• Edisi Nopember 2017
  • Edisi Oktober 2017
  • Edisi September 2017
  • Edisi Agustus 2017
  • Edisi Juli 2017
  • Edisi Juni 2017
  • Edisi Mei 2017
  • Edisi April 2017
  • Edisi Maret 2017
  • Edisi Pebruari 2017
  • Edisi Januari 2017
  • Edisi Desember 2016
  • Edisi Nopember 2016
  • Edisi Oktober 2016
  • Edisi September 2016
  • Edisi Agustus 2016
  • Edisi Juli 2016
  • Edisi Juni 2016
  • Edisi Mei 2016
  • Edisi April 2016
  • Edisi Maret 2016
  • Edisi Februari 2016
  • Edisi Januari 2016
  • Edisi Desember 2015
  • Edisi November 2015
  • Edisi Oktober 2015
  • Edisi September 2015
  • Edisi Agustus 2015
  • Edisi Juli 2015
  • Edisi Juni 2015
  • Edisi Mei 2015
  • Edisi April 2015
  • Edisi Maret 2015
  • Edisi Februari 2015
  • Edisi Januari 2015
  • Edisi Desember 2014
  • Edisi November 2014
  • Edisi Oktober 2014
  • Edisi September 2014
  • Edisi Agustus 2014
  • Edisi Juli 2014
  • Edisi Juni 2014
  • Edisi Mei 2014
  • Edisi April 2014
  • Edisi Maret 2014
  • Edisi Pebruari 2014
  • Edisi Januari 2014
  • Edisi Desember 2013
  • Edisi Nopember 2013
  • Edisi Oktober 2013
  • Edisi September 2013
  • Edisi Agustus 2013
  • Edisi Juli 2013
  • Edisi Juni 2013
  • Edisi Mei 2013
  • Edisi April 2013
  • Edisi Maret 2013
  • Edisi Pebruari 2013
  • Edisi Januari 2013
  • Edisi Desember 2012
  • Edisi Nopember 2012
  • Edisi Oktober 2012
  • Edisi September 2012
  • Edisi Agustus 2012
  • Edisi Juli 2012
  • Edisi Juni 2012
  • Edisi Mei 2012
  • Edisi April 2012
  • Edisi Maret 2012
  • Edisi Pebruari 2012
  • Edisi Januari 2012
  • Edisi Desember 2011
  • Edisi Nopember 2011
  • Edisi Oktober 2011
  • Edisi September 2011
  • Edisi Agustus 2011
  • Edisi Maret 2010
  • Kembali
Majalah Gembala GKJ Nehemia Online

Reformasi Penataan Ulang Dunia

Picture
Pada tahun 1054, gereja Katolik Roma  sadar akan perlunya proses reformasi gerejawi. Gereja haruslah ditata-ulang, supaya praktis dan kesadaran gerejawi di dalamnya jangan sampai jatuh ke dalam kesesatan.Istilah “Reformasi” sebetulnya adalah istilah populer dalam gereja Katolik Roma, yang sedang berjuang untuk membersihkan hirarkinya dari pejabat-pejabat yang korup. Namun ketika kasus Martin Luther meletus, istilah ini kemudian menunjuk kepada orang-orang Kristiani yang anti kepausan. Istilah “Reformasi” ini pun kemudian menyatu dengan istilah “Protestan” yang semula bernada hinaan.Yang menjadi sasaran utama reformasi atau pembaharuan yang dicanangkan Luther adalah pembaharuan ajaran.
   
Dari ‘Skisma Romawi’ hingga ‘Reformasi’
Dimulai dari perpecahan Kekaisaran Romawi menjadi  Romawi Barat dan Romawi Timur. Kekaisaran Romawi Barat pada akhirnya runtuh pada sekitar tahun 490 M, yang keberadaannya digantikan oleh kekuasaan raja-raja Skandinavia. Kekaisaran Romawi Timur mampu bertahan hingga 1453 M yang akhirnya dihancurkan oleh pasukan Islam yang mendirikan Kekaisaran Otoman. Dalam situasi demikian, gereja Kristiani terus berjuang untuk menjaga kesatuannya, dalam semangat ‘katositas’ (gereja yang kudus dan am), dan menamakan diri Gereja Katolik.
   
Namun pada tahun 1054, muncul sebuah peristiwa besar yang disebut ‘ Skisma Besar Barat-Timur’. Dari peristiwa ini terbentuklah dua faksi yang tak terdamaikan antara petinggi gereja Barat dan petinggi gereja Timur. Hasilnya gereja Barat disebut Gereja Katolik Roma, dan gereja Timur disebut Gereja-gereja Katolik Ortodoks (Gereja Ortodoks). Pokok pertikaian adalah tentang dogma ‘filioque’ (dari mana siapa Roh Kudus itu keluar). Yang sebenarnya merefleksikan kontras dari dua tradisi kuno: Yunani dan Romawi. Tradisi Yunani amat ketat dalam memelihara sumber-sumber asali. Sementara, tradisi Romawi lebih peduli terhadap penataan ulang yang dikerjakan secara tertib dan seksama di bawah control uskup di Roma. Dan, tanpa disadari, hal tersebut kemudian menjelma menjadi paham-paham dalam menimbang tentang hakikat Roh Kudus.
   
Setelah mengalami Skisma Barat-Timur pada tahun 1054, gereja Katolik Roma pun sadar akan perlunya proses reformasi gerejawi. Gereja haruslah ditata-ulang, supaya praktis dan kesadaran gerejawi di dalamnya jangan sampai jatuh ke dalam kesesatan. Ada dua cara yang ditempuh, yaitu (1) menciptakan sarana mencegah kesesatan, dengan membentuk lembaga pemeriksa iman yang dinamakan inkuisisi; (2) menggulirkan proses panjang yang bernama reformasi gereja, dengan maksud agar hirarki gereja jangan sampai menjelma menjadi jajaran jabatan yang diisi oleh oknum-oknum yang korup.
   
Sayangnya, kedua jalan itu ternyata melahirkan aneka tragedi. Dalam usaha memurnikan iman, justru melahirkan banyak penderitaan akibat dilakukannya penyiksaan-penyiksaan sistematis, untuk membersihkan orang-orang dari tradisi-tradisi non Kristiani yang dianggap sesat. Sementara, usaha mereformasi gereja, melahirkan para pemikir humanis yang bersikap kritis terhadap pejabat-pejabat Romawi, yang kemudian berkembang menjadi sentimen-sentimen anti Romawi (seperti Jan Huss – 1369~1492). Karenanya, para cendikiawan gereja tak hentinya memikirkan cara baru untuk menjinakkan keganasan kekuasaan gereja yang menyatu dengan politik-praktis, melalui pengembangan studi humaniora, yang kemudian melahirkan kaum humanis. Dan dari kaum humanis ini, kemudian muncul tokoh-tokoh baru yang menggagas “Reformasi”.  
   
Istilah “Reformasi” sebetulnya adalah istilah populer dalam gereja Katolik Roma, yang sedang berjuang untuk membersihkan hirarkinya dari pejabat-pejabat yang korup. Namun ketika kasus Martin Luther meletus, istilah ini kemudian menunjuk kepada orang-orang Kristiani yang anti kepausan. Istilah “Reformasi” ini pun kemudian menyatu dengan istilah “Protestan” yang semula bernada hinaan.

Kaum Protestan (atau pejuang Reformasi) ini terdiri dari tiga sayap utama:
1.    Golongan Lutheran, yang umumnya hidup di Jerman, dan yang berlindung di bawah para pangeran Jerman yang bersikap anti-terhadap Kekaisaran Romawi Kudus.
2.    Golongan radikal, yang tersebar di mana-mana, dan yang mencita-citakan berakhirnya dinamika politik duniawi serta dimulainya dinamika Kerajaan Allah yang bersifat rohani; sekalipun demikian, ada sayap ‘non radikal’ dari golongan ini  yaitu kaum Mennonite, yang berkembang di Belanda, dan yang mengedepankan sikap anti-kekerasan.
3.    Golongan Reform, yang mencita-citakan penataan-ulang dunia lama agar terbentuklah dunia baru yang mengedepankan tertib hidup sosial yang bebas dari penyembahan berhala, bebas dari takhayul, bebas dari ketaatan membuta terhadap para pejabat gerejawi dalam hirarki kepausan Romawi. Semua itu hanya bisa terjadi apabila orang menjunjung tinggi supremasi Kitab Suci.

Karena mencita-citakan penataan ulang dunia berdasarkan supremasi Kitab Suci, maka golongan Reform ditandai oleh ciri khas: “konfesi di muka publik”. Golongan ini menghayati  iman Kristiani sebagai hal baru yang tidak terlepas dari hal lama. Maka, ciri khas kaum Reform adalah tetap hadir di medan publik duniawi, sekalipun menolak untuk hidup dengan cara-cara duniawi (amoral). Mereka ingin menjadi saksi hidup dari Sang Kristus, dengan cara berdiri teguh di medan publik untuk mengungkapkan kesaksian iman Kristiani.

Reformasi Luther
Penyebab mendasar dari timbulnya Reformasi adalah perbedaan antara ajaran atau teologi dan praktek gereja (Gereja Katholik Roma/GKR) dengan ajaran Alkitab. Tetapi peristiwa pemicu Reformasi itu adalah penjualan surat penghapusan siksa (aflat) di Jerman oleh Johann Tetzel. Menentang propaganda Tetzel, Luther menyusun 95 dalil, lalu ia tempelkan pada pintu gedung gereja di Wittenberg pada tanggal 31 Oktober 1517 (tanggal ini kelak diperingati gereja-gereja Protestan sebagai hari Reformasi). Dalil-dalil ini merupakan ungkapan pengalaman dan pergumulan Luther sendiri, jadi tidak bersifat teoritis. Membaca dalil-dalil itu, segera banyak orang tertarik, lalu menggandakan dan menyebar-luaskannya.
   
Di dalam dalil-dalilnya itu Luther menentang perkataan Tetzel, bahwa surat-surat yang ditawarkannya itu menghapuskan dosa dan memperdamaikan manusia dengan Allah, yang menimbulkan kesan seakan-akan pengampunan dosa dan pendamaian dapat dibeli dengan uang, tanpa penyesalan dan pertobatan, bahkan tanpa sakramen. Sekaligus dengan itu Luther menegaskan bahwa penyesalan yang sejati bukanlah perkara yang dapat seseorang bereskan dengan memenuhi syarat yang ditentukan oleh imam setelah pengakuan dosa, seperti misalnya mengucapkan Doa Bapa Kami sekian banyak kali. Bagi Luther penyesalan dan pertobatan itu berlangsung di sepanjang  hidup. Itulah makna dalilnya yang pertama yang berbunyi: Apabila Tuhan dan Guru kita Yesus Kristus berkata:” Bertobatlah ….”, maka yang dimaksudkan-Nya ialah bahwa seluruh khidupan orang-orang percaya haruslah merupakan pertobatan.  
   
Tujuan sebenarnya dari penjualan surat-surat aflat itu adalah mengumpulkan dana bagi pembangunan gedung gereja raksasa (basilica) Santo Petrus di Roma, tetapi tujuan itu dibungkus dengan ‘bahasa rohani ‘ yang berisi janji sekaligus ancaman.
   
Ke 95 dalil yang ditulis dalam bahasa Latin itu segera diterjemahkan oleh para mahasiswa Luther ke dalam bahasa Jerman , dan dalam waktu singkat sudah tersebar ke seluruh negeri itu. Umat Kristiani di sana yang yang sudah lama tidak betah melihat keadaan gereja, kini mendengar suara yang mengungkapkan keberatan dan keluhan mereka, sekaligus yang menunjuk jalan lain. Reaksi para pemimpin GKR segera dapat ditebak: mereka gusar, karena dalam tempo singkat hasil penjualan surat aflat merosot tajam. Di hadapan Paus Leo X mereka mendakwa Luther sebagai penyesat.
   
Luther diadili  di Jerman, yaitu di kota Augsburg, yang kelak menjadi salah satu pusat gerakan Reformasi Luther, pada bulan Oktober 1518. Meskipun banyak orang mencegah Luther agar tidak menghadiri pengadilan gereja itu, karena mereka kuatir bahwa di situ sudah disiapkan jebakan baginya. Tetapi Luther menjawab dengan kata-kata yang kemudian jadi sangat terkenal: “ Di sana pun Kristus berkuasa. Semoga Kristus hidup, walaupun Martinus harus binasa bersama setiap orang berdosa”. Di hadapan pengadilan itu Luther bersikukuh dengan pandangan dan keyakinannya.

Pokok ajaran dan tata gereja Luther
Setelah rangkaian perdebatan dan pengadilan itu, sejak 1520 Luther lebih banyak memusatkan perhatian pada penulisan buku ataupun traktat, yang memuat serangkaian pandangan dan gagasan yang baru, yang kelak menjadi acuan pokok dalam perumusan ajaran dan tata gereja Lutheran. Salah satu gagasan tersebut adalah:
•    Kebebasan Seorang Kristen  
Ini merupakan karya yang paling terkenal dan merupakan buku etika Protestan yang pertama, karena menguraikan hal-hal yang berhubungan dengan perbuataan. Tulisan ini dimulai Luther dengan dua dalil yang seakan-akan saling bertentangan: Seorang Kristen bebas dari segala ikatan dan bukan hamba dari siapa pun. Seorang Kristen terikat pada segala sesuatu dan hamba pada semua orang. Maksudnya kira-kira begini: Seorang Kristen pada hakikatnya bebas dari hukum atau Taurat mana pun, dan tidak terikat pada peraturan yang dikeluarkan oleh siapa pun, biar paus sekalipun, sebab ia sudah memiliki kebenaran Kristus dan tidak lagi membutuhkan perbuatan-perbuatan amal. Tetapi, di lain pihak harus juga diakui bahwa di dalam diri orang Kristen itu masih terdapat kemauan yang jelek, tubuhnya masih penuh hawa nafsu dan karena itu harus dikekang dengan banyak ‘perbuatan’ dan peraturan, termasuk pertarakan (berkhalwat). Tetapi perbuatan-perbuatan ini tidak mengandung amal, sebab “bukankah kita telah mendapat seluruh amalan yang kita butuhkan di dalam Kristus”.

Dampak dari pemahaman Luther
Gerakan Reformasi semakin meluas. Luther sendiri semakin sadar bahwa pemahamannya yang baru itu akan berdampak besar atas seluruh ajaran dan tata gereja. Dalam perkembangan selanjutnya ia semakin banyak menolak unsur-unsur ajaran dan praktek GKR.  Pokok-pokok ajaran Reformasi Luther  kemudian disusun oleh Melanchthon secara sistematis dalam tulisannya, Pokok-pokok Teologi (1521), dan ini merupakan buku dogmatic  Protestan yang pertama. Luther maupun Melanchton menekankan kewibawaan Alkitab sebagai satu-satunya sumber ajaran gereja yang benar ( Sola Scriptura). Dengan demikian seluruh tradisi gereja , yakni dokumen-dokumen lain di samping Alkitab, serta berbagai anggapan dan kebiasaan yang telah muncul dan dipelihara berabad-abad, tidak diakui lagi  kuasa dan wibawanya. Prinsip Reformasi Luther dan Melanchthon   adalah: apa yang bertentangan dengan Alkitab harus dihapuskan. Tetapi, sebaliknya apa yang tidak nyata-nyata bertentangan dengan Alkitab tidak perlu diubah. Terutama berlaku dalam hal tata-ibadah. Kita melihat bahwa yang menjadi sasaran utama reformasi atau pembaharuan yang dicanangkan Luther adalah pembaharuan ajaran. Bagi GKR Alkitab bukanlah satu-satunya sumber ajaran gereja atau satu-satunya yang memuat pernyataan (wahyu) dari Allah; di samping alkitab masih ada tradisi. Kemudian hal ini ikut disentuh dalam proses reformasi, sebagai konsekuensi dari pembaharuan di bidang ajaran.
 
Penutup
Dengan uraian singkat diatas,  kita mendapatkan pemahaman bahwa ‘Firman dan Sakramen’ adalah kata-kata kunci dan merupakan pusat ajaran Luther.  Firman semata-mata mengacu pada Alkitab sebagaimana dinyatakan lewat semboyan sola scriptura. ‘Sakramen’ mengacu pada penghargaan tinggi atas kedua sakramen: Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus. Sakramen adalah Firman yang kelihatan , atau yang diperagakan. Keselamatan hanya diperoleh berdasar kasih karunia melalui iman ( sola gratia dan sola fide). Oleh karena itu  di dalam pemberitaan Firman dan pelayanan Perjamuan Kudus selalu ditekankan pengakuan dosa dan pengampunan yang disediakan Allah lewat pengobanan Kristus. Keselamatan diperoleh oleh manusia hanya karena kasih karunia melalui iman. Munari. Dari beberapa sumber. Depok, 3 Oktober 2014.

Reformasi Iman

Picture
“Kepada siapa TUHAN meminta nasihat untuk mendapat pengertian, dan siapa yang mengajar TUHAN untuk menjalankan keadilan, atau siapa mengajar DIA pengetahuan dan memberi DIA petunjuk supaya IA bertindak dengan pengertian?” (Yes 40 : 14)


Pendahuluan
Disepanjang sejarah gereja, khususnya setelah masa Reformasi, Calvinisme merupakan arus pikir yang tidak dapat diabaikan pengaruh dan peranannya. Namun dalam perkembangannya, banyak orang tidak mengerti secara tepat apa yang sebenarnya diungkapkan oleh Theologi Reformed atau Calvinisme. Loraine Bootner dalam bukunya “Reformed Faith” secara jelas melihat perbedaan yang mendasar antara sistem pengajaran Kristen yang Alkitabiah dengan semua pandangan yang lain. Baginya, hanya ada 2 macam fakta sistem keagamaan yaitu agama berdasarkan pada Iman (Relegion of Faith) dan agama yang didasarkan pada perbuatan (Relegion of Works), serta bagaimana posisi Calvinisme dalam menanggapi fakta sistem keagamaan tersebut, khususnya dikaitkan dengan pemahaman tentang keselamatan orang percaya.

Dalam bahasan kali ini, penulis mencoba menguraikan secara ringkas mengenai prinsip-prinsip utama yang melandasi ajaran Iman Reformed, khususnya yang berkenaan dengan doktrin Keselamatan. Iman reformed secara tegas dan konsisten menekankan mengenai kedaulatan Allah dalam penyelamatan manusia – bahkan dalam segala sesuatu - dan menegaskan kebergantungan mutlak manusia berdosa kepada Allah untuk dapat diselamatkan, sebab dosa telah menghancurkan kemampuan manusia untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Dengan demikian, jaminan keselamatan orang percaya didasarkan kepada kedaulatan anugerah Allah yang mengerjakan keselamatan mereka dari awal sampai akhir, dari ketetapan kekal-Nya dalam memilih sejumlah orang tertentu untuk diselamatkan hingga pemuliaan yang akan Ia lakukan pada akhir zaman.

Karena itulah, jaminan keselamatan orang percaya didasarkan bukan pada kemampuan dan tekad manusia yang labil, tetapi dalam kesetiaan Allah yang memelihara mereka sampai pada akhir zaman. Dengan demikian, orang percaya terdorong untuk senantiasa bersyukur dan hidup dalam kekudusan bagi kemuliaan nama-Nya.
 
Kedaulatan Allah
Prinsip dasar dari Calvinisme adalah kedaulatan Allah. Prinsip ini menegaskan bahwa maksud dari Allah Tri Tunggal adalah absolut dan tak bersyarat, tidak bergantung pada seluruh ciptaan yang terbatas, dan bahwa maksud itu semata-mata bermula pada rencana kekal dari kehendak-Nya. Ia menetapkan pergerakan alam dan memimpin jalannya sejarah hingga ke detail yang terkecil. Maka ketetapan-ketetapan-Nya bersifat kekal, tidak berubah, suci, penuh hikmat dan berdaulat.

Setiap orang yang berpikir benar akan dengan mudah melihat adanya aspek kedaulatan yang mengatur kehidupannya, ia tidak pernah meminta apakah ia dilahirkan atau tidak, kapan atau di mana ia akan dilahirkan, apakah di abad ke-20 atau sebelum air bah, apakah ia akan menjadi seorang pria atau wanita, apakah warna kulitnya putih atau hitam, apakah ia dilahirkan di Amerika atau di Afrika. Semua itu telah ditentukan baginya secara berdaulat bahkan sebelum ia ada. Orang-orang Kristen sepanjang zaman mengakui bahwa Allah adalah Pencipta dan Pemerintah alam semesta, dan oleh karenanya, Ia juga adalah sumber utama dari semua kuasa yang dapat ditemukan dalam dunia ini. Jadi, tidak ada yang dapat terjadi di luar kehendak-Nya yang berdaulat. Sebab jika demikian, Ia bukanlah ALLAH yang sejati.

Faktanya, Allah yang telah menciptakan segala sesuatu yang ada, maka Ia adalah Pemilik absolut dan Pengatur Tertinggi dari semua yang telah diciptakan-Nya. Ia tidak hanya sekedar memberikan pengaruh secara umum, tetapi sungguh-sungguh memerintah kehidupan manusia (Kis. 4:24-28). Bahkan bangsa-bangsa terlihat seperti debu yang kecil ketika dibandingkan dengan kebesaran-Nya (Yes. 40:12-17). Di tengah-tengah segala kekalahan dan inkonsistensi yang nampak dalam kehidupan kita sebagai manusia, sesungguhnya Allah sedang mengontrol semuanya dalam kemuliaan yang tetap. Bahkan perbuatan-perbuatan dosa manusia hanya dapat terjadi dengan izin-Nya, dan dengan kekuatan yang Ia berikan kepada ciptaan-Nya. Dan karena Ia dengan rela dan bukannya tidak rela mengizinkannya, maka semua yang terjadi, termasuk perbuatan-perbuatan dosa dan nasib ultimat manusia, dalam pengertian tertentu, pastilah seturut dengan apa yang dimaksud dan ketetapan kekal-Nya.

Menolak kebenaran ini sama artinya dengan mengeluarkan Allah dari pemerintahan dunia, dan itu berarti kita hanya mempunyai Allah yang terbatas. Secara Alamiah, memang akan muncul beberapa masalah yang tidak akan sanggup dijelaskan sepenuhnya dengan tingkat pengtahuan kita saat ini. Akan tetapi, ini bukanlah alasan yang cukup untuk menolak apa yang telah ditetapkan oleh Alkitab dan akal budi sebagai hal yang benar.

TIdakkah kita percaya bahwa Allah dapat mempertobatkan seorang pendosa jika Ia menghendaki? TIdak dapatkah Allah yang Perkasa, Pengatur Langit dan Bumi yang Mahakuasa, mengubah karakter ciptaan yang Ia jadikan? Di Kana, Ia mengubah air menjadi anggur; dan di Damaskus, Ia mempertobatkan Saulus. Seorang kusta berkata kepada-Nya: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” (Mat. 8:2), dan dengan satu kalimat saja, kustanya disembuhkan.

Ia sanggup menyucikan jiwa seperti halnya Ia menyucikan tubuh. Jika mau, Ia dapat membangkitkan sejumlah besar pendeta, misionaris, dan sejumlah pekerja Kristen, atau Ia dapat bekerja begitu rupa melalui Roh Kudus-Nya, sehingga seluruh dunia ini dipertobatkan dalam waktu yang singkat. Jika Ia memang bermaksud menyelamatkan seluruh umat manusia, Ia dapat mengirim berlaksa-laksa malaikat dan memerintahkan mereka untuk melakukan karya-karya supranatural di atas bumi. Ia dapat bekerja secara ajaib di dalam hati setiap orang sehingga tidak seorangpun yang akan terhilang.
Ia berbuat menurut kehendak-Nya terhadap bala tentara langit dan penduduk bumi; dan tidak ada seorangpun yang dapat menolak tangan-Nya dengan berkata kepada-NYa: “Apa yang Kau perbuat?”. Semua ini menyatakan prinsip dasar Iman Reformed: Kedaulatan Allah. Allah menciptakan dunia, tempat kita hidup, Ia memiliki dunia ini dan menjalankannya sesuai dengan kedaulatan kehendak-Nya yang sempurna. Allah tidak pernah kehilangan kuasa-Nya sedetik pun. Suatu penghinaan besar jika kita berpikir bahwa Dia bergumul sepanjang sejarah dengan sekuat tenaga berusaha membujuk manusia berperilaku yang benar, tetapi tidak sanggup menggenapi maksud kedaulatan-Nya yang kekal, kudus, bijaksana dan tetap itu.

Kondisi Manusia yang Sama Sekali Tidak Berdaya
Dalam kitab Yudas kita membaca: “Dan bahwa Ia menahan malaikat-malaikat yang tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka, tetapi yang meninggalkan tempat kediaman mereka, dengan belengu abadi di dalam dunia kekelaman sampai penghakiman pada hari besar” (Yud. 1:6) dan di dalam 2 Petrus 2:4 kita membaca: “sebab jikalau Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka, dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman.” Iblis dan para pengikutnya telah terpisah sepenuhnya dari Tuhan dan telah diserahkan sepenuhnya kepada dosa, tanpa ada harapan untuk menerima penebusan. Nasib mereka seperti yang digambarkan oleh Kristus, yaitu akan dienyahkan ke dalam api kekal yang telah disediakan bagi mereka (Mat. 25:41)

Tidak ada penebusan bagi malaikat-malaikat yang jatuh. Penulis kitab Ibrani berkata: “Sebab sesungguhnya bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani” (Ibr. 2:16). Nasib mereka telah jelas dan pasti. Penghukuman yang tak berkesudahan telah disediakan bagi manusia dan malaikat yang tak henti-hentinya berdosa melawan Tuhan. Namun, ketika Allah menjadikan manusia sebagai ciptaan yang bermoral, Ia menyiapkan sebuah rencana yang berbeda dengan yang telah Ia tetapkan bagi malaikat. Ia tidak memilih untuk menciptakan seluruh manusia sekaligus dan kemudian menguji mereka satu per satu per satu. Ia menciptakan seorang manusia, dengan tubuh fisik, dari mana seluruh umat manusia dilahirkan. Dan karena kesatuan manusia ini dengan semua yang akan dilahirkan, maka Ia dapat ditunjuk sebagai kepala yang sah dan menjadai perwakilan dari semua umat manusia. Jika ia berhasil melewati ujian itu, maka ia dan semua ketrunannya akan tetap berada di dalam kekudusan dan akan ditempatkan di dalam kebahagiaan abadi seperti para malaikat kudus. Tetapi jika ia gagal, sama seperti malaikat yang jatuh/gagal, ia dan semua ketrunannya akan berada di bawah hukuman kekal. Seolah-olah Allah berkata: “Kali ini, jika dosa memang harus masuk, maka biarlah dosa masuk melalui satu orang, sehingga penebusan juga dapat disediakan melalui satu orang.”

Oleh sebab itu, dalam kapasitasnya sebagai wakil manusia, Adam ditempatkan dalam ujian ketaatan manusia, hukuman terhadap ketidaktaatan diberitahukan kepadanya dengan jelas: Lalu Tuhan Allah memberi perintah kepada manusia: “semua buah dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat itu janganlah kau makan buahnya,sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” ( Kej. 2:16-17 )

Jadi, hukuman yang dinyatakan dengan jelas adalah kematian; persis sama dengan hukuman yang telah dijatuhkan kepada malaikat yang telah jatuh. Seperti halnya malaikat, ujian ini murni adalah ujian yang akan menentukan apakah manusia akan menjadi ciptaan yang berharga dan taat didalam kerajaan sorga atau tidak. Ujian ini sepenuhnya adli, sederhana, jelas, dan amat menguntungkan Adam, sehingga ia tidak dapat lagi berdalih jika ia ternyata tidak taat.

Akan tetapi, tragedi yang mengenaskan itu pun terjadilah, Adam gagal, ia telah jatuh ke dalam dosa. Dan akibatnya, seluruh umat manusia yang diwakilinya juga turut jatuh. Akibat dosa tersebut tercakup dalam satu istilah, yaitu : kematian, dalam pengertiannya paling luas. Kematian yang mengancam Adam di sini pertama-tama adalah kemtian Rohani, atau keterpisahan dari Allah. Secara fisik, adam tidak mati sampai 930 tahun setelah kejatuhannya, tetapi pada saat itu juga ia langsung dijauhkan dari Allah dan mengalami kematian Rohani. Dan sejak saat itu bagaikan suatu gerak maju yang tidak dapat dihentikan menuju liang kubur.

Alkitab menyatakan bahwa Allah telah menyelamatkan sejumlah umat manusia dari hukuman dosa-dosa mereka. Untuk melakukan karya penebusan itu, Kristus, Pribadi Kedua, Tritunggal melalui mujizat kelahiran dari anak dara Maria mengenakan natur manusia dan dilahirkan sebagai manusia sama seperti lahirnya seorang bayi yang normal. Demikianlah Allah berinkarnasi dan menjadi salah satu dari antara kita. Selanjutnya, Yesus menjalani kehidupan yang sempurna tanpa dosa ditengah-tengah umat manusia sebagai wakil dari umat-Nya, Ia menaklukan diri-Nya dibawah Hukum-Nya sendiri dan menanggung didalam dirinya hukuman yang telah Allah tentukan bagi dosa. Didalam hidup-Nya yang sama sekali tanpa dosa, Ia telah secara sempurna memenuhi hukum Allah yang telah dilanggar oleh Adam, dan dengan itu ia memperoleh kebenaran yang sempurna bagi umat-Nya dan karenanya juga memperoleh hak bagi mereka untuk memasuki sorga. Apa yang diderita-Nya sebagai Pribadi yang mempunyai nilai dan martabat yang tak terbatas, sebanding dengan apa yang apa seharusnya diderita umat-Nya dalam kekekalan, yaitu dalam neraka. Dengan cara ini, Ia membebaskan umatnya dari hukum dosa dan hukum maut. Dan ketika buah dari karya penebusan itu diterapkan kepada mereka yang diberikan oleh Bapa kepada Anak, mereka disebut sebagai orang-orang yang dilahirbarukan oleh Roh Kudus yaitu yang dihidupkan secara Rohani dan dilahirkan kembali.

Penutup; Pendamaian Kristus
Tampaknya hanya Calvinisme yang memandang kejatuhan manusia sebagai hal yang serius. Penilaian yang tepat mengenai kejatuhan dan kondisi manusia yang tak berpengharapan merupakan unsur penting yang banyak hilang dalam pemikiran, pengajaran maupun pemberitaan firman. Calvinisme berketetapan bahwa penebusan, sebagai Pendamaian Kristus, merupakan suatu karya obyektif yang telah digenapi dalam sejarah, yang mematahkan segala tuntutan hukum yang seharusnya diberlakukan kepada orang-orang berdosa.

Kita harus ingat bahwa penderitaan Kristus di dalam natur manusia-Nya, yaitu saat Ia tergantung selama enam jam di atas kayu salib, bukanlah terutama penderitaan secara fisik, melainkan penderitaan secara mental dan spiritual. Di saat Ia berseru: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?!” Sesungguhnya Ia sedang menderita kesengsaraan neraka. Karena itulah arti esensial dari neraka, yaitu keterpisahan dari Allah, keterpisahan dari segala sesuatu yang baik dan sesuatu yang dirindukan.

Sesungguhnya, umat tebusan menerima lebih banyak melalui penebusan Kristus dibandingkan dengan kehilangan yang mereka alami melalui kejatuhan Adam. Karena dalam inkarnasi, secara harafiah Allah masuk ke dalam dunia manusia dan mengenakan natur manusia, natur manusia yang dalam diri Kristus yang telah dimuliakan akan terus dikenakan sampai selama-lamanya, dengan demikian Ia akan menjadi satu-satunya wujud Allah yang dapat kita lihat nanti dalam sorga. Eko P. Saragi.
*) Sumber:
1. Loraine Boettner, Reformed Faith, P&R Publishing Co, New Jersey, 1983.
2. David W. Hall, Legacy of John Calvin; His Influence on the Modern World, P&R Publishing Co, New Jersey, 2008.

Reformasi Perjanjian Lama Menghasilkan Perjanjian Baru

Picture
“Sebab inilah darahKu, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.” (Mat 26 : 28).

Ayat emas tersebut di atas sumber utama reformasi Perjanjian Lama sehingga menghasilkan Perjanjian Baru dan  lahirlah gereja serta jemaat, bahkan di dunia nyata paradigma lama yang mengejar keuntungan dengan biaya/pengorbanan sekecil mungkin telah berubah pada pelayanan yang prima akan menghasilkan keuntungan atau berkat yang melimpah, terlihat  banyak perusahaan secara teratur tekun berdoa bersama untuk mengawali kegiatan usahanya, apakah kegiatan gereja sehari-hari  diawali dengan berdoa bersama? Kiranya kegiatan ritual yang merupakan tugas utama ibadah gereja,akan  sangat berdampak lebih nyata jika kegiatan rutin gereja juga diawali dengan doa bersama. Perjanjian Lama terdiri dari 39 kitab, Perjanjian Baru terdiri 27 kitab, sebenarnya Alkitab bukan hanya kumpulan kitab-kitab, tetapi merupakan satu kitab saja. Seiring dengan berjalannya waktu maka timbul reformasi yang dicetuskan oleh Martin Luther sehingga berita Injil cepat meluas terutama di Indonesia dan gereja kita menjadi nyata meski melewati masa perjuangan yang cukup berat, Melalui gereja  maka persekutuan, kesaksian dan pelayanan kita terakomodasi sehingga warga jemaat berakar dan berbuah untuk kemuliaanNya.Atas dasar latar belakang tersebut di atas maka judul Reformasi Perjanjian Lama menghasilkan Perjanjian Baru dibahas dan diawali dengan beberapa ucapan tentang Alkitab, Perjanjian Lama merupakan syariat, sejarah, filsafat dan nubuatan, Perjanjian Baru adalah kitab yang terpenting di dunia, Marin Luther pelopor pembaruan, Pekabaran Injil di Jawa Tengah, Reformasi Perjanjian Lama menghasilkan Perjanjian Baru. Kritik dan saran yang membangun sangat dinantikan serta masukan dari para pemegang kepentingan  sangat bermanfaat bagi pelayanan kita bersama.

BEBERAPA UCAPAN TENTANG ALKITAB
J.Gresham Machen mengatakan :”Kami yakin bahwa para penulis Alkitab, setelah dipersiapkan Allah bagi tugas itu oleh campur tanganNya di dalam segenap  kehidupan mereka, selanjutnya menerima pimpinan dan dorongan yang penuh berkat, luar biasa dan ajaib dari Roh Kudus, sehingga mereka terpelihara daripada kesalahan-kesalahan atau kekeliruan-kekeliruan yang biasanya terdapat dalam kitab-kitab lain, dan dengan demikian kitab yang dituliskannya pada Alkitab dalam segala bagiannya adalah benar-benar Firman Allah, sepenuhnya benar berkenaan dengan fakta-fakta yang diceritakannya, dan penuh wibawa atas perintah-perintahnya.” Henry Rogers mengatakan :”Salah satu yang paling  mengesankan dan menyolok dari Alkitab jika dipandang secara keseluruhan yang terlihat padanya dari awal sampai akhir, dan yang  sekaligus membedakannya dengan semua kitab lainnya, ialah sifat mengutamakan ALLAH. Alkitab tetap menyebut dari ayat pertama sampai kepada ayat yang terakhir ALLAH yaitu Alfa dan Omega . Yang Awal dan Akhir merupakan temanya yang terbesar  dan utama. Walaupun banyak pokok dan persoalan yang dikabarkan di dalamnya, namun ALLAh yang terpokok dari seluruh Alkitab.”

PERJANJIAN LAMA MERUPAKAN SYARIAT, SEJARAH, FILSAFAT DAN NUBUATAN
Syariat yang tidak dijelaskan
Meskipun persembahan korban dan syariat Taurat itu berulang-ulang kali diberikan, namun sampai akhir Perjamjian Lama  penjelasan yang kita butuhkan tidak diketemukan.

Sejarah dengan tujuan yang tidak tercapai
Perjanjian Lama sungguh merupakan  kitab yang sangat menakjubkan dan bangsa Yahudi itu adalah bangsa yang istimewa, tetapi orang Yahudi di tanah Yehuda hanya sebagian kecil, mereka sedang tersebar di seluruh dunia.

Filsafat dengan kerinduan yang tidak tercapai
Nilai rohani Perjanjian Lama tidak ada taranya, nasehat, ajaran, perjanjian yang indah,  tetapi tidak ada jawaban yang jelas akan masalah dosa, kesakitan, kematian dan akhirat, sehingga kerinduan kita tidak tercapai.

Nubuatan yang belum digenapi
Nubuatan-nubuatan dalam Perjanjian Lama  tidak pernah ada dalam kitab manapun, berbicara tentang masa depan, dengan pemulihan yang sangat sempurna. Segenap nubuatan berpusat dan tertuju pada satu gagasan kedatangan seseorang  yang merupakan jawaban Allah atas jeritan segala zaman, tetapi sampai akhir Perjanjian Lama, nubuatan itu belum digenapi.

PERJANJIAN BARU ADALAH KITAB YANG TERPENTING DI DUNIA
Perjajian Baru sungguh merupakan penggenapan-penggenapan yang saling bertautan, maka genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi, Tuhan Yesus akan menyelamatkan umatNya dari dosa, Dalam kematian Tuhan Yesus untuk menebus manusia, dalam kebangkitan dan kenaikanNya , pelayananNya sekarang sebagai Imam Besar di surga, dan kedatanganNya yang kedua kali menjadi Hakim Agung  Memang Tuhan Yesus merupakan penggenapan satu-satunya dari seluruh syariat, sejarah, filsafat dan nubuatan dalam Perjanjian Lama. Di dalam Injil Ia sudah datang dalam rupa manusia yang kelihatan,  dalam Surat kiriman Ia sudah datang dalam hati manusia berupa Roh kudus, dalam kitab Wahyu  Ia akan datang kelak dalam kemuliaan untuk memerintah. Penggenapan-penggenapan dalam kedatanganNya yang pertama membuktikan bahwa nubuatan-nubuatan Perjanjian Lama adalah ilahi,sedang nubuatan-nubuatan yang belum digenapi, baik yang tertulis di Perjanjian Lama atau dalam Perjanjian Baru semuanya pasti akan digenapi juga apabila saat-saat yang telah ditentukan untuk itu sudah tiba. Oleh karena itu Kitab Perjanjian Baru adalah Kitab yang terpenting di dunia, karena kita dapat  memyaksikan serta mengalami  karya  penyelamatan Tuhan dan mengamini kesinambungan hidup kekal dalam realisasi Kerajaan Allah serta kemuliaan Surga yang dijanjikanNya. Kita wajib hidup  berakar kepada Tuhan Yesus untuk berbuah demi kemuliaanNya. Sehingga kita meyakini bahwa Yesus adalah Reformer sejati, Tuhan Yesus yang mereformasi Perjanjiam Lama dan menghasilkan Perjanjian Baru, dan seiring berjalannya waktu muncul pelopor pembaruan Martin Luther.

TIMBULNYA AGAMA KRISTEN
Praktek-praktek tidak baik dari gereja pada akhir  abad pertengahan menimbulkan protes untuk mengikuti ajaran  Yesus Kristus yang asli, ada tiga faktor yang menyebabkan timbulnya pembaruan yaitu : pertama adanya penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan gereja dengan penjualan surat pengampunan dosa, kedua faham humanisme memungkinkan banyak orang yang langsung membaca Alkitab dalam bahasa Yunani, ketiga timbulnya negara-negara nasional di Eropa dimana raja-raja menginginkan kekuasaan negara dan agama di tangannya.

Martin Luther pelopor pembaruan
Seorang guru besar  Universitas Wittenberg (jerman), pada tahun 1517 mengemukakan 95 dalil yang merupakan ajaran agama Kristen. Di antaranya dikemukakan bahwa amal yang baik tidak akan diterima oleh Tuhan bila tidak lahir dari hati nurani yang murni. Hanya orang yan bertobat dan beriman kepada Yeususlah yang diselamatkan karena Tuhan memberi rahmatNya atas pengorbananNya menebus di kayu salib. Gereja merupakan persekutuan orang-orang percaya kepada Yesus dan Dialah yang menjadi kepala gereja. Kebebasan baru mendorong lahirnya aliran-aliran, selain di Jerman, di negara-negara lain seperti Swedia, Norwegia, Finlandia, Denmark dan Belanda banyak penduduk yang menganut ajaran Martin Luther.

Perkembangan Pekabaran Injil ke pulau Jawa
Pada tahun 1892 pekabaran Injil dilakukan oleh gereja-gereja Gereformeerd di Nederland dengan mendirikan sekolah-sekolah, rumah sakit zending di Jawa dan menghasilkan buah yaitu jemaat Kristen berbagai tempat terutama di Jawa Tengah, Beberapa orang Kristen  dari JawaTengah itu merantau ke Jakarta dan bersekutu dalam Gereja Kristen Jawa di Rawamangun dan membiak dalam pepantan di Kebayoran Baru dan menjadi dewasa pada tanggal 1 Januari 1971 dengan menumpang di GKI Panglima Polim, setelah dapat membangun gedung gereja di  Jl Raya Pasar Jumat berganti nama menjadi GKJ Nehemia.

REFORMASI PERJANJIAN LAMA MENGHASILKAN PERJANJIAN BARU
Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sebenarnya satu kitab

Perjanjian Lama boleh dikatakan sebagai draft suatu kitab suci, dan finalnya terwujud dalam Perjanjian Baru, sehingga keduanya merupakan satu kesatuan  dan PB merupakan penggenapan dari Pl. Kita harus mengakui betapa pentingnya kita diterangi dan diilhami, dikuasai dam dikuatkan oleh gagasan-gagasan yang paling benar, murni dan mulia. Seluruh hidup kita menjadi kaya atau miskin, mulia atau hina, tinggi atau rendah, diberkati atau dikutuk, adalah tergantung dari gagasan-gagasan yang menguasai akal budi kita. Bersyukurlah kita memiliki satu kitab suci yang lengkap dan kudus sehingga atas terang kuasa Roh Kudus kita memiliki pelita atau terang yang tidak akan pudar dalam mengarungi hidup beserta Tuhan yang senantiasa turut campur  dan memberkati kita yang bisa diyakini melalui  Firman tertulis dalam Alkitab, seta dalam Firman yang hidup dalam Tuhan Yesus Juru Selamat kita, menuju hidup kekal yang telah Tuhan janjikan dan sediakan bagi kita yang percaya.

Berapa reformasi yang perlu kita perhatikam
Tentang tempat ibadah

Sejak zaman Enos yang mulai mengenal Allah maka senantiasa melaksanakan kebaktian, bahkan setelah masa pembuangan maka orang mulai berbakti dalam rumah sembahyang bernama synagoge, Tuhan Yesus sebenarnya ingin bergabung tetapi mereka menolak, melalui doa yang tekun dan sungguh-sungguh maka Tuhan Yesus mohon kepada Bapa untuk melaksanakan penggembalaan umatNya, maka dibentuklah gereja, secara riil kita dipimpin Tuhan menjada warga GKJ  Nehemia atau yang lainnya, maka tempat gereja kita sebagian besar penggembalaan rohani kita ditempa, mesti ada kekurangan, kelemahan dan dosa maka Tuhan akan menguduskan dan memperbaiki seta menyempurnakan.

Hari ibadah
Arti menyucikan hari Sabat disalah arikan dalam pelaksanaannya, sehingga Tuhan Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, kita tidak perlu ragu lagi untuk bertindak yang sangat penting pada hari Minggu asal kita tidak melupakan untuk tetap beribadah.

Soal makanan
Betapa ketatnya disiplin para penganut makanan yang dilarang, tetapi Tuhan Yesus menekankan jauh lebih penting menjaga kata-kata dari pada menjaga makanan, bukan berarti kita secara bebas menikmati semua makanan, pola hidup sehat harus juga diutamakan.

Soal berdoa
Tuhan Yesus menekankan berdoa yang tidak demonstrative, bahkan berdoa dalam kamar yang dikunci , karena Allah lebih tahu dari lubuk hati kita yang paling dalam, dalam ibadah resmi kita pun tetap berdoa bersama.

Soal persembahan
Kalau kita menyampaikan persembahan melalui tangan kanan sebaiknya tangan kiri kita tidak perlu mengetahuinya, bukan bararti semua petsembahan harus dirahasiakan, karena sebagai pertanggungjawaban  perlu diumumkan juga.

Soal berpuasa
Kalau kita berpuasa dianjurkan agar berpenampilan wajar sehingga orang lain tidak perlu tahu kalau kita sedang melaksanakan ibadah puasa.

Tolok ukur utama adalah Sakramen (Baptisan dan Perjamuan Kudus)

Kesaksian hidup kita dalam persekutuan dengan Tuhan akan nampak dalam ibadah kita terutama bagaimana kita sangat merindukan dan menghargai pemeliharaanNya dalam seluruh ibadah resmi atau tudak resmi terutama dalam Sakramen Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus yang merupakan berkat, penghiburan serta kekuatan dari kasih karuniaNya. Amin. JS/PI.

Retreat Pembinaan Iman Komisi Wanita 2014

Picture
Pagi-pagi benar, pada hari Sabtu 27 September 2014, di halaman gereja suasananya sudah ramai. Ada dua bus yang sudah menanti. Siap mengantar para ibu yang telah berkumpul sejak dini hari dengan dress code warna ungu. Rajin betul semuanya. Aturan jam 07.00 baru kumpul utk registrasi, tapi ... eeh jam 06.30 sudah pada datang. Hebaat ..

Setelah semua panitia dan  peserta kumpul, kami pun siap berangkat menuju Sentul. Untuk melepas keberangkatan rombongan, Pdt. Lusindo YL Tobing berkenan memanjatkan doa mohon perlindungan. Syukur kepada Allah. Semua terlindungi dari bahaya. Amin.

Di sepanjang perjalanan para peserta banyak bercanda. Lalu, sesampainya di Sentul, sambil menunggu waktu check in lokasi yakni SLDC pada pukul 12.00, kami pun mampir dulu ke Jungle Land. Berhenti sekitar 45 menit, untuk sekedar melihat-lihat: bahwa ternyata ada obyek wisata yang bagus di dekat Jakarta, selain Dufan. Di Jungle Land itu, kami menikmati suasananya hanya dari luar. Tidak sampai ke dalam menikmati banyak permainan di sana, karena untuk masuk ke sana tiketnya agak mahal dan waktunya tidak cukup. Maka, para peserta pun menikmati suasana luar Jungle Land itu dengan berfoto ria sambil saling bercanda. Ada pula yang menikmati es krim sambil jalan-jalan (masa kecil kurang bahagia). Dengan makan es krim macam itu serasa jalan-jalan di Orchard Road Singapore; cuma bedanya di sana es potong di sini es krim monas.  

Sesudah dari Jungle Land, kami mampir lagi ke sebuah tempat yang bernama Pasar Apung/Ah Poong. Para peserta pun turun dan jalan-jalan di sana, walaupun hanya sebentar saja karena waktunya sempit; tidak bisa naik perahu dan tidak bisa pula berbelanja. Waktu yang cuma sebentar itu pun tidak disia-siakan; segera setelah keluar dari bus, para peserta giat mejeng/berfoto-ria di mana-mana. Dengan gaya masing-masing, mereka ber-selfie ria dengan tingkah polah yang amat menarik.

Semoga lain kali, kita bisa main ke sana lagi bersama dengan keluarga masing-masing. Jungle Land dan Pasar Ah Poong adalah tempat-tempat wisata alternatif yang patut diperhitungkan bagi kita semua.  Karena sempitnya waktu, maka acara makan siang bersama yang rencananya mau digelar di Pasar Ah Phoong akhirnya tidak jadi dilakukan di sana. Kami harus segera bergerak ke rumah retret dan makan siang di lokasi, SLDC. Tempat sudah disiapkan; makanan sudah dibawa dari Jakarta. Perut sudah lapar. Kerongkongan sudah haus. Maka, jadilah acara makan siang itu menjadi saat yang nikmat. Walaupun nasinya agak nglethis, tapi tokh akhirnya ludes juga semuanya. Mungkin karena lauknya enak dan perut yang sudah super lapar itu. He.. he.. he...

Selesai acara makan bersama peserta masuk aula untuk memulai acara. Tim acara membuka dengan menyanyi dan berdoa, dilanjutkan dengan kata sambutan dari pihak ketua panitia, yaitu Ibu Endang Tuhu. Sambutan singkat itu lalu dilanjutkan dengan acara ibadah pembukaan yang dipimpin oleh Ibu Henu Budi C,  yang mengambil tema satu keluarga, keluarga Allah. Melalui tema ini kita semua diingatkan bahwa – meskipun kadang berselisih paham – orang tua, anak, adik/kakak tetaplah merupakan satu keluarga yang utuh. Maka, seperti itu pulalah keberadaan kita sebagai jemaat di GKJ Nehemia. Para ibu, bapak, pemuda, remaja, dan anak-anak haruslah tetap bersatu di dalam satu keluarga Allah, sekalipun mengalami berbagai perbedaan, termasuk perbedaan pendapat.

Sebelum masuk kamar dan istirahat ada permainan “Akrab Yuuuk”  dipimpin Ibu Suwarni cs. Di sini, para peserta dibagi ke dalam sembilan kelompok yang melambangkan sembilan buah-buah Roh Kudus sebagaimana dilukiskan dalam Galatia 5:22-23. Di dalam permainan ini, masing-masing kelompok haruslah berusaha menunjukkan kebolehannya dalam mengungkapkan cinta. Masing-masing kelompok juga dilengkapi dengan yel-yel yang lucu dengan gerak dan lagu yang mengundang tawa. Ternyata, para ibu tidak kalah semangat dan tak kurang bergaya bila dibandingkan dengan anak-anak muda. Amat kreatif dan bersemangat.

Setelah lelah bermain, maka tibalah waktu untuk beristirahat dan pembagian kamar.  Kamarnya bagus seperti layaknya suasana di hotel. Di kamar, waktunya pun amat terbatas. Peserta harus segera mandi dan kumpul lagi di ruang makan. Sebab, pada pukul 17.30 acara makan malam harus segera dimulai, supaya tidak kehabisan waktu untuk mengikuti sesi utama dan acara berikutnya yang telah ditentukan.

Sesi utama retret Komisi Wanita kali ini bertema “CINTA BERKOBAR-KOBAR,” dengan Narasumber Pdt. Simon Rachmadi. Inti pembicaraannya adalah bahwa cinta itu perlu dikobarkan “dari dalam” diri kita. Kita tidak bisa disuruh-suruh mencintai dengan perintah “dari luar.” Cinta itu akan menyala dengan penuh gairah apabila menemukan sumbernya dari dalam diri kita. Untuk itu, maka segala hal yang menghalangi lahirnya cinta itu perlu dibersihkan. Kita perlu berjuang untuk mengatasi hambatan-hambatan cinta yangmembuat hati kita jadi beku dan sulit mengasihi dengan kegairahan yang murni. Bagaimanakah caranya mengatasi hambatan-hambatan cinta itu?

Caranya adalah bahwa pada dasarnya kita perlu menemukan kesadaran tentang Allah yang menjelma nyata dalam hidup kita. Kita perlu melihat Allah di dalam realitas-realitas manusiawi yang kita alami. Realitas-realitas itu ada yang “kacau” (gelap, pedih, sakit, membingungkan, tidak adil, dsb.) dan ada pula yang “tertib” (terang, menyenangkan, nikmat, indah, dsb.). Se-“kacau” apa pun hidup kita, di sana ada celah di mana Allah hadir menjelmakan Diri-NYA untuk menebus kita agar mengalami mukjizat ke-“tertib”-an-NYA. Kita perlu menemukan kesadaran tentang penjelmaan hidup ilahi Allah, melalui karya Tuhan Yesus, di dalam hidup kita. Jika kesadaran itu muncul, maka tanpa disuruh-suruh, kobaran cinta itu akan menyala dengan sendirinya dari kedalaman hati insani kita.

Sayangnya, materi tersebut belum bisa diolah dengan baik. Karena keterbatasan waktu, maka usaha mengatasi hambatan-hambatan cinta itu belum bisa digarap secara mengena untuk orang per orang yang ikut dalam retreat tersebut. Akibatnya, pembicaraan pun jadi terkesan hanya sekedar teoritik semata. Masih mengawang-awang di angkasa, dan belum mendarat ke dalam aneka problematika yang dialami oleh masing-masing peserta.

Pak Simon sempat bercerita, bahwa materi retret itu pernah diikutinya dalam suatu serial retreat besar yang lamanya satu tahun. Setiap hari, dalam enam hari seminggu, ia harus menyediakan waktu selama 90 menit untuk bermeditasi tentang jajaran tema-tema retreat untuk mengobarkan cinta tersebut: mulai dengan melihat masalah-masalah pedih dalam hidup manusia, lalu melihat celah di mana Kristus menjelmakan diri-NYA di tengah-tengah kepedihan hidup yang sedang terjadi, lalu melihat bagaimana Kristus itu terus bertumbuh bersama-sama dengan tumbuhnya kemanusiaan yang merindukan Allah, dan pada akhirnya mengecap cita-rasa kemenangan Kristus dalam peristiwa kebangkitan-NYA yang mulia. Semoga, lain kali kita bisa mengolah lebih dalam lembaran-lembaran batin yang belum sempat tergarap dalam retreat tempo hari, melalui acara Pemahaman Alkitab di Komisi Wanita.

Sesudah acara sesi utama, acara berikutnya adalah Talent Show. Dalam acara ini, setiap wilayah diberi kesempatan untuk menunjukkan atraksi seni yang telah dipersiapkan dari rumah. Maka, muncullah serangkaian acara yang amat membangkitkan sukacita. Sekalipun setiap wilayah dibatasi waktu hanya tujuh menit saja, namun karena kreatifitas yang begitu melimpah, maka waktu pementasan pun jadi lebih panjang dari yang semula dibayangkan. Aneka ekspresi seni mengalir dalam acara Talent Show ini: ada gerak dan lagu, drama parodi, lengkap dengan kostum yang serba-ekspresif dan lucu.

Melalui acara Talent Show itu betul-betul tampak aneka kreatifitas yang selama ini terpendam pada diri ibu-ibu. Ada yang ternyata pandai mendalang, jadi dalang. Ada yang pandai menari dengan aneka gaya. Ada yang pandai memainkan aneka musik kreatif, dengan alat seadanya, yang ketika diracik ternyata menjadi suatu pertunjukan yang indah. Lucu-lucu sekali. Ada yang menari dengan kostum ABG, sekalipun usia sudah cukup lanjut. Pakai kuncir, berpita pula. Ada yang bisa tampil dengan gaya preman yang cukup serem, sombong, angkuh, dan menakutkan. Semua itu untuk mengkomunikasikan pesan: bahwa Kasih haruslah dipancarkan, bahwa persekutuan haruslah diusahakan, bahwa pelayanan haruslah terus-menerus diperjuangkan. Salut untuk para ibu, juga empat orang bapak, yang telah menggelar acara Talent Show ini.  Semangat terus!

Setelah acara Talent Show, sebetulnya masih ada acara informal yang disiapkan panitia, yaitu bakar jagung di tepi kolam renang. Namun, rupanya para peserta telah kecapaian. Maka, jagung bakar yang sudah dipersiapkan kurang diminati. Kebanyakan peserta memilih langsung masuk kamar dan beristirahat. Tidur.

Keesokan harinya, acaranya adalah kebaktian resmi: Kebaktian Hari Minggu. Kebaktian ini diselenggarakan seperti halnya yang biasa dilakukan di GKJ Nehemia. Ada unsur majelis, ada pula unsur pendetanya. Para majelisnya adalah Ibu Titien, Ibu Purwitasari, Ibu Nina Karyoso, Bapak David Suhirlam, Ibu Henu, dan Ibu Samilah Sayuti; sedangkan pendetanya adalah Pak Simon Rachmadi, yang berkotbah berdasarkan Lukas 24:13-35. Inti kotbahnya menekankan tentang peristiwa perjumpaan dengan Kristus, yang terjadi secara real namun kerap kali tidak kita sadari. Kerohanian kita kerap kali tidak menyadari akan Kristus, karena kita lupa membuka diri terhadap kelemahan-kelemahan manusiawi kita. Kita membayangkan bahwa Kristus itu akan datang dalam wujud “peristiwa besar,” padahal kenyataannya IA justru menghampiri kita dalam aneka “peristiwa kecil” yang kita alami. Pak Simon mengingatkan pula, agar kita ingat tentang sebuah ajaran kuno dari Uskup Athanasius dari Aleksandria yang mengatakan: “Allah berkenan menjadi manusia, supaya manusia bisa mengalami proses pengilahian dan menjadi anak-anak-NYA di dalam Kristus.” Maka, untuk menemukan Allah, perhatikanlah realitas-realitas manusiawi yang mengitari dan membentuk hidup kita. Di sana, hal-hal remeh-temeh akan kita olah dengan intensi penuh untuk menyambut persentuhan dengan Kristus: Kalau lapar, kita perlu makan; kalau haus, kita perlu minum; kalau ngantuk, kita perlu tidur. Makan, minum, dan tidur macam itu tidak lebih hina daripada berdoa dan bermeditasi. Bahkan, justru melalui hal-hal remeh yang sifatnya manusiawi itulah kita akan banyak menemukan kesempatan untuk berjumpa dengan Kristus, asalkan mata hati kita terbuka terhadap DIA yang berjalan bersama kita. Jika berjalan bersama DIA, maka hati kita akan terasa berkobar-kobar dengan cinta yang tak kunjung padam.

Dalam kebaktian itu, Padus Komisi Wanita mempersembahkan pujian dengan judul “Istri yang teramat baik.”  Sungguh terasa sangat cocok dengan tema retreat ini. Sesudah kebaktian, sebelum makan pagi, para peserta kembali berkesempatan untuk berfotoria bersama, untuk dokumentasi, dengan kaos warna pink yang cantik.

Selanjutnya, sesudah acara makan pagi, para pserta kembali berkumpul di aula untuk memasuki acara Simulasi Kelompok & Resume. Melalui acara ini, semua pihak mengolah diri di dalam kelompok untuk mengasah penghayatan atas materi yang telah dibicarakan dalam sesi utama. Cara pengolahannya adalah bahwa setiap kelompok diminta untuk menampilkan suatu drama singkat tentang apa-apa yang mereka hayati sebagai pesan pokok dalam retret kali ini.

Buah acara Simulasi Kelompok & Resume itu ternyata amatlah ekspresif dan mengundang banyak tawa. Ada yang mementaskan tentang satu keluarga dengan delapan anak yang semuanya bermasalah. Ada yang mengungkapkan perjuangan untuk merangkul dan menyadarkan seorang kawan yang kecanduan minuman keras. Ada pula yang mendramakan usaha pewartaan kasih Kristus kepada manusia yang dicekam kegalauan hidup yang sulit diatasi. Melalui aneka dramatisasi yang telah dilakukan itu, Ibu Titien Sugiyanto merumuskan bahwa untuk mencapai “cinta berkobar-kobar” maka hal-hal yang memudarkan cinta haruslah diselesaikan sampai ke akar masalahnya. Di antara berbagai upaya yang bisa dilakukan, seperti upaya medik atau upaya psikoterapis, maka ada satu jalan iman yang perlu dikembangkan: yaitu jalan kerohanian Kristiani. Seperti apakah wujudnya?

Jalan kerohanian Kristiani itu wujudnya adalah usaha menemukan hadirnya Injil dalam hidup sehari-hari. Injil itu mewartakan:
1.    Bahwa semua yang terjadi dalam hidup kita adalah berasal dari Allah Tritunggal: Bapa, Putera dan Roh Kudus sehingga selalu baik adanya.
2.    Bahwa adanya kenyataan-kenyataan “kacau” dalam hidup kita, seperti kepedihan, perselingkuhan, kesulitan ekonomi, penyakit kejiwaan,  dsb., itu bukanlah tanda bahwa Allah meninggalkan kita; tetapi, itu adalah tanda tentang kedosaan kita, yang di dalamnya Allah berkenan untuk ikut menderita bersama kita.
3.    Bahwa, sekalipun terbelit oleh aneka “kekacauan” hidup itu, kita bisa mencapai iman yang membuat jiwa kita akan menjadi terbuka seperti Perawan Maria, yang merelakan diri untuk menjadi sarana penjelmaan Allah dalam hidup manusia. Sama seperti Perawan Maria itu, iman kita perlu mencapai sikap terbuka: rela mempersembahkan diri bagi kemuliaan Allah yang berkenan memasuki “kekacauan” hidup kita. Iman yang mencapai sikap terbuka ini akan melihat hadirnya cahaya di tengah-tengah kegelapan dunia dan berdosa.
4.    Bahwa iman yang disertai dengan sikap terbuka itu akan membuahkan pertumbuhan hidup rohani, yang bersumber dari tumbuhnya Kristus dalam kemanusiaan kita.
5.    Bahwa pertumbuhan hidup rohani itu akan semakin sempurna, dan diliputi dengan daya-daya kebangkitan Kristus, yang menjadi sumber mata-air kebahagiaan di kedalam hati kita. Dari sanalah kuasa Kristus, melalui Roh Kudus, akan memenuhi hidup kita dan merambat dan terpancar ke orang-orang di sekitar kita. Diri kita akan dipenuhi dengan cinta yang tak pernah kering, karena bersumber dari Allah sendiri yang menyelenggarakan alam semesta seluruhnya dengan cinta dan kebijaksanaan-NYA. Maka, berbahagialah kita, kalau – oleh karena Injil – di dalam keluarga kita ada cinta yang tak pernah kering macam itu.

Sesudah coffee break, sambutan Ketua Komisi Wanita Ibu Atiek,  dan Evaluasi Program Kerja Tahun 2014, acara lalu dilanjutkan dengan pembagian hadiah door-prize. Sesudah itu acara ditutup dengan doa, makan siang, dan kembali ke Jakarta. “Semoga jerih lelah kita semua diperkenan oleh Allah, sebagai kurban syukur dan cinta yang kita persembahkan kepada-Nya. Semoga Roh Kudus mengurapinya, agar menjadi berkat keselamatan bagi jiwa-jiwa yang kita layani dan kita kasihi. Semoga kegembiraan yang tercipta dalam retret menjadi bibit kegembiraan abadi yang terus-menerus bertumbuh dalam jiwa kita semua sampai akhir zaman. Amin”. Sampai jumpa di acara Komisi Wanita berikutnya. Ikutilah terus agar tidak menyesal. Oemi, Simon, End.

Cinta Berkobar-kobar

Picture
1.    Masalah kita:
a.    bahwa cinta di dalam keluarga/rumah-tangga itu bisa redup dan sirna.
i.    Karena masalah yang merusak komunikasi:
1.    masalah ekonomi
2.    masalah seksual
3.    kesalah-pahaman yang akut
ii.    Karena arus hidup yang pedih:
1.    perselingkuhan
2.    kekerasan (abuse)
3.    pemerkosaan
iii.    Karena gangguan mental:
1.    Jiwa yang bipolar (BPD: Borderline Personality Disorder)
2.    Situasi obsesif-kompulsif
a.    Obsesi (keinginan yang tak teratur, seperti “kerasukan” dan digerakkan oleh suatu keharusan)
b.    Kompulsi (dorongan hasrat yang kacau, seperti “ditarik hebat” dan tidak bisa melawan)
b.    lalu, apakah yang harus dilakukan, supaya di dalam keluarga/rumah-tangga kita cinta itu tetap menyala bahkan berkobar-kobar?

2.    Prinsip solusi:
a.    Mencapai akar masalahnya:    temukan penyakitnya.
b.    Mengatasi persoalan utamanya    berikan obatnya.

3.    Yang hendak kita bicarakan kali ini:
a.    Bagaimanakah caranya, agar cinta kita bisa berkobar-kobar, dengan menempuh “jalan kerohanian Kristiani?”

4.    Jalan kerohanian Kristiani:
a.    Prinsip utamanya:
i.    Semua hal yang terjadi dalam hidup kita, itu bersifat baik.
ii.    Mengapa? Karena, segala hal yang kita alami itu mengalir dari kehendak Allah, yang adalah Bapa kita, dan yang sekaligus adalah Sang Penolong (Roh Kudus) bagi kita, dan yang sekaligus adalah Sang Penebus (i.e. Kristus) yang menjadi Tuhan pemilik hidup kita.
iii.    Dengan kata lain, hidup kita itu mengalir dari Diri Allah Tritunggal Yang Mahakudus: Bapa, Putera, dan Roh Kudus.
iv.    Maka, segala hal yang kita alami itu pastilah bersifat baik.
b.    Tapi, bagaimanakah dengan jalannya realitas yang diisi oleh kenyataan-kenyataan yang tidak baik, yang jahat, yang pedih, yang menyakitkan, dan yang membawa kemalangan pada manusia?
i.    Hidup yang mengalir dari Diri Allah Tritunggal Yang Mahakudus itu, wujudnya seperti sebuah kubus:
1.    Ada puncaknya, itulah wilayah kedaulatan Allah Bapa Yang Transendens.
2.    Ada dasarnya, itulah wilayah kedaulatan Roh Kudus yang selalu rendah hati dan tersembunyi namun justru menjadi penjamin utama bagi terlaksananya kehendak ilahi di dalam dunia insani manusia.
3.    Ada empat sisi penyangganya, itulah wilayah-wilayah hidup Kristus yang bersentuhan dengan:
a.    Kekacauan
b.    Nativitas
c.    Penebusan
d.    Kebangkitan
ii.    Kalau kita hendak melihat wajah Allah, maka kita perlu memasuki keempat dimensi “wilayah-wilayah hidup Kristus” itu di dalam hidup  kita.
iii.    Bagaimana caranya? – Inilah yang akan kita selami dalam pengolahan berikut.

5.    Pengolahan 1 (dimensi kekacauan)
a.    Lukiskanlah dalam angan-angan kita, seperti apakah yang namanya:
i.    Hidup di lembah dosa.
ii.    Hidup di neraka.
iii.    Hidup dalam pengkhianatan terhadap Allah.
iv.    Hidup di dalam kematian.
b.    Rasakanlah kepedihannya, dengan memakai panca-indera. (Ini disebut meditasi “pengenaan panca-indera”).

6.    Pengolahan 2 (dimensi nativitas)
a.    Lukiskanlah dalam angan-angan kita, betapa hati Allah tersayat-sayat melihat kemalangan manusia
i.    Lihatlah: betapa Bapa berkehendak untuk menyelamatkan umat-NYA;
ii.    Lihatlah: terhadap kehendak ilahi itu maka Sang Putera menyediakan diri-NYA untuk menjelma manusia agar Allah menjadi hadir secara nyata di tengah-tegah umat-NYA;
iii.    Lihatlah: terhadap kehendak Bapa serta kesediaan Sang Putera itu maka Roh Kudus menggelar kuasa-NYA agar apa yang mustahil bagi manusia bisa terlaksana oleh Allah;
iv.    Lihatlah: terhadap kesatuan niat Trinitas itu, malaikat Gabriel diutus untuk mencari seorang perawan yang rela melaksanakan kehendak Allah untuk melahirkan Sang Putera ke dalam dunia, oleh kuasa Roh Kudus;
v.    Lihatlah: terhadap pesan yang disampaikan oleh Gabriel itu maka sang perawan Maria mempersembahkan dirinya dengan berkata: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu."
vi.    Lihatlah: Maria pun mengandung dan pada akhirnya melahirkan Kristus, Tuhan kita, ke dalam dunia. Maria melahirkan-NYA di tempat yang tak terduga, dan yang tak pernah bisa dilihat oleh mata orang-orang yang sombong.
vii.    Lihatlah: Maria dan Yusuf mempersembahkan Bayi Kristus kepada Bait Allah.
viii.    Lihatlah: Maria dan Yusuf berusaha melindungi Bayi Kristus yang akan dibunuh oleh sang penguasa dunia (i.e. Herodes).
ix.    Lihalah: Maria dan Yusuf berusaha mencukupi kebutuhan Sang Kristus, dan mengasuh-NYA, di dusun Nazareth.
x.    Lihatlah: Maria dan Yusuf melihat pertumbuhan Kristus dan berusaha untuk tetap beriman, sekalipun tidak semua hal dapat mereka pahami, seperti waktu mereka kehilangan Yesus yang berusia remaja (i.e. sekitar 12 tahun, Yesus hilang, namun ditemukan lagi di Bait Allah).
b.    Rasakanlah dinamikanya, dengan memakai panca-indera. (Ini disebut meditasi “pengenaan panca-indera”).

7.    Pengolahan 3 (dimensi penebusan)
a.    Lukiskanlah dalam angan-angan kita, bagaimana Kristus menempuh jalan hidupnya sebagai manusia, untuk membuat manusia bertemu dengan Allah dan mengalami cinta-NYA.
i.    Lihatlah:    Betapa DIA masuk ke padang gurun.
ii.    Lihatlah:    Betapa DIA rela menjadi bagian dari tatanan normal dari hidup manusia; DIA tidak menuntut posisi yang selalu di atas.
iii.    Lihatlah:    Betapa DIA rela bekerja keras dan bersentuhan dengan aneka pengalaman insani yang sarat dengan kemalangan.
iv.    Lihatlah:    Betapa DIA rela menempuh jalan salib:
1.    Menanggung pedihnya situasi krisis “sakaratul maut” di Taman Getsemani
2.    Menanggung pedihnya aniaya fisik (dicambuk)
3.    Menanggung pedihnya kehinaan (dimahkotai duri)
4.    Menanggung pedihnya kematian (disalib)
5.    Menanggung pedihnya kehampaan abadi (dimakamkan)
b.    Rasakanlah dinamikanya, dengan memakai panca-indera. (Ini disebut meditasi “pengenaan panca-indera”).

8.    Pengolahan 4 (dimensi kebangkitan)
a.    Lukiskanlah dalam angan-angan kita, bagaimana Kristus menyatakan kuasa ilahi-NYA dengan jalan bangkit dari antara orang mati.
i.    Lihatlah:    Pada hari ketiga, DIA bangkit dari kematian.
ii.    Lihatlah:    DIA menampakkan diri kepada orang-orang yang dikasihi-NYA.
iii.    Lihatlah:  DIA naik ke sorga, tetapi tidak meninggalkan kita.
iv.    Lihatlah: DIA bertakhta mulia di dalam sorga.
b.    Rasakanlah dinamikanya, dengan memakai panca-indera. (Ini disebut meditasi “pengenaan panca-indera”).

9.    Inti pengolahan:    
a.    Kesadaran.
b.    Jika kesadaran tercapai, maka terbitlah mata-air kebahagiaan dari kedalaman lubuk jiwa kita yang paling murni. Ini adalah kebahagiaan yang tidak datang dari luar; ini “datangnya dari dalam.” – Kebahagiaan macam ini akan membuat hati kita berkobar-kobar dengan cinta kasih.

10.    Bagaimanakah caranya mencapai kesadaran?
a.    Caranya adalah dengan membersihkan diri kita dari hal-hal yang merintangi munculnya kesadaran.
b.    Jika kita sudah bersih, maka kesadaran itu akan muncul dengan sendirinya, seperti benih yang berkecambah ketika menemukan media/tanah untuk bertumbuh.

11.    Penutup
a.    Temukanlah penyakitnya, dan berikanlah obat yang tepat.
b.    Jika kita sembuh, maka kesembuhan itu akan menular ke orang-orang di sekitar kita (secara khusus didalam keluarga). Pdt. Simon Rachmadi.

Etika Berbusana Dalam Beribadah

Picture
Ajining dhiri dumunung ing lathi, ajining raga saka busana (nilai pribadi tergantung dari lidah, nilai badan tergantung dari pakaian yang dikenakan)

Peribahasa di atas mempunyai makna sebuah nasihat agar orang berhati-hati dalam berbicara, karena kata-kata itu menjadi pegangan banyak orang. Sedangkan busana berpengaruh pada penampilan seseorang, dihargai atau tidak oleh orang lain.

Ada suatu kisah konon  di sebuah show room mobil merek terkenal di salah satu kota kabupaten datang seseorang berpakaian sangat sederhana berbaju kaos oblong lusuh bersandal jepit sambil memanggul kantong gandum yang kelihatan sarat isinya. Ketika akan memasuki ruangan dia diusir oleh satpam dan tidak diperkenankan untuk masuk karena dikira seorang pengemis.  Tapi satpam itu menjadi terperangah ketika orang tersebut bilang bahwa dia datang untuk membeli mobil baru sambil menunjukkan kantong gandum yang ternyata penuh berisi uang. Memang satpam tersebut tidak bisa disalahkan begitu saja karena melihat dari penampilan orang tersebut, patut diduga sebagai orang yang tidak punya.

Ketika orang punya niat untuk beribadah di sebuah gereja, paling tidak harus menyiapkan hati yang tulus untuk berbakti kepada Tuhan. Karena gereja juga sering disebut Rumah Tuhan, tentu sebagai tamu akan datang dengan pakaian yang pantas. Di sebuah gereja kecil di kampung ketika kebaktian hari Minggu terlihat jemaat berpakaian bersih dan rapi meski sangat sederhana. Hal ini jauh berbeda dengan keseharian mereka yang berpakaian ala kadarnya, bahkan kadang kaum lelakinya hanya memakai celana pendek serta bertelanjang dada. Ini menggambarkan betapa kesadaran mereka sudah cukup tinggi, bahwa untuk datang ke Rumah Tuhan harus berpakaian bersih dan rapi. Meski sederhana tapi sungguh enak dilihat.

Lalu bagaimana keadaan jemaat yang bergereja di kota besar? Belakangan ini jemaat sudah terlena akan gemerlapnya kota besar sehingga kadang lupa membedakan antara ruang publik dan ruang khusus, urusan pelayanan dan bisnis serta urusan ibadah dan rekreasi. Ada yang berpendapat hal itu terjadi karena kurangnya perhatian dari orang tua terhadap perkembangan anak-anaknya yang menginjak dewasa dan mulai brai atau suka bersolek. Tetapi kalau yang brai justru orang tuanya lalu bagaimana? Tentu sah-sah saja sepanjang bisa menempatkan diri sesuai situasi dan kondisi. Sering kita lihat di pulau Bali, masyarakat bahkan wisatawan yang akan memasuki tempat ibadah seperti Pura misalnya, diwajibkan memakai kain seperti sarung. Ini bukan sekedar kebiasaan tetapi memang harus dilakukan sebagai bukti rasa menghormati.

Gereja sebagai Rumah Tuhan tentu tidak bisa disamaratakan begitu saja dengan tempat lain pada umumnya. Penampilan kita pada saat beribadah merupakan cerminan bagaimana kita menempatkan Tuhan dalam kehidupan kita. Seorang perancang busana terkenal dan seiman sering memberikan ceramah di berbagai jemaat karena merasa prihatin melihat cara berbusana mereka yang kurang tepat pada saat beribadah. Memang dalam perdebatan tentang etika berbusana ini terkesan lebih sering ditujukan pada kaum wanita. Meski barangkali mereka tidak dengan sengaja berpakaian seronok untuk memperlihatkan keindahan tubuhnya supaya lawan jenis yang lemah iman akan jatuh dalam pencobaan. Konon fungsi busana atau pakaian adalah untuk menutupi aurat, melindungi tubuh dari panasnya matahari dan dinginnya angin malam. Tetapi karena perkembangan jaman yang semakin maju maka fungsi pakaian lebih dititik beratkan pada estetika atau fesyen. Itulah sebabnya sering kita lihat jemaat gemar menggunakan pakaian yang aneh-aneh saat beribadah karena katanya mengikuti trend mode. Bisa jadi mereka memang belum mengerti dalam menempatkan diri karena tidak ada aturan atau pelajaran khusus yang dilakukan oleh Gereja bahkan mungkin dalam katekisasi sekalipun. Atau mungkin karena sudah empat puluh tahun budi pekerti tidak diajarkan lagi di sekolah.

Menurut dr. Sri Kadarsih Subroto dalam suatu ceramahnya, busana untuk beribadah di gereja sebaiknya memenuhi azas kepatutan dan kesopanan sehingga tidak menjadi batu sandungan karena menggangu konsentrasi jemaat yang lain. Adapun kriterianya adalah sbb.
Bentuk
Bisa bentuk formal maupun casual, yang penting terkesan tampil sederhana, klasik, sopan, tidak ketat, tidak seronok dan mengundang perhatian. Bisa berupa rok terusan biasa atau setelan atas bawah, bisa rok panjang atau longdress dengan atau tanpa blazer. Bisa baju tradisional atau nasional untuk event khusus. Bisa berupa celana panjang (bukan celana ¾, bukan jeans, bukan celana ketat atau legging dan bukan kulot).
Model
Hindari lengkungan leher yang terlalu dalam sehingga memperlihatkan lekukan payudara, karena hal ini terlihat kurang sopan. Hindari lengkungan leher bagian belakang/punggung yang terlalu dalam atau back less. Baju sebaiknya berlengan dan bukan you can see. Blouse tidak terlalu pendek sehingga pusar dan kulit perut/pinggang kelihatan. Baju atas bukan model setali atau tank top bagaikan kutang. Pakailah rok setinggi lutut atau dibawahnya, tidak ketat di pinggul. Hindari pemakaian rok diatas lutut, model rok mini atau hot pants sama sekali tidak dianjurkan untuk dipakai beribadah. (Apalagi kalau yang memakai sudah berumur, jangan sampai timbul kesan nenek-nenek pakai rok mini). Jangan memakai rok yang modelnya disobek terlalu keatas tetapi secukupnya saja, yang penting tidak mengganggu waktu melangkah.
Bahan
Hindari mengenakan busana dengan bahan transparan tanpa pelapis. Jangan memakai baju yang berkilauan seperti berbahan satin atau penuh payet seperti mau ke pesta. Hindari juga menggunakan baju berbahan kaos apalagi model ketat melekat seolah mengekspose lekuk-lekuk tubuh. Jangan juga memakai kaos T-shirt yang longgar karena terkesan kurang formal, seperti hendak berangkat olah raga.    
Warna
Dianjurkan untuk tidak memakai busana dengan warna yang menyolok, kecuali untuk kombinasi blouse dalam boleh kontras asal serasi. Sebaiknya gunakan warna netral dan tidak lebih dari tiga warna untuk perpaduan yang serasi. Pemilihan warna juga sangat tergantung dari warna kulit. Bagi yang berkulit pucat gunakan aksen kontras sedangkan yang berkulit gelap gunakan warna yang terang/muda.
Kelengkapan
Pakailah tas, sepatu/sandal yang sederhana namun serasi warnanya. Usahakan tidak memakai sepatu yang menimbulkan bunyi keras sewaktu berjalan. Dan jangan memakai sandal yang biasa dipakai dirumah atau ke kamar mandi.
Perhiasan
Kenakan perhiasan yang sederhana saja, jangan terkesan seperti mau ke pesta kecuali ada acara khusus seperti pemberkatan pernikahan. Perhiasan tidak selalu harus dari emas murni, bahkan dengan sedikit kreasi bisa memakai sesuatu yang murah namun tampil anggun.
Demikian antara lain busana yang dianjurkan untuk dipakai dalam beribadah, enak dipakai dan enak dipandang. Selamat beribadah. Ode Pamungkas. *dari berbagai sumber.

Aku Melihat Mereka seperti Pohon-pohon yang Berjalan-jalan

Picture
(Permenungan seorang lansia yang kehilangan separoh daya-lihatnya)

Kisah penyembuhan seorang buta di Betsaida.  
Yesus dan murid-muridNya tiba di Betsaida, demikian disebut dalam Injil Markus 8: 22-26. Kisah ini memuat rincian yang menarik, yang memicu permenungan. Sama-sama menuturkan penyembuhan seorang buta oleh Yesus Sang Penyembuh sekaligus Juru Selamat, ada beberapa perbedaan dengan kisah penyembuhan Bartimeus di Yerikho (Markus 10: 46-52). Bartimeus, pengemis yang buta itu, sangat aktif dan gigih dalam usahanya memohon kesembuhan dari Yesus; tanpa memedulikan kejengkelah orang banyak ia berteriak berulang-ulang dengan suara nyaring: “Yesus, Anak Daud kasihanilah aku!”. Akhirnya Yesus memanggil Bartimeus, lalu bertanya: “Apa yang kau kehendaki Kuperbuat bagimu?”. Bartimeus menjawab: “Rabuni, aku ingin dapat melihat!”. Yesus menjawab: “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Saat itu juga ia dapat melihat, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalananNya. Bartimeus disembuhkan oleh sabda Yesus yang penuh kuasa ilahi.

Si buta dari Betsaida, digambarkan amat berbeda dibandingkan dengan Bartimeus. Ia nampaknya pasif dan penurut. Ia dibawa oleh orang banyak kepada Yesus, “supaya Ia menyentuh dia” (Markus 8: 22). Bagi seorang buta, yang tidak bisa melihat, sentuhan  seorang penyembuh sangat bermakna.  Lebih dari itu, Yesus bahkan “memegang tangan orang buta itu, dan membawa dia keluar desa” (ay.23). Yesus ingin bercakap-cakap dengan dia, tanpa diganggu oleh hiruk pikuk suara orang banyak. Dalam perjalanan ke luar desa, dengan pegangan tangan Yesus, iman si buta di tumbuhkan dengan pengharapan akan menerima pertolongan secara khusus. Di tempat sepi di luar desa, Yesus  “meludahi mata orang itu dan meletakkan tanganNya atasnya” (ay.23)  Bagi si buta, percikan ludah dan tekanan tangan Yesus, dirasakan penuh sebagai “sentuhan penyembuhan ilahi”. Yesus lalu bertanya kepadanya: “Sudahkah kau lihat sesuatu? . Ia menjawab : “Aku melihat orang-orang seperti pohon-pohon, namun aku melihat mereka berjalan-jalan” (ay. 24). Pada layar monitor mata si buta, yang sebelumnya selalu hitam gelap, mulai muncul gambar kabur batang-batang pohon yang tegak berdiri – seperti yang ia ketahui dari rabaan tangannya sebagai orang buta—namun mereka berjalan-jalan. Si buta menerima penyembuhan bertahap, penyembuhan separoh, belum sempurna. Matanya masih kelewat kabur dan , penglihatannya belum jelas, belum sempurna.

Langkah berikutnya: Yesus meletakkan lagi tanganNya pada mata orang itu maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas (ay. 25).Yesus mengalirkan kekuatan penyembuhan ilahi lagi, untuk menciptakan lagi bagian-bagian organ penglihatan yang tadinya rusak, sehingga pulih sempurna, dan ia dapat melihat dengan jelas. Kisah penyembuhan orang buta di Betsaida yang dituturkan dengan rincian khusus ini, mendorong suatu kesimpulan bahwa untuk setiap kasus yang berbeda, Yesus menempuh cara penyembuhan yang berbeda pula. Mengenai penempatan perikop ini, di depan perikop “Pengakuan Petrus”, beberapa penafsir menangkap sinyal tentang gambaran pertumbuhan bertahap pemahaman para murid tentang bagaimana mereka mengenal Yesus. Mula-mula mereka tak mengenal Yesus (=buta), lalu mengenal sepotong-sepotong (=penglihatan kabur) baru kemudian mengenal dengan jelas (=melihat dengan jelas). Itulah pengalaman para murid, yang diwakili oleh Petrus (Markus 8: 27-30)

Permenungan  
Krisis kehilangan separoh daya lihat.     
Si Buta dari Betsaida disembuhkan secara bertahap, sebaliknya saya kehilangan daya lihat secara bertahap. Tanggal 20 Maret 2013 saya jatuh sakit berat, hingga harus dirawat di rumah sakit. Penyakit diabetes  yang saya derita sejak usia 53 tahun, saat saya berusia 79 tahun meminta kurban. Penyakit yang bersifat degeneratif  itu, pada perkembangannya akan merusak organ-organ tubuh yang lain. Pada kasus saya, ia merusak separoh syaraf mata kiri saya, hingga ada “awan hitam yang selalu menggantung di mata kiri bagian atas”. Dokter mata saya menggambarkan  kasus saya itu, ibarat putusnya kabel-kabel listrik, sehingga separoh rumah jadi gelap. Ia lebih lanjut menjelaskan bahwa kerusakan syaraf ini bersifat permanen, karena sel-sel syaraf dalam tubuh manusia itu tidak dapat membaharui diri, seperti sel-sel tubuh yang lain. Jadi saya kehilangan daya lihat secara permanen, dengan kata lain menjadi cacat mata seterusnya, dalam sisa hidup saya.

Saya menyerap penjelasan rinci dokter mata itu dengan saksama dan mencernanya dengan hati sendu. Faktanya saya memang tidak mampu melihat, seperti sebelum jatuh sakit. Segala sesuatu nampak kabur. Siang hari yang terang benderang, nampaknya diseimuti kabut. Pada spectrum penglihatan saya, ada sektor yang gelap. Membaca surat kabar, hanya nampak judul-judul berita, yang dicetak dengan huruf-huruf besar. Ketika  memasuki ruangan yang gelap, ada saat pandangan sangat kabur, hingga harus berhenti sejenak ketimbang membentur sesuatu yang tak jelas nampak. Kesemuanya menyebabkan frustasi, yang kalau tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan keputus-asaan.

Upaya mengelola frustasi  
Kehilangan separoh daya lihat bagi saya, benar-benar merupakan bencana. Terutama karena membaca berkaitan dengan fungsi utama saya sebagai pendeta yang bertugas sebagai dosen. Saya masih harus menyelesaikan bimbingan beberapa mahasiswa S-3. Di samping itu masih ada tugas sebagai “pembaca ahli” dalam Tim Revisi Alkitab PL Bahasa Jawa. Bagaimana harus menyikapi kenyataan yang datang tak terduga ini.

Saya teringat akan  kasus seorang sahabat yang berprofesi sebagai dokter ahli bedah jantung, yang mengalami frutasi hebat, tatkala ia mengalami diskualifikasi, karena diketahui bahwa ketajaman penglihatannya menurun. Sangat berat ia menerima kenyataan itu, pada saat kariernya sedang menanjak. Saya teringat kisah lain yang dituturkan oleh seorang teman, tentang frustasi hebat yang dialami oleh seorang prajurit penembak jjtu, yang kehilangan penglihatannya dalam suatu operasi militer; demikian dahsyat frustasinya hingga ia berusaha membakar rumah dinasnya sendiri.

Saya ingin mengelola (baca: mengendalikan) frustasi saya secara lebih moderat, mengingat status saya sebagai  seorang lansia yang sudah dianugerahi usia 80 tahun. Seorang sahabat menghadiahi sebuah buku The Miracle of Endorphin, karangan Dr Shigeo Haruyama, terbitan Mizan, Bandung. Menurut Dr Haruyama, endorphin atau hormone kebahagiaan dalam tubuh manusia, amat penting. Utamanya dalam pengelolaan stres, yang menjadi musuh manusia yang paling besar. Rasa frustasi sebagai suatu bentuk stress, bila dapat dikelola dengan baik, tidak akan berakibat buruk (=distress) tetapi akan berakibat baik (=eustress). Semuanya tergantung dari  reaksi manusia , dalam bentuk cara memikirkan  maupun cara memahami masalah yang dihadapi. (hal 189)  Jika manusia bersikap menolak, misalnya : marah, otaknya akan mengeluarkan hormone noradrenalin; jika manusia takut; otaknya akan mengeluarkan hormone adrenalin. Kedua senyawa ini beracun. Tetapi jika manusia mau menerima kenyataan lalu berfikir positif, maka otaknya akan mengeluarkan hormone beta- endorphin atau hormone kebahagiaan, yang akan memengaruhi kondisi kesehatannya. (hal. 95,96)

Dengan kesadaran  diri, semenjak jatuh sakit berat itu, saya menangkap sinyal-sinyal alami, bahwa tubuh saya mengalami perubahan karena “dimakan usia”. Tatkala saya tak mampu berjalan. harus dipapah untuk duduk di  kursi roda, ke mana-mana harus dibantu orang lain, mata kabur dan tak sanggup membaca, saya merasa bahwa akhir hidup saya sudah dekat. Sebagai pencinta tanaman  saya memahami ada waktu tumbuh dan mekar, tetapi pasti datang waktu untuk layu dan kering juga. Anak-anak saya (dan teman-teman dekat saya) – menurut kesan saya – kurang nyaman mendengar ungkapan perasaan hati saya seperti itu. Apa boleh buat, saya yang mengalami proses degenerasi fisik itu, harus bersikap jujur dn realistis. Dan saya mulai berfikir berangkat dari kenyataan konkret ini, dan mencari-cari apa yang masih dapat dilakukan dengan “sisa berkat” Sang Bapa Pengasih.

Saya merasa berkatNya sudah terlimpah selama 79 tahun hidup saya yang harus saya syukuri, kini saya perlu belajar “menghitung-hitung” anugerahNya yang masih mengalir dalam perpanjangan “bonus tambahan usia” sambil menunggu saat kepulangan saya ke Rumah Bapa di Surga, seperti dijanjikan Sang Juru Selamat Yesus Kristus. Berdasarkan keyakinan akan pemeliharaan Tuhan yang kasih setiaNya tak berkesudahan dan selalu baru setiap pagi, saya mengembangkan pola berfikir secara positif. Nampaknya sampai saat ini, dalam proses “sedang menjadi layu”, sikap hidup ini menolong saya untuk menerusi sisa hidup secara “minimalis”.  Kiranya Roh Kudus menguatkan hambanya.

Mencari celah-celah di antara “pohon-pohon yang nampak berjalan-jalan”  
Tanggal 18 Maret 2013 saya masih menyetir sendiri mobil saya ke Lembur Pancawati, Ciawi, untuk menghadiri pertemuan tahunan para Pensiunan PGI, Saya masih mampu menyelip dengan lincah di antara truk-truk tronton yang membawa muatan berat ke arah Sukabumi. Sekeluar dari rumah sakit, mata saya kabur berat. Setelah dioperasi katarak mata kiri saya tetap gelap. Setelah dipotret dokter menemukan bahwa syaraf mata saya telah “mati” separoh, dan ini diartikan sebaga cacat permanen. Tanggal 9 Mei 2013, surat ijin mengemudi saya habis masa berlakunya. Dengan berat hati saya putuskan untuk tidak memperpanjang SIM itu, karena amat berbahaya untuk memaksakan diri tetap nyopir di antara para pengendara motor yang gesit, lincah tetapi tidak tertib berlalulintas. Saya bakal kehilangan kebebasan bergerak, walaupun  itulah pilihan “yang pahit” namun aman untuk saya. Mulai saat itu saya harus “merumahkan diri”.  Untuk bepergian saya   minta pertolongan orang , lain, bahkan ke gerejapun saya menjadi sangat tergantung kepada orang lain.  Untung ada anak, menantu, cucu dan sahabat-sahabat yng bersedia menolong.

Mata kabur sangat megganggu ketika saya harus berurusan dengan mesin ATM. Biasanya saya mampu melakukan pembayaran tagihan tilpun, listrik dsb atau menarik  uang tunai. Kini saya harus minta tolong putri bungsu saya untuk berurusan dengan ATM, yang menuntut kecermatan dan kecepatan menekan tombol-tombol angka. Ia juga selalu mendampingi saya ketika berurusan dengan petugas-petugas bank, untuk menjadi “mata bantuan” dalam berurusan dengan aneka huruf kecil pada dokumen-dokumen perbankan.

Berlangganan surat kabar juga saya hentikan, karena yang dapat dibaca dengan nyaman hanyalah judul-judul berita, yang dicetak dengan huruf-huruf sangat besar. Untuk gantinya saya mengutamakan mendengar berita lewat radio dan TV. Membaca buku dan majalah kini bagi saya merupakan hal yang mejadi beban. Bila sangat perlu, saya menggunakan kaca pembesar.  Oleh sebab itu, saya memutuskan untuk mengakhiri semua tugas membimbing mahasiswa, karena tak mampu lagi membaca buku-buku ilmiah, yang biasanya tebal-tebal, dan dipenuhi dengan catatan- catatan kaki dengan huruf-huruf sangat kecil. Demikian juga saya sudah tidak berani berkhotbah  di gereja, karena tidak dapat mempersiapkannya secara bertanggung jawab.

Oleh adanya computer, saya banyak terbantu, karena huruf-huruf dapat diperbesar atau dijadikan tebal. Ini berguna dalam urusan surat menyurat lewat email atau mengetik karangan- karangan sederhana. Namun dalam mengoperasikan computer secara penuh, saya tetap mengalami hambatan, karena saya tidak mampu membaca petunjuk-petunjuk yang dimunculkan dilayar dengan huruf-huruf kecil dan tipis. Saya sangat dibantu oleh anak-cucu saya dalam memakai computer, apalagi sebenarnya saya adalah seorang “gaptek” yang selama dinas aktif saya selalu dibantu oleh seorang sekretaris yang terampil.

Dalam urusan hidup sehari-hari saya sering benar-benar tercenung, karena tidak dapat melihat secara tajam. Berurusan dengan alat-alat listrik, soal memasang sekrup betul-betul teramat sulit. Mata tidak mampu melihat lubang untuk memasukkan sekrup itu. Banyak kali rabaan ujung-ujung jari dapat berfungsi menjadi pengganti mata. Yang hampir tidak mungkin dilakukan adalah memasukkan benang di lubang jarum, guna memasang kancing yang lepas, atau menisik kain yang robek.

Di kebun mata kabur saya juga tidak mampu melihat pisang yang mulai ada yang masak di tandannya. Beberapa kali codot mendahului menikmati pisang-pisang itu, sebelum saya mampu melihatnya. Satu kali saya pernah minta tolong kepada seseorang yang kebetulan lewat, untuk memastikan bahwa tandan pisang itu sudah mulai masak, hingga pohon boleh ditebang. Saya juga tidak mampu lagi melihat buah sukun atau surikaya yang tersembunyi dibalik daun-daun yang rimbun. Saya harus belajar, bahwa orang-orang lain menunjukkan berkat-berkat Tuhan, berupa buah-buahan dari pohon-pohon tanaman  saya.

Penutup  
Si Buta dari Betsaida, yang disembuhkan Tuhan Yesus, di wanti-wanti untuk langsung pulang ke rumahnya dan dilarang masuk ke desa itu (ay. 26). Tuhan Yesus tidak ingin orang banyak di desa itu dengan gempar menyambutNya sebagai Sang Penyembuh penyakit jasmani, karena itu bukan tugas utamaNya. Ia datang justru sebagai Juru Selamat yang menebus dosa dan menyelamatkan manusia, seperti pengakuan Petrus (ay.29), setelah mata imannya dicelikkan secara bertahap juga.

Mata jasmaniah saya menjai kabur, namun mata batiniah saya justru dicelikkan, terutama setelah “keserakahan batiniah” saya secara bertahap disingkirkan, melalui konsolidasi sikap berserah penuh kepada pemeliharaan kasih Bapa Surgawi. Aneka ragam masalah karena mata yang kabur, yang didoakan dengan berserah penuh, dijawab olehNya dengan mengutus orang-orang yang membantu memecahkan masalah itu, seolah-olah “malaikat penolong” utusan Tuhan. Orang-orang itu adalah anak, menantu, cucu, teman dan sahabat, tetangga bahkan orang yang tak saya kenal sebelumnya. Dari masalah transportasi, pengurusan JPKS yang ruwet, gorong-gorong yang mendadak tersumbat, mengatasi kebocoran atap garasi yang khronis, kemacetan computer, penggantian lampu neon di plafond, kekosongan PRT,  dsb. Mata batiniah saya dicelikkan untuk secara jelas melihat bahwa benar “kasih setia Tuhan itu tak berkesudahan,  tak habis-habisnya rahmatNya, selalu baru setiap pagi, besar kesetiaanNya” (band. Ratapan 3: 22-23),

Sebulan terakhir ini saya tinggal di rumah seorang diri, karena PRT setia yang telah 14 tahun melayani saya minta berhenti untuk menjaga ibunya yang uzur di desanya. Saya ditemani dua ekor anjing dan seekor kucing. Kucing ini sangat akrab dengan saya, karena setiap hari saya sediakan makanannya.  Ia menunggui saya di waktu saya makan, menanti-nanti remah-remah makanan kalau ada yang diberikan. Ia menanti-nanti sambil berbaring melingkar dan menempelkan punggungnya di tumit kaki saya. Dalam hati saya timbul ilham, bahwa saya perlu mencontoh kucing saya, untuk menempelkan  diri kepada Bapa Surgawi Sang Pemelihara hidupku, yang dalam proses “menjadi layu” ini. Bagi saya yang paling penting adalah percaya  bahwa Tuhan Yesus adalah Juru Selamat saya, yang bersabda “Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal. …Aku akan membawa kamu ke tempatKu, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada” (Band. Yoh, 14: 2-3). Prof. DR. Soelarso Soepater.

Bale Gala-gala

Picture
Alkisah, peperangan besar antara raja negeri Astina Prabu Pandu Dewanata melawan raja raksasa negeri Pringgandani bernama Prabu Kala Tremboko menyebabkan Prabu Kala Tremboko gugur dan Prabu pandu Dewanata menderita luka parah. Dikakinya tertancap keris milik Prabu Kala Tremboko yang bernama Kyai Kalanadah. Dalam keadaan kaki tertancap keris Kyai Kalanadah itu Prabu Pandu Dewanata dibawa pulang ke negeri Astina.

Dalam keadaan sakit Prabu Pandu Dewanata mengumpulkan kerabat Astina antara lain:
Adipati Destarastra (kakak kandung Prabu Pandu), Dewi Gendari (isteri Adipati Destarastra) dan Patih Sengkuni. Pada waktu itu Pandawa (Raden Puntadewa, Raden Bratasena, Raden Pamade, Raden Nakula dan Raden Sadewa) masih kanak-kanak. Didalam pertemuan tersebut Prabu Pandu Dewanata meninggalkan pesan kepada Adipati Destarastra.    


“Kanda Adipati Destarastra, rasanya saya tidak bisa menunggui anak-anak saya Pandawa. Maka dari itu saya ingin menitipkan anak-anak saya Pandawa yang masih kecil-kecil ini dan  pemerintahan negeri Astina kepada kanda Adipati. Kelak apabila anak-anak sudah dewasa sudilah kanda Adipati menyerahkan pemerintahan negeri Astina ini kepada Pandawa.”  Demikian pesan Prabu Pandu Dewanata kepada kakandanya Adipati Destarastra.    

Maka setelah Prabu Pandu mangkat pemerintahan negeri Astina dijalankan oleh Adipati Destarastra dengan gelar Prabu Destarastra. Berhubung Prabu Destarastra cacat (tidak bisa melihat) maka Patih Sengkuni sangat berperan, baik dalam pemerintahan negeri Astina maupun masalah pendidikan para Korawa (putra Prabu Destarastra yang berjumlah seratus orang). Waktu terus berjalan, Pandawa dan Korawa semakin menjadi besar dan dewasa. Pada suatu hari Prabu Destarastra memanggil keluarga Pandawa dan Korawa.    

Didalam pertemuan itu Prabu Destarastra mengingatkan kepada semua yang hadir bahwa berhubung Pandawa sudah Dewasa maka Prabu Destarastra ingin sekali menepati pesan mendiang Prabu Pandu yaitu ingin menyerahkan negeri Astina dan pemerintahannya kepada Pandawa. Adapun penyerahan itu akan dilakukan disuatu tempat diluar kota, yaitu di kota Waranawata dan disitu telah disiapkan suatu pesanggrahan yang disebut Bale Gala-gala.
Mengikuti sabda Sri Baginda maka bersiap-siaplah keluarga Pandawa dan Korawa untuk berangkat ke kota Waranawata.

Sebelum berangkat, karena tidak setuju dengan titah Sang Prabu Destarastra maka Dewi Gendari memanggil Patih Sengkuni, Raden Kurupati (putra sulung Prabu Destarastra) dan Tumenggung Purucana (abdi kinasih Raden Kurupati) untuk mengadakan kegiatan dengan tujuan memusnahkan para Pandawa di Bale Gala-gala.  Dijelaskan oleh Dewi Gendari, karena apabila negeri Astina diserahkan kepada Pandawa maka Korawa akan terlantar hidupnya disebabkan tidak mendapatkan kamukten di negeri Astina. Disepakati pada waktu sehabis pesta malam, sebelum upacara penyerahan dilakukan pada esok harinya, pesanggrahan akan dibakar pada waktu para Pandawa dan Dewi Kunthi (isteri Prabu Pandu dan ibu Pandawa) sedang tidur.    

Tugas pembakaran ini diserahkan kepada Tumenggung Purucana. Lain halnya para Pandawa, Raden Yamawidura (adik Prabu Pandu) dalam menanggapi rencana Prabu Destarastra mengkhawatirkan watak serakah yang dimiliki Dewi Gendari dan Sengkuni. Maka ia berpesan kepada Pandawa agar selalu berhati-hati bila sudah berada di Bale Gala-gala. Raden Yamawidura yakin Sengkuni tidak akan tinggal diam untuk memusnahkan para Pandawa. Di kota Waranawata telah disiapkan pesanggrahan yang bagus dengan segala perlengkapannya yang disebut Bale Gala-gala. Arsitek bangunan ini adalah Tumenggung Purucana.   
 
Bangunan yang disediakan untuk para Pandawa dibuat dengan menggunakan bahan bangunan yang mudah terbakar. Perjalanan Pandawa dan Korawa telah sampai di Waranawata dan rombongan langsung menuju tempat mereka masing-masing yang sudah ditentukan. Menjelang tengah malam ketika diperkirakan para Pandawa sudah tidur, Raden Kurupati memerintahkan Purucana untuk  segera bertindak. Dengan sigap Purucana melaksanakan perintah dengan membawa obor mendekati tempat peristirahatan para Pandawa. Pada waktu itu Dewi Kunthi, Raden Puntadewa, Raden Pamade, Raden Nakula dan Raden Sadewa telah tertidur lelap. Hanya sang  Bratasena yang tidak tidur dan berjaga-jaga.

Begitu melihat Purucana membawa obor, Bratasena yang curiga membiarkan Purucana mendekat ke pesanggrahan. Setelah masuk pesanggrahan dengan secepat kilat sang Bratasena menghajar Purucana dan dilemparkannya mengenai dinding pesanggrahan. Obor pun terlepas dari tangan Purucana. Seketika Bale Gala-gala terbakar. Dewi Kunthi beserta Puntadewa dan adik-adiknya diselamatkan oleh sang Bima dari kobaran api yang menyala-nyala.

Seorang wanita fakir-miskin bersama dengan lima orang anaknya yang kebetulan tidur di depan pesanggrahan ikut terjilat kobaran api itu dan mati semuanya. Melihat kematian para fakir-miskin dengan mayat yang hangus terbakar itu para Korawa yakin bahwa itu adalah mayat para Pandawa beserta Dewi Kunthi. Kontan Raden Kurupati dan saudara-saudaranya bersukacita merayakan keberhasilannya memusnahkan Pandawa.     

Prabu Destarastra sangat terpukul oleh kejadian itu dan merasa sangat berdosa dengan berita meninggalnya para Pandawa dan Dewi Kunthi. Sang Prabu pulang ke Astina penuh dengan perasaan duka. Dikisahkan perjalanan para Pandawa dan Dewi Kunthi yang terbebas dari kobaran api Bale Gala-gala masuk kedalam hutan. Mereka menjalani hidup yang sangat berat, ibarat kandang langit kemul mega (berkandangkan langit dan berselimut mega), tidak memiliki apapun. Untuk makan saja kadang-kadang makan, kadang-kadang tidak. Hidup tidak menentu dan tanpa tujuan. Berbulan-bulan mereka menjalani hidup sengsara didalam hutan.

Pada suatu hari cuaca sangat buruk, mendung tebal, sehingga didalam hutan itu kelihatan gelap menandakan hujan akan segera turun. Maka Dewi Kunthi minta kepada anak-anaknya untuk berteduh didalam goa yang terlihat dari tempat mereka berada. Merekapun menuju kearah goa dan masuk ke dalamnya. Tanpa dinyana-nyana goa itu menutup dengan sendirinya. Ternyata pintu goa tersebut adalah mulut Sang Hyang Batara Hanantaboga yang berubah wujud menjadi naga raksasa. Dewi Kunthi dan Pandawa dibawa ke kahyangan Sapta Pertala.

Setelah sampai di kahyangan Sapta Pertala, atas persetujuan kedua belah pihak maka Raden Bratasena dinikahkan dengan Batari Nagagini (putri Batara Hanantaboga) yang telah lama merindukan Raden Bratasena. Kira-kira setengah tahun Dewi Kunthi dan Pandawa tinggal di Sapta Pertala. Mereka tidak bisa berlama-lama tinggal disitu, maka mereka mohon pamit kepada Batara Hanantaboga untuk melanjutkan perjalanan mereka sambil melakukan tapa brata yang disebit tapa ngrame. Batari Nagagini yang sedang hamil muda ditinggalkan di Sapta Pertala. Kelak anak yang dikandung ini lahir laki-laki dan diberi nama Hanantasena.

Catatan Redaksi :
Cerita wayang kali ini diturunkan dalam rangka pelestarian budaya jawa dan usulan dari komunitas Universitas Indonesia agar tgl, 9 Nopember djadikan Hari Wayang Nasional. Sementara cerita wayang diatas menggambarkan kuasa gelap yang menyelimuti Kurawa dikalahkan oleh kuasa terang dan kebenaran yang menyinari Pandawa.             


Powered by Create your own unique website with customizable templates.