di pepohonan. Sehingga, berjalan kaki tanpa alas sangat baik untuk kesehatan pikiran, tubuh dan jiwa.

Powered by Create your own unique website with customizable templates.