Kebenaran Alkitab di Era Pasca Modernisme
Ilmu pengetahuan dan agama seringkali bersimpangan jalan dan tidak sedikit terjadi konflik dikala manusia mulai mencari kebenaran, bahkan pencarian ini tidak pernah berhenti dari jaman ke jaman. Konflik dan kekerasan atas nama agama sudah bukan barang baru, dan di Indonesia sendiri kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara yang tertuang dalam setiap pasal-pasalnya sudah tidak dijadikan rujukan bagi kehidupan berpolitik dan bermasyarakat yang beretika dan bertoleransi.
Kegagalan agama yang berperan mengemban fungsi kemanusiaan dan klaim kebenaran agama telah menjadi permasalahan yang serius. Terutama jika ada unsur pemaksaan atau monopoli kebenaran yang mengklaim bahwa kebenaran sebuah agama tertentu adalah absolut, sedangkan agama yang lain tidak ada yang benar. Pada akhirnya klaim kebenaran agama akan mengarahkan pengikutnya untuk melawan perbedaan yang timbul dengan tindakan kekerasan.
Masyarakat yang lelah dan sadar akan kegagalan agama sebagai pendekar perdamaian akhirnya bersikap skeptis terhadap kebenaran absolut yang diklaim oleh agama. Sebagaimana kejadiannya di barat dengan tradisi kekristenan era modernisme yang berlangsung mulai dari abad pencerahan sampai tahun 1960-an, dimana orang lebih menempatkan rasio diatas segalanya. Kebangkitan rasio yang mewarnai era modern merupakan bentuk perlawanan atas otoritas gereja (agama) yang begitu kuat pada zaman pertengahan. Kemajuan ilmu pengetahuan menjadi “agama baru” dengan berkembangnya metode empiris yang menekankan pada obyektivitas pemikiran manusia. Pada era modern akal manusia dijadikan tolok ukur yang selalu mempunyai pandangan yang optimis terhadap kemajuan-kemajuan yang akan dicapai oleh manusia. Pada era ini pula manusia terdorong untuk melihat sesuatu dengan kritis dan kebenaran harus dapat dibuktikan secara ilmiah dan dapat diterima oleh akal manusia.
Modernisme dicirikan oleh tiga hal, yaitu subjektivitas, kritik, dan kemajuan. Melalui subjektivitas, manusia menyadari dirinya sebagai pusat realitas yang menjadi ukuran segala sesuatu. Dari sini, teosentrisme yang dianut oleh zaman pertengahan digantikan oleh antroposentrisme. Kesadaran subyektif menemukan bentuknya yang paling ekstrem dalam eksistensialisme yang menilai manusia berdasarkan apa yang bisa dia lakukan untuk dirinya sendiri.
Prinsip yang kedua adalah kritik sebagai bentuk perlawanan atas dominasi suatu otoritas tertentu. Dengan kritik, rasio tidak hanya menjadi sumber pengetahuan, melainkan juga menjadi kemampuan praktis untuk membebaskan individu dari belenggu tradisi. Kant merumuskan kritik sebagai keberanian untuk berpikir sendiri di luar tatanan tradisi atau otoritas. Kant memandang bahwa reason menjadi alasan utama manusia dapat menemukan dan membangun prinsip-prinsip pengetahuan dan melakukannya tanpa adanya belenggu dan keterkungkungan dari sesuatu yang absolut.
Subjektivitas dan kritik pada gilirannya mengarahkan pada kemajuan yang ditandai dengan perkembangan sains dan teknologi sebagai suatu hasil dari eksplorasi total manusia akan kemampuan akal budinya. Modernisme kemudian bisa dipandang sebagai bentuk pemberontakan intelektualitas secara terus-menerus atas segala bentuk tradisional abad pertengahan. Agama, metafisika dan ontologi yang sebelumnya menjadi sumber pengetahuan dan sekaligus sebagai sandaran kebenaran digantikan dengan "kesadaran akan diri", rasionalitas, dan sains. Semenjak itu, agama divonis tidak lagi relevan dalam memahami realitas dunia. Kemajuan sains dan teknologi telah memberikan kemudahan yang luar biasa bagi kehidupan manusia untuk membangun semangat otonomi dan independensi manusia.
Tidak dapat disangkal bahwa modernisme telah memberikan banyak kemudahan bagi hidup manusia. Manusia memang menemukan independensinya tetapi kehilangan interdependensinya. Modernisme hanya memberikan kemajuan dari sisi material sementara dari sisi spiritual, manusia semakin mengalami kekeringan. Modernisasi telah menghadirkan wajah kemanusiaan yang buram. Setelah terpola dalam kehidupan yang mekanistik, muncul kegelisahan dan kegersangan psikologis yang disebabkan oleh tercerabutnya kehidupan spiritual. Akibat yang paling parah adalah terjadinya krisis tentang makna dan tujuan hidup. Dalam perjalanannya ternyata akal budi atau rasio manusia tidak mampu menjawab seluruh kebutuhan manusia. Setelah mendewakan akal budinya dengan harapan menemukan kebenaran mutlak terbukti kenyataan berbicara lain. Yang didapatkan justru sebaliknya yaitu kejenuhan rasional dan kekecewan yang mendalam.
Karena kekecewaan yang begitu mendalam, maka hadirlah sebuah kesadaran baru, bahwa pandangan dunia yang materialistik dan kapitalistik ternyata tidak cukup untuk membebaskan manusia dari kegersangan spiritualnya. Kesadaran baru ini berupa pemikiran pascamodernisme yang lahir sebagai reaksi atas era modernisme.
Secara garis besar, terdapat dua arus pemikiran penting dalam pascamodernisme. Kedua arus dimaksud adalah relativisme budaya dan humanisme sekuler. Relativisme budaya menandaskan bahwa kebenaran ditentukan oleh konteks budaya. Berarti, tidak ada kebenaran yang mutlak. Masing-masing budaya punya keunikan dan kebenaran sendiri. Humanisme sekuler secara mantap meyakinkan manusia akan kemampuan dan kebijakan diri bahwa segala persoalan dan masalah, dapat dipecahkan dan diselesaikan melalui penggunaan rasio. Manusia dinilai sanggup menyelesaikan semua masalah dunia. Maka, generasi pascamodernisme adalah generasi yang pragmatis dan anti kelembagaan. Dalam istilah lain sering disebut sebagai generasi anti kemapanan.
Generasi pascamodernisme anti kemapanan karena mereka meyakini bahwa cara pandang dunia selalu berubah. Perubahan ini didasari pada suatu proses yang dinamis, yang dibangun dari interaksi dengan lingkungan. Era pascamodernisme menghasilkan pandangan bahwa kebenaran itu relatif. Tidak ada yang mutlak, karena itu tidak ada kemapanan, semua akan menuju perubahan, inilah roh pascamodernisme. Bagi manusia pascamodernisme, penghargaan terhadap perbedaan dan kebersamaan dikedepankan. Dengan demikian, pascamodernisme tidak menempatkan manusia sebagai sentral, namun memposisikannya dalam relasi dialogis dengan ciptaan lain. Tentu, ini menjadi masalah serius dalam kekristenan. Padahal, kekristenan meyakini otoritas kebenaran Alkitab. Bila tidak ada kebenaran mutlak, lalu apa dasar iman Kristen? Lalu bagaimana kita bisa berbicara mengenai kebenaran terhadap generasi sekarang ini?
Pascamodernisme adalah suatu tantangan yang paling utama bagi Kekristenan pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 ini. Manusia pascamodern menyerang Kekristenan karena orang Kristen beranggapan bahwa merekalah satu-satunya yang memiliki kebenaran. Manusia pascamodern dapat menerima selama Kekristenan hanyalah salah satu kebenaran di antara kebenaran-kebenaran lainnya.
Segi positifnya, pascamodernisme memberikan peluang kepada orang Kristen untuk berpegang pada pandangan dunia mereka. Dengan kata lain, pada zaman pascamodern ini orang Kristen juga mempunyai hak untuk membagikan keyakinan mereka, namun tidak bisa memutlakkannya atau memaksakannya kepada orang lain. Dari satu sisi, ini berarti bahwa orang Kristen lebih dapat didengar suaranya daripada waktu era modernisme masih mendominasi.
Berteologi di dalam budaya pluralisme memerlukan suatu pengakuan terhadap nilai pluralisme itu sendiri. Hal ini berlaku baik di dalam lingkaran kekristenan sendiri dengan tradisi yang berbeda-beda, maupun juga di luar lingkaran kekristenan yaitu terhadap agama-agama lain.
Pada abad sekarang ini filosofi pascamodern telah menjelma dalam berbagai aspek kehidupan, namun ada teolog Injili yang memilih "kontra pascamodernisme," misalnya Carl F. H. Henry. Khususnya di dalam artikel yang ditulisnya "Postmodernism: The New Spectre," Henry menolak pemikiran pascamodernisme yang menjurus kepada relativisme yang radikal dan jelas bertentangan dengan klaim kebenaran Kristiani.
Sola Scriptura-Hanya oleh Alkitab, seperti yang ditegakkan oleh Martin Luther didasari pada pengertian bahwa Allah menyatakan kebenaran-Nya kepada manusia melalui firmannya seperti yang tertulis dalam Alkitab. Dengan demikian Alkitab merupakan satu-satunya sarana agar manusia dapat mengerti kebenaran yang paling hakiki. Dengan demikian tidak ada kebenaran di luar kebenaran Allah dan semua kebenaran harus berpusat pada Alkitab.
Namun, rasa hormat kita pada kebenaran Alkitab bukan berarti mengikis habis sikap kritis. Sikap kritis terhadap teks Alkitab, bukan berarti untuk mencurigai. Namun, sikap kritis itu dilakukan dalam rangka belajar Alkitab secara bertanggung jawab. Sikap kritis dalam Bible Study dilakukan agar rasio manusia bekerja di bawah pimpinan Roh Kudus. Orang yang memiliki akal sehat akan menempatkan Allah di atas segala-galanya. Orang yang sehat akalnya akan mengerti bahwa akalnya terbatas dan tidak sanggup menyelidiki Allah Pencipta dunia beserta isinya.
Menghadapi arus pascamodernisme, pelayan gereja dalam melakukan khotbah maupun dalam Pemahaman Alkitab harus mengutamakan pendalaman Firman Tuhan untuk menegakkan kebenaran Kristus. Sungguh ironis bahwa seringkali pelayan gereja malas belajar dan tidak mau kembali pada semangat Kembali ke Alkitab (Back to Bible). Mereka lebih mementingkan kesaksian-kesaksian yang menjurus kepada narsisme yaitu pemujaan diri sendiri yang berlebihan sehingga kebenaran Alkitab terabaikan. Lebih celaka lagi bila Alkitab hanya dipakai sebagai pelengkap khotbah, sedangkan kesaksian-kesaksian pribadi diekspos terus menerus dan akan menjadi kebenaran yang menggantikan posisi kebenaran Alkitab.
Pascamodernisme memunculkan tantangan tetapi sekaligus kesempatan bagi umat Kristen. Kita perlu secara seimbang menerima aspek positif dan menolak aspek negatif dari arus ini. Tujuan akhirnya ialah melayani generasi sekarang ini dengan lebih baik namun dengan tetap setia terhadap kebenaran Firman Tuhan. Manusia bukanlah sumber kebenaran karena manusia sedang mencari kebenaran. Menyadari keterbatasan manusia dengan tingkat pengetahuan akan kebenaran yang tidak absolut, maka manusia harus kembali kepada Firman Allah seperti yang terdapat dalam Alkitab sebagai sumber kebenaran sejati.
“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri (Amsal 3:5), dan segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Timotius 3:16).
Kegagalan agama yang berperan mengemban fungsi kemanusiaan dan klaim kebenaran agama telah menjadi permasalahan yang serius. Terutama jika ada unsur pemaksaan atau monopoli kebenaran yang mengklaim bahwa kebenaran sebuah agama tertentu adalah absolut, sedangkan agama yang lain tidak ada yang benar. Pada akhirnya klaim kebenaran agama akan mengarahkan pengikutnya untuk melawan perbedaan yang timbul dengan tindakan kekerasan.
Masyarakat yang lelah dan sadar akan kegagalan agama sebagai pendekar perdamaian akhirnya bersikap skeptis terhadap kebenaran absolut yang diklaim oleh agama. Sebagaimana kejadiannya di barat dengan tradisi kekristenan era modernisme yang berlangsung mulai dari abad pencerahan sampai tahun 1960-an, dimana orang lebih menempatkan rasio diatas segalanya. Kebangkitan rasio yang mewarnai era modern merupakan bentuk perlawanan atas otoritas gereja (agama) yang begitu kuat pada zaman pertengahan. Kemajuan ilmu pengetahuan menjadi “agama baru” dengan berkembangnya metode empiris yang menekankan pada obyektivitas pemikiran manusia. Pada era modern akal manusia dijadikan tolok ukur yang selalu mempunyai pandangan yang optimis terhadap kemajuan-kemajuan yang akan dicapai oleh manusia. Pada era ini pula manusia terdorong untuk melihat sesuatu dengan kritis dan kebenaran harus dapat dibuktikan secara ilmiah dan dapat diterima oleh akal manusia.
Modernisme dicirikan oleh tiga hal, yaitu subjektivitas, kritik, dan kemajuan. Melalui subjektivitas, manusia menyadari dirinya sebagai pusat realitas yang menjadi ukuran segala sesuatu. Dari sini, teosentrisme yang dianut oleh zaman pertengahan digantikan oleh antroposentrisme. Kesadaran subyektif menemukan bentuknya yang paling ekstrem dalam eksistensialisme yang menilai manusia berdasarkan apa yang bisa dia lakukan untuk dirinya sendiri.
Prinsip yang kedua adalah kritik sebagai bentuk perlawanan atas dominasi suatu otoritas tertentu. Dengan kritik, rasio tidak hanya menjadi sumber pengetahuan, melainkan juga menjadi kemampuan praktis untuk membebaskan individu dari belenggu tradisi. Kant merumuskan kritik sebagai keberanian untuk berpikir sendiri di luar tatanan tradisi atau otoritas. Kant memandang bahwa reason menjadi alasan utama manusia dapat menemukan dan membangun prinsip-prinsip pengetahuan dan melakukannya tanpa adanya belenggu dan keterkungkungan dari sesuatu yang absolut.
Subjektivitas dan kritik pada gilirannya mengarahkan pada kemajuan yang ditandai dengan perkembangan sains dan teknologi sebagai suatu hasil dari eksplorasi total manusia akan kemampuan akal budinya. Modernisme kemudian bisa dipandang sebagai bentuk pemberontakan intelektualitas secara terus-menerus atas segala bentuk tradisional abad pertengahan. Agama, metafisika dan ontologi yang sebelumnya menjadi sumber pengetahuan dan sekaligus sebagai sandaran kebenaran digantikan dengan "kesadaran akan diri", rasionalitas, dan sains. Semenjak itu, agama divonis tidak lagi relevan dalam memahami realitas dunia. Kemajuan sains dan teknologi telah memberikan kemudahan yang luar biasa bagi kehidupan manusia untuk membangun semangat otonomi dan independensi manusia.
Tidak dapat disangkal bahwa modernisme telah memberikan banyak kemudahan bagi hidup manusia. Manusia memang menemukan independensinya tetapi kehilangan interdependensinya. Modernisme hanya memberikan kemajuan dari sisi material sementara dari sisi spiritual, manusia semakin mengalami kekeringan. Modernisasi telah menghadirkan wajah kemanusiaan yang buram. Setelah terpola dalam kehidupan yang mekanistik, muncul kegelisahan dan kegersangan psikologis yang disebabkan oleh tercerabutnya kehidupan spiritual. Akibat yang paling parah adalah terjadinya krisis tentang makna dan tujuan hidup. Dalam perjalanannya ternyata akal budi atau rasio manusia tidak mampu menjawab seluruh kebutuhan manusia. Setelah mendewakan akal budinya dengan harapan menemukan kebenaran mutlak terbukti kenyataan berbicara lain. Yang didapatkan justru sebaliknya yaitu kejenuhan rasional dan kekecewan yang mendalam.
Karena kekecewaan yang begitu mendalam, maka hadirlah sebuah kesadaran baru, bahwa pandangan dunia yang materialistik dan kapitalistik ternyata tidak cukup untuk membebaskan manusia dari kegersangan spiritualnya. Kesadaran baru ini berupa pemikiran pascamodernisme yang lahir sebagai reaksi atas era modernisme.
Secara garis besar, terdapat dua arus pemikiran penting dalam pascamodernisme. Kedua arus dimaksud adalah relativisme budaya dan humanisme sekuler. Relativisme budaya menandaskan bahwa kebenaran ditentukan oleh konteks budaya. Berarti, tidak ada kebenaran yang mutlak. Masing-masing budaya punya keunikan dan kebenaran sendiri. Humanisme sekuler secara mantap meyakinkan manusia akan kemampuan dan kebijakan diri bahwa segala persoalan dan masalah, dapat dipecahkan dan diselesaikan melalui penggunaan rasio. Manusia dinilai sanggup menyelesaikan semua masalah dunia. Maka, generasi pascamodernisme adalah generasi yang pragmatis dan anti kelembagaan. Dalam istilah lain sering disebut sebagai generasi anti kemapanan.
Generasi pascamodernisme anti kemapanan karena mereka meyakini bahwa cara pandang dunia selalu berubah. Perubahan ini didasari pada suatu proses yang dinamis, yang dibangun dari interaksi dengan lingkungan. Era pascamodernisme menghasilkan pandangan bahwa kebenaran itu relatif. Tidak ada yang mutlak, karena itu tidak ada kemapanan, semua akan menuju perubahan, inilah roh pascamodernisme. Bagi manusia pascamodernisme, penghargaan terhadap perbedaan dan kebersamaan dikedepankan. Dengan demikian, pascamodernisme tidak menempatkan manusia sebagai sentral, namun memposisikannya dalam relasi dialogis dengan ciptaan lain. Tentu, ini menjadi masalah serius dalam kekristenan. Padahal, kekristenan meyakini otoritas kebenaran Alkitab. Bila tidak ada kebenaran mutlak, lalu apa dasar iman Kristen? Lalu bagaimana kita bisa berbicara mengenai kebenaran terhadap generasi sekarang ini?
Pascamodernisme adalah suatu tantangan yang paling utama bagi Kekristenan pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 ini. Manusia pascamodern menyerang Kekristenan karena orang Kristen beranggapan bahwa merekalah satu-satunya yang memiliki kebenaran. Manusia pascamodern dapat menerima selama Kekristenan hanyalah salah satu kebenaran di antara kebenaran-kebenaran lainnya.
Segi positifnya, pascamodernisme memberikan peluang kepada orang Kristen untuk berpegang pada pandangan dunia mereka. Dengan kata lain, pada zaman pascamodern ini orang Kristen juga mempunyai hak untuk membagikan keyakinan mereka, namun tidak bisa memutlakkannya atau memaksakannya kepada orang lain. Dari satu sisi, ini berarti bahwa orang Kristen lebih dapat didengar suaranya daripada waktu era modernisme masih mendominasi.
Berteologi di dalam budaya pluralisme memerlukan suatu pengakuan terhadap nilai pluralisme itu sendiri. Hal ini berlaku baik di dalam lingkaran kekristenan sendiri dengan tradisi yang berbeda-beda, maupun juga di luar lingkaran kekristenan yaitu terhadap agama-agama lain.
Pada abad sekarang ini filosofi pascamodern telah menjelma dalam berbagai aspek kehidupan, namun ada teolog Injili yang memilih "kontra pascamodernisme," misalnya Carl F. H. Henry. Khususnya di dalam artikel yang ditulisnya "Postmodernism: The New Spectre," Henry menolak pemikiran pascamodernisme yang menjurus kepada relativisme yang radikal dan jelas bertentangan dengan klaim kebenaran Kristiani.
Sola Scriptura-Hanya oleh Alkitab, seperti yang ditegakkan oleh Martin Luther didasari pada pengertian bahwa Allah menyatakan kebenaran-Nya kepada manusia melalui firmannya seperti yang tertulis dalam Alkitab. Dengan demikian Alkitab merupakan satu-satunya sarana agar manusia dapat mengerti kebenaran yang paling hakiki. Dengan demikian tidak ada kebenaran di luar kebenaran Allah dan semua kebenaran harus berpusat pada Alkitab.
Namun, rasa hormat kita pada kebenaran Alkitab bukan berarti mengikis habis sikap kritis. Sikap kritis terhadap teks Alkitab, bukan berarti untuk mencurigai. Namun, sikap kritis itu dilakukan dalam rangka belajar Alkitab secara bertanggung jawab. Sikap kritis dalam Bible Study dilakukan agar rasio manusia bekerja di bawah pimpinan Roh Kudus. Orang yang memiliki akal sehat akan menempatkan Allah di atas segala-galanya. Orang yang sehat akalnya akan mengerti bahwa akalnya terbatas dan tidak sanggup menyelidiki Allah Pencipta dunia beserta isinya.
Menghadapi arus pascamodernisme, pelayan gereja dalam melakukan khotbah maupun dalam Pemahaman Alkitab harus mengutamakan pendalaman Firman Tuhan untuk menegakkan kebenaran Kristus. Sungguh ironis bahwa seringkali pelayan gereja malas belajar dan tidak mau kembali pada semangat Kembali ke Alkitab (Back to Bible). Mereka lebih mementingkan kesaksian-kesaksian yang menjurus kepada narsisme yaitu pemujaan diri sendiri yang berlebihan sehingga kebenaran Alkitab terabaikan. Lebih celaka lagi bila Alkitab hanya dipakai sebagai pelengkap khotbah, sedangkan kesaksian-kesaksian pribadi diekspos terus menerus dan akan menjadi kebenaran yang menggantikan posisi kebenaran Alkitab.
Pascamodernisme memunculkan tantangan tetapi sekaligus kesempatan bagi umat Kristen. Kita perlu secara seimbang menerima aspek positif dan menolak aspek negatif dari arus ini. Tujuan akhirnya ialah melayani generasi sekarang ini dengan lebih baik namun dengan tetap setia terhadap kebenaran Firman Tuhan. Manusia bukanlah sumber kebenaran karena manusia sedang mencari kebenaran. Menyadari keterbatasan manusia dengan tingkat pengetahuan akan kebenaran yang tidak absolut, maka manusia harus kembali kepada Firman Allah seperti yang terdapat dalam Alkitab sebagai sumber kebenaran sejati.
“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri (Amsal 3:5), dan segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Timotius 3:16).
Kebenaran Bukan Dicari Tetapi Diterima
Tulisan ini diangkat bukan hanya karena tema pokok terbitan bulan ini yang ditetapkan oleh dewan redaksi Gembala, tetapi juga sangat berkaitan dengan Visi GKJ Nehemia yang dirumuskan sbb.:
“Menjadi Gereja yang bersekutu dan melayani untuk bersaksi ikut menghadirkan Langit dan Bumi baru”.
Unsur Visi “bersaksi” menjadi pangkal pendekatan untuk membahas masalah “Kebenaran”, karena bersaksi memang menjadi kewajiban orang Kristen pada umumnya.
Untuk mudah memahami makna “kebenaran”, sengaja diperbandingkan antara apa itu “kebenaran” menurut pikiran manusia yang dalam hal ini diwakili oleh para filsuf yang telah dipercaya sebagai orang yang kompeten dalam berpikir tentang “kebenaran” dengan apa yang dikehendaki oleh Allah tentang “kebenaran” melalui kehadiran Tuhan Yesus Kristus di bumi.
Tentang Filsafat
Kita telah banyak tahu bahwa filsafat adalah ilmu yang paling tua, bahkan sudah ada sebelum Yesus Kristus hadir di dunia. Filsafat lahir di Yunani dalam abad ke-6 sebelum Masehi. Tanah Yunani adalah tempat persemaian di mana pemikiran ilmiah mulai bertumbuh. Bukan saja nama filsafat berasal dari bahasa Yunani, melainkan juga isi konsep yang ditunjukkan dengan nama ini merupakan suatu penemuan Yunani yang khas. Kita belajar di perguruan tinggi selalu dimulai dengan menerima mata kuliah tentang filsafat ilmu sebagai pengetahuan dasar dari mana suatu cabang ilmu yang kita tekuni itu berasal.
Filsafat sendiri mempunyai pengertian berikut ini, menurut beberapa filsuf.(Chairul Arifin, 1998, h.7).
~ Walter Kaufmann, filsafat adalah suatu pencarian akan kebenaran dengan pertolongan fakta-fakta dan argumentasi-argumentasi, tanpa memerlukan kekuasaan dan tanpa mengetahui hasilnya terlebih dahulu.
~ Plato, filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli. Filsafat harus berlangsung dengan mengeritik pendapat-pendapat yang berlaku.
~ Aristoteles, filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung didalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, etika, ekonomi, politik dan estetika. Filsafat adalah ilmu yang menyelidiki tentang hal ada sebagai hal ada.yang berbeda dengan bagian-bagiannya yang satu atau lainnya.
Bahwa Pemikir filsafat adalah seseorang pemikir dalam bidang filsafat. yang disebut filsuf. Filsuf adalah seseorang yang senantiasa memahami persoalan-persoalan filsafat dan terus menerus melakukan pemikiran terhadap jawaban-jawaban dari persoalan-persoalan dari waktu ke waktu dan diungkapkan dalam bentuk lisan maupun tulisannya.
Berfilsafat itu adalah suatu usaha untuk mencari kebenaran. Didalam mencari kebenaran itu seseorang tidak bertujuan untuk mencari pujian, kedudukan, kemuliaan, dan sejenisnya, melainkan semata-mata untuk kebenaran itu sendiri.
Manusia digetarkan oleh kejadian-kejadian diluarnya, ia kagum akan susunan yang disaksikannya dalam jagad raya. Kekaguman inilah menurut Aristoteles merupakan awal mula dari pada filsafat. Manusia merasa kagum akan keindahan yang dilihatnya di dunia, dan karena persasaan-perasaan itulah maka manusia mampu menjadi perekam yang tajam lagi halus atas peristiwa-peristiwa disekitarnya. Dengan akal budi manusia dapat mengenal, menagkap atau memahami dunia sekitarnya secara rohani. Penangkapan rohani ini disebut pengertian atau pengetahuan.
Filsafat memang harus mencari jawaban-jawaban, tetapi jawaban-jawaban tersebut tidak pernah abadi. Karena itu filsafat tak pernah sampai pada akhir sebuah masalah. Yang dianggap sebagai kelemahan, yaitu bahwa filsafat dalam akhir abad 20 ternyata masih sibuk dengan problema-problema sama seperti yang sudah dipersoalkan 2500 tahun yang lalu, ini membuktikan bahwa filsafat tetap setia pada “metodenya” sendiri. Problema-problema filsafat tidak pernah dapat selesai, justru karena bersifat filsafat. Problema-problema filsafat adalah problema manusia sebagai manusia, dan karena manusia disatu pihak tetap manusia, tetapi dilain pihak berkembang dan berubah, sehingga problema-problema baru filsafat adalah problema-problema lama manusia.
Tugas penting dari pada filsafat adalah membangkitkan akal budi manusia dari keadaan menerima secara pasif, sehingga memungkinkan suatu pencarian yang aktif dari pemahaman itu. Disamping filsafat dan ilmu, agama juga merupakan pokok perhatian daripada manusia Filsafat agama pada dasarnya adalah pemikiran filsafat tentang agama, sama halnya filsafat ilmu adalah pemikiran filsafat tentang ilmu.
Agama adalah sesuatu yang tidak mudah diberi definisi atau dilukiskan. Agama berbeda dengan ilmu dan filsafat karena agama menekankan keterlibatan pribadi. Walaupun kita dapat sepakat bahwa tak ada definisi agama yang dapat diterima secara universal, namun semua orang mengira sepanjang sejarah, manusia telah menunjukkan rasa “suci” dan agama adalah termasuk dalam kategori “hal yang suci” tersebut. Kemajuan spriritual seseorang dapat diukur dengan tingginya nilai yang tak terbatas yang ia berikan kepada obyek yang tak bersyarat terhadap zat yang ia anggap sebagai sumber yang tertinggi bagi kepribadian dan kebaikan. Fakta-fakta diatas menunjukkan adanya keterbatasan pikiran manusia dalam upaya untuk menemukan “kebenaran” atas masalah-masalah dan fenomena-fenomena yang ada disekitarnya.
Yang kita terima sebagai “kebenaran”
Kalau filsafat sebagai upaya manusia untuk menemukan “kebenaran” atas sesuatu ternyata menemui batas tertentu sehingga tidak mampu menuntaskan upaya pencarian tersebut, maka manusia yang serba terbatas ini harus lari kepada agama, yang oleh Allah memang dimaksudkan sebagai alternative akhir dari proses pencarian tersebut.
Berikut ini adalah sebagian (karena banyak kebenaran Allah) dari “kebenaran” yang kita terima dengan keyakinan, karena kita sebagai orang Kristen, tanpa harus terlebih dahulu dijelaskan atau diperdebatkan oleh para filsuf.
Agama Kristen bukan agama kitab melainkan agama yang berpusatkan diri Yesus Kristus. Ini yang membedakan dengan agama Yahudi dan Islam.Allah menyatakan Yesus dahulu benar, bahwa seluruh hidupNya sampai dengan kematian disalib sesuai dengan rencana Allah sendiri. Wafat Yesus dapat diartikan dan dipahami oleh jemaat sebagai “mati karena kita”.Melalui Yesus serta karyaNya Allah memberikan hidup kekal, hidup sejati, kepada semua orang yang percaya akan Putra Tunggal Allah, Yesus Kristus. Karena itu, Allah melalui Yesus Kristus menyatakan kebenaran-kebenaran yang hakiki
Kebenaran-kebenaran tentang Yesus
Sebagai Penasihat Ajaib
Secara harfiah kata ini berarti keajaiban dari seorang penasihat. Jauh sebelum kelahiran Yesus, Yesaya meramalkan bahwa Allah sudah merencanakan untuk mengutus seorang Penasihat kepada penduduk dunia yang hatinya telah hancur. (Yes 2:3, 11:2, 28:29). Bagi kita yang hidup setelah kelahiran, kematian dan kebangkitan Kristus, pernyataan bahwa Yesus adalah Penasihat Ajaib bukanlah sekedar teori. Kita dapat membaca dan membayangkan, serta memohon pertolongan dari Dia yang telah menjadi hikmat dari Allah bagi kita. Ia adalah penggenapan dari semua yang diajarkan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, nasihat-Nya dapat kita temukan di dalam perkataan dan pemeliharaan Allah. Perjanjian Lama adalah kisah mengenai diri-Nya. Injil dalam Perjanjian Baru adalah catatan dari percakapan-Nya dengan orang-orang pada masa-Nya. Sedangkan surat-surat lainnya di dalam Perjanjian Baru menampilkan aplikasi dari ajaran-Nya di dalam kehidupan manusia. Kita dapat melihat nasihat-Nya di dalam Khotbah di Bukit dan di dalam percakapan-Nya dengan Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Kita dapat melihat pengajaran-Nya di dalam surat-surat yang ditulis Rasul Paulus. Dia membantu kita menghadapi problema kita dan memimpin kita ketempat yang aman. Dia melakukannya melalui perkataan dan doa-Nya.
Allah yang perkasa
Allah yang Perkasa adalah gelar yang diberikan Perjanjian Lama kepada Mesias yang akan datang. Bahasa Ibraninya adalah El Gibbor. Meskipun banyak kaum-Nya menolak Dia, dalam banyak kasus banyak juga orang yang mengenal-Nya sebagai Mesias yang dinanti-nantikan, seperti contohnya Nikodemus, murid-muridNya, Maria Magdalena. Kuasa-Nya yang dapat mengubah hidup seseorang membuktikan Yesus Kristus adalah El Gibbor.
Bagi mereka yang membutuhkan seorang Juruselamat, yang merasa dirinya lemah, tidak sanggup hidup sesuai dengan standar Allah, bukti kekuatan kuasa Kristus sangatlah nyata. Selama pelayanan-Nya di bumi, Kristus menyatakan kuasa ilahi-Nya dengan cara yang tidak hanya tidak dapat disangkal manusia, tetapi juga dimaksudkan untuk diakui keilahian-Nya.
Dia adalah kekuatan hidup kita. Yesus berjanji memberikan kita kekuatan di dalam segala situasi dan kesulitan hidup. Tetapi ini tidak berarti kita tidak akan pernah merasakan rasa sakit atau kerja keras, melainkan dengan kekuatan-Nya kita akan dapat menanggung kesukaran kita seperti seorang prajurit Kristus yang baik. Kita dapat melaksanakan itu dengan kekuatan-Nya , bukan dengan kekuatan kita.
Raja Damai
Nama Raja Damai dalam bahasa Ibrani adalah Shar Shalom yang berarti dia yang menghilangkan factor-faktor yang mengganggu kedamaian dan yang membawa damai. Dengan sendirinya hal ini memisahkan Dia dari kebanyakan pemerintah dunia yang seringkali memperoleh kekuasaan melalui petumpahan darah.
Nama Raja Damai membantu menjelaskan mengapa Yesus mengecewakan bangsa-Nya ketika Ia datang. Mereka tidak menginginkan raja damai. Mereka menginginkan kerajaan yang akan membasmi musuh-musuh mereka dan mengembalikan kekuasaan kerajaan Israel seperti pada zaman Salomo. Mereka ingin menyingkirkan kerajaan Romawi dan para penindas lainnya. Yesus tidak sedikitpun melawan pemerintahan Romawi, Dia juga tidak membuat perjanjian damai dengan siapapun.
Perjanjian Baru menyatakan bahwa kedatangan Yesus adalah untuk meletakkan dasar perdamaian antara manusia dengan Allah dan menawarkannya kepada seluruh bangsa. Perjajian Baru juga menyatakan bahwa Ia akan datang untuk kedua kalinya guna membawa damai ke dunia. Damai yang dibawa Yesus ini lebih dari gencatan senjata antara kita dengan Allah. Ini adalah damai yang mengubah kita dari musuh menjadi anak-anak Allah.
Begitu kita berada di dalam Kristus, Raja Damai ini akan menunjukkan kita bahwa Ia akan membawa damai dimana saja Ia memerintah. Damai di dalam pencobaan hidup; Damai di dalam proses pendewasaan hidup; Damai di dalam kemenangan hidup; Damai di dalam kesaksian hidup.
Sikap umat beriman
Tuhan tidak menciptakan manusia seperti robot atau seperti hewan yang hanya hidup dengan naluri. Tuhan menciptakan manusia sepeta dan segambar dengan-Nya. Kepada manusia Tuhan memberikan akal budi yang dapat mencari, menyimpan, mengolah dan memanfaatkan ilmu pengetahuan. Dengan akal budinya, manusia mempertahankan hidup dan mempertanggungjawabkannya bagi kemuliaan Tuhan.
“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan untuk selama-lamanya”. (Roma 11:36).
Hikmat Salomo jelas menunjukkan bahwa Tuhanlah sumber segala pengetahuan. Hal tersebut makin jelas ketika Tuhan memberi kesempatan kepada Salomo untuk meminta sesuatu kepada-Nya, ia tidak memilih umur panjang, kekuasaan, harta kekayaan, melainkan hikmat-Nya agar dapat menjalankan tugas sebagai pemimpin Israel yang baik. Oleh karena itu , kita perlu meminta hikmat dari Tuhan.
Kembali kalau kita melihat bagaimana upaya-upaya filsuf dalam mengungkapkan kebenaran diatas, maka kita sampai pada kesimpulan bahwa pengetahuan manusia amat luar biasa, tetapi juga sangat terbatas bila dibandingkan dengan Kemahatahuan Tuhan. Oleh karena itu, sepatutnyalah manusia bersikap haus terhadap pengetahuan, termasuk pengetahuan tentang firman Tuhan. Oleh karena itu bagi umat beriman mengamalkan pengetahuan bukan sekedar tindakan menolong orang lain dalam rangka menjadi berkat. Lebih dari itu, mengamalkan pengetahuan merupakan jalan untuk memuliakan nama Tuhan. Semoga bermanfaat. Dari beberapa sumber. Depok, 11 Juni 2012
“Menjadi Gereja yang bersekutu dan melayani untuk bersaksi ikut menghadirkan Langit dan Bumi baru”.
Unsur Visi “bersaksi” menjadi pangkal pendekatan untuk membahas masalah “Kebenaran”, karena bersaksi memang menjadi kewajiban orang Kristen pada umumnya.
Untuk mudah memahami makna “kebenaran”, sengaja diperbandingkan antara apa itu “kebenaran” menurut pikiran manusia yang dalam hal ini diwakili oleh para filsuf yang telah dipercaya sebagai orang yang kompeten dalam berpikir tentang “kebenaran” dengan apa yang dikehendaki oleh Allah tentang “kebenaran” melalui kehadiran Tuhan Yesus Kristus di bumi.
Tentang Filsafat
Kita telah banyak tahu bahwa filsafat adalah ilmu yang paling tua, bahkan sudah ada sebelum Yesus Kristus hadir di dunia. Filsafat lahir di Yunani dalam abad ke-6 sebelum Masehi. Tanah Yunani adalah tempat persemaian di mana pemikiran ilmiah mulai bertumbuh. Bukan saja nama filsafat berasal dari bahasa Yunani, melainkan juga isi konsep yang ditunjukkan dengan nama ini merupakan suatu penemuan Yunani yang khas. Kita belajar di perguruan tinggi selalu dimulai dengan menerima mata kuliah tentang filsafat ilmu sebagai pengetahuan dasar dari mana suatu cabang ilmu yang kita tekuni itu berasal.
Filsafat sendiri mempunyai pengertian berikut ini, menurut beberapa filsuf.(Chairul Arifin, 1998, h.7).
~ Walter Kaufmann, filsafat adalah suatu pencarian akan kebenaran dengan pertolongan fakta-fakta dan argumentasi-argumentasi, tanpa memerlukan kekuasaan dan tanpa mengetahui hasilnya terlebih dahulu.
~ Plato, filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli. Filsafat harus berlangsung dengan mengeritik pendapat-pendapat yang berlaku.
~ Aristoteles, filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung didalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, etika, ekonomi, politik dan estetika. Filsafat adalah ilmu yang menyelidiki tentang hal ada sebagai hal ada.yang berbeda dengan bagian-bagiannya yang satu atau lainnya.
Bahwa Pemikir filsafat adalah seseorang pemikir dalam bidang filsafat. yang disebut filsuf. Filsuf adalah seseorang yang senantiasa memahami persoalan-persoalan filsafat dan terus menerus melakukan pemikiran terhadap jawaban-jawaban dari persoalan-persoalan dari waktu ke waktu dan diungkapkan dalam bentuk lisan maupun tulisannya.
Berfilsafat itu adalah suatu usaha untuk mencari kebenaran. Didalam mencari kebenaran itu seseorang tidak bertujuan untuk mencari pujian, kedudukan, kemuliaan, dan sejenisnya, melainkan semata-mata untuk kebenaran itu sendiri.
Manusia digetarkan oleh kejadian-kejadian diluarnya, ia kagum akan susunan yang disaksikannya dalam jagad raya. Kekaguman inilah menurut Aristoteles merupakan awal mula dari pada filsafat. Manusia merasa kagum akan keindahan yang dilihatnya di dunia, dan karena persasaan-perasaan itulah maka manusia mampu menjadi perekam yang tajam lagi halus atas peristiwa-peristiwa disekitarnya. Dengan akal budi manusia dapat mengenal, menagkap atau memahami dunia sekitarnya secara rohani. Penangkapan rohani ini disebut pengertian atau pengetahuan.
Filsafat memang harus mencari jawaban-jawaban, tetapi jawaban-jawaban tersebut tidak pernah abadi. Karena itu filsafat tak pernah sampai pada akhir sebuah masalah. Yang dianggap sebagai kelemahan, yaitu bahwa filsafat dalam akhir abad 20 ternyata masih sibuk dengan problema-problema sama seperti yang sudah dipersoalkan 2500 tahun yang lalu, ini membuktikan bahwa filsafat tetap setia pada “metodenya” sendiri. Problema-problema filsafat tidak pernah dapat selesai, justru karena bersifat filsafat. Problema-problema filsafat adalah problema manusia sebagai manusia, dan karena manusia disatu pihak tetap manusia, tetapi dilain pihak berkembang dan berubah, sehingga problema-problema baru filsafat adalah problema-problema lama manusia.
Tugas penting dari pada filsafat adalah membangkitkan akal budi manusia dari keadaan menerima secara pasif, sehingga memungkinkan suatu pencarian yang aktif dari pemahaman itu. Disamping filsafat dan ilmu, agama juga merupakan pokok perhatian daripada manusia Filsafat agama pada dasarnya adalah pemikiran filsafat tentang agama, sama halnya filsafat ilmu adalah pemikiran filsafat tentang ilmu.
Agama adalah sesuatu yang tidak mudah diberi definisi atau dilukiskan. Agama berbeda dengan ilmu dan filsafat karena agama menekankan keterlibatan pribadi. Walaupun kita dapat sepakat bahwa tak ada definisi agama yang dapat diterima secara universal, namun semua orang mengira sepanjang sejarah, manusia telah menunjukkan rasa “suci” dan agama adalah termasuk dalam kategori “hal yang suci” tersebut. Kemajuan spriritual seseorang dapat diukur dengan tingginya nilai yang tak terbatas yang ia berikan kepada obyek yang tak bersyarat terhadap zat yang ia anggap sebagai sumber yang tertinggi bagi kepribadian dan kebaikan. Fakta-fakta diatas menunjukkan adanya keterbatasan pikiran manusia dalam upaya untuk menemukan “kebenaran” atas masalah-masalah dan fenomena-fenomena yang ada disekitarnya.
Yang kita terima sebagai “kebenaran”
Kalau filsafat sebagai upaya manusia untuk menemukan “kebenaran” atas sesuatu ternyata menemui batas tertentu sehingga tidak mampu menuntaskan upaya pencarian tersebut, maka manusia yang serba terbatas ini harus lari kepada agama, yang oleh Allah memang dimaksudkan sebagai alternative akhir dari proses pencarian tersebut.
Berikut ini adalah sebagian (karena banyak kebenaran Allah) dari “kebenaran” yang kita terima dengan keyakinan, karena kita sebagai orang Kristen, tanpa harus terlebih dahulu dijelaskan atau diperdebatkan oleh para filsuf.
Agama Kristen bukan agama kitab melainkan agama yang berpusatkan diri Yesus Kristus. Ini yang membedakan dengan agama Yahudi dan Islam.Allah menyatakan Yesus dahulu benar, bahwa seluruh hidupNya sampai dengan kematian disalib sesuai dengan rencana Allah sendiri. Wafat Yesus dapat diartikan dan dipahami oleh jemaat sebagai “mati karena kita”.Melalui Yesus serta karyaNya Allah memberikan hidup kekal, hidup sejati, kepada semua orang yang percaya akan Putra Tunggal Allah, Yesus Kristus. Karena itu, Allah melalui Yesus Kristus menyatakan kebenaran-kebenaran yang hakiki
Kebenaran-kebenaran tentang Yesus
Sebagai Penasihat Ajaib
Secara harfiah kata ini berarti keajaiban dari seorang penasihat. Jauh sebelum kelahiran Yesus, Yesaya meramalkan bahwa Allah sudah merencanakan untuk mengutus seorang Penasihat kepada penduduk dunia yang hatinya telah hancur. (Yes 2:3, 11:2, 28:29). Bagi kita yang hidup setelah kelahiran, kematian dan kebangkitan Kristus, pernyataan bahwa Yesus adalah Penasihat Ajaib bukanlah sekedar teori. Kita dapat membaca dan membayangkan, serta memohon pertolongan dari Dia yang telah menjadi hikmat dari Allah bagi kita. Ia adalah penggenapan dari semua yang diajarkan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, nasihat-Nya dapat kita temukan di dalam perkataan dan pemeliharaan Allah. Perjanjian Lama adalah kisah mengenai diri-Nya. Injil dalam Perjanjian Baru adalah catatan dari percakapan-Nya dengan orang-orang pada masa-Nya. Sedangkan surat-surat lainnya di dalam Perjanjian Baru menampilkan aplikasi dari ajaran-Nya di dalam kehidupan manusia. Kita dapat melihat nasihat-Nya di dalam Khotbah di Bukit dan di dalam percakapan-Nya dengan Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Kita dapat melihat pengajaran-Nya di dalam surat-surat yang ditulis Rasul Paulus. Dia membantu kita menghadapi problema kita dan memimpin kita ketempat yang aman. Dia melakukannya melalui perkataan dan doa-Nya.
Allah yang perkasa
Allah yang Perkasa adalah gelar yang diberikan Perjanjian Lama kepada Mesias yang akan datang. Bahasa Ibraninya adalah El Gibbor. Meskipun banyak kaum-Nya menolak Dia, dalam banyak kasus banyak juga orang yang mengenal-Nya sebagai Mesias yang dinanti-nantikan, seperti contohnya Nikodemus, murid-muridNya, Maria Magdalena. Kuasa-Nya yang dapat mengubah hidup seseorang membuktikan Yesus Kristus adalah El Gibbor.
Bagi mereka yang membutuhkan seorang Juruselamat, yang merasa dirinya lemah, tidak sanggup hidup sesuai dengan standar Allah, bukti kekuatan kuasa Kristus sangatlah nyata. Selama pelayanan-Nya di bumi, Kristus menyatakan kuasa ilahi-Nya dengan cara yang tidak hanya tidak dapat disangkal manusia, tetapi juga dimaksudkan untuk diakui keilahian-Nya.
Dia adalah kekuatan hidup kita. Yesus berjanji memberikan kita kekuatan di dalam segala situasi dan kesulitan hidup. Tetapi ini tidak berarti kita tidak akan pernah merasakan rasa sakit atau kerja keras, melainkan dengan kekuatan-Nya kita akan dapat menanggung kesukaran kita seperti seorang prajurit Kristus yang baik. Kita dapat melaksanakan itu dengan kekuatan-Nya , bukan dengan kekuatan kita.
Raja Damai
Nama Raja Damai dalam bahasa Ibrani adalah Shar Shalom yang berarti dia yang menghilangkan factor-faktor yang mengganggu kedamaian dan yang membawa damai. Dengan sendirinya hal ini memisahkan Dia dari kebanyakan pemerintah dunia yang seringkali memperoleh kekuasaan melalui petumpahan darah.
Nama Raja Damai membantu menjelaskan mengapa Yesus mengecewakan bangsa-Nya ketika Ia datang. Mereka tidak menginginkan raja damai. Mereka menginginkan kerajaan yang akan membasmi musuh-musuh mereka dan mengembalikan kekuasaan kerajaan Israel seperti pada zaman Salomo. Mereka ingin menyingkirkan kerajaan Romawi dan para penindas lainnya. Yesus tidak sedikitpun melawan pemerintahan Romawi, Dia juga tidak membuat perjanjian damai dengan siapapun.
Perjanjian Baru menyatakan bahwa kedatangan Yesus adalah untuk meletakkan dasar perdamaian antara manusia dengan Allah dan menawarkannya kepada seluruh bangsa. Perjajian Baru juga menyatakan bahwa Ia akan datang untuk kedua kalinya guna membawa damai ke dunia. Damai yang dibawa Yesus ini lebih dari gencatan senjata antara kita dengan Allah. Ini adalah damai yang mengubah kita dari musuh menjadi anak-anak Allah.
Begitu kita berada di dalam Kristus, Raja Damai ini akan menunjukkan kita bahwa Ia akan membawa damai dimana saja Ia memerintah. Damai di dalam pencobaan hidup; Damai di dalam proses pendewasaan hidup; Damai di dalam kemenangan hidup; Damai di dalam kesaksian hidup.
Sikap umat beriman
Tuhan tidak menciptakan manusia seperti robot atau seperti hewan yang hanya hidup dengan naluri. Tuhan menciptakan manusia sepeta dan segambar dengan-Nya. Kepada manusia Tuhan memberikan akal budi yang dapat mencari, menyimpan, mengolah dan memanfaatkan ilmu pengetahuan. Dengan akal budinya, manusia mempertahankan hidup dan mempertanggungjawabkannya bagi kemuliaan Tuhan.
“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan untuk selama-lamanya”. (Roma 11:36).
Hikmat Salomo jelas menunjukkan bahwa Tuhanlah sumber segala pengetahuan. Hal tersebut makin jelas ketika Tuhan memberi kesempatan kepada Salomo untuk meminta sesuatu kepada-Nya, ia tidak memilih umur panjang, kekuasaan, harta kekayaan, melainkan hikmat-Nya agar dapat menjalankan tugas sebagai pemimpin Israel yang baik. Oleh karena itu , kita perlu meminta hikmat dari Tuhan.
Kembali kalau kita melihat bagaimana upaya-upaya filsuf dalam mengungkapkan kebenaran diatas, maka kita sampai pada kesimpulan bahwa pengetahuan manusia amat luar biasa, tetapi juga sangat terbatas bila dibandingkan dengan Kemahatahuan Tuhan. Oleh karena itu, sepatutnyalah manusia bersikap haus terhadap pengetahuan, termasuk pengetahuan tentang firman Tuhan. Oleh karena itu bagi umat beriman mengamalkan pengetahuan bukan sekedar tindakan menolong orang lain dalam rangka menjadi berkat. Lebih dari itu, mengamalkan pengetahuan merupakan jalan untuk memuliakan nama Tuhan. Semoga bermanfaat. Dari beberapa sumber. Depok, 11 Juni 2012
Kebenaran Iman dan Kebenaran Ilmiah
“Aku telah memilih jalan kebenaran, telah menempatkan hukum-hukumMu dihadapanku.” (Maz 119 : 30)
“Demi Tuhan aku berjanji akan menuliskan tentang contoh yang luar biasa dari kearifan Tuhan “. (Johannes Kepler 1571 – 1630)
Kebenaran iman dan kebenaran ilmiah bagaikan dua sisi mata uang yang saling dibutuhkan untuk pedoman arah kehidupan kita, sehingga perlu kita bahas dalam tulisan ini. Kebenaran iman akan diawali dengan preposisi, arti iman, kebenaran, kebenaran sejati. Sedangkan kebenaran ilmiah diawali dari arti kebenaran, beberapa macam teori kebenaran, sifat dasar kebenaran ilmiah,kebenaran ilmiah yang dianggap bertentangan dengan nilai moral religius. Kebenaran adalah elemen dasar yang utama dan pertama dalam Kerajaan Allah, kebenaran untuk menuju damai sejahtera, kebenaran untuk menuju sukacita Roh Kudus. Gereja dan orang beriman harus menyatakan kebenaran. Melanjutkan tugas pokok kenabian Yesus, kebenaran mengantar kita menuju Kerajaan Allah secara nyata, kebenaran memberi pesan : “Mengikut Yesus adalah perintah.” Dalam tulisan ini banyak kelemahan dan kekurangan sehingga diperlukan kritik yang membangun demi kelengkapan dan kesempurnaan materi judul tersebut diatas.
KEBENARAN IMAN.
Preposisi.
Preposisi dapat berarti praasumsi atau pradugaan/ praparadigma dari kerangka dasar pola pikir yang mengawali dari suatu pokok pembahasan. Dalam matematika kita mengenal istilah axioma yang berarti rumus pertama yang kebenarannya telah diakui dan tanpa dibuktikan dan sebagai dasar untuk mengembangkan rumus-rumus selanjutnya.
Arti dari iman.
“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tdak kita liahat.” (Ibrani 11 : 1).
Kebenaran iman.
Kebenaran iman adalah suatu kebenaran yang kita yakini dengan tanpa bukti yang dapat ditangkap dengan pancaindera, tetapi akan disaksikan realitasnya dalam perjalanan hidup selanjutnya.
Kebenaran sejati.
Banyak orang, bahkan nabi-nabi telah menyampaikan tentang kebenaran tetapi tidak ada yang menyatakan seperti yang Tuhan Yesus katakan : “Akulah kebenaran.”(Yoh 14 : 6). Kata kebenaran dalam ayat ini dalam bahasa Yunani adalah aletheia adalah kata yang sangat spesifik yang berarti bukan kebenaran biasa tetapi kebenaran yang hakiki, benarnya yang benar. Dalam ilmu filsafat aletheia bermakna hal yang sungguh-sungguh dalam arti yang mutlak.
Kebenaran sejati adalah Yesus Kristus.
Pontius Pilatus pernah bertanya : “Apakah kebenaran itu?” Kita semua apakah juga pernah bertanya tentang arti suatu kebenaran ? Memang arti kebenaran adalah sangat luas sekali, sehingga perlu kita bahas. Tetapi kebenaran yang sejati adalah kebenaran akan Firman Allah yang telah menyatakan diri dalam diri Tuhan Yesus dengan segala karya penyelamtanNya. Dan akan datang kembali untuk menjadi Hakim Agung.
KEBENARAN ILMIAH.
Arti kebenaran ilmiah.
Kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang mempunyai sifat rasional-logis,sifat isi empiris dan dapat diterapkan (pragmatis).
Empat teori kebenaran ilmiah.
Empat macam teori kebenaran ilmiah yaitu : 1 Teori kebenaran sebagai persesuain. 2 Teori kebenaran sebagai keteguhan. 3 Teori kebenaran sebagai yang bisa diterapkan (pragmatis) dan 4 Teori kebenaran performatif (menciptakan realitas).
Teori kebenaran sebagai persesuaian.
Menuirut teori ini kebenaran adalah soal kesesuaian antara apa yang diketahui dengan kenyataan yang sebenarnya. Benar dan salah adalah sesuai dan tidaknya apa yang dikatakan dengan kenyataan sebagaimana adanya.
Teori kebenaran sebagai keteguhan.
Pernyataan dikatakan benar kalau cocok dengan system pemikiran yang ada.
Teori kebenaran yang bisa diterapkan (pragmatis).
Kebenaran berarti sama dengan kegunaan, pernyataan benar adalah yang paling mampu melakukan dengan hasil dan tepat guna. Pernyataan diakui kebenarannya kalau dapat menciptakan realitas, dan bukan hanya mengungkapkannnya.
Kebenaran ilmiah yang dianggap bertentangan dengan nilai moral religius.
Penelitian ilmiah yang sudah terbukti kebenarannya ternyata dianggap bertentangan dengan nilai moral religius, sepertti cloning, maka perlu dipertimbangkan suatu kriteria untuk menerima atau menolaknya, yaitu dari sisi kegunaannya.Kalau ternyata merendahkan martabat manusia dan tidak membawa kemuliaan Tuhan, maka perlu ditolak, tetapi kebenaran ilmiah harus tetap diberikan otonom, sehingga apakah teknologi cloning itu perlu diteruskan atau dikembangkan perlu diserahkan kepada kesadaran moral dari ilmuwannya.
KEBENARAN IMAN DAN KEBENARAN ILMIAH.
Kebenaran iman bersifat absolut.
Kebenaran iman yang bersumber dari Firman Allah yang telah nyata dalam Yesus Kristus dan karya penyelamatanNya, dan akan datang kembali sebagai Hakim Agung adalah merupakan suatu kebenaran absolut bagi yang mengamininya. Tetapi secara kemanusiaan kita harus tetap toleran terhadap keyakinan yang lain agar damai sejahtera menjadi nyata di muka bumi ini.
Kebenaran ilmiah bersifat relative.
Meskipun kebenaran ilmiah telah dikaji secara mendalam, bahkan bisa dikatakan sebagai kebenaran universal tetapi para ilmuwan masih menyadari bahwa kebenaran ilmiah masih relative. Sebagai contoh teori fisika klasik dari Isaac Newton (1642-1727), adalah memiliki kebenaran universal dalam konteks benda yang memiliki kecepatan rendah.Tetapi bagi benda yang memiliki kecapatan tinggi (mendekati kecepatan cahaya) akan berlaku teori relativitas dari Albert Einstein (1875-1955). Johannes Keppler (1571-1630) seorang ilmuwan beriman bermotivasi dalam penelitiannya dengan kalimat :”Demi Tuhan aku berjanji akan menuliskan tentang yang luar biasa akan kearifan Tuhan.” Jadi para ilmuwan yang beriman meyakini akan hal yang ditemukannya itu berasal dari kearifan Tuhan.
Kebenaran iman dan kebenaran ilmiah saling melengkapi.
Kebenaran iman akan menolong kepada kita kepada suatu kehidupan yang berdimensi kekekalan berkat atas kasih dan penyertaan Tuhan, tetapi kita selama hidup di dunia harus memahami dan taat atas kebenaran ilmiah terlebih kebenaran ilmiah yang berdasar atas kearifan Tuhan.
Gereja / orang beriman sebagai Tubuh Kristus harus menyatakan kebenaran.
Gereja / orang beriman harus menyatakan kebenaran bukan hanya pada ibadah formal saja, tetapi dalam kehidupan nyata, kita menjadi pelaku dari kebenran iman dan kebenaran ilmiah.
Kebenaran adalah elemen utama dan pertama dari Kerajaan Allah.
Karena kebenaran merupakan elemen utama dan pertama maka seluruh visi dan misi gereja / orang beriman harus mengacu pada kebenaran dalam persekutuan, pelayanan,dan kesaksian kita.
Kebenaran akan mengantar kita mencapai kepada kehidupan damai sejahtera.
Damai sejahtera adalah elemen kedua dari Kerajaan Allah hanya dapat dicapai melalui kebenaran. Damai sejahtera yang berarti terpeliharanya tubuh, jiwa dan roh secara sempurna secara kekal adalah sasaran yang perlu dicapai dari aktivitas gereja / orang beriman.
Sukacita oleh Roh Kudus adalah elemen ketiga ( terakhir ) dari Kerajaan Allah.
Karena kasih Allah maka alam semesta diciptakan dan untuk manusia dengan segala karya penyelamatanNya, Tuhan menyatakan kebenaran yang menuntun kita menuju damai sejahtera agar menghasilkan output terakhir suatu sukacita oleh Roh Kudus. Yang berarti membawa kemuliaanNya, atas pertobatan kita dan senantiasa mohon pengampunan serta menjaga kekudusan karena Allah itu Maha Kudus.
Melanjutkan tugas pokok kenabian Yesus.
Dengan kebenaran, gereja dan orang beriman diberi amanat untuk melanjutkan tugas pokok kenabian Yesus dengan mencari kebenaran secara kritis terus menerus, mengajak orang untuk bertobat sehingga terjadi pertobatan kelompok dan jemaat, dan terciptalah habitat baru yang merealisasikan Kerajaan Allah di seluruh muka bumi terutama di gereja kita.
Kebenaran mengantar kita menuju Kerajaan Allah secara nyata.
Dalam menjalani hidup, kita tidak akan meninggalkan peran Allah dan mengikut cara Tuhan Yesus dalam menghadapi tekanan sosial pada zamanNya. Yesus berani menentang arus, meluruskan aturan, dan menyampaikan Kabar Baik. “Aku diutus untuk menyampaikan kabar baik kepada orang miskin, dan Ia mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan orang tawanan, dan penglihatan bagi orang buta, untuk membebaskan orang-orang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Luk 4 18, 19).
Kebenaran memberi pesan : “Mengikut Yesus adalah perintah.”
Kebenaran Sejati adalah Tuhan Yesus Kristus sedangkan kebenaran ilmiah adalah kearifan Tuhan sehingga mengikut Yesus adalah perintah dan bukan pilihan. Jadi mari kita semua berdoa : “Ya Yesus, kami mencintaiMu dan mau mengikutiMu, tanpa syarat.” Allah memberkati kita semua. Amin, Haleluya!
“Demi Tuhan aku berjanji akan menuliskan tentang contoh yang luar biasa dari kearifan Tuhan “. (Johannes Kepler 1571 – 1630)
Kebenaran iman dan kebenaran ilmiah bagaikan dua sisi mata uang yang saling dibutuhkan untuk pedoman arah kehidupan kita, sehingga perlu kita bahas dalam tulisan ini. Kebenaran iman akan diawali dengan preposisi, arti iman, kebenaran, kebenaran sejati. Sedangkan kebenaran ilmiah diawali dari arti kebenaran, beberapa macam teori kebenaran, sifat dasar kebenaran ilmiah,kebenaran ilmiah yang dianggap bertentangan dengan nilai moral religius. Kebenaran adalah elemen dasar yang utama dan pertama dalam Kerajaan Allah, kebenaran untuk menuju damai sejahtera, kebenaran untuk menuju sukacita Roh Kudus. Gereja dan orang beriman harus menyatakan kebenaran. Melanjutkan tugas pokok kenabian Yesus, kebenaran mengantar kita menuju Kerajaan Allah secara nyata, kebenaran memberi pesan : “Mengikut Yesus adalah perintah.” Dalam tulisan ini banyak kelemahan dan kekurangan sehingga diperlukan kritik yang membangun demi kelengkapan dan kesempurnaan materi judul tersebut diatas.
KEBENARAN IMAN.
Preposisi.
Preposisi dapat berarti praasumsi atau pradugaan/ praparadigma dari kerangka dasar pola pikir yang mengawali dari suatu pokok pembahasan. Dalam matematika kita mengenal istilah axioma yang berarti rumus pertama yang kebenarannya telah diakui dan tanpa dibuktikan dan sebagai dasar untuk mengembangkan rumus-rumus selanjutnya.
Arti dari iman.
“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tdak kita liahat.” (Ibrani 11 : 1).
Kebenaran iman.
Kebenaran iman adalah suatu kebenaran yang kita yakini dengan tanpa bukti yang dapat ditangkap dengan pancaindera, tetapi akan disaksikan realitasnya dalam perjalanan hidup selanjutnya.
Kebenaran sejati.
Banyak orang, bahkan nabi-nabi telah menyampaikan tentang kebenaran tetapi tidak ada yang menyatakan seperti yang Tuhan Yesus katakan : “Akulah kebenaran.”(Yoh 14 : 6). Kata kebenaran dalam ayat ini dalam bahasa Yunani adalah aletheia adalah kata yang sangat spesifik yang berarti bukan kebenaran biasa tetapi kebenaran yang hakiki, benarnya yang benar. Dalam ilmu filsafat aletheia bermakna hal yang sungguh-sungguh dalam arti yang mutlak.
Kebenaran sejati adalah Yesus Kristus.
Pontius Pilatus pernah bertanya : “Apakah kebenaran itu?” Kita semua apakah juga pernah bertanya tentang arti suatu kebenaran ? Memang arti kebenaran adalah sangat luas sekali, sehingga perlu kita bahas. Tetapi kebenaran yang sejati adalah kebenaran akan Firman Allah yang telah menyatakan diri dalam diri Tuhan Yesus dengan segala karya penyelamtanNya. Dan akan datang kembali untuk menjadi Hakim Agung.
KEBENARAN ILMIAH.
Arti kebenaran ilmiah.
Kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang mempunyai sifat rasional-logis,sifat isi empiris dan dapat diterapkan (pragmatis).
Empat teori kebenaran ilmiah.
Empat macam teori kebenaran ilmiah yaitu : 1 Teori kebenaran sebagai persesuain. 2 Teori kebenaran sebagai keteguhan. 3 Teori kebenaran sebagai yang bisa diterapkan (pragmatis) dan 4 Teori kebenaran performatif (menciptakan realitas).
Teori kebenaran sebagai persesuaian.
Menuirut teori ini kebenaran adalah soal kesesuaian antara apa yang diketahui dengan kenyataan yang sebenarnya. Benar dan salah adalah sesuai dan tidaknya apa yang dikatakan dengan kenyataan sebagaimana adanya.
Teori kebenaran sebagai keteguhan.
Pernyataan dikatakan benar kalau cocok dengan system pemikiran yang ada.
Teori kebenaran yang bisa diterapkan (pragmatis).
Kebenaran berarti sama dengan kegunaan, pernyataan benar adalah yang paling mampu melakukan dengan hasil dan tepat guna. Pernyataan diakui kebenarannya kalau dapat menciptakan realitas, dan bukan hanya mengungkapkannnya.
Kebenaran ilmiah yang dianggap bertentangan dengan nilai moral religius.
Penelitian ilmiah yang sudah terbukti kebenarannya ternyata dianggap bertentangan dengan nilai moral religius, sepertti cloning, maka perlu dipertimbangkan suatu kriteria untuk menerima atau menolaknya, yaitu dari sisi kegunaannya.Kalau ternyata merendahkan martabat manusia dan tidak membawa kemuliaan Tuhan, maka perlu ditolak, tetapi kebenaran ilmiah harus tetap diberikan otonom, sehingga apakah teknologi cloning itu perlu diteruskan atau dikembangkan perlu diserahkan kepada kesadaran moral dari ilmuwannya.
KEBENARAN IMAN DAN KEBENARAN ILMIAH.
Kebenaran iman bersifat absolut.
Kebenaran iman yang bersumber dari Firman Allah yang telah nyata dalam Yesus Kristus dan karya penyelamatanNya, dan akan datang kembali sebagai Hakim Agung adalah merupakan suatu kebenaran absolut bagi yang mengamininya. Tetapi secara kemanusiaan kita harus tetap toleran terhadap keyakinan yang lain agar damai sejahtera menjadi nyata di muka bumi ini.
Kebenaran ilmiah bersifat relative.
Meskipun kebenaran ilmiah telah dikaji secara mendalam, bahkan bisa dikatakan sebagai kebenaran universal tetapi para ilmuwan masih menyadari bahwa kebenaran ilmiah masih relative. Sebagai contoh teori fisika klasik dari Isaac Newton (1642-1727), adalah memiliki kebenaran universal dalam konteks benda yang memiliki kecepatan rendah.Tetapi bagi benda yang memiliki kecapatan tinggi (mendekati kecepatan cahaya) akan berlaku teori relativitas dari Albert Einstein (1875-1955). Johannes Keppler (1571-1630) seorang ilmuwan beriman bermotivasi dalam penelitiannya dengan kalimat :”Demi Tuhan aku berjanji akan menuliskan tentang yang luar biasa akan kearifan Tuhan.” Jadi para ilmuwan yang beriman meyakini akan hal yang ditemukannya itu berasal dari kearifan Tuhan.
Kebenaran iman dan kebenaran ilmiah saling melengkapi.
Kebenaran iman akan menolong kepada kita kepada suatu kehidupan yang berdimensi kekekalan berkat atas kasih dan penyertaan Tuhan, tetapi kita selama hidup di dunia harus memahami dan taat atas kebenaran ilmiah terlebih kebenaran ilmiah yang berdasar atas kearifan Tuhan.
Gereja / orang beriman sebagai Tubuh Kristus harus menyatakan kebenaran.
Gereja / orang beriman harus menyatakan kebenaran bukan hanya pada ibadah formal saja, tetapi dalam kehidupan nyata, kita menjadi pelaku dari kebenran iman dan kebenaran ilmiah.
Kebenaran adalah elemen utama dan pertama dari Kerajaan Allah.
Karena kebenaran merupakan elemen utama dan pertama maka seluruh visi dan misi gereja / orang beriman harus mengacu pada kebenaran dalam persekutuan, pelayanan,dan kesaksian kita.
Kebenaran akan mengantar kita mencapai kepada kehidupan damai sejahtera.
Damai sejahtera adalah elemen kedua dari Kerajaan Allah hanya dapat dicapai melalui kebenaran. Damai sejahtera yang berarti terpeliharanya tubuh, jiwa dan roh secara sempurna secara kekal adalah sasaran yang perlu dicapai dari aktivitas gereja / orang beriman.
Sukacita oleh Roh Kudus adalah elemen ketiga ( terakhir ) dari Kerajaan Allah.
Karena kasih Allah maka alam semesta diciptakan dan untuk manusia dengan segala karya penyelamatanNya, Tuhan menyatakan kebenaran yang menuntun kita menuju damai sejahtera agar menghasilkan output terakhir suatu sukacita oleh Roh Kudus. Yang berarti membawa kemuliaanNya, atas pertobatan kita dan senantiasa mohon pengampunan serta menjaga kekudusan karena Allah itu Maha Kudus.
Melanjutkan tugas pokok kenabian Yesus.
Dengan kebenaran, gereja dan orang beriman diberi amanat untuk melanjutkan tugas pokok kenabian Yesus dengan mencari kebenaran secara kritis terus menerus, mengajak orang untuk bertobat sehingga terjadi pertobatan kelompok dan jemaat, dan terciptalah habitat baru yang merealisasikan Kerajaan Allah di seluruh muka bumi terutama di gereja kita.
Kebenaran mengantar kita menuju Kerajaan Allah secara nyata.
Dalam menjalani hidup, kita tidak akan meninggalkan peran Allah dan mengikut cara Tuhan Yesus dalam menghadapi tekanan sosial pada zamanNya. Yesus berani menentang arus, meluruskan aturan, dan menyampaikan Kabar Baik. “Aku diutus untuk menyampaikan kabar baik kepada orang miskin, dan Ia mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan orang tawanan, dan penglihatan bagi orang buta, untuk membebaskan orang-orang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Luk 4 18, 19).
Kebenaran memberi pesan : “Mengikut Yesus adalah perintah.”
Kebenaran Sejati adalah Tuhan Yesus Kristus sedangkan kebenaran ilmiah adalah kearifan Tuhan sehingga mengikut Yesus adalah perintah dan bukan pilihan. Jadi mari kita semua berdoa : “Ya Yesus, kami mencintaiMu dan mau mengikutiMu, tanpa syarat.” Allah memberkati kita semua. Amin, Haleluya!
Adiyuswa itu Bikin Merinding
Bus-bus besar itu satu-persatu meninggalkan halaman gereja GKJ Nehemia ketika hari masih pagi di Jumat, 25 Mei’12 dengan mengangkut para sepuh dari GKJ Nehemia, GKJ Kanaan dan GKJ Pamulang. Tujuan utama adalah kota Purworejo di jalur selatan Jawa Tengah tempat berlangsungnya Perayaan Paskah Adiyuswa Tahun 2012 Sinode GKJ. Di Rest Area jalan tol Jakarta-Cikampek kemudian bus-bus yang mengangkut rombongan para sepuh dari GKJ Ebenhaezer, GKJ Depok, GKJ Yeremia, GKJ Joglo, GKJ Grogol dan GKJ Tangerang berkumpul menjadi satu. Kepada para pengemudi bus diberi kesempatan untuk memilih jalur yang akan dilalui. Karena mendapat berita bahwa jalur Nagrek pada malam sebelumnya terjadi kemacetan luar biasa maka diambil jalur Subang, Brebes, Bumiayu. Wajah-wajah dari sekitar 300 orang yang sebagian besar terlihat sudah mulai berkerut tapi menampakkan cahaya sumringah itu menghiasi keberadaan para sepuh yang penuh sukacita berkumpul dan bersama sepenanggungan dalam perjalanan menempuh rute yang cukup panjang. Hal ini bisa saja terjadi sesuai dengan yang tertulis disampul buku Panduan Perjalanan Wisata berbagi Kasih dengan tema : “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan : Bersukacitalah.” ( Flp. 4 : 4 )
Setelah beberapa kali berhenti di SPBU alias pompa bensin untuk memberi kesempatan para penumpang mengurangi beban maka lewat senja sampailah rombongan di Hotel Candisari Karanganyar-Kebumen untuk bermalam. Pak Singgih cs yang “tinanggenah” ngurusi hampir 50 kamar ini memang harus berlapang dada ketika para peserta dengan berbagai karakter plus sudah sepuh pula ada-ada saja yang diminta. Dan ini bukan kali pertama berurusan dengan hal-hal yang demikian karena memang sudah beberapa kali menjadi “tour leader” nya para adiyuswa. Malam harinya diadakan renungan yang dipandu oleh Pak Soro Hadmodjo dari GKJ Nehemia didahului makan malam dan acara dilanjutkan dengan temu kangen. Rasa capek terobati ketika bertemu dengan teman-teman dari gereja lain yang biasanya ketemunya cuma kalau ada acara serupa baik di tingkat Klasis maupun Sinode. Lelucon para sepuh ternyata tidak kalah seru dibanding dengan lelucon para kawula muda, bahkan bisa lebih seru. Walhasil tengah malam barulah mereka semua bisa tertidur pulas
Sebenarnya acara Paskah Adiyuswa ini sudah dimulai sehari sebelumnya yaitu hari Jum’at, 25 Mei’12 pada pukul 14.00 dengan acara Festival Budaya Jawa GKJ Klasis Purworejo. Namun pada waktu yang sama rombongan Adiyuswa dari Jakarta masih di tengah perjalanan. Keesokan harinya pagi-pagi benar semua peserta sudah bangun, ada yang olah raga pagi dan ada yang langsung mandi karena sesuai jadwal yang tertera pada buku panduan pada pukul 06.00 – 07.00 waktunya makan pagi. Makan pagi didahului do’a oleh pak Andreas dari GKJ Nehemia. Pukul 07.15 seluruh rombongan kecuali GKJ Depok yang nginep di Jogja berangkat menuju lokasi acara di Lapangan Tembak Purworejo. Sejam kemudian sampailah semua di lokasi dan bergabung dengan para sepuh dari seluruh Sinode GKJ yang terdiri dari 307 GKJ tersebar di 6 propinsi di Jawa. Diluar dugaan ternyata Lapangan Tembak yang cukup luas dan dikelilingi kebun tebu itu sudah dipenuhi para sepuh yang jumlahnya sekitar 12.000 orang termasuk panitia. Acara yang dijadwal pukul 08.30 itu dimulai begitu Wakil Gubernur Jawa Tengah beserta rombongan memasuki arena dan segera Lagu Kebangsaan “Indonesia Raya” pun berkumandang menggetarkan dada para sepuh dilanjutkan dengan do’a pembukaan oleh Vic. Sri Yuliyati, SSi.
Pdt. Lukas Eko Sukoco, Mth gembala jemaat GKJ Purworejo yang bertindak selaku Ketua Panitia Paskah menyampaikan laporannya bahwa atas kerjasama yang baik dari semua pihak termasuk Pemda Kabupaten Purworejo maka perayaan Paskah dengan tema : “Dinuta Dadya Juru Panglipur” (bdk dg Yoh. 20 : 1-20) dapat terselenggara dengan baik. Sambutan diteruskan oleh Ketua Paguyuban Adiyuswa Sinode GKJ Pdt. Em. Eka Lasa Purwibawa, S PAK menggunakan bahasa jawa dan diteruskan sambutan Bapelsin XXV GKJ oleh Pdt. Ir. Yoel M Indrasmoro, STh yang pada intinya menyatakan bahwa para Adiyuswa telah merasakan kisah kasih bersama Tuhan dalam menempuh pahit dan manisnya kehidupan. Kisah kasih itu bisa dibagikan kepada anak, cucu bahkan cicit. Setelah seluruh peserta selesai menyanyikan mars Adiyuswa maka tiba giliran sambutan dari Gubernur Jawa Tengah yang diwakili oleh Wakil Gubernur Ibu Rustriningsih yang asli Gombong. Dalam kata sambutannya yang cukup menarik ialah ketika beliau menyatakan: “Kalau melihat kumpulan pemuda sebanyak ini saya sudah biasa. Tetapi begitu melihat 12.000 adiyuswa berkumpul di lapangan terbuka ini rasanya saya jadi merinding!”
Itu bisa dimaklumi karena memang baru pertama kali ini beliau melihat para sepuh datang dari seluruh penjuru pulau Jawa, hadir dan menyatu dalam suatu perayaan keagamaan dalam serikat persaudaraan yang rukun dan penuh kasih. Acara berlanjut dengan beberapa Paduan Suara dan inti acara yaitu Oratorium Paskah dengan judul “Dinuta Dadya Juru Panglipur.” Acara diawali oleh Pdt. Lintang Anggraeni, SSi dari GKJ Purworejo dengan narasi pembukaan diteruskan Sendratari 1 “Kang Piniji” dipimpin Koreografer Riyanto Purnomo dengan narasi : “Sendratari punika pralampita pawestri ingkang dipun anggep ringkih, ananging anggadhahi kakuwatan iman linangkung ngadhepi sawernining pacoben, pepalang lan panindhes temah ngrembaka.” Adapun terjemahannya kira-kira demikian : “ Sendratari ini melambangkan perempuan yang dianggap lemah, namun mempunyai kekuatan iman yang tak terhingga dalam menghadapi segala pencobaan, hambatan dan penindasan yang semakin berkembang.”
Kalau disimak dengan cermat narasi di atas memang sangat mengharukan namun sekaligus juga merupakan kebanggaan akan martabatnya sebagai perempuan. Pdt. Lukas Eko Sukoco, MTh yang memang pandai mendalang meneruskannya dengan suluk “Sih Rahmat.” Narasi yang lebih mengharukan disampaikan oleh Pdt. Petrus Mardiyanto, STh dari GKJ Pituruh dan GKJ Karangjoso (gerejanya Kiai Sadrach) dengan gaya “nyentrik.” Narasi ini disampaikan dalam bahasa Jawa “tinggi” seperti bahasa “pedhalangan” yang rasanya agak sulit diterjemahkan.
Namun daripada penasaran lebih baik kami tulis apa adanya : “Hing ngarseng Sang Hyang Gesang, iya Hyang Masuci tyas kang kinunci wus ngeblak. Tan ana kang bisa kasingidake. Kang ing kala winengku ing jagading pepeteng wus kababar pepadhang kang nelahi. Kaya tumekaning sang bagaskara ing wayah bun esuk sumrambah hing poncod-poncoding jagad. Samangkya kahananing jalma ing ngarsaning Sang Hyang Gesang, iya Hyang Masuci. Ewa rinaose ing telenging tyas mula dhawah trenyuh. Jalaran tan ana karseng Sang Hyang Gesang, iya Hyang Masuci kang tumanduk sampurna. Dhuh Gusti, Gustining Sarwa Dumadi kawula nyuwun lubering sih pangapura.”
Kalau boleh kami terjemahkan secara sederhana kira-kira demikian : “Di hadapan Tuhan yang Hidup, juga yang Mahasuci hati yang tertutup sudah terbuka. Tidak ada yang bisa disembunyikan lagi. Yang pada waktu itu berada dalam lembah kegelapan sudah terbit terang yang menyinari. Seperti terbitnya matahari diwaktu embun pagi merata keseluruh sudut-sudut bumi. Sekarang demikianlah keadaan manusia di hadapan Tuhan yang Hidup dan Mahasuci. Rasa kurang senang pada mulanya, menjadi terharu. Karena tidak ada kehendak Tuhan yang Mahasuci terlaksana dengan sempurna. Ya Tuhan, Allah yang Maha pencipta, kami mohon pengampunanMu.”
Sendratari 2 “Dinuta dadya Juru Panglipur” didahului do’a oleh Pdt. Ibnu Prabowo, STh dari GKJ Tlepok kemudian selesai sendratari diakhiri dengan refleksi oleh Pdt. Em. Djoko Sutopo, PhD. Sementara itu do’a syafaat disampaikan oleh Pdt. Em. Drs. Siman Widiatmanto, Mth. Pengumpulan persembahan dipimpin Pdt. Yuliana Saragih, SSi dari GKJ Kutoarjo dan do’a syukur serta penutup oleh Pdt. Sudibyo, SSi juga dari GKJ Kutoarjo. Seluruh acara ini disampaikan dalam bahasa Jawa demikian juga lagu-lagu yang berupa gendhing diiringi karawitan/gamelan karena acara ini adalah acaranya Adiyuswa yang memang sudah pasti memahami bahasa Jawa dengan baik. Ketika acara Perayaan Paskah ini selesai sebagian warga mengunjungi gerejanya Kiai Sadrach dan ziarah ke makamnya di Karangjoso. Konon para peziarah kali ini mencapai sekitar 2.000 orang, jumlah terbesar yang berkunjung sampai saat ini.
Malam harinya di aula Hotel Candisari disampaikan renungan oleh Pdt. Djoko Sulistyo, STh, MMin dari GKJ Eben Haezer dan dengan gayanya yang khas menghimbau kepada peserta untuk tidak pelit, tapi mau berbagi kasih dengan mengumpulkan persembahan yang akan disampaikan ke Paroki di Purworejo. Acara dilanjutkan para “penyanyi tua” yang unjuk kebolehan dalam melantunkan suaranya diiringi organ tunggal. Minggu pagi hari terakhir di Karanganyar dilakukan Kebaktian Minggu dipimpin Pdt. Edyson SWN, STh, MMin dari GKJ Yeremia. Rombongan para Adiyuswa ini akhirnya meninggalkan Hotel Candisari dan kembali ke Jakarta serta sempat pula mampir di International Batik Center (IBC) di Pekalongan. Akhirnya rombongan adiyuswa ini sampai juga dengan selamat menjelang pagi di halaman GKJ Nehemia. Bravo Adiyuswa!
Setelah beberapa kali berhenti di SPBU alias pompa bensin untuk memberi kesempatan para penumpang mengurangi beban maka lewat senja sampailah rombongan di Hotel Candisari Karanganyar-Kebumen untuk bermalam. Pak Singgih cs yang “tinanggenah” ngurusi hampir 50 kamar ini memang harus berlapang dada ketika para peserta dengan berbagai karakter plus sudah sepuh pula ada-ada saja yang diminta. Dan ini bukan kali pertama berurusan dengan hal-hal yang demikian karena memang sudah beberapa kali menjadi “tour leader” nya para adiyuswa. Malam harinya diadakan renungan yang dipandu oleh Pak Soro Hadmodjo dari GKJ Nehemia didahului makan malam dan acara dilanjutkan dengan temu kangen. Rasa capek terobati ketika bertemu dengan teman-teman dari gereja lain yang biasanya ketemunya cuma kalau ada acara serupa baik di tingkat Klasis maupun Sinode. Lelucon para sepuh ternyata tidak kalah seru dibanding dengan lelucon para kawula muda, bahkan bisa lebih seru. Walhasil tengah malam barulah mereka semua bisa tertidur pulas
Sebenarnya acara Paskah Adiyuswa ini sudah dimulai sehari sebelumnya yaitu hari Jum’at, 25 Mei’12 pada pukul 14.00 dengan acara Festival Budaya Jawa GKJ Klasis Purworejo. Namun pada waktu yang sama rombongan Adiyuswa dari Jakarta masih di tengah perjalanan. Keesokan harinya pagi-pagi benar semua peserta sudah bangun, ada yang olah raga pagi dan ada yang langsung mandi karena sesuai jadwal yang tertera pada buku panduan pada pukul 06.00 – 07.00 waktunya makan pagi. Makan pagi didahului do’a oleh pak Andreas dari GKJ Nehemia. Pukul 07.15 seluruh rombongan kecuali GKJ Depok yang nginep di Jogja berangkat menuju lokasi acara di Lapangan Tembak Purworejo. Sejam kemudian sampailah semua di lokasi dan bergabung dengan para sepuh dari seluruh Sinode GKJ yang terdiri dari 307 GKJ tersebar di 6 propinsi di Jawa. Diluar dugaan ternyata Lapangan Tembak yang cukup luas dan dikelilingi kebun tebu itu sudah dipenuhi para sepuh yang jumlahnya sekitar 12.000 orang termasuk panitia. Acara yang dijadwal pukul 08.30 itu dimulai begitu Wakil Gubernur Jawa Tengah beserta rombongan memasuki arena dan segera Lagu Kebangsaan “Indonesia Raya” pun berkumandang menggetarkan dada para sepuh dilanjutkan dengan do’a pembukaan oleh Vic. Sri Yuliyati, SSi.
Pdt. Lukas Eko Sukoco, Mth gembala jemaat GKJ Purworejo yang bertindak selaku Ketua Panitia Paskah menyampaikan laporannya bahwa atas kerjasama yang baik dari semua pihak termasuk Pemda Kabupaten Purworejo maka perayaan Paskah dengan tema : “Dinuta Dadya Juru Panglipur” (bdk dg Yoh. 20 : 1-20) dapat terselenggara dengan baik. Sambutan diteruskan oleh Ketua Paguyuban Adiyuswa Sinode GKJ Pdt. Em. Eka Lasa Purwibawa, S PAK menggunakan bahasa jawa dan diteruskan sambutan Bapelsin XXV GKJ oleh Pdt. Ir. Yoel M Indrasmoro, STh yang pada intinya menyatakan bahwa para Adiyuswa telah merasakan kisah kasih bersama Tuhan dalam menempuh pahit dan manisnya kehidupan. Kisah kasih itu bisa dibagikan kepada anak, cucu bahkan cicit. Setelah seluruh peserta selesai menyanyikan mars Adiyuswa maka tiba giliran sambutan dari Gubernur Jawa Tengah yang diwakili oleh Wakil Gubernur Ibu Rustriningsih yang asli Gombong. Dalam kata sambutannya yang cukup menarik ialah ketika beliau menyatakan: “Kalau melihat kumpulan pemuda sebanyak ini saya sudah biasa. Tetapi begitu melihat 12.000 adiyuswa berkumpul di lapangan terbuka ini rasanya saya jadi merinding!”
Itu bisa dimaklumi karena memang baru pertama kali ini beliau melihat para sepuh datang dari seluruh penjuru pulau Jawa, hadir dan menyatu dalam suatu perayaan keagamaan dalam serikat persaudaraan yang rukun dan penuh kasih. Acara berlanjut dengan beberapa Paduan Suara dan inti acara yaitu Oratorium Paskah dengan judul “Dinuta Dadya Juru Panglipur.” Acara diawali oleh Pdt. Lintang Anggraeni, SSi dari GKJ Purworejo dengan narasi pembukaan diteruskan Sendratari 1 “Kang Piniji” dipimpin Koreografer Riyanto Purnomo dengan narasi : “Sendratari punika pralampita pawestri ingkang dipun anggep ringkih, ananging anggadhahi kakuwatan iman linangkung ngadhepi sawernining pacoben, pepalang lan panindhes temah ngrembaka.” Adapun terjemahannya kira-kira demikian : “ Sendratari ini melambangkan perempuan yang dianggap lemah, namun mempunyai kekuatan iman yang tak terhingga dalam menghadapi segala pencobaan, hambatan dan penindasan yang semakin berkembang.”
Kalau disimak dengan cermat narasi di atas memang sangat mengharukan namun sekaligus juga merupakan kebanggaan akan martabatnya sebagai perempuan. Pdt. Lukas Eko Sukoco, MTh yang memang pandai mendalang meneruskannya dengan suluk “Sih Rahmat.” Narasi yang lebih mengharukan disampaikan oleh Pdt. Petrus Mardiyanto, STh dari GKJ Pituruh dan GKJ Karangjoso (gerejanya Kiai Sadrach) dengan gaya “nyentrik.” Narasi ini disampaikan dalam bahasa Jawa “tinggi” seperti bahasa “pedhalangan” yang rasanya agak sulit diterjemahkan.
Namun daripada penasaran lebih baik kami tulis apa adanya : “Hing ngarseng Sang Hyang Gesang, iya Hyang Masuci tyas kang kinunci wus ngeblak. Tan ana kang bisa kasingidake. Kang ing kala winengku ing jagading pepeteng wus kababar pepadhang kang nelahi. Kaya tumekaning sang bagaskara ing wayah bun esuk sumrambah hing poncod-poncoding jagad. Samangkya kahananing jalma ing ngarsaning Sang Hyang Gesang, iya Hyang Masuci. Ewa rinaose ing telenging tyas mula dhawah trenyuh. Jalaran tan ana karseng Sang Hyang Gesang, iya Hyang Masuci kang tumanduk sampurna. Dhuh Gusti, Gustining Sarwa Dumadi kawula nyuwun lubering sih pangapura.”
Kalau boleh kami terjemahkan secara sederhana kira-kira demikian : “Di hadapan Tuhan yang Hidup, juga yang Mahasuci hati yang tertutup sudah terbuka. Tidak ada yang bisa disembunyikan lagi. Yang pada waktu itu berada dalam lembah kegelapan sudah terbit terang yang menyinari. Seperti terbitnya matahari diwaktu embun pagi merata keseluruh sudut-sudut bumi. Sekarang demikianlah keadaan manusia di hadapan Tuhan yang Hidup dan Mahasuci. Rasa kurang senang pada mulanya, menjadi terharu. Karena tidak ada kehendak Tuhan yang Mahasuci terlaksana dengan sempurna. Ya Tuhan, Allah yang Maha pencipta, kami mohon pengampunanMu.”
Sendratari 2 “Dinuta dadya Juru Panglipur” didahului do’a oleh Pdt. Ibnu Prabowo, STh dari GKJ Tlepok kemudian selesai sendratari diakhiri dengan refleksi oleh Pdt. Em. Djoko Sutopo, PhD. Sementara itu do’a syafaat disampaikan oleh Pdt. Em. Drs. Siman Widiatmanto, Mth. Pengumpulan persembahan dipimpin Pdt. Yuliana Saragih, SSi dari GKJ Kutoarjo dan do’a syukur serta penutup oleh Pdt. Sudibyo, SSi juga dari GKJ Kutoarjo. Seluruh acara ini disampaikan dalam bahasa Jawa demikian juga lagu-lagu yang berupa gendhing diiringi karawitan/gamelan karena acara ini adalah acaranya Adiyuswa yang memang sudah pasti memahami bahasa Jawa dengan baik. Ketika acara Perayaan Paskah ini selesai sebagian warga mengunjungi gerejanya Kiai Sadrach dan ziarah ke makamnya di Karangjoso. Konon para peziarah kali ini mencapai sekitar 2.000 orang, jumlah terbesar yang berkunjung sampai saat ini.
Malam harinya di aula Hotel Candisari disampaikan renungan oleh Pdt. Djoko Sulistyo, STh, MMin dari GKJ Eben Haezer dan dengan gayanya yang khas menghimbau kepada peserta untuk tidak pelit, tapi mau berbagi kasih dengan mengumpulkan persembahan yang akan disampaikan ke Paroki di Purworejo. Acara dilanjutkan para “penyanyi tua” yang unjuk kebolehan dalam melantunkan suaranya diiringi organ tunggal. Minggu pagi hari terakhir di Karanganyar dilakukan Kebaktian Minggu dipimpin Pdt. Edyson SWN, STh, MMin dari GKJ Yeremia. Rombongan para Adiyuswa ini akhirnya meninggalkan Hotel Candisari dan kembali ke Jakarta serta sempat pula mampir di International Batik Center (IBC) di Pekalongan. Akhirnya rombongan adiyuswa ini sampai juga dengan selamat menjelang pagi di halaman GKJ Nehemia. Bravo Adiyuswa!
Bakti Sosial di Sumpiuh Banyumas
Atas undangan dari Pengurus Bakor UMKRIS Pertamina - Cilacap tertanggal 20 Maret’12, ibu-ibu PS Nafiri Patra dengan didasari rasa cinta kasih serta kepedulian terhadap sesama mengadakan Bhakti Sosial di Sumpiuh-Banyumas. Acara yang berkaitan dengan peringatan Paskah ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 14 April’12 di desa Karanggedang didampingi Bp. Dwi Setio Pengurus Bakor UMKRIS Pertamina – Cilacap. Acara tersebut dalam bentuk pelayanan pengobatan cuma-cuma bagi warga yang tidak mampu di desa tersebut bekerjasama dengan Majelis GKJ Karanggedang dipimpin gembala jemaat Pdt. Taswan, STh. Seperti biasanya sebelum acara ini dimulai, didahului dengan Kebaktian singkat serta Do’a bersama di Gedung GKJ Karanggedang dipimpin oleh Pdt. Taswan dan dihadiri seluruh jemaat serta majelis setempat. Nats yang diambil dalam kotbah singkat tersebut dari Yohanes 14 : 12 – 14 tentang makna Firman Tuhan : “Barang siapa percaya kepadaKu ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan yang lebih besar daripada itu.” Memang secara manusia hal itu akan sulit dilakukan, namun dengan memohon pertolongan dan penyertaan Tuhan serta dilandasi rasa sukacita dan kasih kepada Tuhan dan sesama segalanya akan terlaksana dengan baik. Hal ini nampak pada kehadiran ibu-ibu PS Nafiri Patra yang tiada lain merupakan perpanjangan tangan Tuhan sendiri. Tuhan berfirman : “Apa yang kamu minta Aku akan memberikan.”
Acara pengobatan cuma-cuma ini dilaksanakan di Balai Desa Karanggedang bekerja sama dengan Puskesmas dan Perangkat Desa Karanggedang. Semua bekerjasama dengan baik, saling membantu mencerminkan suatu kerukunan yang baik. Ini semua tidak lain karena berkat karya Tuhan yang berlandaskan cinta kasih. Sebelum pemeriksaan awal seperti pengukuran tekanan darah dsb. oleh Dokter Anggoro beserta isterinya yang juga seorang dokter dibantu 4 orang paramedis dari Puskesmas setempat, seluruh pasien yang hadir terlebih dahulu dihibur dengan beberapa lagu oleh PS Nafiri Patra diiringi petikan gitar Pdt. Taswan yang memang gemar bermusik. Sekitar 75 warga yang hadir mendengarkan lantunan lagu-lagu tersebut dengan wajah ceria. Sebenarnya warga yang dilayani sekitar 160 orang dan rata-rata sudah berusia lanjut ditandai dengan beberapa orang yang berjalan memakai tongkat. Namun karena terbatasnya ruangan Balai Desa tersebut maka mereka datang secara bergiliran dan masing-masing sudah diberikan kupon 2 hari sebelumnya. Pak Andri sebagai Kepala Desa Karanggedang juga berkenan hadir mendampingi warganya dan menyaksikan acara tersebut secar langsung.
Pada saat yang sama PS Nafiri Patra memberikan tali kasih berupa uang tunai sebesar Rp 8.750.000,- dan langsung diterima oleh Bp. Yasfat mewakili seluruh tim penyelenggara. Acara diakhiri sambutan Pdt. Taswan yang pada intinya menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada ibu-ibu PS Nafiri Patra yang dengan penuh kasih dan tulus telah memberikan bantuan dan perhatian khusus kepada warga yang memang sangat membutuhkannya. Atas nama PS Nafiri Patra kami juga mengucapkan terima kasih atas perhatian dan bantuan yang disertai cinta kasih dari seluruh warga baik dokter, paramedis maupun perangkat desa setempat sehingga acara ini dapat terselenggara dengan baik. Tuhan memberkati.
Acara pengobatan cuma-cuma ini dilaksanakan di Balai Desa Karanggedang bekerja sama dengan Puskesmas dan Perangkat Desa Karanggedang. Semua bekerjasama dengan baik, saling membantu mencerminkan suatu kerukunan yang baik. Ini semua tidak lain karena berkat karya Tuhan yang berlandaskan cinta kasih. Sebelum pemeriksaan awal seperti pengukuran tekanan darah dsb. oleh Dokter Anggoro beserta isterinya yang juga seorang dokter dibantu 4 orang paramedis dari Puskesmas setempat, seluruh pasien yang hadir terlebih dahulu dihibur dengan beberapa lagu oleh PS Nafiri Patra diiringi petikan gitar Pdt. Taswan yang memang gemar bermusik. Sekitar 75 warga yang hadir mendengarkan lantunan lagu-lagu tersebut dengan wajah ceria. Sebenarnya warga yang dilayani sekitar 160 orang dan rata-rata sudah berusia lanjut ditandai dengan beberapa orang yang berjalan memakai tongkat. Namun karena terbatasnya ruangan Balai Desa tersebut maka mereka datang secara bergiliran dan masing-masing sudah diberikan kupon 2 hari sebelumnya. Pak Andri sebagai Kepala Desa Karanggedang juga berkenan hadir mendampingi warganya dan menyaksikan acara tersebut secar langsung.
Pada saat yang sama PS Nafiri Patra memberikan tali kasih berupa uang tunai sebesar Rp 8.750.000,- dan langsung diterima oleh Bp. Yasfat mewakili seluruh tim penyelenggara. Acara diakhiri sambutan Pdt. Taswan yang pada intinya menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada ibu-ibu PS Nafiri Patra yang dengan penuh kasih dan tulus telah memberikan bantuan dan perhatian khusus kepada warga yang memang sangat membutuhkannya. Atas nama PS Nafiri Patra kami juga mengucapkan terima kasih atas perhatian dan bantuan yang disertai cinta kasih dari seluruh warga baik dokter, paramedis maupun perangkat desa setempat sehingga acara ini dapat terselenggara dengan baik. Tuhan memberkati.
Keluarga yang Menjadi Berkat
Kegiatan besar yang diagendakan oleh klasis Jakarta bagian barat untuk para keluarga muda yaitu Gathering Keluarga Muda seKlasis Jakarta Bagian Barat dengan tema “Keluarga yang Menjadi Berkat” akhirnya terlaksana juga pada tanggal 5 Mei 2012. Acara yang diikuti oleh sekitar 170 peserta dari 5 Gereja Kristen Jawa (GKJ Nehemia, GKJ Eben Haezer, GKJ Joglo, GKJ Pamulang dan GKJ Kanaan) bertempat di Bumi Bambini, Ciputat, berlangsung dengan sangat meriah dan menyenangkan. Forum Keluarga Muda GKJ Nehemia yang ditunjuk sebagai gereja penghimpun dan panitia benar-benar tidak menduga akan bisa sesukses dan semeriah itu acaranya. Acara tahunan keluarga muda seKlasis Jakarta Bagian Barat ini untuk pertama kalinya diadakan pada tahun 2012 ini dan GKJ Nehemia sebagai gereja yang cukup besar dipandang penting untuk menjadi panitia dalam acara ini, selain itu juga untuk meletakkan dasar atau standar untuk rujukan bagaimana acara-acara semacam ini berlangsung di tahun-tahun berikutnya. Sebuah tantangan yang cukup berat untuk Forum Keluarga Muda GKJ Nehemia yang jemaat tahu masih terus berjuang menegakkan eksistensi dan mencari anggota, harus dihadapkan pada suatu kegiatan yang melibatkan 9 gereja klasis. Suatu hal yang luar biasa bahkan mungkin bagi forum keluarga muda yang sudah lama berdiri seperti Eben Haezer misalnya, cuma hal ini menjadi cambuk semangat bagi forum keluarga muda GKJ Nehemia untuk mewujudkan hal tersebut, karena tidak hanya membawa nama organisasi, akan tetapi GKJ Nehemia secara keseluruhan.
Ternyata memang tidak mudah menyatukan 9 gereja dalam suatu kegiatan bersama, dari 9 gereja klasis hanya 5 gereja yang akhirnya berpartisipasi, ini hanya hambatan pertama dalam kepanitiaan, hambatan lainnya misalnya menyusun acara yang bisa menyatukan para keluarga dari latar belakang yang berbeda dan hambatan yang terbesar apalagi kalau bukan menyatukan visi dan keinginan dari masing-masing gereja, serta masalah dana pun juga menjadi tantangan tersendiri. Akan tetapi puji Tuhan pada hari H, semua bisa terlaksana dengan baik, peserta yang tadinya diperkirakan sekitar 150 orang menjadi sekitar 170 orang yang terdaftar belum termasuk baby sitter dan keluarga yang datang belakangan, dari GKJ Nehemia sendiri diikuti sekitar 50 peserta.
Kegiatan gathering klasis ini dibagi menjadi 2 kelompok yaitu untuk anak-anak dan dewasa, untuk kelompok dewasa dipimpin oleh Pdt. Rudy Ariyanto dari GKJ Eben Haezer dan diisi oleh pembicara Pdt. Lusindo Tobing dari GKJ Nehemia dan Pdt. Marya Sri Hartati dari GKJ Joglo dengan acara perkenalan dan refleksi singkat, untuk acara anak-anak sendiri dipimpin oleh Mbak Ellis Heru dengan bantuan pemusik dari Mas Roni Purwanto. Semua acara tersebut diadakan di luar ruangan dan khusus kelompok dewasa juga diiringi oleh keroncong pemuda dari GKJ Eben Haezer yang bermain apik dan luar biasa menambah suasana menjadi lebih meriah.
Setelah acara perkenalan, renungan singkat dan pembagian bingkisan kepada anak-anak, kemudian dilanjutkan dengan acara permainan team work dan outbond dengan berbagai macam kegiatan yang benar-benar membuat semua peserta baik yang anak maupun dewasa menjadi gembira dan tentu saja keringatan, mulai dari berjalan mengelilingi pohon kelapa (dari atas tentunya), mendayung rakit, sampai menangkap ikan dan yang paling ditunggu-tunggu yaitu flying fox, panitia mencatat ada beberapa peserta sampai 2 kali menggunakan fasilitas flying fox ini, dan luar biasanya lagi ditengah musim yang tidak menentu ini, Tuhan memberikan cuaca yang sangat bagus, tidak hujan dan tidak terlalu panas. Kegembiraan dan kemeriahan acara ini semakin lengkap dengan konsumsi yang seakan tidak putus-putusnya, mulai dari snack sampai makan siang, bahkan sampai akhir acara pun masih bisa dibawa oleh sebagian peserta.
Acara yang dimulai pada pukul 09.00 ditutup dengan acara santai dan bebas pada pukul 14.30, dan pada acara inilah sebagian peserta dapat mengakrabkan diri pada keluarga masing-masing dan bertemu dengan kawan-kawan lama dari gereja lain atau dengan makan bersama ala piknik kebun. Sebagian peserta lain menghabiskan waktunya untuk bercanda dengan anak-anaknya di kolam berenang. Dengan acara yang sedemikian fun dan meriah ini tidak heran banyak peserta yang menanyakan kapan lagi acara semacam ini diadakan lagi. Yang jelas dengan suksesnya acara ini panitia keluarga muda GKJ Nehemia merasa tidak sia-sia untuk waktu dan jerih payahnya menjadikan acara gathering keluarga muda klasis sebagai tolok ukur atau panduan bagi kegiatan-kegiatan keluarga muda yang lain, baik dalam skala gereja lokal atau pun klasis. Sungguh pertolongan dan berkat Tuhan indah pada waktunya. Sampai jumpa di gathering keluarga muda klasis tahun berikutnya!
Ternyata memang tidak mudah menyatukan 9 gereja dalam suatu kegiatan bersama, dari 9 gereja klasis hanya 5 gereja yang akhirnya berpartisipasi, ini hanya hambatan pertama dalam kepanitiaan, hambatan lainnya misalnya menyusun acara yang bisa menyatukan para keluarga dari latar belakang yang berbeda dan hambatan yang terbesar apalagi kalau bukan menyatukan visi dan keinginan dari masing-masing gereja, serta masalah dana pun juga menjadi tantangan tersendiri. Akan tetapi puji Tuhan pada hari H, semua bisa terlaksana dengan baik, peserta yang tadinya diperkirakan sekitar 150 orang menjadi sekitar 170 orang yang terdaftar belum termasuk baby sitter dan keluarga yang datang belakangan, dari GKJ Nehemia sendiri diikuti sekitar 50 peserta.
Kegiatan gathering klasis ini dibagi menjadi 2 kelompok yaitu untuk anak-anak dan dewasa, untuk kelompok dewasa dipimpin oleh Pdt. Rudy Ariyanto dari GKJ Eben Haezer dan diisi oleh pembicara Pdt. Lusindo Tobing dari GKJ Nehemia dan Pdt. Marya Sri Hartati dari GKJ Joglo dengan acara perkenalan dan refleksi singkat, untuk acara anak-anak sendiri dipimpin oleh Mbak Ellis Heru dengan bantuan pemusik dari Mas Roni Purwanto. Semua acara tersebut diadakan di luar ruangan dan khusus kelompok dewasa juga diiringi oleh keroncong pemuda dari GKJ Eben Haezer yang bermain apik dan luar biasa menambah suasana menjadi lebih meriah.
Setelah acara perkenalan, renungan singkat dan pembagian bingkisan kepada anak-anak, kemudian dilanjutkan dengan acara permainan team work dan outbond dengan berbagai macam kegiatan yang benar-benar membuat semua peserta baik yang anak maupun dewasa menjadi gembira dan tentu saja keringatan, mulai dari berjalan mengelilingi pohon kelapa (dari atas tentunya), mendayung rakit, sampai menangkap ikan dan yang paling ditunggu-tunggu yaitu flying fox, panitia mencatat ada beberapa peserta sampai 2 kali menggunakan fasilitas flying fox ini, dan luar biasanya lagi ditengah musim yang tidak menentu ini, Tuhan memberikan cuaca yang sangat bagus, tidak hujan dan tidak terlalu panas. Kegembiraan dan kemeriahan acara ini semakin lengkap dengan konsumsi yang seakan tidak putus-putusnya, mulai dari snack sampai makan siang, bahkan sampai akhir acara pun masih bisa dibawa oleh sebagian peserta.
Acara yang dimulai pada pukul 09.00 ditutup dengan acara santai dan bebas pada pukul 14.30, dan pada acara inilah sebagian peserta dapat mengakrabkan diri pada keluarga masing-masing dan bertemu dengan kawan-kawan lama dari gereja lain atau dengan makan bersama ala piknik kebun. Sebagian peserta lain menghabiskan waktunya untuk bercanda dengan anak-anaknya di kolam berenang. Dengan acara yang sedemikian fun dan meriah ini tidak heran banyak peserta yang menanyakan kapan lagi acara semacam ini diadakan lagi. Yang jelas dengan suksesnya acara ini panitia keluarga muda GKJ Nehemia merasa tidak sia-sia untuk waktu dan jerih payahnya menjadikan acara gathering keluarga muda klasis sebagai tolok ukur atau panduan bagi kegiatan-kegiatan keluarga muda yang lain, baik dalam skala gereja lokal atau pun klasis. Sungguh pertolongan dan berkat Tuhan indah pada waktunya. Sampai jumpa di gathering keluarga muda klasis tahun berikutnya!
Belajar Mengerti Tentang Kebenaran
Dalam kosa kata bahasa Indonesia, benar merupakan padanan dari kata betul. Tetapi bukan berarti kebenaran sama dengan kebetulan, karena artinya sangat jauh berbeda. Kata kebetulan artinya dalam bahasa Jawa adalah kebeneran, dan jelas berbeda dengan kebenaran. Dalam Alkitab Perjanjian Lama ada 83 ayat yang terdapat kata kebenaran didalamnya sedangkan dalam Perjanjian Baru ada 124 ayat sehingga jumlah keseluruhan ada 207 ayat yang didalamnya terdapat kata kebenaran tidak termasuk 4 ayat yang terdapat kata Roh kebenaran. Sementara itu hanya ada 2 kata kebetulan yang terdapat dalam I Sam. 6 : 9 dan Yer. 18 : 3 dan kebetulan pula dua-duanya ada di Kitab Perjanjian Lama.
Kalau kita perhatikan dalam Kitab Suci berbahasa Jawa, kebenaran mempunyai beberapa terjemahan seperti: kayekten, kayektosan, kabeneran, kaleresan, kasunyatan dan kasampurnan. Simak saja pertanyaan yang disampaikan oleh Pontius Pilatus pada Yesus tentang arti dari kebenaran. Maka kata Pilatus kepadaNya : “Jadi Engkau adalah raja?” Jawab Yesus : “Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang kedalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suaraKu.” Kata Pilatus kepadaNya : “Apakah kebenaran itu?” (“Kayektosan punika punapa?”) Sesudah mengatakan demikian, keluarlah Pilatus lagi mendapatkan orang-orang Yahudi dan berkata kepada mereka : “Aku tidak mendapati kesalahan apapun padaNya.” ( Yoh. 18 : 37 & 38 ).
Dalam Kotbah di bukit tentang Ucapan bahagia terdapat ayat yang berbunyi : “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.” (“. . kaluwen lan ngelak marang kasampurnan. . .”) ( Mat. 5 : 6 )
Dalam nyanyian pujian Zakharia : “dalam kekudusan dan kebenaran dihadapan-Nya seumur hidup kita.” (“ing sajroning kasucen lan kabeneran.. .”) (Luk. 1 : 75 )
Dalam firman yang telah menjadi manusia : “sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.” (“. . dene sih-rahmat lan kayekten . . “ (Yoh. 1 : 17)
Dalam ajakan kepada Agripa untuk percaya : “Tetapi Paulus menjawab : “Aku tidak gila, Festus yang mulia! Aku mengatakan kebenaran dengan pikiran yang sehat!” (“ . . kawula ngaturaken kasunyatan . . !”) (Kis. 26 : 25)
Dari beberapa ayat di atas terdapat pemahaman yang lebih tepat bila menggunakan bahasa Jawa karena mempunyai arti yang lebih banyak ragamnya meski dalam arti yang sesungguhnya mempunyai makna yang sama. Kebenaran, kesungguhan, kesempurnaan, kenyataan dan kesejatian merupakan ungkapan iman kepercayaan kita yang sebenarnya terhadap Yesus Sang Penebus. Namun dalam perjalanan hidup kita sehari-hari sering kali kebenaran itu kadang terlupakan, dilupakan atau hilang begitu saja. Yang sering ditemui justru kebeneran alias kebetulan. Itu tidak bisa kita ingkari sepanjang kita masih lebih mementingkan kedagingan.
Budaya Jawa karena tuntutan tata krama pergaulan justru sering mengingkari kebenaran meski itu tidak dianggap sebagi dosa. Tidak usah jauh-jauh kita mencari, di lingkungan gereja Jawa saja kalau ada tuan rumah menawari makan selalu dijawab dengan sopan : “Terima kasih, kami baru saja habis makan.” padahal perut terasa perih karena lapar. Oleh karena itu tidak salah kalau ada orang bilang bahwa rata-rata orang jawa itu lebih banyak yang sakit mag daripada diabetes dsb. Berbeda dengan sahabat kita yang memang punya kegemaran makan, kebetulan oleh seorang teman ditawari makan, maka dengan mantap dia akan menjawab : “Wah kebetulan saya belum makan dari pagi.” Yang satu mengingkari kebenaran karena tuntutan tata krama sedangkan yang lain melakukan kebenaran karena kebetulan. Ada juga kebenaran yang sering dilanggar karena demi kebaikan, misalnya saja : “Ayo nak, makan nasinya dihabiskan. Nanti ayamnya mati kalau tidak habis.” Meskipun tidak ada korelasinya antara ayam mati dan nasi yang tidak habis namun hal itu dilakukan demi kebaikan, dan itu sah-sah saja.
Budaya Jawa lebih banyak menggunakan “pasemon” yang lebih ampuh dalam memberikan nasihat daripada nasihat yang mengandung kebenaran. Ketika seorang gadis makan nasi dengan piring “disangga” dengan tangan kontan saja ibunya akan berteriak : “Kalau makan piringnya jangan disangga, nanti jodohnya jauh.” Tentu maksud sebenarnya adalah supaya piringnya jangan sampai jatuh dan pecah karena pada waktu itu harga sebuah piring memang cukup mahal. Tetapi kalau melarangnya : “Kalau makan jangan disangga, nanti piringnya bisa jatuh dan pecah. Harga piring itu kan mahal!” Maka si anak bisa saja menjawab : “Enggak, saya pegangnya hati-hati kok!” Tetapi begitu dibilang jodohnya nanti jauh maka segera dipatuhinya perintah itu.
Sekarang bagaimana sikap kita terhadap kebenaran seperti yang ditulis dalam Alkitab tersebut? Apakah dalam kehidupan sehari-hari kita akan menggunakan “pasemon” atau yang sebenarnya? Ataukah kita akan sering melupakan dan mengabaikan kebenaran itu? Kalau kita menganggap kebenaran sebagai titik tolak keimanan kita maka kita akan memperoleh kebenaran dan bukan kebetulan kalau Tuhan Yesus selalu membimbing jalan kehidupan kita hari lepas hari. Gunungsindur, medio Juni’12
Kalau kita perhatikan dalam Kitab Suci berbahasa Jawa, kebenaran mempunyai beberapa terjemahan seperti: kayekten, kayektosan, kabeneran, kaleresan, kasunyatan dan kasampurnan. Simak saja pertanyaan yang disampaikan oleh Pontius Pilatus pada Yesus tentang arti dari kebenaran. Maka kata Pilatus kepadaNya : “Jadi Engkau adalah raja?” Jawab Yesus : “Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang kedalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suaraKu.” Kata Pilatus kepadaNya : “Apakah kebenaran itu?” (“Kayektosan punika punapa?”) Sesudah mengatakan demikian, keluarlah Pilatus lagi mendapatkan orang-orang Yahudi dan berkata kepada mereka : “Aku tidak mendapati kesalahan apapun padaNya.” ( Yoh. 18 : 37 & 38 ).
Dalam Kotbah di bukit tentang Ucapan bahagia terdapat ayat yang berbunyi : “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.” (“. . kaluwen lan ngelak marang kasampurnan. . .”) ( Mat. 5 : 6 )
Dalam nyanyian pujian Zakharia : “dalam kekudusan dan kebenaran dihadapan-Nya seumur hidup kita.” (“ing sajroning kasucen lan kabeneran.. .”) (Luk. 1 : 75 )
Dalam firman yang telah menjadi manusia : “sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.” (“. . dene sih-rahmat lan kayekten . . “ (Yoh. 1 : 17)
Dalam ajakan kepada Agripa untuk percaya : “Tetapi Paulus menjawab : “Aku tidak gila, Festus yang mulia! Aku mengatakan kebenaran dengan pikiran yang sehat!” (“ . . kawula ngaturaken kasunyatan . . !”) (Kis. 26 : 25)
Dari beberapa ayat di atas terdapat pemahaman yang lebih tepat bila menggunakan bahasa Jawa karena mempunyai arti yang lebih banyak ragamnya meski dalam arti yang sesungguhnya mempunyai makna yang sama. Kebenaran, kesungguhan, kesempurnaan, kenyataan dan kesejatian merupakan ungkapan iman kepercayaan kita yang sebenarnya terhadap Yesus Sang Penebus. Namun dalam perjalanan hidup kita sehari-hari sering kali kebenaran itu kadang terlupakan, dilupakan atau hilang begitu saja. Yang sering ditemui justru kebeneran alias kebetulan. Itu tidak bisa kita ingkari sepanjang kita masih lebih mementingkan kedagingan.
Budaya Jawa karena tuntutan tata krama pergaulan justru sering mengingkari kebenaran meski itu tidak dianggap sebagi dosa. Tidak usah jauh-jauh kita mencari, di lingkungan gereja Jawa saja kalau ada tuan rumah menawari makan selalu dijawab dengan sopan : “Terima kasih, kami baru saja habis makan.” padahal perut terasa perih karena lapar. Oleh karena itu tidak salah kalau ada orang bilang bahwa rata-rata orang jawa itu lebih banyak yang sakit mag daripada diabetes dsb. Berbeda dengan sahabat kita yang memang punya kegemaran makan, kebetulan oleh seorang teman ditawari makan, maka dengan mantap dia akan menjawab : “Wah kebetulan saya belum makan dari pagi.” Yang satu mengingkari kebenaran karena tuntutan tata krama sedangkan yang lain melakukan kebenaran karena kebetulan. Ada juga kebenaran yang sering dilanggar karena demi kebaikan, misalnya saja : “Ayo nak, makan nasinya dihabiskan. Nanti ayamnya mati kalau tidak habis.” Meskipun tidak ada korelasinya antara ayam mati dan nasi yang tidak habis namun hal itu dilakukan demi kebaikan, dan itu sah-sah saja.
Budaya Jawa lebih banyak menggunakan “pasemon” yang lebih ampuh dalam memberikan nasihat daripada nasihat yang mengandung kebenaran. Ketika seorang gadis makan nasi dengan piring “disangga” dengan tangan kontan saja ibunya akan berteriak : “Kalau makan piringnya jangan disangga, nanti jodohnya jauh.” Tentu maksud sebenarnya adalah supaya piringnya jangan sampai jatuh dan pecah karena pada waktu itu harga sebuah piring memang cukup mahal. Tetapi kalau melarangnya : “Kalau makan jangan disangga, nanti piringnya bisa jatuh dan pecah. Harga piring itu kan mahal!” Maka si anak bisa saja menjawab : “Enggak, saya pegangnya hati-hati kok!” Tetapi begitu dibilang jodohnya nanti jauh maka segera dipatuhinya perintah itu.
Sekarang bagaimana sikap kita terhadap kebenaran seperti yang ditulis dalam Alkitab tersebut? Apakah dalam kehidupan sehari-hari kita akan menggunakan “pasemon” atau yang sebenarnya? Ataukah kita akan sering melupakan dan mengabaikan kebenaran itu? Kalau kita menganggap kebenaran sebagai titik tolak keimanan kita maka kita akan memperoleh kebenaran dan bukan kebetulan kalau Tuhan Yesus selalu membimbing jalan kehidupan kita hari lepas hari. Gunungsindur, medio Juni’12
Belajar Mengerti Tentang Kebenaran
Bila seseorang hendak bepergian ke luar negeri tentu harus memberitahukan kewarganegaraannya kepada petugas dengan menunjukkan tanda pengenal misalnya paspor, demikian pula seorang Kristen juga harus memiliki tanda pengenal yaitu mengikuti ajaran serta instruksi Yesus dengan ciri khusus mau berkorban dan penuh dengan kasih. Mari kita pelajari doa Yesus untuk murid-muridnya, di dalam Yohanes 17: 17-20 “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran. Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran. Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka” juga diajarkan di dalam Matius 20: 26-28, bila ingin menjadi besar ia bersedia menjadi pelayan, bila ingin terkemuka bersedia menjadi hamba karena Anak Manusia bukan untuk dilayani tetapi melayani, memberikan nyawanya menjadi tebusan banyak orang.
Perintah baru yang dinyatakan Yesus di Yohanes 13: 34-35 ”Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”
Mari kita belajar untuk tidak hanya pandai mengucap tetapi juga melakukan apa yang diajarkan Kristus baik di dalam keluarga, pergaulan, masyarakat maupun di tempat ibadah. Mari kita instrospeksi diri masihkah diantara kita yang mudah emosi, merasa lebih pandai sehingga menegur orang lain menggunakan bahasa tanpa kasih, senang bergosip, membicarakan kekurangan temannya sendiri kepada orang lain tanpa berani menegur yang terkait, jadi jangan salahkan Roh Kudus yang tidak bekerja dengan baik.
Bagaimana kita bisa senantiasa bertaut pada Allah? Kita bisa belajar dari Raja Hizkia walau ayahnya Raja Yehuda yang bernama Ahaz tidak taat pada Allah, Ahaz menyembah dewa-dewi, namun Hizkia terkesan dengan kata-kata Daud di Mazmur 27: 10 “Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku.” dan iman Daud yang taat kepada Allah yang meyakinkannya Allah akan menolong. Sebagai makhluk ciptaan-Nya yang diberikan Roh Kudus di kehidupan kita seharusnya kita hidup dengan benar sehingga kita dapat memahami kehendak-Nya.
Bagaimana kita menikmatinya pasti setiap hari di dalam kehidupan ada karunia dan ada yang menjalaninya sebagai kehidupan rutin, contoh sederhana perjalanan dari rumah ke tempat ibadah secara normal dengan kendaraan umum adalah 1 jam, karena sudah berkorban menyelesaikan beberapa masalah sehingga waktu tinggal 30 menit, dengan memohon pertolongan Allah dengan doa dan iman bahwa Allah akan menolong, ternyata ada kendaraan umum seteleah penumpang tinggal saya sendiri bersedia mengantar sampai ke tempat melalui jalan tikus sehingga tidak terlambat dengan mengucap terima kasih kepada pengemudi dan member imbalan yang pantas tidak lupa mengucap syukur kepada Allah karena semua itu tentu campur tangan-Nya.
Bagaimana kita bisa mengerti takut akan Tuhan dan mendapat pengenalan akan Allah karena Tuhanlah yang memberikan hikmat dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian. Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya sambil menjaga jalan keadilan dan memelihara jalan orang-orang-Nya yang setia maka engkau akan mengerti tentang kebenaran, keadilan dan kejujuran bahkan setiap jalan yang baik karena hikmat akan masuk ke dalam hatinya dan pengetahuan akan menyenangkan jiwamu (Amsal 2: 5-10).
Beginilah Fiman Tuhan: “Terkutuklah orang yang mengandalkan kekuatannya sendiri dan hatinya menjauh daripada Tuhan. Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik. Ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun di negeri padang asin yang tidak berpenduduk. Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan yang menaruh harapannya pada Tuhan.”
Allah memberikan tanda-tanda maupun pelajaran bagi manusia namun tidak semua orang mengerti seperti di Yehezkiel 47: 12. “Pada kedua tepi sungai itu tumbuh bermacam-macam pohon buah-buahan, yang daunnya tidak layu dan buahnya tidak habis-habis; tiap bulan ada lagi buahnya yang baru, sebab pohon-pohon itu mendapat air dari tempat kudus itu. Buahnya menjadi makanan dan daunnya menjadi obat." Nabi Elisa menyehatkan air dengan garam (2 Raja: 21) dan masih banyak pelajaran yang dapat kita peroleh dalam Alkitab.
Kita juga harus belajar bagaimana tukang periuk membuat bejana indah, ia selalu memperhatikan karyanya pada saat diproses bila nampak tidak menghasilkan bejana yang baik maka ia menghancurkan tanah liat yang akan dibentuk tersebut, demikian Allah akan mengampuni orang yang mau bertobat akan kesalahannya dan mengakui dosanya serta memperbaiki tingkah laku dan perbuatan yang keliru menjadi benar. Hidup menurut ketetapan Allah, mengikuti peraturan-Nya dan melakukannya dengan setia adalah orang benar dan pasti hidup.
Perintah baru yang dinyatakan Yesus di Yohanes 13: 34-35 ”Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”
Mari kita belajar untuk tidak hanya pandai mengucap tetapi juga melakukan apa yang diajarkan Kristus baik di dalam keluarga, pergaulan, masyarakat maupun di tempat ibadah. Mari kita instrospeksi diri masihkah diantara kita yang mudah emosi, merasa lebih pandai sehingga menegur orang lain menggunakan bahasa tanpa kasih, senang bergosip, membicarakan kekurangan temannya sendiri kepada orang lain tanpa berani menegur yang terkait, jadi jangan salahkan Roh Kudus yang tidak bekerja dengan baik.
Bagaimana kita bisa senantiasa bertaut pada Allah? Kita bisa belajar dari Raja Hizkia walau ayahnya Raja Yehuda yang bernama Ahaz tidak taat pada Allah, Ahaz menyembah dewa-dewi, namun Hizkia terkesan dengan kata-kata Daud di Mazmur 27: 10 “Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku.” dan iman Daud yang taat kepada Allah yang meyakinkannya Allah akan menolong. Sebagai makhluk ciptaan-Nya yang diberikan Roh Kudus di kehidupan kita seharusnya kita hidup dengan benar sehingga kita dapat memahami kehendak-Nya.
Bagaimana kita menikmatinya pasti setiap hari di dalam kehidupan ada karunia dan ada yang menjalaninya sebagai kehidupan rutin, contoh sederhana perjalanan dari rumah ke tempat ibadah secara normal dengan kendaraan umum adalah 1 jam, karena sudah berkorban menyelesaikan beberapa masalah sehingga waktu tinggal 30 menit, dengan memohon pertolongan Allah dengan doa dan iman bahwa Allah akan menolong, ternyata ada kendaraan umum seteleah penumpang tinggal saya sendiri bersedia mengantar sampai ke tempat melalui jalan tikus sehingga tidak terlambat dengan mengucap terima kasih kepada pengemudi dan member imbalan yang pantas tidak lupa mengucap syukur kepada Allah karena semua itu tentu campur tangan-Nya.
Bagaimana kita bisa mengerti takut akan Tuhan dan mendapat pengenalan akan Allah karena Tuhanlah yang memberikan hikmat dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian. Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya sambil menjaga jalan keadilan dan memelihara jalan orang-orang-Nya yang setia maka engkau akan mengerti tentang kebenaran, keadilan dan kejujuran bahkan setiap jalan yang baik karena hikmat akan masuk ke dalam hatinya dan pengetahuan akan menyenangkan jiwamu (Amsal 2: 5-10).
Beginilah Fiman Tuhan: “Terkutuklah orang yang mengandalkan kekuatannya sendiri dan hatinya menjauh daripada Tuhan. Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik. Ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun di negeri padang asin yang tidak berpenduduk. Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan yang menaruh harapannya pada Tuhan.”
Allah memberikan tanda-tanda maupun pelajaran bagi manusia namun tidak semua orang mengerti seperti di Yehezkiel 47: 12. “Pada kedua tepi sungai itu tumbuh bermacam-macam pohon buah-buahan, yang daunnya tidak layu dan buahnya tidak habis-habis; tiap bulan ada lagi buahnya yang baru, sebab pohon-pohon itu mendapat air dari tempat kudus itu. Buahnya menjadi makanan dan daunnya menjadi obat." Nabi Elisa menyehatkan air dengan garam (2 Raja: 21) dan masih banyak pelajaran yang dapat kita peroleh dalam Alkitab.
Kita juga harus belajar bagaimana tukang periuk membuat bejana indah, ia selalu memperhatikan karyanya pada saat diproses bila nampak tidak menghasilkan bejana yang baik maka ia menghancurkan tanah liat yang akan dibentuk tersebut, demikian Allah akan mengampuni orang yang mau bertobat akan kesalahannya dan mengakui dosanya serta memperbaiki tingkah laku dan perbuatan yang keliru menjadi benar. Hidup menurut ketetapan Allah, mengikuti peraturan-Nya dan melakukannya dengan setia adalah orang benar dan pasti hidup.
Manisnya Madu Asinnya Tebu
Madu manis rasanya itu sudah pasti, tetapi tebu yang mestinya juga manis tetapi terasa asin bagaimana ceritanya? Pagi itu lapangan tembak di Purworejo sudah dipenuhi warga lanjut usia yang tergabung dalam Paguyuban Adiyuswa Sinode GKJ. Acara yang sudah ditunggu selama 2 tahun itu akhirnya terlaksana juga. Kalau 2 tahun yang lalu sekitar 7.000 orang memadati Gedung Olah Raga Satria Purwokerto maka kali ini sekitar 12.000 orang memadati Lapangan Tembak di Purworejo. Acara pagi itu adalah Perayaan Paskah Adiyuswa Sinode GKJ se-pulau Jawa yang tersebar dari Banten sampai Tuban di Jawa Timur. Lokasi acara merupakan Lapangan Tembak yang luas terbuka dipinggir jalan raya jalur selatan dan dikelilingi kebun tebu yang cukup luas juga.
Bisa dibayangkan betapa hiruk pikuknya belasan ribu orang tua yang terdiri para kakek dan nenek itu ketika dipandu untuk mencari lokasi tenda tempat mereka duduk. Sebagian dari tim Koordinator masing-masing gereja memandu para lansia untuk menuju kursi masing-masing sementara sebagian lagi dengan cekatan mengambil buku panduan berikut nasi kotak untuk makan siang nantinya. Seiring dengan bergeraknya matahari yang menanjak maka banyak tempat duduk yang menjadi panas oleh terik matahari, sehingga sebagian ditawarkan untuk pindah ke wilayah gereja lain yang masih teduh. Disinilah terjalinnya rasa persaudaraan yang dilandasi kasih tergerak untuk saling menolong dalam kesulitan. Mereka saling memaklumi bahwa disini sebagai tamu dari jauh. Sebagian besar dari para lansia ini memang berangkat menjelang fajar dan bahkan ada yang berangkat lewat tengah malam langsung menuju kota Purworejo kecuali rombongan dari Jakarta, Bandung dan barangkali Klasis Blora-Bojonegoro.
Sebelum acara dimulai banyak warga yang mencari saudaranya yang kini berdomisili di daerah lain atau justru masih tinggal di daerah asal. Rasa gembira tiada terhingga terpancar dari wajah masing-masing tatkala pertemuan itu terjadi seolah rasa lelah sepanjang perjalanan yang cukup jauh itu hilang seketika. Kesulitan mulai terjadi ketika para orang tua ini sudah cukup lama menahan rasa ingin buang air kecil. Dari ribuan orang itu hanya tersedia sebuah toilet bergerak dengan kapasitas sekitar 6 buah ditambah toilet darurat dari anyaman bambu sekitar 10 buah dan satu toilet lagi berkapasitas 5 buah. Walhasil terjadi antrian yang cukup panjang seperti antri tiket kereta menjelang lebaran, dan anehnya yang ngantri berderet itu semua wanita alias nenek-nenek. Lalu kemana para kakek kalau mau buang air kecil? Semula mereka kebingungan juga karena kalau ikut ngantri nenek-nenek dilihat kok “saru.” Ternyata sebagian lari ke belakang deretan puluhan bus yang parkir dan “cur” disitu dengan tengok dulu kanan kiri. Jadi jangan kaget kalau nanti pulang lapangan tembak bekas parkiran bus itu bau pesing. Deretan parkir bus ternyata hanya bisa dipakai oleh beberapa orang saja, itupun harus saling menunggu. Lalu mesti kemana ribuan orang yang lain kalau mau buang air kecil yang memang tidak bisa ditahan itu?
Beberapa orang secara mencurigakan mulai berjalan setengah lari menuju kebun tebu yang sudah siap panen. Bahkan sebagian sudah menghilang kedalam rimbunnya batang tebu. Saya pun karena sudah tidak tahan mencoba jalan “mlipir” untuk bisa mencapai kebun tebu. Saya lihat sekitar 1 meter masuk ke areal kebun tebu cuma satu dua orang saja yang “pipis” sambil tengok kanan tengok kiri. Akhirnya saya mencoba masuk lebih dalam dan karena melihat situasi terasa aman, dengan tenangnya buka celana maka “cur” pun dimulai. Tetapi alangkah terkejutnya ketika menengok kekiri dan kekanan ternyata deretan puluhan orang yang buang air kecil itu panjang sekali sampai ke ujung saking banyaknya dan sebagian bahkan sambil tertawa-tawa karena hal itu dianggap tontonan yang aneh dan lucu. Salah satu dari mereka bahkan sempat nyeletuk : “Wah ini nanti kalau giliran tebunya digiling untuk dijadikan gula pasti rasanya jadi asin he. . he . .”
Bisa dibayangkan betapa hiruk pikuknya belasan ribu orang tua yang terdiri para kakek dan nenek itu ketika dipandu untuk mencari lokasi tenda tempat mereka duduk. Sebagian dari tim Koordinator masing-masing gereja memandu para lansia untuk menuju kursi masing-masing sementara sebagian lagi dengan cekatan mengambil buku panduan berikut nasi kotak untuk makan siang nantinya. Seiring dengan bergeraknya matahari yang menanjak maka banyak tempat duduk yang menjadi panas oleh terik matahari, sehingga sebagian ditawarkan untuk pindah ke wilayah gereja lain yang masih teduh. Disinilah terjalinnya rasa persaudaraan yang dilandasi kasih tergerak untuk saling menolong dalam kesulitan. Mereka saling memaklumi bahwa disini sebagai tamu dari jauh. Sebagian besar dari para lansia ini memang berangkat menjelang fajar dan bahkan ada yang berangkat lewat tengah malam langsung menuju kota Purworejo kecuali rombongan dari Jakarta, Bandung dan barangkali Klasis Blora-Bojonegoro.
Sebelum acara dimulai banyak warga yang mencari saudaranya yang kini berdomisili di daerah lain atau justru masih tinggal di daerah asal. Rasa gembira tiada terhingga terpancar dari wajah masing-masing tatkala pertemuan itu terjadi seolah rasa lelah sepanjang perjalanan yang cukup jauh itu hilang seketika. Kesulitan mulai terjadi ketika para orang tua ini sudah cukup lama menahan rasa ingin buang air kecil. Dari ribuan orang itu hanya tersedia sebuah toilet bergerak dengan kapasitas sekitar 6 buah ditambah toilet darurat dari anyaman bambu sekitar 10 buah dan satu toilet lagi berkapasitas 5 buah. Walhasil terjadi antrian yang cukup panjang seperti antri tiket kereta menjelang lebaran, dan anehnya yang ngantri berderet itu semua wanita alias nenek-nenek. Lalu kemana para kakek kalau mau buang air kecil? Semula mereka kebingungan juga karena kalau ikut ngantri nenek-nenek dilihat kok “saru.” Ternyata sebagian lari ke belakang deretan puluhan bus yang parkir dan “cur” disitu dengan tengok dulu kanan kiri. Jadi jangan kaget kalau nanti pulang lapangan tembak bekas parkiran bus itu bau pesing. Deretan parkir bus ternyata hanya bisa dipakai oleh beberapa orang saja, itupun harus saling menunggu. Lalu mesti kemana ribuan orang yang lain kalau mau buang air kecil yang memang tidak bisa ditahan itu?
Beberapa orang secara mencurigakan mulai berjalan setengah lari menuju kebun tebu yang sudah siap panen. Bahkan sebagian sudah menghilang kedalam rimbunnya batang tebu. Saya pun karena sudah tidak tahan mencoba jalan “mlipir” untuk bisa mencapai kebun tebu. Saya lihat sekitar 1 meter masuk ke areal kebun tebu cuma satu dua orang saja yang “pipis” sambil tengok kanan tengok kiri. Akhirnya saya mencoba masuk lebih dalam dan karena melihat situasi terasa aman, dengan tenangnya buka celana maka “cur” pun dimulai. Tetapi alangkah terkejutnya ketika menengok kekiri dan kekanan ternyata deretan puluhan orang yang buang air kecil itu panjang sekali sampai ke ujung saking banyaknya dan sebagian bahkan sambil tertawa-tawa karena hal itu dianggap tontonan yang aneh dan lucu. Salah satu dari mereka bahkan sempat nyeletuk : “Wah ini nanti kalau giliran tebunya digiling untuk dijadikan gula pasti rasanya jadi asin he. . he . .”