Seni Budaya Memuliakan ALLAH
“Oleh karena bangsa ini datang mendekat denaan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari padaKu, dan ibadahnya kepadaKu hanyalah perintah manusia yang dihafalkan, maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orang yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orang yang arif akan terembunyi.” (Yes 29 : 13,14)
Budaya adalah pola hidup menyeluruh yang kompleks, riil, abstrak, dan luas, budaya yang memiliki seni / seni budaya, dapat berdampak positif sehingga mampu memuliakan Allah, tetapi budaya yang tidak memiliki seni bisa mendukakan Allah. Oleh karena itu perlu dibahas agar kita dimampukan untuk melaksanakan budaya kehidupan untuk memuliakan Allah .Kemuliaan Allah sempurna, kita hanya bisa memuliakanNya karena kita mereklesikan kuasa kasih karuniaNya yang ajaib. Seni budaya pada umumnya menghasilkan rasa kagum kepada cipta, rasa, karya manusia dan kurang mendorong kita kepada kemuliaan Allah, hal ini karena terikat masalah lahiriah saja, dan masalah hati wajib menjadi pusat perhatian yang utama dan pertama. Pikiran, perasaan, tutur kata, tindakan nyata, bahkan visi dan misi kita merupakan realisasi budaya kehidupan maka dimensi jasmani dan rohani wajib menjadi dasar seni budaya memuliakan Allah.
Atas dasar latar belakang tersebut perlu diawali dengan pembahasan mengenai budaya, seni budaya, budaya tak berseni, tujuan hidup memuliakan Allah. Kritik dan saran yang membangun sangat dinantikan demi kelengkapan dan kesempurnaan materi pembahasan.
BUDAYA BERNILAI SENI
Budaya mengandung beberapa unsur yang rumit termasuk agama, politik, adat istiadat, bahasa, peralatan, pakaian, bangunan, makanan, minuman, seni tari, lukis, musik, hukum, moral, dan kemampuan-kemampuan manusia termasuk teknologi, secara umum merupakan akal pikiran, usaha, dan upaya manusia untuk menyatakan perasaan, keinginan, pengucapan syukur, pemujaan, dan refleksi diri,
Seni musik
Berbagai alat musik tiup, petik, gesek, pukul, dan elektronik. Kelompok musiknya disebut orchestra atau orkes, yang dipimpin seorang konduktor agar para pemusiknya memainkan dengan tepat dengan mengayunkan tongkat untuk menunjukkan tempo atau kecepatan yang dikehendaki serta untuk memberikan perasaan pada lagunya.
Seni lukis
Manusia dapat mempunyai banyak perasaan seperti perasaaan bahagia, sedih, cemas, dan gembira. Beberapa seniman mencoba menunjukkan perasaan terse but dalam karya mereka, baik secara naturalis, maupun berupa lukisan aneh dan nampak tidak punya arti, tetapi sebenarnya merupakan lambang perasaan kita, gaya ini disebut abstrak atau surealis.
Seni tari
Seni tari adalah gerak tubuh secara berirama yang dilakukan di tempat dan waktu tertentu untuk keperluan pergaulan, mengungkapkan perasaan , maksud dan pikiran. Musik pengiring tari mengatrur gerekan penari dan memperkuat maksud yang ingin disampaikan, menurut jenisnya tari digolongkan menjadi tari rakyat, tari klasik dan tari kreasi baru.
Gastronomi / tata boga
Gastronomi atau tata boga adalah seni atau ilmu akan makanan yang unik, dan berhubungan dengan kenikmatan dari makanan dan minuman, merupakan produk budi daya pada kegiatan pertanian sehingga mencerminkan warna, aroma, dan rasa dari suatu makanan dapat ditelusuri asal-usulnya dari lingkungan tempat bahan bakuya dihasilkan.
Seni Rupa
Pada zaman dahulu, tidak banyak orang yang berkunjung ke negeri lain karena pada waktu itu tidak mudah orang berpergian seperti sekarang. Oleh karena itu, tiap negeri mengembangkan cara hidup, bahasa, dan gaya seninya sendiri. sekarang ada sarana perjalanan modern, cepat, berteknologi digital maka wajarlah muncul gaya-gaya seni yang merupakan milik bersama banyak negeri.
Budaya digital
Teknologi informasi tadinya dikenal dengan teknologi komputer dengan perangkat elekntronika lainnya menjelma menjadi satu dalam perpaduan kemampuan, sehingga manusia kini mengalami berbagai perubahan di segala aspek kehidupan. Dunia menjadi kecil, semua orang terkoneksi, sebuah revolusi peradaban manusia dengan kecepatan sangat tinggi, sehingga berdampak dalam kehidupan sosial diantaranya : perubahan pola pikir manusia, tekanan dan kompetisi yang meningkat, kemudahan kehidupan sosial masyarakat. Tetapi timbul dampak negatif dianataranya : kemerosotan moral masyarakat, berbagai tindakan menyimpang di kalangan remaja, pola interaksi dan aktivitas sosial masyarakat berubah.
BUDAYA TAK BER NILAI SENI
Budaya malas
Hukum alam kelembaman / malas Newton menyebutkan bahwa sesuatu yang diam / malas akan senantiasa malas, tetapi sesuatu yang bergerak rajin akan selalu bergerak rajin dan beraturan. Oleh karena itu kita wajib berubah dari budaya malas menuju budaya rajin dan beraturan. Perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke tanah Kanaan yang bisa ditempuh beberapa bulan tetapi Tuhan menuntun menjadi bertahun-tahun agar menjadi rajin dan diberkati Tuhan.
Budaya melawan arus lalulintas
Saat ini muncul budaya melawan arus lalulintas terutama pengendara sepeda motor yang sangat membahayakan keselamatan jiwanya. Oleh karena itu ketertiban dan keselamatan bersama harus dibudidayakan agar tidak terjadi kecelakaan, penegakan hukum harus dilaksanakan sehingga budaya tertib dan lancar menjadi nyata dalam kehidupan masyarakat kita.
Budaya korupsi
Kita harus melawan budaya korupsi yang merupakan penyakit yang mewabah saat ini agar kesejahteraan rakyat menjadi nyata dan jurang / ketimpangan sosial dapat teratasi , bahkan orang beriman dan gereja harus tekun berdoa dan berjaga serta menjadi garam dan terang dunia dalam segala aspek kehidupan terutama dalam persekutuan, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, sehingga damai sejahtera Allah menjadi nyata.
SENI BUDAYA MEMULIAKAN ALLAH
Kemuliaan Allah sempurna
Tanpa kita kemuliaan Allah itu sempurna, sehingga Allah sendiri tidak memerlukan kita untuk menunjukkan kesempurnaan kemuliaanNya, tetapi jika kita mengenal Allah yang melimpahkan barkat dan kasih karuniaNya, maka kita akan diberi anugerah yang dapat merefleksikan kemulaanNya. Budaya yang memiliki seni tidak untuk memuliakan manusia atau kelompoknya, tetapi seni budaya yang tulus merupakan pantulan kemuliaan Allah.
Jiwaku telah dibeli Tuhan
Mengapa Allah mau membeli jiwa kita dengan darah yang begitu mahal ? Karena Tuhan mau memakai kita, sehingga kita diberi kemampuan untuk memuliakan namaNya, melalui tubuh, talenta, waktu dan melalui harta kita serta yang utama dan pertama adalah memuliakan Allah melalui lubuk hati yang paling dalam demi kemuliaanNya, hal itu terjadi karena :”Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek-moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula denan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus, yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan bercacat.Ia telah dipilih sebelum dunia ini dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diriNya pada zaman akhir.” (1 Pet 1 : 18 – 20). Amin. JS/PI.
Budaya adalah pola hidup menyeluruh yang kompleks, riil, abstrak, dan luas, budaya yang memiliki seni / seni budaya, dapat berdampak positif sehingga mampu memuliakan Allah, tetapi budaya yang tidak memiliki seni bisa mendukakan Allah. Oleh karena itu perlu dibahas agar kita dimampukan untuk melaksanakan budaya kehidupan untuk memuliakan Allah .Kemuliaan Allah sempurna, kita hanya bisa memuliakanNya karena kita mereklesikan kuasa kasih karuniaNya yang ajaib. Seni budaya pada umumnya menghasilkan rasa kagum kepada cipta, rasa, karya manusia dan kurang mendorong kita kepada kemuliaan Allah, hal ini karena terikat masalah lahiriah saja, dan masalah hati wajib menjadi pusat perhatian yang utama dan pertama. Pikiran, perasaan, tutur kata, tindakan nyata, bahkan visi dan misi kita merupakan realisasi budaya kehidupan maka dimensi jasmani dan rohani wajib menjadi dasar seni budaya memuliakan Allah.
Atas dasar latar belakang tersebut perlu diawali dengan pembahasan mengenai budaya, seni budaya, budaya tak berseni, tujuan hidup memuliakan Allah. Kritik dan saran yang membangun sangat dinantikan demi kelengkapan dan kesempurnaan materi pembahasan.
BUDAYA BERNILAI SENI
Budaya mengandung beberapa unsur yang rumit termasuk agama, politik, adat istiadat, bahasa, peralatan, pakaian, bangunan, makanan, minuman, seni tari, lukis, musik, hukum, moral, dan kemampuan-kemampuan manusia termasuk teknologi, secara umum merupakan akal pikiran, usaha, dan upaya manusia untuk menyatakan perasaan, keinginan, pengucapan syukur, pemujaan, dan refleksi diri,
Seni musik
Berbagai alat musik tiup, petik, gesek, pukul, dan elektronik. Kelompok musiknya disebut orchestra atau orkes, yang dipimpin seorang konduktor agar para pemusiknya memainkan dengan tepat dengan mengayunkan tongkat untuk menunjukkan tempo atau kecepatan yang dikehendaki serta untuk memberikan perasaan pada lagunya.
Seni lukis
Manusia dapat mempunyai banyak perasaan seperti perasaaan bahagia, sedih, cemas, dan gembira. Beberapa seniman mencoba menunjukkan perasaan terse but dalam karya mereka, baik secara naturalis, maupun berupa lukisan aneh dan nampak tidak punya arti, tetapi sebenarnya merupakan lambang perasaan kita, gaya ini disebut abstrak atau surealis.
Seni tari
Seni tari adalah gerak tubuh secara berirama yang dilakukan di tempat dan waktu tertentu untuk keperluan pergaulan, mengungkapkan perasaan , maksud dan pikiran. Musik pengiring tari mengatrur gerekan penari dan memperkuat maksud yang ingin disampaikan, menurut jenisnya tari digolongkan menjadi tari rakyat, tari klasik dan tari kreasi baru.
Gastronomi / tata boga
Gastronomi atau tata boga adalah seni atau ilmu akan makanan yang unik, dan berhubungan dengan kenikmatan dari makanan dan minuman, merupakan produk budi daya pada kegiatan pertanian sehingga mencerminkan warna, aroma, dan rasa dari suatu makanan dapat ditelusuri asal-usulnya dari lingkungan tempat bahan bakuya dihasilkan.
Seni Rupa
Pada zaman dahulu, tidak banyak orang yang berkunjung ke negeri lain karena pada waktu itu tidak mudah orang berpergian seperti sekarang. Oleh karena itu, tiap negeri mengembangkan cara hidup, bahasa, dan gaya seninya sendiri. sekarang ada sarana perjalanan modern, cepat, berteknologi digital maka wajarlah muncul gaya-gaya seni yang merupakan milik bersama banyak negeri.
Budaya digital
Teknologi informasi tadinya dikenal dengan teknologi komputer dengan perangkat elekntronika lainnya menjelma menjadi satu dalam perpaduan kemampuan, sehingga manusia kini mengalami berbagai perubahan di segala aspek kehidupan. Dunia menjadi kecil, semua orang terkoneksi, sebuah revolusi peradaban manusia dengan kecepatan sangat tinggi, sehingga berdampak dalam kehidupan sosial diantaranya : perubahan pola pikir manusia, tekanan dan kompetisi yang meningkat, kemudahan kehidupan sosial masyarakat. Tetapi timbul dampak negatif dianataranya : kemerosotan moral masyarakat, berbagai tindakan menyimpang di kalangan remaja, pola interaksi dan aktivitas sosial masyarakat berubah.
BUDAYA TAK BER NILAI SENI
Budaya malas
Hukum alam kelembaman / malas Newton menyebutkan bahwa sesuatu yang diam / malas akan senantiasa malas, tetapi sesuatu yang bergerak rajin akan selalu bergerak rajin dan beraturan. Oleh karena itu kita wajib berubah dari budaya malas menuju budaya rajin dan beraturan. Perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke tanah Kanaan yang bisa ditempuh beberapa bulan tetapi Tuhan menuntun menjadi bertahun-tahun agar menjadi rajin dan diberkati Tuhan.
Budaya melawan arus lalulintas
Saat ini muncul budaya melawan arus lalulintas terutama pengendara sepeda motor yang sangat membahayakan keselamatan jiwanya. Oleh karena itu ketertiban dan keselamatan bersama harus dibudidayakan agar tidak terjadi kecelakaan, penegakan hukum harus dilaksanakan sehingga budaya tertib dan lancar menjadi nyata dalam kehidupan masyarakat kita.
Budaya korupsi
Kita harus melawan budaya korupsi yang merupakan penyakit yang mewabah saat ini agar kesejahteraan rakyat menjadi nyata dan jurang / ketimpangan sosial dapat teratasi , bahkan orang beriman dan gereja harus tekun berdoa dan berjaga serta menjadi garam dan terang dunia dalam segala aspek kehidupan terutama dalam persekutuan, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, sehingga damai sejahtera Allah menjadi nyata.
SENI BUDAYA MEMULIAKAN ALLAH
Kemuliaan Allah sempurna
Tanpa kita kemuliaan Allah itu sempurna, sehingga Allah sendiri tidak memerlukan kita untuk menunjukkan kesempurnaan kemuliaanNya, tetapi jika kita mengenal Allah yang melimpahkan barkat dan kasih karuniaNya, maka kita akan diberi anugerah yang dapat merefleksikan kemulaanNya. Budaya yang memiliki seni tidak untuk memuliakan manusia atau kelompoknya, tetapi seni budaya yang tulus merupakan pantulan kemuliaan Allah.
Jiwaku telah dibeli Tuhan
Mengapa Allah mau membeli jiwa kita dengan darah yang begitu mahal ? Karena Tuhan mau memakai kita, sehingga kita diberi kemampuan untuk memuliakan namaNya, melalui tubuh, talenta, waktu dan melalui harta kita serta yang utama dan pertama adalah memuliakan Allah melalui lubuk hati yang paling dalam demi kemuliaanNya, hal itu terjadi karena :”Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek-moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula denan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus, yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan bercacat.Ia telah dipilih sebelum dunia ini dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diriNya pada zaman akhir.” (1 Pet 1 : 18 – 20). Amin. JS/PI.
Estafet Budaya
daya bertumbuh seperti model pelari sprint, bukan seperti pelari marathon. Hasil dari lari marathon sangat tergantung pada kapasitas perseorangan. Sementara dalam lari sprint, yang dilakukan secara berantai, hasilnya tergantung pada kapasitas banyak pelari yang berestafet.
Kebudayaan merupakan seperangkat nilai-nilai yang menjadi landasan bersikap, berpikir dan berperilaku terhadap lingkungan di mana manusia itu lahir dan dibesarkan. Kebudayaan merupakan identitas menusia dengan kelompoknya. Melalui kebudayaan, suatu kelompok, suku atau bangsa dapat dinilai kualitasnya dalam pengolahan benda-benda duniawi menjadi benda-benda manusiawi sebagai sarana pemenuhan kebutuhan hidupnya. Jadi, kualitas kita dapat dilihat dari seberapa baik budaya kita dalam mengelola lingkungan.
Mengapa ada bulan Budaya ?
Dalam bulan Agustus yang lalu GKJ Nehemia melaksanakan bulan budaya dengan menampilkan berbagai jenis kesenian tradisional yang hidup di lingkungan GKJ Nehemia, seperti: musik keroncong, kentrung seruni, karawitan Jawa, campur sari, angklung, kulintang, band, seni tari, dll. Kesenian merupakan salah satu unsur kebudayaan. Selain kesenian banyak unsur budaya yang lain seperti: bahasa, cara berpakaian, cara makan, cara bergaul, atau secara singkat adalah : bahasa, religi, seni, sejarah dan ilmu.
Tujuan utama dengan menampilkan kesenian adalah untuk memelihara budaya Jawa yang telah mampu menjadi sarana untuk merefleksikan kabar keselamatan dari Allah. Kesenian tidak sekedar kesenian, tetapi kesenian yang dikemas sedemikian rupa sehingga mampu menyampaikan pesan-pesan moral bagi jemaat sesuai dengan yang dikehendaki dalam Injil Tuhan Yesus. Agar melalui seni tradisional pesan moralnya ditangkap oleh kaum muda sebagai generasi penerus, sehingga menguatkan militansinya dalam berjemaat di GKJ Nehemia.
Memelihara budaya sendiri menjadi penting untuk menangkal masuknya budaya dari luar (yang tidak sesuai dengan kepentingan kita atau yang bahkan merugikan). Ingat bahwa banyak serangan terhadap budaya kita, seperti: cara berpakaian yang seronok, menari yang eksotik, menyanyi seperti orang kerasukan setan, penggunaan hp sampai orang melupakan waktu produktifnya, dll.
Budaya adalah pola pikir dan pola perilaku efektif untuk mencapai tujuan hidup. Karena efektif untuk mencapai tujuan hidup , maka budaya harus dilestarikan . Budaya merupakan produk dari kondisi riil kehidupan sosial, karena itu budaya dikatakan sebagai bangunan atas (supra struktur) dari kehidupan sosial. Artinya, kebudayaan membimbing, mengarahkan, bahkan menentukan pola tingkah laku manusia.Jadi kebudayaan merupakan proses belajar manusia dengan lingkungan hidupnya.
Nyanyian Pujian
Apa yang ditampilkan selama bulan budaya (kelompok seni suara maupun tari, dll) pada dasarnya adalah pujian kepada Tuhan. Iman Kristiani tak pernah dapat dipisahkan dari puji-pujian kepada Tuhan. Di tengah sukacita pasti ada pujian; tetapi di tengah dukacita pun ada pujian. Ibadah Kristiani tak dapat dipisahkan dari puji-pujian, mengapa? Karena hanya dengan memunji Tuhan kita beroleh kekuatan, merasa dekat dengan Tuhan, dan memperoleh kemenangan yang Allah sediakan bagi kita orang percaya. Ada beberapa alasan mengapa kita menaikkan puji-pujian kepada Tuhan:
Ada beberapa konsep kebudayaan yang dikemukakan ahli-ahli sosiologi. Dua diantaranya adalah:
Menurut Tylor: kompleks keseluruhan dari pengetahuan, keyakinan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan semua kemampuan dan kebiasaan lain yang diperoleh oleh seseorang sebagai anggota masyarakat. Definisi tsb. merupakan definisi yang klasik, sesuai dengan perkembangan ilmu sosial pada masa itu.
Dalam definisi ini dipandang bahwa seseorang menerima kebudayaan sebagai bagian dari warisan sosial. Pandangan ini memberi kesan bahwa manusia adalah makhluk yang pasif, karena ia hanya sebagai pewaris. Pandangan ini bisa dipahami karena semua unsur yang disebutkan di atas sudah ada sebelum seseorang lahir dan tinggal memakai dari apa yang diwarisinya tsb. Horton dan Hunt , mendefinisikan kebudayaan sebagai segala sesuatu yang dipelajari dan dialami bersama secara sosial oleh para anggota suatu masyarakat.
Definisi ini menempatkan manusia tidak hanya sebagai insan yang pasif, yaitu mempelajari apa yang telah ada, tetapi juga sebagai insan yang aktif yaitu mengalami bersama secara sosial. Pada saat lahir di muka bumi manusia diajari berbagai unsur budaya, terutama oleh orang tua dan anggota dewasa keluarga batih lainnya . Di samping itu, manusia memiliki pengetahuan baru bersama yang berbeda dari pengalaman yang mereka warisi sebelumnya.
Menurut definisi Hunt tsb., seseorang menerima kebudayaan sebagai bagian dari warisan sosial, dan pada gilirannya, bisa membentuk kebudayaan kembali dan mengenalkan perubahan-perubahan yang kemudian menjadi bagian dari warisan generasi berikutnya. Konsekuensinya, pengalaman baru itu menjadi budaya baru di kalangan generasi berikutnya.
Terkait dengan konsep diatas, sebagai komunitas kita memerlukan budaya yang berkembang, menuju yang makin maju dan makin maju, yang tidak statis. Sebagai organisasi kita memerlukan budaya yang mampu memotivasi seluruh warga dalam mencapai tujuan besar organisasi. Lingkungan ekstern organisasi selalu berubah menuju perkembangan yang lebih maju, maka budaya yang kita perlukan adalah budaya yang dapat membuat individu menjadi aktif mencari hal yang baru, hal yang lebih maju dalam kehidupan sosialnya (sesuai defisinis Hunt ). Budaya yang mampu secara efektif mengembangkan organisasi dalam mencapai tujuan besarnya.
Menuju budaya yang membangun
Budaya itu ber evolusi (tidak sesaat jadi). Budaya dapat diumpamakan sebagai pelari. Budaya bertumbuh seperti model pelari sprint, bukan seperti pelari marathon. Hasil dari lari marathon sangat tergantung pada kapasitas perseorangan. Sementara dalam lari sprint, yang dilakukan secara berantai, hasilnya tergantung pada kapasitas banyak pelari yang berestafet. Demikian juga budaya sangat tergantung pada generasi-generasi pembentuk budaya tersebut. Budaya yang dianut generasi berikutnya sangat tergantung pada baik atau tidaknya budaya yang diletakkan oleh generasi sebelumnya. Oleh karena itu generasi kita sekarang mempunyai tanggungjawab untuk mewariskan budaya yang baik, yang memungkinkan untuk dikembangkan menjadi lebih baik lagi dikemudian hari oleh generasi penerus. Setiap kelompok, organisasi, suku, atau bangsa tentu berkehendak mendapatkan penilaian bahwa budaya yang dimiliki adalah budaya yang baik, dalam arti bahwa budaya yang hidup di dalamnya efektif untuk membuat warganya berperilaku baik, tidak merusak.
Kalau begitu, bagaimana budaya yang baik? Budaya yang baik adalah yang paling tidak memenuhi kriteria sbb.:
Sebagai komunitas Kristen, budaya yang hidup haruslah budaya yang mampu menjadi sarana bagi pewartaan Injil.
Pekabaran Injil merupakan tugas Gereja yang tidak pernah berubah sejak awal pertumbuhan dan perkembangan gereja. Tugas yang tidak berubah itu harus diberitakan dalam situasi dan kondisi masyarakat yang selalu berubah. Masyarakat Jawa adalah bagian dari masyarakat Indobnesia dan masyarakat dunia, sudah barang tentu mengalami perubahan /perkembangan dari faktor global, nasional, maupun local berkat kemajuan Iptek.
Mampu mempersatukan seluruh anggota kelompok yang beragam.
Persatuan menjadi kunci kekuatan bagi kita. Gereja kita warganya adalah multi suku, dan pasti beragam pula budayanya. Untuk itu diperlukan budaya yang mampu mempersatukan berbagai suku tersebut.
Dapat menjadi sumber cahaya, bukan kabut ketidak jelasan.
Sumber cahaya itu adalah hasil dari suatu proses dialektik kehidupan manusia dalam menghadapi gejala alam dan sosial. Ia berubah dan berkembang melalui konflik berbagai kepentingan. Hasilnya adalah cahaya baru berupa nilai, norma, adat istiadat, kebiasaan baru sebagai suatu pola pikir dan perilaku yang lebih efektif dalam menghadapi gejala alam dan gejala sosial. Ditekankan disini tujuan yang lebih penting adalah tercapainya perilaku yang lebih efektif
dalam menghadapi kehidupan.
Dapat diwariskan dari generasi ke generasi.
Kebudayaan dapat berwujud makna atas obyek yang dituangkan dalam simbol. Simbol-simbol iniyang harus dapat diwariskan dari generasi ke generasi. Simbol merupakan alat manusia untukberkomunikasi dan sebagai pedoman untuk bersikap dan berperilaku.
Mampu untuk digunakan sebagai alat mengelola lngkungan hidup manusia.
Interaksi manusia dengan alam terus bergerak dan berkembang, sesuai dengan berkembangnyakebutuhan manusia. Budaya yang baik tentunya yang mampu membuat manusia menjaga interaksi tersebut untuk tidak merusak lingkungan hidupnya meskipun manusia membutuhkan untuk bisa hidup.
Akhirnya, tugas generasi sekarang adalah mampu memelihara budaya yang baik, mewariskannya kepada generasi penerus demi pembangunan jemaat, dengan tetap menempatkan Firman Tuhan sebagai pedoman tertinggi. Dari beberapa sumber. Depok, 13 Agustus 2016. Munari.
Kebudayaan merupakan seperangkat nilai-nilai yang menjadi landasan bersikap, berpikir dan berperilaku terhadap lingkungan di mana manusia itu lahir dan dibesarkan. Kebudayaan merupakan identitas menusia dengan kelompoknya. Melalui kebudayaan, suatu kelompok, suku atau bangsa dapat dinilai kualitasnya dalam pengolahan benda-benda duniawi menjadi benda-benda manusiawi sebagai sarana pemenuhan kebutuhan hidupnya. Jadi, kualitas kita dapat dilihat dari seberapa baik budaya kita dalam mengelola lingkungan.
Mengapa ada bulan Budaya ?
Dalam bulan Agustus yang lalu GKJ Nehemia melaksanakan bulan budaya dengan menampilkan berbagai jenis kesenian tradisional yang hidup di lingkungan GKJ Nehemia, seperti: musik keroncong, kentrung seruni, karawitan Jawa, campur sari, angklung, kulintang, band, seni tari, dll. Kesenian merupakan salah satu unsur kebudayaan. Selain kesenian banyak unsur budaya yang lain seperti: bahasa, cara berpakaian, cara makan, cara bergaul, atau secara singkat adalah : bahasa, religi, seni, sejarah dan ilmu.
Tujuan utama dengan menampilkan kesenian adalah untuk memelihara budaya Jawa yang telah mampu menjadi sarana untuk merefleksikan kabar keselamatan dari Allah. Kesenian tidak sekedar kesenian, tetapi kesenian yang dikemas sedemikian rupa sehingga mampu menyampaikan pesan-pesan moral bagi jemaat sesuai dengan yang dikehendaki dalam Injil Tuhan Yesus. Agar melalui seni tradisional pesan moralnya ditangkap oleh kaum muda sebagai generasi penerus, sehingga menguatkan militansinya dalam berjemaat di GKJ Nehemia.
Memelihara budaya sendiri menjadi penting untuk menangkal masuknya budaya dari luar (yang tidak sesuai dengan kepentingan kita atau yang bahkan merugikan). Ingat bahwa banyak serangan terhadap budaya kita, seperti: cara berpakaian yang seronok, menari yang eksotik, menyanyi seperti orang kerasukan setan, penggunaan hp sampai orang melupakan waktu produktifnya, dll.
Budaya adalah pola pikir dan pola perilaku efektif untuk mencapai tujuan hidup. Karena efektif untuk mencapai tujuan hidup , maka budaya harus dilestarikan . Budaya merupakan produk dari kondisi riil kehidupan sosial, karena itu budaya dikatakan sebagai bangunan atas (supra struktur) dari kehidupan sosial. Artinya, kebudayaan membimbing, mengarahkan, bahkan menentukan pola tingkah laku manusia.Jadi kebudayaan merupakan proses belajar manusia dengan lingkungan hidupnya.
Nyanyian Pujian
Apa yang ditampilkan selama bulan budaya (kelompok seni suara maupun tari, dll) pada dasarnya adalah pujian kepada Tuhan. Iman Kristiani tak pernah dapat dipisahkan dari puji-pujian kepada Tuhan. Di tengah sukacita pasti ada pujian; tetapi di tengah dukacita pun ada pujian. Ibadah Kristiani tak dapat dipisahkan dari puji-pujian, mengapa? Karena hanya dengan memunji Tuhan kita beroleh kekuatan, merasa dekat dengan Tuhan, dan memperoleh kemenangan yang Allah sediakan bagi kita orang percaya. Ada beberapa alasan mengapa kita menaikkan puji-pujian kepada Tuhan:
- Karena kita tahu bahwa Ia melawat umatNya dan membawa kelepasan kita.
- Karena Ia melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita.
- Karena Ia selalu ingat akan janji-janjinya.
- Karena Ia menyinari setiap orang yang ada di dalam kegelapan sekalipun.
Ada beberapa konsep kebudayaan yang dikemukakan ahli-ahli sosiologi. Dua diantaranya adalah:
Menurut Tylor: kompleks keseluruhan dari pengetahuan, keyakinan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan semua kemampuan dan kebiasaan lain yang diperoleh oleh seseorang sebagai anggota masyarakat. Definisi tsb. merupakan definisi yang klasik, sesuai dengan perkembangan ilmu sosial pada masa itu.
Dalam definisi ini dipandang bahwa seseorang menerima kebudayaan sebagai bagian dari warisan sosial. Pandangan ini memberi kesan bahwa manusia adalah makhluk yang pasif, karena ia hanya sebagai pewaris. Pandangan ini bisa dipahami karena semua unsur yang disebutkan di atas sudah ada sebelum seseorang lahir dan tinggal memakai dari apa yang diwarisinya tsb. Horton dan Hunt , mendefinisikan kebudayaan sebagai segala sesuatu yang dipelajari dan dialami bersama secara sosial oleh para anggota suatu masyarakat.
Definisi ini menempatkan manusia tidak hanya sebagai insan yang pasif, yaitu mempelajari apa yang telah ada, tetapi juga sebagai insan yang aktif yaitu mengalami bersama secara sosial. Pada saat lahir di muka bumi manusia diajari berbagai unsur budaya, terutama oleh orang tua dan anggota dewasa keluarga batih lainnya . Di samping itu, manusia memiliki pengetahuan baru bersama yang berbeda dari pengalaman yang mereka warisi sebelumnya.
Menurut definisi Hunt tsb., seseorang menerima kebudayaan sebagai bagian dari warisan sosial, dan pada gilirannya, bisa membentuk kebudayaan kembali dan mengenalkan perubahan-perubahan yang kemudian menjadi bagian dari warisan generasi berikutnya. Konsekuensinya, pengalaman baru itu menjadi budaya baru di kalangan generasi berikutnya.
Terkait dengan konsep diatas, sebagai komunitas kita memerlukan budaya yang berkembang, menuju yang makin maju dan makin maju, yang tidak statis. Sebagai organisasi kita memerlukan budaya yang mampu memotivasi seluruh warga dalam mencapai tujuan besar organisasi. Lingkungan ekstern organisasi selalu berubah menuju perkembangan yang lebih maju, maka budaya yang kita perlukan adalah budaya yang dapat membuat individu menjadi aktif mencari hal yang baru, hal yang lebih maju dalam kehidupan sosialnya (sesuai defisinis Hunt ). Budaya yang mampu secara efektif mengembangkan organisasi dalam mencapai tujuan besarnya.
Menuju budaya yang membangun
Budaya itu ber evolusi (tidak sesaat jadi). Budaya dapat diumpamakan sebagai pelari. Budaya bertumbuh seperti model pelari sprint, bukan seperti pelari marathon. Hasil dari lari marathon sangat tergantung pada kapasitas perseorangan. Sementara dalam lari sprint, yang dilakukan secara berantai, hasilnya tergantung pada kapasitas banyak pelari yang berestafet. Demikian juga budaya sangat tergantung pada generasi-generasi pembentuk budaya tersebut. Budaya yang dianut generasi berikutnya sangat tergantung pada baik atau tidaknya budaya yang diletakkan oleh generasi sebelumnya. Oleh karena itu generasi kita sekarang mempunyai tanggungjawab untuk mewariskan budaya yang baik, yang memungkinkan untuk dikembangkan menjadi lebih baik lagi dikemudian hari oleh generasi penerus. Setiap kelompok, organisasi, suku, atau bangsa tentu berkehendak mendapatkan penilaian bahwa budaya yang dimiliki adalah budaya yang baik, dalam arti bahwa budaya yang hidup di dalamnya efektif untuk membuat warganya berperilaku baik, tidak merusak.
Kalau begitu, bagaimana budaya yang baik? Budaya yang baik adalah yang paling tidak memenuhi kriteria sbb.:
Sebagai komunitas Kristen, budaya yang hidup haruslah budaya yang mampu menjadi sarana bagi pewartaan Injil.
Pekabaran Injil merupakan tugas Gereja yang tidak pernah berubah sejak awal pertumbuhan dan perkembangan gereja. Tugas yang tidak berubah itu harus diberitakan dalam situasi dan kondisi masyarakat yang selalu berubah. Masyarakat Jawa adalah bagian dari masyarakat Indobnesia dan masyarakat dunia, sudah barang tentu mengalami perubahan /perkembangan dari faktor global, nasional, maupun local berkat kemajuan Iptek.
Mampu mempersatukan seluruh anggota kelompok yang beragam.
Persatuan menjadi kunci kekuatan bagi kita. Gereja kita warganya adalah multi suku, dan pasti beragam pula budayanya. Untuk itu diperlukan budaya yang mampu mempersatukan berbagai suku tersebut.
Dapat menjadi sumber cahaya, bukan kabut ketidak jelasan.
Sumber cahaya itu adalah hasil dari suatu proses dialektik kehidupan manusia dalam menghadapi gejala alam dan sosial. Ia berubah dan berkembang melalui konflik berbagai kepentingan. Hasilnya adalah cahaya baru berupa nilai, norma, adat istiadat, kebiasaan baru sebagai suatu pola pikir dan perilaku yang lebih efektif dalam menghadapi gejala alam dan gejala sosial. Ditekankan disini tujuan yang lebih penting adalah tercapainya perilaku yang lebih efektif
dalam menghadapi kehidupan.
Dapat diwariskan dari generasi ke generasi.
Kebudayaan dapat berwujud makna atas obyek yang dituangkan dalam simbol. Simbol-simbol iniyang harus dapat diwariskan dari generasi ke generasi. Simbol merupakan alat manusia untukberkomunikasi dan sebagai pedoman untuk bersikap dan berperilaku.
Mampu untuk digunakan sebagai alat mengelola lngkungan hidup manusia.
Interaksi manusia dengan alam terus bergerak dan berkembang, sesuai dengan berkembangnyakebutuhan manusia. Budaya yang baik tentunya yang mampu membuat manusia menjaga interaksi tersebut untuk tidak merusak lingkungan hidupnya meskipun manusia membutuhkan untuk bisa hidup.
Akhirnya, tugas generasi sekarang adalah mampu memelihara budaya yang baik, mewariskannya kepada generasi penerus demi pembangunan jemaat, dengan tetap menempatkan Firman Tuhan sebagai pedoman tertinggi. Dari beberapa sumber. Depok, 13 Agustus 2016. Munari.
Menempatkan Budaya dan Tradisi leluhur dalam Iman Kristen
Keragaman Budaya Jawa
Penggunaan tembang Jawa untuk menghafalkan doa Bapa Kami, doa pagi, doa malam, doa makan, Pengakuan Iman sangat efektif mendaratkan Injil pada orang Jawa. DR. Soetarman menuliskan, “Penggunaan tembang untuk mengkomunikasikan Injil memiliki arti penting. Tembang telah digunakan dalam kesustraan Jawa selama nberabad-abad dan merupakan bentuk komunikasi yang sangat populer. Tembang terutama digunakan dalam pengajaran moral dan etika, khususnya dalam kesusastraan Jawa kuno”.
Kebudayaan Jawa adalah jangkep (lengkap) dan adi luhung (agung). Di dalam kebudayaan Jawa kita menerima warisan kesenian seperti wayang dan seni tari yang sarat simbol dan filosof hidup. Di dalam kebudayaan Jawa kita menerima seni tembang macapat yang berisikan tahapan hidup manusia dari lahir sampai mati yang diguratkan dalam untaian nada dan nama berdasarkan perkembangan manusia. Sebagaimana 11 (sebelas) Tembang Jawa mocopat, yang menggambarkan : dari jalannya kehidupan manusia sejak didalam kandungan ibunda (Maskumambang), dilahirkan ke dunia (Mijil), mulai dituntun untuk berjalan (Kinanthi), masa muda (Sinom), menjalin cinta kasih (Asmaradana), terbiasa dan terlatih (Gambuh), mengalami masa suka-duka dan bahagia (Dhandanggulo), berbagi kepada sesama (Dhurma), mulai meninggalkan/mundir dari keduniawian (Pangkur), sampai meninggalnya untuk menghadap Yang Maha Kuasa (Megatruh), yang akhirnya dikembalikan/dikubur ke tanah (Pucung).
Di dalam budaya Jawapun kita menerima warisan pandangan hidup yang diuntai dalam kalimat-kalimat bijaksana seperti: Sura diro joyo ningrat lebur dening pangastuti, aja adigang adigung adiguna, datan serik lamun ketaman datang susah lamun kelangan, banter tan mbancangi dhuwur tan ngungkuli, aja gumunan aja kagetan aja getunan aja aleman, alon alon waton kelakon, sapa nandhur bakal nundhuh, becik ketitik ala ketoro, dll.
Orang Jawa dan keKristenan
Sebagai orang Kristen, ada yang lebih dipengaruhi oleh berbagai cara pandang kehidupan dan kebudayaan Jawa, sementara sebagai orang Jawa ada yang lebih dipengaruhi nilai-nilai Kristen. Keprihatinan atas pemahaman terhadap ajaran-ajaran Yesus yang kerap terdistorsi dan terbelenggu dalam pasungan pemahaman kebudayaan Jawa, masih dijumpai misalkan :
Kita harus melangkah lagi sebagaimana dikatakan, “Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia”(Kol 2:6b). Dengan kata lain gaya hidup pengikut Yesus yang berpusatkan pada kehidupan dan ajaran Yesus. Tahapan berikutnya adalah, “Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur” (Kol 2:7).
Sikap terhadap Kebudayaan dan Tradisi
Bagaimanakah sikap kita dalam menilai kebudayaan dan pandangan hidup yang telah kita warisi sebelum kita menerima Yesus? Khususnya sebagai orang Jawa, bagaimanakah sikap kita terhadap kejawaan kita? Bagaimanakah sikap kita terhadap berbagai ekspresi kebudayaan dan pandangan hidup Jawa?
Filsafat berbicara mengenai kebijaksanaan, yaitu bagaimana memperoleh pengetahuan, bagaimana menjelaskan seluruh kejadian dalam alam semesta, bagaimana mencari tahu jawaban dari berbagai persoalan di dunia ini. Yang kita tolak adalah filsafat yang tidak didasarkan pada ajaran Yesus melainkan filsafat yang didasarkan pada ajaran turun temurun dan roh-roh dunia.
Ada beberapa sikap terhadap kebudayaan:
Sesungguhnya kehidupan manusia tidak bisa lepas dari budaya dan tradisi. Justru dalam budaya dan tradisi itulah manusia mengembangkan kemanusiaan dan komunitasnya. Budaya dan tradisi menjadi sarana bagi manusia untuk memaknai alam, sesama dan Tuhannya. Bahkan iman itu sendiri tidak bisa dipisahkan dari budaya dan tradisi. Iman Kristen pun demikian. Iman Kristen dipengaruhi budaya dan tradisi yang ada di sekitarnya tetapi sekaligus juga menciptakan budaya dan tradisi baru. Iman dan budaya memang berbeda namun juga begitu menyatu dan saling tak terpisahkan, saling menghidupi.
Jadi kita tidak boleh anti budaya namun harus kritis terhadap budaya! Akan tetapi juga perlu berhati-hati, jangan mencampur-adukkan iman Kristen dengan kepercayaan-kepercayaan lain. Tentu tradisi yang tidak mengandung unsur pemujaan kepada allah lain bahkan mengandung nilai-nilai solidaritas dan kemanusiaan perlu kita hargai dan terima. Bila perlu tradisi itu kita pakai dengan memberi makna baru yang lebih kristiani.
Ritus Warisan Leluhur dalam Iman Kristen
Apakah ritus-ritus warisan leluhur sama sekali tidak mendapat tempat dalam iman kristen? Jika kita perhatikan dalam semua ritus tersebut tercermin kerinduan manusia yang mencari keselamatan dan ingin mendapatkan berkat. Sesungguhnya hal ini merupakan kerinduan semua umat manusia, termasuk orang Kristen. Akan tetapi ada perbedaan mendasar yaitu mengenai cara mendapatkan keselamatan dan berkat. Kerinduan untuk mendapatkan keselamatan yang ada dalam pelaksanaan ritus-ritus tersebut, berbeda dengan pandangan iman kristen. Kita percaya bahwa keselamatan yang kita dapatkan adalah anugerah Tuhan, bukan karena kebaikan atau upacara-upacara yang dilakukan manusia. Tuhan-lah sumber keselamatan dan berkat. Di sisi lain kita juga menyadari bahwa dalam pelaksanaan ritus-ritus tertentu ada nilai-nilai solidaritas dan kemanusiaan yang menonjol. Tentu yang seperti ini bisa kita adopsi dengan memberi makna yang baru.
Jadi, pegangan kita untuk menilai apakah tradisi masyarakat bertentangan dengan iman Kristen atau tidak, yang jelas kita mesti mencari tahu apakah makna dari tradisi itu;
Apakah orang Kristen boleh melakukan upacara adat warisan leluhur? Jawabannya, kita harus memahami terlebih dulu apa makna dari upacara itu sehingga kita dapat mengetahui apakah perlu melakukannya.
Misalkan : (1) Upacara mitoni yang dilakukan pada saat janin berusia 7 bulan dilakukan dengan berbekal pada iman Kristen yang mempercayai bahwa janin dalam kandungan itu adalah ciptaaan Tuhan dan berada dalam kuasa Tuhan. Jika kita doakan setiap hari agar kuasa Tuhan selalu melindungi dan memberkati pertumbuhan janin tersebut, maka tentu tak ada kuasa lain yang bisa mengalahkan kuasa Tuhan. Juga mengadakan ibadah pengucapan syukur dengan motivasinya adalah untuk mengucap syukur kepada Tuhan yang telah menyertai dan terus menyertai kehamilan dan kehidupannya. Akan tetapi persoalannya adalah mengapa untuk mengucap syukur menunggu saat 7 bulan kehamilan? Mungkin dikaitkan dengan ilmu kedokteran yang menyatakan bahwa saat itu janin sudah cukup kuat dan matang. (2) Terkait ritus di sekitar kematian, ada banyak tradisi yang juga masih dijalankan masyarakat ataupun keyakinan-keyakinan yang dipercaya masyarakat untuk melakukan upacara atau selamatan dari 7 hari sampai dengan 1000 hari. Kita harus ingat Iman Kristen percaya bahwa ketika manusia mati, ia meninggalkan dunia ini dan sudah tidak dapat mempengaruhi manusia lain yang masih ada di dunia ini. Orang hidup dan orang mati berada di alam yang berbeda. Mereka yang sudah mati tidak bisa mengganggu manusia yang hidup. Roh orang mati tidak dapat memberikan berkat atau rejeki serta perlindungan dan kesehatan. Hanya Tuhan-lah sumber hidup dan penguasa hidup manusia sehingga hanya Dia-lah sumber berkat, perlindungan dan kesehatan.
Yesus Pokok Budaya Kristen
Jika kita membuang sepenuhnya warisan kebudayaan Jawa maka kita telah mengasingkan diri dari akar dan asal usul kita. Jika kita perhatian dengan visi kembali ke akar iman Kristen dan seluruh aspeknya, tak akan lepas diri kita dari akar budaya lokal kita sebagai orang Jawa. Yesus adalah tolok ukur keimananan dan perilaku hidup kita.
“Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan keTuhanan, dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa” (Kol 2:9-10). Yesus telah melakukan karya penyelamatan atas diri kita sebagaimana dikatakan: “Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Yesus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Tuhan, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati. Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Tuhan bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib: Dia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka” (Kol 2:12-15).
Itulah alasan mengapa kita harus menghadap mukakan seluruh pandangan hidup yang telah kita warisi dari leluhur dan nenek moyang kita dalam bingkai kebudayaan Jawa, kepada Yesus Sang Juruselamat. Sekali lagi kita renungkan : Apakah Saya Orang Jawa Kristen atau Orang Kristen Jawa? Agus Hardjanta.
Penggunaan tembang Jawa untuk menghafalkan doa Bapa Kami, doa pagi, doa malam, doa makan, Pengakuan Iman sangat efektif mendaratkan Injil pada orang Jawa. DR. Soetarman menuliskan, “Penggunaan tembang untuk mengkomunikasikan Injil memiliki arti penting. Tembang telah digunakan dalam kesustraan Jawa selama nberabad-abad dan merupakan bentuk komunikasi yang sangat populer. Tembang terutama digunakan dalam pengajaran moral dan etika, khususnya dalam kesusastraan Jawa kuno”.
Kebudayaan Jawa adalah jangkep (lengkap) dan adi luhung (agung). Di dalam kebudayaan Jawa kita menerima warisan kesenian seperti wayang dan seni tari yang sarat simbol dan filosof hidup. Di dalam kebudayaan Jawa kita menerima seni tembang macapat yang berisikan tahapan hidup manusia dari lahir sampai mati yang diguratkan dalam untaian nada dan nama berdasarkan perkembangan manusia. Sebagaimana 11 (sebelas) Tembang Jawa mocopat, yang menggambarkan : dari jalannya kehidupan manusia sejak didalam kandungan ibunda (Maskumambang), dilahirkan ke dunia (Mijil), mulai dituntun untuk berjalan (Kinanthi), masa muda (Sinom), menjalin cinta kasih (Asmaradana), terbiasa dan terlatih (Gambuh), mengalami masa suka-duka dan bahagia (Dhandanggulo), berbagi kepada sesama (Dhurma), mulai meninggalkan/mundir dari keduniawian (Pangkur), sampai meninggalnya untuk menghadap Yang Maha Kuasa (Megatruh), yang akhirnya dikembalikan/dikubur ke tanah (Pucung).
Di dalam budaya Jawapun kita menerima warisan pandangan hidup yang diuntai dalam kalimat-kalimat bijaksana seperti: Sura diro joyo ningrat lebur dening pangastuti, aja adigang adigung adiguna, datan serik lamun ketaman datang susah lamun kelangan, banter tan mbancangi dhuwur tan ngungkuli, aja gumunan aja kagetan aja getunan aja aleman, alon alon waton kelakon, sapa nandhur bakal nundhuh, becik ketitik ala ketoro, dll.
Orang Jawa dan keKristenan
Sebagai orang Kristen, ada yang lebih dipengaruhi oleh berbagai cara pandang kehidupan dan kebudayaan Jawa, sementara sebagai orang Jawa ada yang lebih dipengaruhi nilai-nilai Kristen. Keprihatinan atas pemahaman terhadap ajaran-ajaran Yesus yang kerap terdistorsi dan terbelenggu dalam pasungan pemahaman kebudayaan Jawa, masih dijumpai misalkan :
- tidak mampu membedakan praktek okultisme (kuasa gelap) dengan kuasa Yesus yang sejati.
- tidak melakukan tinjauan kritis atas penggunaan unsur-unsur budaya Jawa yang tidak selaras dengan ajaran Yesus.
- mencerminkan pemahaman akidah tentang Tuhan dan manusia yang tidak berdasarkan Kitab Suci melainkan bersumberkan falsafah spekulatif.
Kita harus melangkah lagi sebagaimana dikatakan, “Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia”(Kol 2:6b). Dengan kata lain gaya hidup pengikut Yesus yang berpusatkan pada kehidupan dan ajaran Yesus. Tahapan berikutnya adalah, “Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur” (Kol 2:7).
Sikap terhadap Kebudayaan dan Tradisi
Bagaimanakah sikap kita dalam menilai kebudayaan dan pandangan hidup yang telah kita warisi sebelum kita menerima Yesus? Khususnya sebagai orang Jawa, bagaimanakah sikap kita terhadap kejawaan kita? Bagaimanakah sikap kita terhadap berbagai ekspresi kebudayaan dan pandangan hidup Jawa?
Filsafat berbicara mengenai kebijaksanaan, yaitu bagaimana memperoleh pengetahuan, bagaimana menjelaskan seluruh kejadian dalam alam semesta, bagaimana mencari tahu jawaban dari berbagai persoalan di dunia ini. Yang kita tolak adalah filsafat yang tidak didasarkan pada ajaran Yesus melainkan filsafat yang didasarkan pada ajaran turun temurun dan roh-roh dunia.
Ada beberapa sikap terhadap kebudayaan:
- melawan dan membuang sama sekali kebudayaan
- menerima dan mengabungkan kebudayaan dan iman
- mengambil jarak dan memilah kebudayaan mana yang masih dapat dipertahankan untuk mengekspresikan iman.
Sesungguhnya kehidupan manusia tidak bisa lepas dari budaya dan tradisi. Justru dalam budaya dan tradisi itulah manusia mengembangkan kemanusiaan dan komunitasnya. Budaya dan tradisi menjadi sarana bagi manusia untuk memaknai alam, sesama dan Tuhannya. Bahkan iman itu sendiri tidak bisa dipisahkan dari budaya dan tradisi. Iman Kristen pun demikian. Iman Kristen dipengaruhi budaya dan tradisi yang ada di sekitarnya tetapi sekaligus juga menciptakan budaya dan tradisi baru. Iman dan budaya memang berbeda namun juga begitu menyatu dan saling tak terpisahkan, saling menghidupi.
Jadi kita tidak boleh anti budaya namun harus kritis terhadap budaya! Akan tetapi juga perlu berhati-hati, jangan mencampur-adukkan iman Kristen dengan kepercayaan-kepercayaan lain. Tentu tradisi yang tidak mengandung unsur pemujaan kepada allah lain bahkan mengandung nilai-nilai solidaritas dan kemanusiaan perlu kita hargai dan terima. Bila perlu tradisi itu kita pakai dengan memberi makna baru yang lebih kristiani.
Ritus Warisan Leluhur dalam Iman Kristen
Apakah ritus-ritus warisan leluhur sama sekali tidak mendapat tempat dalam iman kristen? Jika kita perhatikan dalam semua ritus tersebut tercermin kerinduan manusia yang mencari keselamatan dan ingin mendapatkan berkat. Sesungguhnya hal ini merupakan kerinduan semua umat manusia, termasuk orang Kristen. Akan tetapi ada perbedaan mendasar yaitu mengenai cara mendapatkan keselamatan dan berkat. Kerinduan untuk mendapatkan keselamatan yang ada dalam pelaksanaan ritus-ritus tersebut, berbeda dengan pandangan iman kristen. Kita percaya bahwa keselamatan yang kita dapatkan adalah anugerah Tuhan, bukan karena kebaikan atau upacara-upacara yang dilakukan manusia. Tuhan-lah sumber keselamatan dan berkat. Di sisi lain kita juga menyadari bahwa dalam pelaksanaan ritus-ritus tertentu ada nilai-nilai solidaritas dan kemanusiaan yang menonjol. Tentu yang seperti ini bisa kita adopsi dengan memberi makna yang baru.
Jadi, pegangan kita untuk menilai apakah tradisi masyarakat bertentangan dengan iman Kristen atau tidak, yang jelas kita mesti mencari tahu apakah makna dari tradisi itu;
- mengandung unsur pemujaan kepada ilah lain
- merendahkan kemanusiaan
- mengandung unsur-unsur diskriminatif
Apakah orang Kristen boleh melakukan upacara adat warisan leluhur? Jawabannya, kita harus memahami terlebih dulu apa makna dari upacara itu sehingga kita dapat mengetahui apakah perlu melakukannya.
Misalkan : (1) Upacara mitoni yang dilakukan pada saat janin berusia 7 bulan dilakukan dengan berbekal pada iman Kristen yang mempercayai bahwa janin dalam kandungan itu adalah ciptaaan Tuhan dan berada dalam kuasa Tuhan. Jika kita doakan setiap hari agar kuasa Tuhan selalu melindungi dan memberkati pertumbuhan janin tersebut, maka tentu tak ada kuasa lain yang bisa mengalahkan kuasa Tuhan. Juga mengadakan ibadah pengucapan syukur dengan motivasinya adalah untuk mengucap syukur kepada Tuhan yang telah menyertai dan terus menyertai kehamilan dan kehidupannya. Akan tetapi persoalannya adalah mengapa untuk mengucap syukur menunggu saat 7 bulan kehamilan? Mungkin dikaitkan dengan ilmu kedokteran yang menyatakan bahwa saat itu janin sudah cukup kuat dan matang. (2) Terkait ritus di sekitar kematian, ada banyak tradisi yang juga masih dijalankan masyarakat ataupun keyakinan-keyakinan yang dipercaya masyarakat untuk melakukan upacara atau selamatan dari 7 hari sampai dengan 1000 hari. Kita harus ingat Iman Kristen percaya bahwa ketika manusia mati, ia meninggalkan dunia ini dan sudah tidak dapat mempengaruhi manusia lain yang masih ada di dunia ini. Orang hidup dan orang mati berada di alam yang berbeda. Mereka yang sudah mati tidak bisa mengganggu manusia yang hidup. Roh orang mati tidak dapat memberikan berkat atau rejeki serta perlindungan dan kesehatan. Hanya Tuhan-lah sumber hidup dan penguasa hidup manusia sehingga hanya Dia-lah sumber berkat, perlindungan dan kesehatan.
Yesus Pokok Budaya Kristen
Jika kita membuang sepenuhnya warisan kebudayaan Jawa maka kita telah mengasingkan diri dari akar dan asal usul kita. Jika kita perhatian dengan visi kembali ke akar iman Kristen dan seluruh aspeknya, tak akan lepas diri kita dari akar budaya lokal kita sebagai orang Jawa. Yesus adalah tolok ukur keimananan dan perilaku hidup kita.
“Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan keTuhanan, dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa” (Kol 2:9-10). Yesus telah melakukan karya penyelamatan atas diri kita sebagaimana dikatakan: “Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Yesus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Tuhan, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati. Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Tuhan bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib: Dia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka” (Kol 2:12-15).
Itulah alasan mengapa kita harus menghadap mukakan seluruh pandangan hidup yang telah kita warisi dari leluhur dan nenek moyang kita dalam bingkai kebudayaan Jawa, kepada Yesus Sang Juruselamat. Sekali lagi kita renungkan : Apakah Saya Orang Jawa Kristen atau Orang Kristen Jawa? Agus Hardjanta.
Perjumpaan Gereja dengan Budaya Lokal
Pendahuluan
Kita baru saja menyelengarakan bulan budaya di GKJ Nehemia dengan berbagai kegiatan kebudayaan. Yang cukup menarik perhatian adalah diselenggarakannya Tuguran GKJ Nehemia pada tanggal 16 Agustus 2016 lalu yang dihadiri jemaat dengan pembicara Pdt.Simon Rahmadi dan Bapak Padmono. Bila mengikuti tradisi gereja Katolik, maka tuguran bisa berlangsung semalam suntuk, tapi kali ini hanya berlangsung sampai pukul 22.00.
Tuguran dengan tema: “Manekawarni seni budaya, wonten ing satunggal kapitadosan” atau aneka warna seni budaya dalam kepercayaan tunggal (maaf kalau salah mengartikan). Tema yang disampaikan Bpk Padmono tentang bagaimana leluhur orang Jawa, Sunda dan Bali sejak lama percaya pada satu kekuatan tunggal sebagai penguasa jagad raya, dan “Hyang” adalah bahasa yang dipakai sebagai penggambaran sosok “Tuhan” seperti yang kita kenal sekarang. Juga pembahasan tentang “Pranata Mangsa” atau pedoman musim yaitu suatu teknik penanggalan dalam dunia pertanian yang diwariskan dari generasi ke generasi selama kurang lebih dua millennium. Perhatian secara khusus diberikan kepada “Mangsa kasanga” yang mempunyai makna “wedharing wacana mulya” yaitu tersiarnya berita bahagia karena musim panen telah tiba. Pendeta Simon Rahmadi tak kalah apiknya memvisualisasikan metode dan cara-cara melawan kegelapan dengan pemutaran video klip campursari. Keesokan harinya dalam kebaktian 17 Agustus dipentaskan pula ludruk GKJ Nehemia yang sangat inspiratif dan menghibur. Ada pesan yang disampaikan dalam rangkaian acara bulan budaya ini yaitu suatu kenyataan bahwa perjumpaan budaya dan kekristenan di Jawa telah berlangsung lama dan menjadi asset yang sangat berharga sebagai jatidiri bangsa yang merdeka.
Tulisan berikut ini membahas tentang perjumpaan gereja dengan budaya yang menurut Niebuhr terdapat lima sikap gereja terhadap budaya yang akan dibahas lebih lanjut. Salah satu contoh tatkala para zendeling datang mengabarkan injil ke Indonesia dan bersifat radikal yang sama sekali tidak mengakui hubungan antara iman dan budaya. Bagi para zendeling yang radikal selalu menghakimi budaya karena kebudayaan dianggap selalu jahat. Tidak heran kalau dalam perkembangan kekristenan di Jawa saat itu ada istilah “Kristen Jowo” dan “Kristen Londo”.
Interaksi agama dengan budaya
Adalah adat dan budaya yang lebih dulu ada sebelum agama masuk ke komunitas atau bangsa tertentu. Kebiasaan, tradisi, adat istiadat suku bangsa telah berlangsung turun temurun dari generasi ke generasi dan dilaksanakan dalam kehidupan bermasyarakat. Adat adalah bagian dari kebudayaan yang intinya adalah keseluruhan sistim, gagasan, tindakan yang dipelajari untuk selanjutnya diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Misalnya tindakan-tindakan yang mengetengahkan budi pekerti atau gagasan yang bermuara dari pikiran yang terwujud dalam bentuk seni, tatanan masyarakat, etika, dan pandangan hidup.
Agama diperkenalkan ke suku bangsa tertentu dan terjadi interaksi, kemudian melebur sehingga terdapat keseimbangan dimana agama dan budaya menjadi dua hal yang sulit dipisahkan satu sama lain. Yang terjadi di masyarakat pada umumnya timbul dua kemungkinan yaitu, pertama kelompok yang secara membabibuta mengagungkan adat dan menjadikannya yang paling benar, setara dengan agama, bahkan lebih tinggi dari agama. Kelompok kedua menjadikan adat sebagai sesuatu yang musyrik atau identik dengan pekerjaan setan, seolah-olah tidak ada yang baik didalamnya.
Dapat disimpulkan bahwa budaya yang digerakkan agama timbul dari proses interaksi manusia dengan kitab suci yang diyakini sebagai hasil daya kreatif pemeluk suatu agama tapi dikondisikan oleh konteks hidup pelakunya, yaitu faktor geografis, budaya, dan beberapa kondisi objektif lainnya.
Bagaimana sikap gereja terhadap kebudayaan?
Saat gereja harus mengambil sikap terhadap kebudayaan seringkali timbul dilema yaitu: bagaimana menghindari pencemaran spiritual atau ketidakmurnian moral, dan pada saat yang sama menjalankan misi Tuhan Yesus yang telah diamanatkan kepada kita umat Kristen. Seorang teolog H.Richard Niebuhr bergumul dengan pertanyaan diatas dan meneliti bagaimana gereja secara historis pada akhirnya dapat mengerti hubungan gereja dengan kebudayaan.
Dalam temuannya yang ditulis di buku “Christ and Culture” Niebuhr mengungkapkan ada lima cara-cara mendasar gereja berhubungan dengan kebudayaan.
Gereja anti kebudayaan (Fundamentalisme)
Disini orang Kristen harus hidup berlawanan dengn budayanya. Mereka harus hidup sesuai dengan standard kerajaan Allah. Orang mempunyai pilihan, mau ikut kerajaan Allah atau kebudayaan yang tak lain adalah penguasa dunia, harus dipilih salah satu, dan tidak boleh memilih keduanya pada saat yang sama. Tugas Gereja adalah menerangi semua orang yang sudah berada dibawah ilusi kebudayan, supaya mereka dibawa kepada pengetahuan akan kebenaran.
Gereja bagian dari kebudayaan(Protestan liberal)
Kelompok ini mempunyai perspektif liberal yang bertolak belakang dengan kelompok konservatif radikal yang sangat anti kebudayaan. Kelompok yang menganut paham ini merasa tidak ada ketegangan besar antara gereja dan kebudayaan. Mereka menafsirkan kebudayaan melalui Kristus dan berpendapat bahwa pekerjaan dan pribadi Kristus sesuai dengan kebudayaan. Dengan kata lain ada penerimaan unsur-unsur kebudayaan yang bersesuaian dengan ajaran Kristen.
Gereja diatas kebudayaan (Roma Katolik)
Pandangan ini berawal dari tingkatan hirarkis dari alam (natural) dan spiritual (rohani). Ada dua lapisan mendasar dari keberadaan umat manusia. Yang pertama adalah lapisan kebudayaan, yaitu kehidupan alami manusia termasuk kewajiban-kewajibannya di masyarakat yang bersifat hukum alam. Yang kedua adalah lapisan spiritual yaitu hidup didalam Kristus yang merupakan hukum Ilahi yang dinyatakan Allah melalui para nabi. Sebagian hukum Ilahi harmonis dengan hukum alam dan sebagian lagi melampauinya dan itulah menjadi hukum dari kehidupan supernatural manusia (ordo supernaturalis). Manusia dalam hidupnya sudah kehilangan ordo supernaturalis dan untuk dapat memulihkannya hanyalah melalui sakramen. Gereja berada dalam ordo supernatulis. Oleh karena itu kebudayaan berada di bawah hirarkis gereja. Tidak heran jika pada abad pertengahan gereja menguasai seluruh kebudayaan dalam tatanan Corpus Christianum.
Hubungan Gereja dan kebudayaan dalam paradoks(Lutheranisme)
Dalam pandangan ini, iman dan kebudayaan dipisahkan. Orang beriman (Kristen) berada dalam dua suasana yaitu berada dalam kebudayaan dan sekaligus berada dalam anugerah Allah dalam Kristus. Oleh sebab itu orang beriman dihimpit oleh dua suasana yaitu hidup dalam iman dan hidup dalam kebudayaan. Pandangan dualisme kelihatan juga secara samar dalam ajaran Marthin Luther yang mencetuskan reformasi pada tahun 1517. Menurut dia orang beriman hidup dalam dua kerajaan, yaitu kerajaan Allah yang rohani dan kerajaan duniawi. Kedua kerajaan itu tidak berhubungan dan tidak dapat dicampur adukkan, sehingga manusia hidup dalam tatanan kebudayaan berdasarkan hukum alam atau dalam tatanan rohani yaitu tatanan surgawi. Kita tidak dapat hidup seperti amphibi, yaitu hidup dalam rahmat Allah dan sekaligus dalam kebudayaan.
Gereja sebagai agen perubahan/transformasi kebudayaan(Calvinisme)
Banyak orang Kristen sepanjang abad tidak menyetujui keempat pendirian diatas baik dalam teori maupun dalam praktek. Mereka tidak menyerah kepada kebudayaan karena kebudayaan mempunyai kelemahan-kelemahan. Mereka juga menolak kepada kebudayaan yang dipaksakan gereja sebab kebudayaan yang dipaksakan gereja cenderung dianggap suci sebab berada di bawah gereja.Tidak benar jika dikatakan bahwa kerajaan Allah telah diwujudkan dalam kebudayaan yang diciptakan gereja (Verkuyl, 1982). Sikap gereja yang tepat menurut H. R. Niebuhr adalah sikap gereja sebagai pengubah kebudayaan.
Seorang teolog bernama Augustinus telah mempelopori sikap gereja sebagai pengubah kebudayaan. Pemikiran Augustinis ini dilanjutkan oleh Johanes Calvin pada awal abad ke 16. Titik tolak pikirannya berawal pada pandangannya bahwa hukum-hukum kerajaan Allah telah ditulis dalam kodrat manusia dan dapat terbaca dalam kebudayaannya. Dengan itu hidup dan kebudayaan manusia dapat ditransformasikan sebab kodrat dan kebudayaan manusia dapat dicerahkan. Oleh sebab itu Injil harus diaktualisasikan dalam kebudayaan supaya kebudayaan lebih dapat mensejahterakan manusia.
Perjumpaan kekristenan dengan budaya dan masyarakat jawa
Penduduk Jawa berkembang dalam struktur kemasyarakatan yang feodalistik sebagai akibat dari pengaruh sejarah kerajaan di Jawa. Dalam bidang kerohanian masyarakat Jawa merupakan masyarakat yang terbuka, yaitu keterbukaan untuk menerima agama atau kepercayaan apapun yang datang dari luar. Namun demikian meskipun menerima agama atau kepercayaan lain, orang Jawa tetap mempertahankan kepercayaan yang dimilikinya (animisme-dinamisme). Pandangan masyarakat Jawa terhadap agama menjadi netral, bahwa semua agama itu sama ibarat hendak pergi ke suatu tempat bisa lewat jalan manapun (Purnomo 1988).
Kyai Sadrach adalah orang yang tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhan dan perkembangan Gereja-gereja Kristen di Jawa. Kyai Sadrach sangat terkenal dengan perkembangan kekristenan yang bertemu dengan budaya Jawa. Pendekatan budaya yang dilakukan Kyai Sadrach ialah dengan cara “sarasehan”, yaitu perdebatan antara Kyai (ulama) dengan Ulama agama lain, atau tokoh kebatinan. Metode ini banyak dipakai oleh para pendeta Jawa dalam pekabaran Injil selanjutnya. Pendekatan Kyai Sadrach berbeda dengan para zendeling yang menentang apa saja yang berbau Jawa dan menganggap tradisi serta kebudayaan Jawa sebagai berbahaya atau setidaknya harus dianggap dapat membahayakan Iman. Sadrach justru menggunakan dan mengembangkan tradisi serta kebudayaan Jawa di dalam kekristenannya (Purnomo 1988).
Selain Kyai Sadrach ada pula sosok Kyai Tunggul Wulung. Tunggul Wulung sendiri memiliki legenda bahwa ketika ia turun gunung, secara ajaib ia menemukan salinan Dasa Titah di bawah tikar tempat tidurnya. Ia memandang bahwa titah-titah inilah yang menjadi tanda kedatangan Mesias bagi mereka yang ingin keluar dari rumah perhambaan (Aritonang 2010). Tunggul Wulung memakai konsep Ratu Adil, Messiah Jawa dalam mengajarkan agama Kristen. Tunggul Wulung berhasil menghimpun umat dan mendirikan sejumlah jemaat “Kristen-Jowo” yang jumlahnya lebih besar dibandingkan dengan “Kristen-Londo” yang dikumpulkan para zendeling.
Refleksi dan penutup
Kekristenan masuk ke Indonesia dengan membawa tradisi dan budaya Barat. Tradisi dan budaya Barat itu seringkali dipaksakan dan dimasukkan ke dalam sistem budaya lokal di Nusantara. Meskipun para zendeling datang dan mencoba mengubah budaya lokal menjadi budaya barat, kebudayaan lokal tetap sulit untuk diubah. Menghilangkan adat atau kebudayaan sama saja dengan menghilangkan identitas, tetapi menerima adat budaya tanpa bersifat kritis bisa menjadi penyembahan berhala. Ada kebudayaan yang harus ditolak, tetapi ada juga yang dapat diterima karena tidak bertentangan dengan Alkitab, bahkan banyak hal baik dalam kebudayaan lokal yang perlu dilestarikan. Perlu diingat apa yang ada di dalam Alkitab juga tidak terlepas dari tradisi di zaman pada saat Alkitab tersebut ditulis. Beriman tidak mengharuskan kita meninggalkan apa yang ada di dunia. Berbudaya bukan menjadikan kita meninggalkan Tuhan, tetapi sudah sepatutnya segala budaya yang tidak baik harus ditinggalkan karena bertentangan dengan firman Tuhan.
“Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan” (Markus 7:13).
Catatan: Dari berbagai sumber.
Alfred Bawole, Jeddah-Saudi Arabia, 24 Agustus 2016.
Kita baru saja menyelengarakan bulan budaya di GKJ Nehemia dengan berbagai kegiatan kebudayaan. Yang cukup menarik perhatian adalah diselenggarakannya Tuguran GKJ Nehemia pada tanggal 16 Agustus 2016 lalu yang dihadiri jemaat dengan pembicara Pdt.Simon Rahmadi dan Bapak Padmono. Bila mengikuti tradisi gereja Katolik, maka tuguran bisa berlangsung semalam suntuk, tapi kali ini hanya berlangsung sampai pukul 22.00.
Tuguran dengan tema: “Manekawarni seni budaya, wonten ing satunggal kapitadosan” atau aneka warna seni budaya dalam kepercayaan tunggal (maaf kalau salah mengartikan). Tema yang disampaikan Bpk Padmono tentang bagaimana leluhur orang Jawa, Sunda dan Bali sejak lama percaya pada satu kekuatan tunggal sebagai penguasa jagad raya, dan “Hyang” adalah bahasa yang dipakai sebagai penggambaran sosok “Tuhan” seperti yang kita kenal sekarang. Juga pembahasan tentang “Pranata Mangsa” atau pedoman musim yaitu suatu teknik penanggalan dalam dunia pertanian yang diwariskan dari generasi ke generasi selama kurang lebih dua millennium. Perhatian secara khusus diberikan kepada “Mangsa kasanga” yang mempunyai makna “wedharing wacana mulya” yaitu tersiarnya berita bahagia karena musim panen telah tiba. Pendeta Simon Rahmadi tak kalah apiknya memvisualisasikan metode dan cara-cara melawan kegelapan dengan pemutaran video klip campursari. Keesokan harinya dalam kebaktian 17 Agustus dipentaskan pula ludruk GKJ Nehemia yang sangat inspiratif dan menghibur. Ada pesan yang disampaikan dalam rangkaian acara bulan budaya ini yaitu suatu kenyataan bahwa perjumpaan budaya dan kekristenan di Jawa telah berlangsung lama dan menjadi asset yang sangat berharga sebagai jatidiri bangsa yang merdeka.
Tulisan berikut ini membahas tentang perjumpaan gereja dengan budaya yang menurut Niebuhr terdapat lima sikap gereja terhadap budaya yang akan dibahas lebih lanjut. Salah satu contoh tatkala para zendeling datang mengabarkan injil ke Indonesia dan bersifat radikal yang sama sekali tidak mengakui hubungan antara iman dan budaya. Bagi para zendeling yang radikal selalu menghakimi budaya karena kebudayaan dianggap selalu jahat. Tidak heran kalau dalam perkembangan kekristenan di Jawa saat itu ada istilah “Kristen Jowo” dan “Kristen Londo”.
Interaksi agama dengan budaya
Adalah adat dan budaya yang lebih dulu ada sebelum agama masuk ke komunitas atau bangsa tertentu. Kebiasaan, tradisi, adat istiadat suku bangsa telah berlangsung turun temurun dari generasi ke generasi dan dilaksanakan dalam kehidupan bermasyarakat. Adat adalah bagian dari kebudayaan yang intinya adalah keseluruhan sistim, gagasan, tindakan yang dipelajari untuk selanjutnya diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Misalnya tindakan-tindakan yang mengetengahkan budi pekerti atau gagasan yang bermuara dari pikiran yang terwujud dalam bentuk seni, tatanan masyarakat, etika, dan pandangan hidup.
Agama diperkenalkan ke suku bangsa tertentu dan terjadi interaksi, kemudian melebur sehingga terdapat keseimbangan dimana agama dan budaya menjadi dua hal yang sulit dipisahkan satu sama lain. Yang terjadi di masyarakat pada umumnya timbul dua kemungkinan yaitu, pertama kelompok yang secara membabibuta mengagungkan adat dan menjadikannya yang paling benar, setara dengan agama, bahkan lebih tinggi dari agama. Kelompok kedua menjadikan adat sebagai sesuatu yang musyrik atau identik dengan pekerjaan setan, seolah-olah tidak ada yang baik didalamnya.
Dapat disimpulkan bahwa budaya yang digerakkan agama timbul dari proses interaksi manusia dengan kitab suci yang diyakini sebagai hasil daya kreatif pemeluk suatu agama tapi dikondisikan oleh konteks hidup pelakunya, yaitu faktor geografis, budaya, dan beberapa kondisi objektif lainnya.
Bagaimana sikap gereja terhadap kebudayaan?
Saat gereja harus mengambil sikap terhadap kebudayaan seringkali timbul dilema yaitu: bagaimana menghindari pencemaran spiritual atau ketidakmurnian moral, dan pada saat yang sama menjalankan misi Tuhan Yesus yang telah diamanatkan kepada kita umat Kristen. Seorang teolog H.Richard Niebuhr bergumul dengan pertanyaan diatas dan meneliti bagaimana gereja secara historis pada akhirnya dapat mengerti hubungan gereja dengan kebudayaan.
Dalam temuannya yang ditulis di buku “Christ and Culture” Niebuhr mengungkapkan ada lima cara-cara mendasar gereja berhubungan dengan kebudayaan.
Gereja anti kebudayaan (Fundamentalisme)
Disini orang Kristen harus hidup berlawanan dengn budayanya. Mereka harus hidup sesuai dengan standard kerajaan Allah. Orang mempunyai pilihan, mau ikut kerajaan Allah atau kebudayaan yang tak lain adalah penguasa dunia, harus dipilih salah satu, dan tidak boleh memilih keduanya pada saat yang sama. Tugas Gereja adalah menerangi semua orang yang sudah berada dibawah ilusi kebudayan, supaya mereka dibawa kepada pengetahuan akan kebenaran.
Gereja bagian dari kebudayaan(Protestan liberal)
Kelompok ini mempunyai perspektif liberal yang bertolak belakang dengan kelompok konservatif radikal yang sangat anti kebudayaan. Kelompok yang menganut paham ini merasa tidak ada ketegangan besar antara gereja dan kebudayaan. Mereka menafsirkan kebudayaan melalui Kristus dan berpendapat bahwa pekerjaan dan pribadi Kristus sesuai dengan kebudayaan. Dengan kata lain ada penerimaan unsur-unsur kebudayaan yang bersesuaian dengan ajaran Kristen.
Gereja diatas kebudayaan (Roma Katolik)
Pandangan ini berawal dari tingkatan hirarkis dari alam (natural) dan spiritual (rohani). Ada dua lapisan mendasar dari keberadaan umat manusia. Yang pertama adalah lapisan kebudayaan, yaitu kehidupan alami manusia termasuk kewajiban-kewajibannya di masyarakat yang bersifat hukum alam. Yang kedua adalah lapisan spiritual yaitu hidup didalam Kristus yang merupakan hukum Ilahi yang dinyatakan Allah melalui para nabi. Sebagian hukum Ilahi harmonis dengan hukum alam dan sebagian lagi melampauinya dan itulah menjadi hukum dari kehidupan supernatural manusia (ordo supernaturalis). Manusia dalam hidupnya sudah kehilangan ordo supernaturalis dan untuk dapat memulihkannya hanyalah melalui sakramen. Gereja berada dalam ordo supernatulis. Oleh karena itu kebudayaan berada di bawah hirarkis gereja. Tidak heran jika pada abad pertengahan gereja menguasai seluruh kebudayaan dalam tatanan Corpus Christianum.
Hubungan Gereja dan kebudayaan dalam paradoks(Lutheranisme)
Dalam pandangan ini, iman dan kebudayaan dipisahkan. Orang beriman (Kristen) berada dalam dua suasana yaitu berada dalam kebudayaan dan sekaligus berada dalam anugerah Allah dalam Kristus. Oleh sebab itu orang beriman dihimpit oleh dua suasana yaitu hidup dalam iman dan hidup dalam kebudayaan. Pandangan dualisme kelihatan juga secara samar dalam ajaran Marthin Luther yang mencetuskan reformasi pada tahun 1517. Menurut dia orang beriman hidup dalam dua kerajaan, yaitu kerajaan Allah yang rohani dan kerajaan duniawi. Kedua kerajaan itu tidak berhubungan dan tidak dapat dicampur adukkan, sehingga manusia hidup dalam tatanan kebudayaan berdasarkan hukum alam atau dalam tatanan rohani yaitu tatanan surgawi. Kita tidak dapat hidup seperti amphibi, yaitu hidup dalam rahmat Allah dan sekaligus dalam kebudayaan.
Gereja sebagai agen perubahan/transformasi kebudayaan(Calvinisme)
Banyak orang Kristen sepanjang abad tidak menyetujui keempat pendirian diatas baik dalam teori maupun dalam praktek. Mereka tidak menyerah kepada kebudayaan karena kebudayaan mempunyai kelemahan-kelemahan. Mereka juga menolak kepada kebudayaan yang dipaksakan gereja sebab kebudayaan yang dipaksakan gereja cenderung dianggap suci sebab berada di bawah gereja.Tidak benar jika dikatakan bahwa kerajaan Allah telah diwujudkan dalam kebudayaan yang diciptakan gereja (Verkuyl, 1982). Sikap gereja yang tepat menurut H. R. Niebuhr adalah sikap gereja sebagai pengubah kebudayaan.
Seorang teolog bernama Augustinus telah mempelopori sikap gereja sebagai pengubah kebudayaan. Pemikiran Augustinis ini dilanjutkan oleh Johanes Calvin pada awal abad ke 16. Titik tolak pikirannya berawal pada pandangannya bahwa hukum-hukum kerajaan Allah telah ditulis dalam kodrat manusia dan dapat terbaca dalam kebudayaannya. Dengan itu hidup dan kebudayaan manusia dapat ditransformasikan sebab kodrat dan kebudayaan manusia dapat dicerahkan. Oleh sebab itu Injil harus diaktualisasikan dalam kebudayaan supaya kebudayaan lebih dapat mensejahterakan manusia.
Perjumpaan kekristenan dengan budaya dan masyarakat jawa
Penduduk Jawa berkembang dalam struktur kemasyarakatan yang feodalistik sebagai akibat dari pengaruh sejarah kerajaan di Jawa. Dalam bidang kerohanian masyarakat Jawa merupakan masyarakat yang terbuka, yaitu keterbukaan untuk menerima agama atau kepercayaan apapun yang datang dari luar. Namun demikian meskipun menerima agama atau kepercayaan lain, orang Jawa tetap mempertahankan kepercayaan yang dimilikinya (animisme-dinamisme). Pandangan masyarakat Jawa terhadap agama menjadi netral, bahwa semua agama itu sama ibarat hendak pergi ke suatu tempat bisa lewat jalan manapun (Purnomo 1988).
Kyai Sadrach adalah orang yang tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhan dan perkembangan Gereja-gereja Kristen di Jawa. Kyai Sadrach sangat terkenal dengan perkembangan kekristenan yang bertemu dengan budaya Jawa. Pendekatan budaya yang dilakukan Kyai Sadrach ialah dengan cara “sarasehan”, yaitu perdebatan antara Kyai (ulama) dengan Ulama agama lain, atau tokoh kebatinan. Metode ini banyak dipakai oleh para pendeta Jawa dalam pekabaran Injil selanjutnya. Pendekatan Kyai Sadrach berbeda dengan para zendeling yang menentang apa saja yang berbau Jawa dan menganggap tradisi serta kebudayaan Jawa sebagai berbahaya atau setidaknya harus dianggap dapat membahayakan Iman. Sadrach justru menggunakan dan mengembangkan tradisi serta kebudayaan Jawa di dalam kekristenannya (Purnomo 1988).
Selain Kyai Sadrach ada pula sosok Kyai Tunggul Wulung. Tunggul Wulung sendiri memiliki legenda bahwa ketika ia turun gunung, secara ajaib ia menemukan salinan Dasa Titah di bawah tikar tempat tidurnya. Ia memandang bahwa titah-titah inilah yang menjadi tanda kedatangan Mesias bagi mereka yang ingin keluar dari rumah perhambaan (Aritonang 2010). Tunggul Wulung memakai konsep Ratu Adil, Messiah Jawa dalam mengajarkan agama Kristen. Tunggul Wulung berhasil menghimpun umat dan mendirikan sejumlah jemaat “Kristen-Jowo” yang jumlahnya lebih besar dibandingkan dengan “Kristen-Londo” yang dikumpulkan para zendeling.
Refleksi dan penutup
Kekristenan masuk ke Indonesia dengan membawa tradisi dan budaya Barat. Tradisi dan budaya Barat itu seringkali dipaksakan dan dimasukkan ke dalam sistem budaya lokal di Nusantara. Meskipun para zendeling datang dan mencoba mengubah budaya lokal menjadi budaya barat, kebudayaan lokal tetap sulit untuk diubah. Menghilangkan adat atau kebudayaan sama saja dengan menghilangkan identitas, tetapi menerima adat budaya tanpa bersifat kritis bisa menjadi penyembahan berhala. Ada kebudayaan yang harus ditolak, tetapi ada juga yang dapat diterima karena tidak bertentangan dengan Alkitab, bahkan banyak hal baik dalam kebudayaan lokal yang perlu dilestarikan. Perlu diingat apa yang ada di dalam Alkitab juga tidak terlepas dari tradisi di zaman pada saat Alkitab tersebut ditulis. Beriman tidak mengharuskan kita meninggalkan apa yang ada di dunia. Berbudaya bukan menjadikan kita meninggalkan Tuhan, tetapi sudah sepatutnya segala budaya yang tidak baik harus ditinggalkan karena bertentangan dengan firman Tuhan.
“Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan” (Markus 7:13).
Catatan: Dari berbagai sumber.
Alfred Bawole, Jeddah-Saudi Arabia, 24 Agustus 2016.
Renungan: Budaya
Budaya adalah seperangkat perabot (bendawi) dan nilai (non bendawi) yang diciptakan oleh manusia untuk mendukung kehidupannya. Karena itu budaya selalu berubah sesuai dengan perkembangan kehidupan manusia. Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. Daoed Joesoef dulu sering menggambarkan perubahan budaya manusia itu dengan contoh, seorang pencari ikan yang tinggal di pinggir sungai. Karena pekerjaannya menangkap ikan, maka yang diajarkan orang itu kepada anaknya adalah bagaimana membuat jala, menangkap ikan dan mengolahnya ketika mendapatkan banyak ikan. Ketika di hulu sungai dibendung dan sungai tidak lagi mengalir lewat desanya, apa yang terjadi? Harus terjadi perubahan!
Pesan yang ingin disampaikan dari cerita tersebut adalah, bahwa manusia membutuhkan pendidikan untuk mengantisipasi terjadinya perubahan! Yah, pendidikan begitu penting bagi manusia dalam menyikapi kehidupan yang berubah itu. Pendidikan adalah bagian dari nilai-nilai budaya dan itu diperlukan guna menyikapi perubahan. Perubahan itu juga nampak dalam permainan anak-anak atau yang disebut dengan dolanan bocah! Dalam kehidupan masyaraka Jawa dikenal banyak dolanan bocah. Ada yang namanya jamuran, ada cublak-cublak suweng, ada jethungan atau jelungan, ada sar-sur, ada soyang dan seterusnya. Konon, dolanan bocah lengkap dengan tembang (nyanyiannya) itu diciptakan oleh para wali di jaman kesultanan Demak sebagai upaya untuk memperkenalkan agama Islam kepada orang Jawa.
Salah satu contoh lagu dolananan adalah Sluku-sluku Bathok yang merupakan karya Sunan Kalijaga yang berbahasa Arab: Sluku-sluku bathok berasal dari kalimat ghuslak-ghusluk batnaka yang artinya bersihkanlah batinmu atau sucikanlah hatimu; bathoke ela-elo berasal dari batnaka lahlaha ilallah, artinya membersihkan hati dengan tauhid laillaha illah. Tiada Tuhan selain Allah; si rama menyang Sala berasal dari kalimat siruma menunjuk pada Nabi Muhammad SAW dan yasluka berasal dari kata salaka yang berarti berjalanlah di jalan Nabi Muhammad SAW; leh olehe payung motha berasal dari kalimat laillaha ilallah hayun wal mauta artinya menyebut laillaha ilallah sejak lahir (hayun) sampai mati (mauta); mak jenthit lololobah dari kalimat mandzolik muqarobah yang berarti mawas dirilah terhadap kesalahan; yen obah medeni bocah dari kalimat hayun wal mauta inalillah yang artinya hidup dan mati itu hanya kepunyaan Allah; yen obah medeni bocah dari kalimat mahabatan mahrojuhu taubatan yang artinya agar disenangi Allah maka jalannya bertobat; yen urip goleka duwit dari kalimat yasrifu innal khalagnal insane min main dhofiq yang artinya manusia bisa mulia karena diciptakan dari dhofiq (Suwardi Endraswara, Falsafah Hidup Jawa (2010); 98-99)
Lagu dalam bahasa Jawa itu menggambarkan sikap orang Jawa dalam menerima ajaran Islam dalam bahasa Arab. Orang Jawa menerima dengan cara menyederhanakan dan mennghilangkan arti atau makna keislamannya. Itulah budaya orang Jawa, melakukan perubahan dengan menyederhanakan sesuatu yang terlalu sulit dan njlimet. Banyak perubahan yang dilakukan seperti itu terutama dalam doa-doa yang dilantunkan oleh modin atau imam-imam Jawa. Doa bahasa Arab dicampur dengan bahasa Jawa menjadi sesuatu yang kelihatannya magis dan mistis!
Terlepas dari semua itu lagu dan dolanan bocah tersebut merupakan budaya Jawa ketika masyarakatnya masih hidup dari pertanian, masyarakat agraris. Ketika itu rumah di desa-desa masih memiliki pekarangan yang luas, belum ada listrik, belum ada radio, belum ada televise, dan penerangan malam hari mengandalkan bulan dan seterusnya. Anak-anak di satu desa berkumpul, bernyanyi dan bermain bersama di pelataran yang luas di bawah temaram bulan. Namun kini semuanya berubah! Tidak hanya di Jakarta di mana rumah berhimpitan tetapi juga di kota-kota di seluruh Indonesia. Rumah tidak memiliki pelataran, selalu terang, penerangan listrik tidak pernah henti hingga malam hari, ada radio, ada televise, ada bioskop dan semua mainan tersaji secara lengkap. Budaya pun berubah. Itu sebuah keniscayaan!
Kalau kita membaca Alkitab dan melihatnya dari perspektif budaya (sekali lagi: dalam perspektif budaya), banyak perubahan budaya yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Kita tahu Tuhan Yesus lahir dan besar dalam budaya Yahudi. Dalam budaya Yahudi, sesuai dengan aturan agama yang ditetapkan oleh Musa, orang diperbolehkan bercerai dengan alasan tertentu. Namun Tuhan Yesus mengubahnya dan mengatakan, “apa yang telah dipersatukan oleh Allah tidk boleh diceraikan oleh manusia” (Mat 19: 1-23). Banyak budaya Yahudi yang diubah oleh Tuhan Yesus. Padahal orang-orang Yahudi percaya bahwa budaya itu berasal dari Yahweh. Artinya, budaya itu tumbuh karena mereka memberlakukan perintah-perintah Musa yang asalnya dari Yahweh! Budaya yang bersifat nilai pun, diubah oleh Tuhan Yesus. Dalam kehidupan masyarakat Yahudi ada budaya membalas dendam “mata ganti mata, gigi ganti gigi”; ada budaya “mengasihi sesama hanya terbatas pada bangsa dan suku bangsa penyembah Yahweh”, selain itu musuh dan boleh dibunuh; ada budaya menghormati hari Sabat dengan tidak bekerja, dan seterusnya. Tetapi Tuhan Yesus mengubah semua itu. Untuk apa? Untuk membangun sebuah peradaban manusia agar lebih menghormati manusia sebagai ciptaan Tuhan dan mengasihi sesama manusia, serta mengasihi Tuhan! Dan lebih dari itu manusia percaya bahwa dalam Tuhan Yesus, Tuhan mengasihi manusia, memberikan pengampunan dan melakukan penebusan.
Lalu bagaimana dengan budaya yang lahir kehidupan manusia? Kalau Tuhan Yesus mengubah dan memberi nilai baru sebagai budaya baru dalam kehidupan masyarakat Yahudi, budaya Jawa pun harus ditundukkan di bawah Tuhan Yesus. Artinya seluruh aspek budaya Jawa harus digunakan untuk kemuliaan Tuhan, untuk memuji Nama-Nya, dan untuk bersaksi atas Karya Tuhan dan untuk melayani sesama manusia. Di situ Gereja bisa memberi nilai baru dalam budaya Jawa, nilai yang sesuai dengan ajaran Tuhan Yesus.- Padmono SK.
Pesan yang ingin disampaikan dari cerita tersebut adalah, bahwa manusia membutuhkan pendidikan untuk mengantisipasi terjadinya perubahan! Yah, pendidikan begitu penting bagi manusia dalam menyikapi kehidupan yang berubah itu. Pendidikan adalah bagian dari nilai-nilai budaya dan itu diperlukan guna menyikapi perubahan. Perubahan itu juga nampak dalam permainan anak-anak atau yang disebut dengan dolanan bocah! Dalam kehidupan masyaraka Jawa dikenal banyak dolanan bocah. Ada yang namanya jamuran, ada cublak-cublak suweng, ada jethungan atau jelungan, ada sar-sur, ada soyang dan seterusnya. Konon, dolanan bocah lengkap dengan tembang (nyanyiannya) itu diciptakan oleh para wali di jaman kesultanan Demak sebagai upaya untuk memperkenalkan agama Islam kepada orang Jawa.
Salah satu contoh lagu dolananan adalah Sluku-sluku Bathok yang merupakan karya Sunan Kalijaga yang berbahasa Arab: Sluku-sluku bathok berasal dari kalimat ghuslak-ghusluk batnaka yang artinya bersihkanlah batinmu atau sucikanlah hatimu; bathoke ela-elo berasal dari batnaka lahlaha ilallah, artinya membersihkan hati dengan tauhid laillaha illah. Tiada Tuhan selain Allah; si rama menyang Sala berasal dari kalimat siruma menunjuk pada Nabi Muhammad SAW dan yasluka berasal dari kata salaka yang berarti berjalanlah di jalan Nabi Muhammad SAW; leh olehe payung motha berasal dari kalimat laillaha ilallah hayun wal mauta artinya menyebut laillaha ilallah sejak lahir (hayun) sampai mati (mauta); mak jenthit lololobah dari kalimat mandzolik muqarobah yang berarti mawas dirilah terhadap kesalahan; yen obah medeni bocah dari kalimat hayun wal mauta inalillah yang artinya hidup dan mati itu hanya kepunyaan Allah; yen obah medeni bocah dari kalimat mahabatan mahrojuhu taubatan yang artinya agar disenangi Allah maka jalannya bertobat; yen urip goleka duwit dari kalimat yasrifu innal khalagnal insane min main dhofiq yang artinya manusia bisa mulia karena diciptakan dari dhofiq (Suwardi Endraswara, Falsafah Hidup Jawa (2010); 98-99)
Lagu dalam bahasa Jawa itu menggambarkan sikap orang Jawa dalam menerima ajaran Islam dalam bahasa Arab. Orang Jawa menerima dengan cara menyederhanakan dan mennghilangkan arti atau makna keislamannya. Itulah budaya orang Jawa, melakukan perubahan dengan menyederhanakan sesuatu yang terlalu sulit dan njlimet. Banyak perubahan yang dilakukan seperti itu terutama dalam doa-doa yang dilantunkan oleh modin atau imam-imam Jawa. Doa bahasa Arab dicampur dengan bahasa Jawa menjadi sesuatu yang kelihatannya magis dan mistis!
Terlepas dari semua itu lagu dan dolanan bocah tersebut merupakan budaya Jawa ketika masyarakatnya masih hidup dari pertanian, masyarakat agraris. Ketika itu rumah di desa-desa masih memiliki pekarangan yang luas, belum ada listrik, belum ada radio, belum ada televise, dan penerangan malam hari mengandalkan bulan dan seterusnya. Anak-anak di satu desa berkumpul, bernyanyi dan bermain bersama di pelataran yang luas di bawah temaram bulan. Namun kini semuanya berubah! Tidak hanya di Jakarta di mana rumah berhimpitan tetapi juga di kota-kota di seluruh Indonesia. Rumah tidak memiliki pelataran, selalu terang, penerangan listrik tidak pernah henti hingga malam hari, ada radio, ada televise, ada bioskop dan semua mainan tersaji secara lengkap. Budaya pun berubah. Itu sebuah keniscayaan!
Kalau kita membaca Alkitab dan melihatnya dari perspektif budaya (sekali lagi: dalam perspektif budaya), banyak perubahan budaya yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Kita tahu Tuhan Yesus lahir dan besar dalam budaya Yahudi. Dalam budaya Yahudi, sesuai dengan aturan agama yang ditetapkan oleh Musa, orang diperbolehkan bercerai dengan alasan tertentu. Namun Tuhan Yesus mengubahnya dan mengatakan, “apa yang telah dipersatukan oleh Allah tidk boleh diceraikan oleh manusia” (Mat 19: 1-23). Banyak budaya Yahudi yang diubah oleh Tuhan Yesus. Padahal orang-orang Yahudi percaya bahwa budaya itu berasal dari Yahweh. Artinya, budaya itu tumbuh karena mereka memberlakukan perintah-perintah Musa yang asalnya dari Yahweh! Budaya yang bersifat nilai pun, diubah oleh Tuhan Yesus. Dalam kehidupan masyarakat Yahudi ada budaya membalas dendam “mata ganti mata, gigi ganti gigi”; ada budaya “mengasihi sesama hanya terbatas pada bangsa dan suku bangsa penyembah Yahweh”, selain itu musuh dan boleh dibunuh; ada budaya menghormati hari Sabat dengan tidak bekerja, dan seterusnya. Tetapi Tuhan Yesus mengubah semua itu. Untuk apa? Untuk membangun sebuah peradaban manusia agar lebih menghormati manusia sebagai ciptaan Tuhan dan mengasihi sesama manusia, serta mengasihi Tuhan! Dan lebih dari itu manusia percaya bahwa dalam Tuhan Yesus, Tuhan mengasihi manusia, memberikan pengampunan dan melakukan penebusan.
Lalu bagaimana dengan budaya yang lahir kehidupan manusia? Kalau Tuhan Yesus mengubah dan memberi nilai baru sebagai budaya baru dalam kehidupan masyarakat Yahudi, budaya Jawa pun harus ditundukkan di bawah Tuhan Yesus. Artinya seluruh aspek budaya Jawa harus digunakan untuk kemuliaan Tuhan, untuk memuji Nama-Nya, dan untuk bersaksi atas Karya Tuhan dan untuk melayani sesama manusia. Di situ Gereja bisa memberi nilai baru dalam budaya Jawa, nilai yang sesuai dengan ajaran Tuhan Yesus.- Padmono SK.
Semarak Tujuh Belasan
Dalam rangkaian Bulan Budaya, kali ini GKJ Nehemia memperingati dan merayakan ulang tahun ke-71 Republik Indonesia dengan tema Apa yang kuberikan kepada bangsaku. Pada pukul 08.30 Keroncong SNN mengumandangkan lagu-lagu perjuangan dalam menyambut kedatangan jemaat. Diawali dengan lagu Merah Putih (Gombloh) disusul berturut-turut lagu Pahlawan Bangsa (Koko Koswara), Kr. Pemuda Pemudi (Mardjo Kahar) dan Kr. Kemayoran. Disambung dengan gendhing Caping Gunung (Gesang) oleh Karawitan Pradatalaras yang dimainkan oleh para Majelis. Semuanya merupakan lagu-lagu perjuangan yang menggugah semangat kemerdekaan dari bangsa yang terjajah. Di deretan paling depan sebagai tamu kehormatan duduk para Purnawirawan baik dari TNI Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara dan Kepolisian Republik Indonesia.
Pada tujuhbelasan tahun lalu para Purnawirawan ini bertugas menjadi penerima tamu, namun karena pertimbangan usia yang makin bertambah panitia memohon untuk menjadi tamu saja. Dkn. Esmu Nareswari Majelis yang bertugas sebagai Liturgos menyatakan bahwa di tengah gejolak Perang Dunia II, bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Itulah kemerdekaan yang nyata, bukan pemberian bangsa lain. Bangsa Indonesia menyadari dan meyakini bahwa kemerdekaan Indonesia adalah berkat dan rahmat Allah. Karena itu sebagai bagian dari bangsa Indonesia, kita orang-orang percaya mengucap syukur kepada Tuhan, Allah kita atas berkat dan rahmat yang begitu besar kepada bangsa Indonesia.
Liturgos mengajak Jemaat berdiri menyaksikan prosesi pembawa bendera merah putih yang mewakili 11 wilayah pelayanan yang terdiri dari kaum Wanita diiringi gendhing Lancaran Ampat Lima oleh Pradatalaras memasuki ruang ibadah. Pendeta dan para Majelis mengikuti di belakangnya. Sampai di depan mimbar, pembawa bendera menancapkan bendera masing-masing lalu menghadap jemaat. Setelah Majelis menyerahkan Alkitab kepada Pendeta, Pendeta menuju mimbar dan para pembawa bendera kembali ke tempat duduk yang telah disediakan.
Lagu kebangsaan Indonesia Raya dan dikumandangkan oleh seluruh jemaat dipandu mbak Enggar dengan iringan musik oleh mas Archi. Kemudian Pdt. Agus Hendratmo, MTh memimpin mengheningkan cipta mengenang jasa para pahlawan diiringi musik instrumental Mengheningkan Cipta cipt. T Prawit. Selanjutnya Teks Proklamasi dibacakan oleh Mayjen.TNI-AD (Purn.) Herry Noorwanto dari wil. Pangkalan Jati. Setelah Votum dan salam, Pendeta membuka ibadah dengan menyatakan bahwa Ibadah Peringatan kemerdekaan ini dilakukan di bawah tema Apa yang kuberikan kepada bangsaku. Ungkapan itu sangat terkenal karena dikatakan oleh seorang Presiden Amerika Serikat kepada warga Negara, untuk menggugah jiwa patriotisme warga Negara. Ungkapan itulah yang akan kita renungkan dalam peribadahan ini. Kita pun sudah seharusnya mensyukuri tanah air yang diberikan oleh Tuhan kepada kita. Ungkapan itu disambut nyanyian pujian dengan gendhing Lancaran Betapa kita tidak bersyukur Sl. Pt.9 dari KJ. 337 bait 1, 2 dan 3 oleh Karawitan Pradatalaras.
Pengakuan Dosa dengan Hukum Kasih dari Lukas 10: 25-28 disambut pujian penyesalan gendhing Ketawang Apalah arti ibadahmu Pl.Pt 5 dari PKJ.264 bait 1 dan 2. Berita Anugerah dari 1 Ptr.1: 3-4 dan petunjuk Hidup Baru dari Kol.3: 12-14 disambut nyanyian kesanggupan gendhing Lancaran Gembala baik bersuling dan merdu Sl.Pt.9 dari KJ.415 bait 1 dan 2. Setelah Doa Epiklese tampil PS Gabungan mengisi pujian dengan lagu Tanah Airku.
Pembacaan Alkitab dari Markus 12: 13-17 tentang membayar pajak kepada Kaisar. Dalam kotbahnya Pdt. Agus Hendratmo, MTh mengisahkan tentang kewajiban sebagai warga Negara terhadap Pemerintah dan sebagai orang-orang percaya kepada Tuhan. "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah". (Mark.12: 17)
Setelah kotbah kembali PS Gabungan mengisi pujian dengan lagu Indonesia Jaya. Pengakuan Iman Rasuli diteruskan dengan Doa Syafaat dan kemudian pengumpulan Persembahan diiringi Keroncong Nehemia dengan lagu dari KJ.147 bait 1, 2 dan 3 Di sini aku bawa. Selesai doa persembahan jemaat menerima pengutusan dengan menyanyi bersama dari PKJ.241: 1 dan 2 Tak kutahu kan hari esok diiringi Keroncong Nehemia. Kebaktian berjalan lancar dan tertib serta khusyuk, dan setelah selesai kebaktian jemaat dipersilakan duduk kembali untuk menyaksikan Ludruk Surabaya Tjap Nehemia dengan lakon Perjuangan Kyai Sadrach.
Ludruk Surabaya Tjap Nehemia ini mengisahkan sikap Kyai Sadrach yang menunjukkan pemahaman jelas, betapa ia tidak setuju dengan penjajahan. Bagi Kyai Sadrach menjadi kristen tidak berarti harus menjadi orang belanda, menjadi kristen berarti menjadi orang merdeka, kristen mardiko dan bukan kristen londo, karena semua orang diciptakan sama, yang membedakan antara orang belanda dan orang jawa hanyalah warna kulit dan politik, bukan agama, agama tidak membolehkan ada penjajahan. Di dalam Kristus, kita ini orang-orang merdeka. Semua orang sudah dimerdekakan oleh Kristus. Inilah secarik kisah tentang perjuangan Kyai Sadrach yang dimainkan oleh Ludruk Surabaya Tjap Nehemia dalam rangka bulan budaya GKJ Nehemia 2016. Cerita ini terinspirasi dari sebuah novel karya bapak : Padmono SK, S.Th, yang diramu dan disutradarai oleh Bapak Petrus Sugiyono, dengan lakon Perjuangan Kyai Sadrach, diiringi oleh Grup Karawitan Sejati Laras. Pementasan Ludruk Surabaya Tjap Nehemia, berlangsung sekitar 75 menit, kemudian dilanjutkan pemotongan tumpeng oleh Bpk. Pdt. Samuel Bambang Haryanto, S.Th, M.Min diserahkan kepada Ketua Panitia Bulan Budaya Bpk. Pnt. Suradji, kemudian dilanjutkan makan bersama di GSG lantai bawah.
Pada tujuhbelasan tahun lalu para Purnawirawan ini bertugas menjadi penerima tamu, namun karena pertimbangan usia yang makin bertambah panitia memohon untuk menjadi tamu saja. Dkn. Esmu Nareswari Majelis yang bertugas sebagai Liturgos menyatakan bahwa di tengah gejolak Perang Dunia II, bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Itulah kemerdekaan yang nyata, bukan pemberian bangsa lain. Bangsa Indonesia menyadari dan meyakini bahwa kemerdekaan Indonesia adalah berkat dan rahmat Allah. Karena itu sebagai bagian dari bangsa Indonesia, kita orang-orang percaya mengucap syukur kepada Tuhan, Allah kita atas berkat dan rahmat yang begitu besar kepada bangsa Indonesia.
Liturgos mengajak Jemaat berdiri menyaksikan prosesi pembawa bendera merah putih yang mewakili 11 wilayah pelayanan yang terdiri dari kaum Wanita diiringi gendhing Lancaran Ampat Lima oleh Pradatalaras memasuki ruang ibadah. Pendeta dan para Majelis mengikuti di belakangnya. Sampai di depan mimbar, pembawa bendera menancapkan bendera masing-masing lalu menghadap jemaat. Setelah Majelis menyerahkan Alkitab kepada Pendeta, Pendeta menuju mimbar dan para pembawa bendera kembali ke tempat duduk yang telah disediakan.
Lagu kebangsaan Indonesia Raya dan dikumandangkan oleh seluruh jemaat dipandu mbak Enggar dengan iringan musik oleh mas Archi. Kemudian Pdt. Agus Hendratmo, MTh memimpin mengheningkan cipta mengenang jasa para pahlawan diiringi musik instrumental Mengheningkan Cipta cipt. T Prawit. Selanjutnya Teks Proklamasi dibacakan oleh Mayjen.TNI-AD (Purn.) Herry Noorwanto dari wil. Pangkalan Jati. Setelah Votum dan salam, Pendeta membuka ibadah dengan menyatakan bahwa Ibadah Peringatan kemerdekaan ini dilakukan di bawah tema Apa yang kuberikan kepada bangsaku. Ungkapan itu sangat terkenal karena dikatakan oleh seorang Presiden Amerika Serikat kepada warga Negara, untuk menggugah jiwa patriotisme warga Negara. Ungkapan itulah yang akan kita renungkan dalam peribadahan ini. Kita pun sudah seharusnya mensyukuri tanah air yang diberikan oleh Tuhan kepada kita. Ungkapan itu disambut nyanyian pujian dengan gendhing Lancaran Betapa kita tidak bersyukur Sl. Pt.9 dari KJ. 337 bait 1, 2 dan 3 oleh Karawitan Pradatalaras.
Pengakuan Dosa dengan Hukum Kasih dari Lukas 10: 25-28 disambut pujian penyesalan gendhing Ketawang Apalah arti ibadahmu Pl.Pt 5 dari PKJ.264 bait 1 dan 2. Berita Anugerah dari 1 Ptr.1: 3-4 dan petunjuk Hidup Baru dari Kol.3: 12-14 disambut nyanyian kesanggupan gendhing Lancaran Gembala baik bersuling dan merdu Sl.Pt.9 dari KJ.415 bait 1 dan 2. Setelah Doa Epiklese tampil PS Gabungan mengisi pujian dengan lagu Tanah Airku.
Pembacaan Alkitab dari Markus 12: 13-17 tentang membayar pajak kepada Kaisar. Dalam kotbahnya Pdt. Agus Hendratmo, MTh mengisahkan tentang kewajiban sebagai warga Negara terhadap Pemerintah dan sebagai orang-orang percaya kepada Tuhan. "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah". (Mark.12: 17)
Setelah kotbah kembali PS Gabungan mengisi pujian dengan lagu Indonesia Jaya. Pengakuan Iman Rasuli diteruskan dengan Doa Syafaat dan kemudian pengumpulan Persembahan diiringi Keroncong Nehemia dengan lagu dari KJ.147 bait 1, 2 dan 3 Di sini aku bawa. Selesai doa persembahan jemaat menerima pengutusan dengan menyanyi bersama dari PKJ.241: 1 dan 2 Tak kutahu kan hari esok diiringi Keroncong Nehemia. Kebaktian berjalan lancar dan tertib serta khusyuk, dan setelah selesai kebaktian jemaat dipersilakan duduk kembali untuk menyaksikan Ludruk Surabaya Tjap Nehemia dengan lakon Perjuangan Kyai Sadrach.
Ludruk Surabaya Tjap Nehemia ini mengisahkan sikap Kyai Sadrach yang menunjukkan pemahaman jelas, betapa ia tidak setuju dengan penjajahan. Bagi Kyai Sadrach menjadi kristen tidak berarti harus menjadi orang belanda, menjadi kristen berarti menjadi orang merdeka, kristen mardiko dan bukan kristen londo, karena semua orang diciptakan sama, yang membedakan antara orang belanda dan orang jawa hanyalah warna kulit dan politik, bukan agama, agama tidak membolehkan ada penjajahan. Di dalam Kristus, kita ini orang-orang merdeka. Semua orang sudah dimerdekakan oleh Kristus. Inilah secarik kisah tentang perjuangan Kyai Sadrach yang dimainkan oleh Ludruk Surabaya Tjap Nehemia dalam rangka bulan budaya GKJ Nehemia 2016. Cerita ini terinspirasi dari sebuah novel karya bapak : Padmono SK, S.Th, yang diramu dan disutradarai oleh Bapak Petrus Sugiyono, dengan lakon Perjuangan Kyai Sadrach, diiringi oleh Grup Karawitan Sejati Laras. Pementasan Ludruk Surabaya Tjap Nehemia, berlangsung sekitar 75 menit, kemudian dilanjutkan pemotongan tumpeng oleh Bpk. Pdt. Samuel Bambang Haryanto, S.Th, M.Min diserahkan kepada Ketua Panitia Bulan Budaya Bpk. Pnt. Suradji, kemudian dilanjutkan makan bersama di GSG lantai bawah.
Tuguran GKJ Nehemia
Lek-lekan atau tuguran yang baru pertama kali dilaksanakan di GKJ Nehemia ini merupakan gagasan Ketua Majelis yang disampaikan kepada Panitia Bulan Budaya. Hal ini mengingatkannya pada waktu masih tinggal di kampung, setiap malam tanggal tujuh belas Agustus di Kelurahan diadakan tuguran, bahkan kadang dengan menanggap wayang kulit semalam suntuk. Itu merupakan pernyataan kegembiraan masyarakat bahwa negerinya telah bebas dari penjajahan yang begitu panjang dan penuh penderitaan. Malam itu mereka menggelar doa sukur kepada Tuhan atas rahmat dan anugerahNya kepada Bangsa Indonesia, diteruskan dengan terbangan dengan nyanyian pujian kepada Tuhan, Cokekan, Siteran atau gamelan gadhon. Baru pada perayaan tujuhbelasan besoknya dilaksankan lebih semarak dan meriah.
Itulah yang mengilhami Ketua Majelis untuk bisa dilaksanakan tuguran di GKJ Nehemia sesuai dengan Bulan Budaya yang diselenggarakan. Malam itu pk. 18.30 para pengrawit dari Dilan's Grup sudah rapi berbusana Jawa gaya Sala lengkap dengan waranggana atau pesindhen Ibu Yayuk. Setelah makan nasi kucing dan minum wedang jahe mereka segera menuju panggung gamelan dan mulai melantunkan gendhing-gendhing yang nganyut-anyut nikmat di telinga. Kata pak Andreas gesekan rebab nya pak Dilan dan petikan siter nya pak Nartoyo mengingatkan bahwa dulu cita-citanya setelah pensiun pulang kampung, lalu sore hari duduk di serambi minum kopi sambil mendengarkan gendhing uyon-uyon dan melihat hamparan sawah menghijau di depan rumahnya. Rasanya pasti di hati ayem-tentrem nikmat sekali, apalagi untuk urusan makan minum di kampung murah sekali.
Tapi itu cuma cita-cita, karena baru tiga hari di kampung sudah tidak kerasan dan buru-buru balik ke Jakarta, ke Nehemia he . . he. Duduk lesehan di panggung kehormatan malam itu Wakil Ketua Panitia Dkn. Agus Hardjanta, Pdt. Simon Rachmadi, MA, MHum. Pdt. Fritz Yohanes Dae Pany, SSi dari GKJ Manahan dan Ketua Majelis Dkn. Andreas Hutomo dipandu oleh pak Agus Yulianto. Sementara Ketua Panitia Pnt. Suradji, saking senengnya ikut menabuh gamelan Ketua Majelis malam itu menjelaskan bahwa sesuai dengan Mukadimah Tata-Gereja dan Tata Laksana Gereja Kristen Jawa bahwa, GKJ merupakan bagian dari keluasan karya kasih penyelamatan Allah kepada seluruh ciptaan yang dijiwai oleh nilai-nilai budaya Jawa serta warisan tradisi teologis sesuai konteksnya yang tidak bertentangan dengan Alkitab.
GKJ dalam kehidupan berbangsa dan bernegara menerima dan merangkul keragaman yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itu budaya Jawa khususnya dan budaya nasional pada umumnya harus dilestarikan, jangan sampai setelah diakui oleh bangsa lain baru kita berteriak-teriak.
Malam itu terjadi dialog interaktif antara narasumber dengan para jemaat tentang makna tuguran malam tujuhbelasan. Beberapa kali Pdt. Simon mengajak untuk menyanyi campursari sambil berjoget. Semua kesenian tradisional bisa masuk gereja sepanjang dalam batas tertentu dan sekali lagi tidak bertentangan dengan Alkitab. Lagu Campursari seperti Cucakrawa jelas tidak akan bisa masuk khasanah gerejawi. Padahal aslinya lagu tersebut dari negeri Belanda yang berjudul Hip hip yei, kemudian di Tapanuli menjadi lagu Say selamat masi neger-negeri, lha kok tiba-tiba jadi lagu Cucakrawa yang jauh dari tatasusila, dan anehnya banyak digemari. Banyak lagu rohani dengan iringan karawitan yang telah diciptakan oleh para pakar antara lain Prof. Hastanto, Prof. Rahayu Supanggah, Dulkaeni dll. termasuk pak Padmono wil. Tebet, untuk mengiringi liturgi. Bahkan lagu-lagu ciptaan para pakar itu beberapa kali dibawakan dalam Festival Gendhing Rohani baik di Jawa Tengah, DIY maupun Jabodetabek plus Bandung. Seperti diketahui bahwa Karawitan Pemuda Remaja GKJ Nehemia 5X berturut-turut juara II pada Festival tersebut.
Yang juga menarik perhatian malam itu ada narasumber yang agak asing yaitu Pdt. Fritz dari GKJ Manahan Sala. Ternyata sedang mengambil program studi Pasca Sarjana di STT Jakarta. Lalu kenapa bisa menjadi pendeta di GKJ Manahan yang notabene berbahasa Jawa? Tibake bapake dari Flores tapi ibune dari Wonosobo dan gedenya juga di Wonosobo, wajahnya Jawa banget, pantes fasih basa Jawa. Disamping menikmati gendhing juga disediakan makanan tradisional khas Sala yaitu Hik dengan sega kucing, sate kere dan wedang jahe dan membelinya cukup dengan uang dimasukkan kotak alias sakkalire. Malam tuguran berlangsung meriah namun khidmat dan ditutup pada pk.22.00.
Itulah yang mengilhami Ketua Majelis untuk bisa dilaksanakan tuguran di GKJ Nehemia sesuai dengan Bulan Budaya yang diselenggarakan. Malam itu pk. 18.30 para pengrawit dari Dilan's Grup sudah rapi berbusana Jawa gaya Sala lengkap dengan waranggana atau pesindhen Ibu Yayuk. Setelah makan nasi kucing dan minum wedang jahe mereka segera menuju panggung gamelan dan mulai melantunkan gendhing-gendhing yang nganyut-anyut nikmat di telinga. Kata pak Andreas gesekan rebab nya pak Dilan dan petikan siter nya pak Nartoyo mengingatkan bahwa dulu cita-citanya setelah pensiun pulang kampung, lalu sore hari duduk di serambi minum kopi sambil mendengarkan gendhing uyon-uyon dan melihat hamparan sawah menghijau di depan rumahnya. Rasanya pasti di hati ayem-tentrem nikmat sekali, apalagi untuk urusan makan minum di kampung murah sekali.
Tapi itu cuma cita-cita, karena baru tiga hari di kampung sudah tidak kerasan dan buru-buru balik ke Jakarta, ke Nehemia he . . he. Duduk lesehan di panggung kehormatan malam itu Wakil Ketua Panitia Dkn. Agus Hardjanta, Pdt. Simon Rachmadi, MA, MHum. Pdt. Fritz Yohanes Dae Pany, SSi dari GKJ Manahan dan Ketua Majelis Dkn. Andreas Hutomo dipandu oleh pak Agus Yulianto. Sementara Ketua Panitia Pnt. Suradji, saking senengnya ikut menabuh gamelan Ketua Majelis malam itu menjelaskan bahwa sesuai dengan Mukadimah Tata-Gereja dan Tata Laksana Gereja Kristen Jawa bahwa, GKJ merupakan bagian dari keluasan karya kasih penyelamatan Allah kepada seluruh ciptaan yang dijiwai oleh nilai-nilai budaya Jawa serta warisan tradisi teologis sesuai konteksnya yang tidak bertentangan dengan Alkitab.
GKJ dalam kehidupan berbangsa dan bernegara menerima dan merangkul keragaman yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itu budaya Jawa khususnya dan budaya nasional pada umumnya harus dilestarikan, jangan sampai setelah diakui oleh bangsa lain baru kita berteriak-teriak.
Malam itu terjadi dialog interaktif antara narasumber dengan para jemaat tentang makna tuguran malam tujuhbelasan. Beberapa kali Pdt. Simon mengajak untuk menyanyi campursari sambil berjoget. Semua kesenian tradisional bisa masuk gereja sepanjang dalam batas tertentu dan sekali lagi tidak bertentangan dengan Alkitab. Lagu Campursari seperti Cucakrawa jelas tidak akan bisa masuk khasanah gerejawi. Padahal aslinya lagu tersebut dari negeri Belanda yang berjudul Hip hip yei, kemudian di Tapanuli menjadi lagu Say selamat masi neger-negeri, lha kok tiba-tiba jadi lagu Cucakrawa yang jauh dari tatasusila, dan anehnya banyak digemari. Banyak lagu rohani dengan iringan karawitan yang telah diciptakan oleh para pakar antara lain Prof. Hastanto, Prof. Rahayu Supanggah, Dulkaeni dll. termasuk pak Padmono wil. Tebet, untuk mengiringi liturgi. Bahkan lagu-lagu ciptaan para pakar itu beberapa kali dibawakan dalam Festival Gendhing Rohani baik di Jawa Tengah, DIY maupun Jabodetabek plus Bandung. Seperti diketahui bahwa Karawitan Pemuda Remaja GKJ Nehemia 5X berturut-turut juara II pada Festival tersebut.
Yang juga menarik perhatian malam itu ada narasumber yang agak asing yaitu Pdt. Fritz dari GKJ Manahan Sala. Ternyata sedang mengambil program studi Pasca Sarjana di STT Jakarta. Lalu kenapa bisa menjadi pendeta di GKJ Manahan yang notabene berbahasa Jawa? Tibake bapake dari Flores tapi ibune dari Wonosobo dan gedenya juga di Wonosobo, wajahnya Jawa banget, pantes fasih basa Jawa. Disamping menikmati gendhing juga disediakan makanan tradisional khas Sala yaitu Hik dengan sega kucing, sate kere dan wedang jahe dan membelinya cukup dengan uang dimasukkan kotak alias sakkalire. Malam tuguran berlangsung meriah namun khidmat dan ditutup pada pk.22.00.
Bulan Budaya GKJ Nehemia
GKJ Nehemia untuk yang kedua kalinya menggelar Bulan Budaya yang dilaksanakan setiap Kebaktian Minggu sepanjang bulan Agustus 2016. Bulan Budaya tahun ini mengambil Tema: Ragam Seni Budaya Dalam Satu Iman.
Selama satu bulan penuh Ibadah di GKJ Nehemia akan diwarnai dengan berbagai seni, baik yang tradisional maupun modern. Tahun ini yang ketiban sampur sebagai Penyelenggara adalah Warga Wilayah Pelayanan Pdt. Agus Hendratmo, MTh yang meliputi Wilayah Pondok Indah, Bintaro, Ciputat, Permata Hijau, Kebayoran Baru dan Tebet, sementara Pnt. Suradji dari Wilayah Pondok Indah ditunjuk sebagai Ketua Panitia Pelaksana.
Dkn. Esmu Nareswari Suharto Majelis yang bertugas sebagi Liturgos sebelum Kebaktian Pembukaan Bulan Budaya pada pukul 06.00, dengan suaranya yang khas menyampaikan:
“Hari ini tanggal 7 Agustus 2016 kita memasuki Bulan Budaya. Selama satu bulan penuh atau empat Minggu peribadahan di GKJ Nehemia akan diwarnai dengan berbagai seni. Kita akan memadukan berbagai musik etnik dalam suatu pujian kepada Tuhan. Hari ini kita akan memuji Tuhan dalam empat kali kebaktian dengan iringan Karawitan. Suatu hal yang kadangkala kita pikir kurang masuk akal, karena paduan musik yang rasanya seperti di paksakan. Tetapi marilah kita memahaminya dalam terang Firman Tuhan, karena budaya adalah hasil dari budi daya, rasa dan karsa yang dipadu dalam sebuah karya. Memasuki peribadahan, sebuah tarian selamat datang akan dipentaskan dalam bentuk Tari Gambyong dengan ladrang Pangkur sebagai pengiringnya. Biarlah hati kita mempersiapkan diri untuk memasuki peribadahan ini.”
Tari Gambyong oleh para penari dari Sanggar Tari GKJ Nehemia menari dengan luwesnya diiringi Karawitan Pradata Laras, kemudian menjemput Pendeta, Majelis dan Ketua Panitia dalam suatu prosesi dengan iringan gendhing Kodhok Ngorek. Sampai di depan mimbar, Ketua Majelis Dkn. Andreas Hutomo memberikan penjelasan tentang Bulan Budaya:
“Jemaat sekalian yang dikasihi Tuhan, tahun ini adalah kali kedua GKJ Nehemia mengadakan Bulan Budaya, sementara Bulan Budaya pertama telah dilaksanakan pada bulan Agustus tahun lalu. Dalam Mukadimah Tata Gereja dan Tata Laksana Gereja 2016 tertulis bahwa: GKJ merupakan bagian dari keluasan karya kasih penyelamatan Allah kepada seluruh ciptaan yang dijiwai oleh nilai-nilai budaya Jawa serta warisan tradisi teologis sesuai konteksnya yang tidak bertentangan dengan Alkitab. GKJ dalam kehidupan berbangsa dan bernegara menerima dan merangkul keragaman yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itu Bulan Budaya Tahun ini mengambil tema: Ragam seni budaya dalam satu iman. Hari ini adalah minggu pertama dimulainya Bulan Budaya dengan tema: Budaya menjadi sarana Kesaksian Iman. Dengan demikian secara resmi Bulan Budaya GKJ Nehemia 2016 kami buka.”
Ketua Majelis kemudian mencabut Gunungan sebagai tanda dimulainya Bulan Budaya dan diserahkan kepada Dkn. Agus Hardjanta selaku Wakil Ketua Panitia, untuk melaksanakan Bulan Budaya sebaik-baiknya. Sementara Ketua Panitia Pnt. Suradji yang juga Ketua Karawitan Pradata Laras menabuh gamelan
Pagi itu Kebaktian dipimpin oleh Pdt. Lusindo Tobing, STh dengan tema Budaya menjadi sarana kesaksian iman yang diambil dari Ibrani 11: 1-3, 8-16 dengan Nats Ibrani 11 : 2 Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita. Seluruh kebaktian yang rencananya diiringi oleh Karawitan Gabungan Pemuda dan Guru Sekolah Minggu karena sesuatu dan lain hal tidak bisa tampil dan digantikan oleh Karawitan Pradata Laras yang anggotanya para majelis dengan pengisi pujian Ben Kesot.
Kebaktian pukul 08.00 juga dipimpin oleh Pdt. Lusindo Tobing diawali prosesi, namun sambutan Ketua Majelis ditayangkan melalui layar. Pengiring seluruh kebaktian masih Karawitan Pradata Laras dengan para Wiraswara dan Swarawati sebagai penggerong dengan komandan Pnt. Pandamsih Kristanto. Pengisi pujian oleh Pradata Laras dengan gendhing Endahing Paseduluran & Pracaya.
Kebaktian pukul 10.00 dipimpin oleh Pdt. Simon Rachmadi, MA, MHum diawali prosesi, sambutan Ketua Majelis juga merupakan rekaman dan ditayangkan di layar. Pengiring seluruh kebaktian masih Karawitan Pradata Laras, sementara pengisi pujian oleh Karawitan Golgota dari GKJ Pondok Gede.
Kebaktian pukul 17.00 dipimpin oleh Pdt. Agus Hendratmo, MTh diawali prosesi, sambutan Ketua Majelis ditayangkan di layar. Pengiring seluruh kebaktian oleh Karawitan Widyalaras yang anggotanya para kaum wanita. Pengisi pujian oleh Kentrung Seruni. Seluruh acara dari matahari terbit sampai matahari terbenam berjalan lancar, meriah tapi tetap khusyuk. Semua itu hanya karena berkat penyertaan Tuhan saja. Haleluya!
Selama satu bulan penuh Ibadah di GKJ Nehemia akan diwarnai dengan berbagai seni, baik yang tradisional maupun modern. Tahun ini yang ketiban sampur sebagai Penyelenggara adalah Warga Wilayah Pelayanan Pdt. Agus Hendratmo, MTh yang meliputi Wilayah Pondok Indah, Bintaro, Ciputat, Permata Hijau, Kebayoran Baru dan Tebet, sementara Pnt. Suradji dari Wilayah Pondok Indah ditunjuk sebagai Ketua Panitia Pelaksana.
Dkn. Esmu Nareswari Suharto Majelis yang bertugas sebagi Liturgos sebelum Kebaktian Pembukaan Bulan Budaya pada pukul 06.00, dengan suaranya yang khas menyampaikan:
“Hari ini tanggal 7 Agustus 2016 kita memasuki Bulan Budaya. Selama satu bulan penuh atau empat Minggu peribadahan di GKJ Nehemia akan diwarnai dengan berbagai seni. Kita akan memadukan berbagai musik etnik dalam suatu pujian kepada Tuhan. Hari ini kita akan memuji Tuhan dalam empat kali kebaktian dengan iringan Karawitan. Suatu hal yang kadangkala kita pikir kurang masuk akal, karena paduan musik yang rasanya seperti di paksakan. Tetapi marilah kita memahaminya dalam terang Firman Tuhan, karena budaya adalah hasil dari budi daya, rasa dan karsa yang dipadu dalam sebuah karya. Memasuki peribadahan, sebuah tarian selamat datang akan dipentaskan dalam bentuk Tari Gambyong dengan ladrang Pangkur sebagai pengiringnya. Biarlah hati kita mempersiapkan diri untuk memasuki peribadahan ini.”
Tari Gambyong oleh para penari dari Sanggar Tari GKJ Nehemia menari dengan luwesnya diiringi Karawitan Pradata Laras, kemudian menjemput Pendeta, Majelis dan Ketua Panitia dalam suatu prosesi dengan iringan gendhing Kodhok Ngorek. Sampai di depan mimbar, Ketua Majelis Dkn. Andreas Hutomo memberikan penjelasan tentang Bulan Budaya:
“Jemaat sekalian yang dikasihi Tuhan, tahun ini adalah kali kedua GKJ Nehemia mengadakan Bulan Budaya, sementara Bulan Budaya pertama telah dilaksanakan pada bulan Agustus tahun lalu. Dalam Mukadimah Tata Gereja dan Tata Laksana Gereja 2016 tertulis bahwa: GKJ merupakan bagian dari keluasan karya kasih penyelamatan Allah kepada seluruh ciptaan yang dijiwai oleh nilai-nilai budaya Jawa serta warisan tradisi teologis sesuai konteksnya yang tidak bertentangan dengan Alkitab. GKJ dalam kehidupan berbangsa dan bernegara menerima dan merangkul keragaman yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itu Bulan Budaya Tahun ini mengambil tema: Ragam seni budaya dalam satu iman. Hari ini adalah minggu pertama dimulainya Bulan Budaya dengan tema: Budaya menjadi sarana Kesaksian Iman. Dengan demikian secara resmi Bulan Budaya GKJ Nehemia 2016 kami buka.”
Ketua Majelis kemudian mencabut Gunungan sebagai tanda dimulainya Bulan Budaya dan diserahkan kepada Dkn. Agus Hardjanta selaku Wakil Ketua Panitia, untuk melaksanakan Bulan Budaya sebaik-baiknya. Sementara Ketua Panitia Pnt. Suradji yang juga Ketua Karawitan Pradata Laras menabuh gamelan
Pagi itu Kebaktian dipimpin oleh Pdt. Lusindo Tobing, STh dengan tema Budaya menjadi sarana kesaksian iman yang diambil dari Ibrani 11: 1-3, 8-16 dengan Nats Ibrani 11 : 2 Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita. Seluruh kebaktian yang rencananya diiringi oleh Karawitan Gabungan Pemuda dan Guru Sekolah Minggu karena sesuatu dan lain hal tidak bisa tampil dan digantikan oleh Karawitan Pradata Laras yang anggotanya para majelis dengan pengisi pujian Ben Kesot.
Kebaktian pukul 08.00 juga dipimpin oleh Pdt. Lusindo Tobing diawali prosesi, namun sambutan Ketua Majelis ditayangkan melalui layar. Pengiring seluruh kebaktian masih Karawitan Pradata Laras dengan para Wiraswara dan Swarawati sebagai penggerong dengan komandan Pnt. Pandamsih Kristanto. Pengisi pujian oleh Pradata Laras dengan gendhing Endahing Paseduluran & Pracaya.
Kebaktian pukul 10.00 dipimpin oleh Pdt. Simon Rachmadi, MA, MHum diawali prosesi, sambutan Ketua Majelis juga merupakan rekaman dan ditayangkan di layar. Pengiring seluruh kebaktian masih Karawitan Pradata Laras, sementara pengisi pujian oleh Karawitan Golgota dari GKJ Pondok Gede.
Kebaktian pukul 17.00 dipimpin oleh Pdt. Agus Hendratmo, MTh diawali prosesi, sambutan Ketua Majelis ditayangkan di layar. Pengiring seluruh kebaktian oleh Karawitan Widyalaras yang anggotanya para kaum wanita. Pengisi pujian oleh Kentrung Seruni. Seluruh acara dari matahari terbit sampai matahari terbenam berjalan lancar, meriah tapi tetap khusyuk. Semua itu hanya karena berkat penyertaan Tuhan saja. Haleluya!
Mengenal kesenia Tradisional: Reyog Ponorogo
Negara kita tercinta terkenal dengan kebudayaannya yang adi luhung sejak jaman Kerajaan Medang - Mataram Kuno sampai saat ini. Kita bisa melihat Candi Borobudur (Budha) dan Candi Prambanan (Hindu) sebagai peninggalan kebudayaan masa silam yang sangat mengagumkan. Disamping itu juga terdapat kesenian tradisional yang tak terhitung banyaknya yang senantiasa berkembang terus sesuai dengan perkembangan jaman. Karena begitu banyaknya kesenian tradisional di negeri kita tercinta ini, kami membatasi untuk mengenal Kesenian Tradisional di Jawa saja dan dimulai dengan Reyog Ponorogo.
Menurut catatan sejarah, pada tahun 1016 Raja Dharmawangsa Teguh (Kediri) wafat karena diserang Raja Wora-wari. Pada tahun 1019 menantu Dharmawangsa yang bernama Airlangga menggantikannya menjadi raja di Kediri. Airlangga berniat untuk mengembalikan kejayaan kerajaan Kediri dengan menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil di sekitar Kediri. Hanya satu yang tidak mau tunduk kepada Airlangga yaitu Kerajaan Wengker (Ponorogo). Kemudian Airlangga menyerang Kerajaan Wengker sampai tiga kali yaitu tahun 1030 M, 1031 M dan 1035 M.
Memori Wengker
Serangan Kediri terhadap kerajaan Wengker pada tahun 1035 merupakan penyerbuan besar-besaran yang sungguh dahsyat, sementara pasukan kerajaan Wengker tanpa rasa gentar sedikitpun mempertahankan bumi kelahirannya sampai titik darah yang penghabisan. Akibat dari pertempuran tersebut memakan korban dari kedua belah pihak yang tak terhitung jumlahnya. Mayat para prajurit bergelimpangan tumpang tindih berserakan di mana-mana seperti babadan pacing, sungguh merupakan pemandangan yang mengerikan. Para sesepuh kerajaan Wengker kemudian mempunyai gagasan untuk mengenang perang tersebut dengan menciptakan sebuah seni tari yang unik. Berbeda dengan seni tari biasa yang dipentaskan di atas panggung, seni tari yang diciptakan sesepuh Wengker tersebut menari di jalanan keliling kampung. Kemudian hari legenda seni tari tersebut disebut Reyog Ponorogo.
Legenda Reyog Ponorogo
Salah satu versi legenda Reyog Ponorogo menceritakan, Prabu Klana Sewandana yang tampan menawan dari kerajaan Bantarangin di Wengker (sekarang Ponorogo) adalah raja yang gagah lagi tampan. Ia sangat adil dan bijaksana dalam memerintah sehingga di sayangi oleh rakyatnya. Sayangnya dia punya kegemaran yang aneh yaitu suka mencumbu anak laki-laki dan tidak menyukai perempuan. Hal ini cukup menggelisahkan para punggawa, penasihat kerajaan, para pendeta dan bahkan Patih Bujang Anom sendiri. Pada suatu malam Prabu Klana Sewandana bermimpi bertemu dengan putri yang cantik jelita bernama Dewi Sanggalangit dari kerajaan Kediri yang membuat dia tergila-gila. Esok harinya Sang Prabu segera mengumpulkan para pejabat kerajaan, Hulubalang, Penasihat dan para Pendeta untuk menyampaikan perihal mimpinya tersebut. Sang Prabu berjanji untuk menghentikan kebiasaannya yang jelek dengan mencumbu anak laki-laki kalau bisa memperisteri Dewi Sanggalangit.
Adalah Patih Bujang Anom yang merupakan murid satu perguruan dengan Sang Prabu di Padepokan Lawu, kedua-duanya sama-sama sakti. Prabu Klana Sewandana oleh gurunya Ki Ajar Lawu mendapat senjata andalan berupa cemeti yang diberi nama Pecut Samandiman, yang kalau dihentakkan ke udara suaranya menggelegar bagaikan petir menyambar. Sementara Bujang Anom mendapatkan aji Welut Putih yang bisa melepaskan diri dari bahaya termasuk dikepung prajurit berapapun jumlahnya. Oleh karena itu setelah kembali ke kerajaan Wengker Bujang Anom diangkat menjadi Patih Kerajaan. Mendengar janji Prabu Klana Sewandana untuk menghentikan kebiasaan jeleknya maka Bujang Anom bersedia melamar Dewi Sanggalangit untuk menjadi permaisuri kerajaan Wengker.
Patih Bujang Anom sebetulnya putra Mahkota kerajaan Kediri dan kakak kandung Dewi Sanggalangit. Pada saat itu dia sengaja menyembunyikan identitasnya untuk mencari pengalaman hidup, bahkan Sang Prabu Klana Sewandana pun tidak mengetahuinya. Untuk menyembunyikan identitasnya pada waktu melamar, Bujang Anom menggunakan topeng dengan mata melotot, hidung yang besar, gigi tonggos dan rambut gimbal sehingga siapapun yang melihatnya akan merasa ngeri, oleh karena itu di disebut juga Bujang Ganong. Pada waktu melamar Sang Dewi, Bujang Anom mengaku sebagai adik raja Wengker Prabu Klana Sewandana. Dewi Sanggalangit yang melihat Patih Bujang Anom yang bertopeng mengira wajahnya pasti cacat atau buruk, lalu berpikir bahwa wajah kakaknya pasti tidak jauh berbeda. Untuk menolak secara halus, Dewi Sanggalangit mempunyai permintaan yang mustahil bisa dipenuhi yaitu:
1. Harus mampu mempertunjukkan suatu kesenian yang belum pernah ada yaitu pertunjukan diiringi tetabuhan gamelan dengan barisan berkuda sebanyak 144 ekor kuda kembar.
2. Rombongan pengantin pria dari kerajaan Bantarangin harus membuat terowongan bawah tanah untuk dilewati rombongan sampai ke Kediri.
3. Membawa binatang berkepala dua tetapi lain jenis.
Patih Bujang Anom segera kembali ke kerajaan Bantarangin untuk melaporkan hal tersebut.
Singkat cerita, berkat kesaktiannya seluruh permintaan Dewi Sanggalangit bisa dipenuhi oleh Prabu Klana Sewandana kecuali binatang berkepala dua lain jenis. Rupanya saat itu di kerajaan Wengker ada penyusup yang merupakan utusan Raja Lodaya, Prabu Singabarong yang bertubuh manusia berkepala macan, untuk merampas semua persyaratan yang diminta Dewi Sanggalangit, karena dia sendiri juga menginginkan Dewi Sanggalangit sebagai permaisuri kerajaan Lodaya. Namun para penyusup yang terdiri dari prajurit pilihan dan menyamar sebagai pedagang keliling itu ketahuan oleh para prajurit Wengker, kemudian dibantai habis. Karena merasa jengkel dan marah, prajurit Wengker dan para Warok yang sakti dipimpin langsung oleh Sang Prabu Klana Sewandana segera menyerbu kerajaan Lodaya.
Pada waktu itu Prabu Singabarong sedang mengelus-elus burung Merak kesayangannya sambil berbincang-bincang serta menunggu berita dari para penyusupnya. Si burung Merak segera mematuk-matuk kutu di kepala Singabarong sehingga Singobarong tertidur pulas. Tiba-tiba Prabu Singabarong terkejut dan bangun dari tidurnya ketika didengar ribut-ribut di dalam keraton. Ternyata dihadapannya telah berdiri Prabu Klana Sewandana dengan gagahnya dan segeralah terjadi perang tanding yang dahsyat karena keduanya sama-sama sakti. Akhirnya Prabu Klana Sewandana mengeluarkan cemeti Pecut Samandiman dan menyabet Singabarong dengan suara menggelegar bagaikan sambaran petir sehingga Singabarong tergeletak lemas dan menyerah kalah. Dengan kesaktiannya pula Prabu Klana Sewandana menjadikan burung merak yang bertengger di atas kepala Singabarong melekat menjadi satu, sehingga Singabarong berkepala macan dan burung merak serta tidak bisa berbicara lagi. Rombongan pengantin pria Prabu Klana Sewandana menelusuri lorong bawah tanah diiringi suara tetabuhan seperti gendang, terompet, gong yang bunyinya aneh dan unik diikuti para Warok dan Singabarong sambil berjoget mengibas-ngibaskan bulu merak yang megar dengan indahnya, bahkan Bujang Anom dengan memakai topengnya ikut menari. Rakyat kerajaan Kediri yang berdiri berjajar di sepanjang jalan menyaksikan tontonan yang sangat menarik itu bersorak-sorai tiada henti dan ikut menari-nari. Akhirnya Dewi Sanggalangit bersedia menjadi permaisuri Prabu Klana Sewandana, dan ketika Patih Bujang Anom membuka topengnya seluruh yang hadir terkejut karena ternyata Bujang Anom adalah putera Mahkota Kerajaan Kediri.
Dewi Sanggalangit diboyong ke kerajaan Wengker, sementara Bujang Anom menggantikan kedudukan ayahandanya sebagai raja di Kediri. Seni tari dan tetabuhan gamelan yang mengiringi ombongan pengantin pria itulah yang kemudian hari menjadi Reyog Ponorogo.Jadi kalau dihitung-hitung umur Reyog Ponorogo sampai saat ini sekitar 780 tahun. Bukan main! Satria Pinandhito.
Menurut catatan sejarah, pada tahun 1016 Raja Dharmawangsa Teguh (Kediri) wafat karena diserang Raja Wora-wari. Pada tahun 1019 menantu Dharmawangsa yang bernama Airlangga menggantikannya menjadi raja di Kediri. Airlangga berniat untuk mengembalikan kejayaan kerajaan Kediri dengan menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil di sekitar Kediri. Hanya satu yang tidak mau tunduk kepada Airlangga yaitu Kerajaan Wengker (Ponorogo). Kemudian Airlangga menyerang Kerajaan Wengker sampai tiga kali yaitu tahun 1030 M, 1031 M dan 1035 M.
Memori Wengker
Serangan Kediri terhadap kerajaan Wengker pada tahun 1035 merupakan penyerbuan besar-besaran yang sungguh dahsyat, sementara pasukan kerajaan Wengker tanpa rasa gentar sedikitpun mempertahankan bumi kelahirannya sampai titik darah yang penghabisan. Akibat dari pertempuran tersebut memakan korban dari kedua belah pihak yang tak terhitung jumlahnya. Mayat para prajurit bergelimpangan tumpang tindih berserakan di mana-mana seperti babadan pacing, sungguh merupakan pemandangan yang mengerikan. Para sesepuh kerajaan Wengker kemudian mempunyai gagasan untuk mengenang perang tersebut dengan menciptakan sebuah seni tari yang unik. Berbeda dengan seni tari biasa yang dipentaskan di atas panggung, seni tari yang diciptakan sesepuh Wengker tersebut menari di jalanan keliling kampung. Kemudian hari legenda seni tari tersebut disebut Reyog Ponorogo.
Legenda Reyog Ponorogo
Salah satu versi legenda Reyog Ponorogo menceritakan, Prabu Klana Sewandana yang tampan menawan dari kerajaan Bantarangin di Wengker (sekarang Ponorogo) adalah raja yang gagah lagi tampan. Ia sangat adil dan bijaksana dalam memerintah sehingga di sayangi oleh rakyatnya. Sayangnya dia punya kegemaran yang aneh yaitu suka mencumbu anak laki-laki dan tidak menyukai perempuan. Hal ini cukup menggelisahkan para punggawa, penasihat kerajaan, para pendeta dan bahkan Patih Bujang Anom sendiri. Pada suatu malam Prabu Klana Sewandana bermimpi bertemu dengan putri yang cantik jelita bernama Dewi Sanggalangit dari kerajaan Kediri yang membuat dia tergila-gila. Esok harinya Sang Prabu segera mengumpulkan para pejabat kerajaan, Hulubalang, Penasihat dan para Pendeta untuk menyampaikan perihal mimpinya tersebut. Sang Prabu berjanji untuk menghentikan kebiasaannya yang jelek dengan mencumbu anak laki-laki kalau bisa memperisteri Dewi Sanggalangit.
Adalah Patih Bujang Anom yang merupakan murid satu perguruan dengan Sang Prabu di Padepokan Lawu, kedua-duanya sama-sama sakti. Prabu Klana Sewandana oleh gurunya Ki Ajar Lawu mendapat senjata andalan berupa cemeti yang diberi nama Pecut Samandiman, yang kalau dihentakkan ke udara suaranya menggelegar bagaikan petir menyambar. Sementara Bujang Anom mendapatkan aji Welut Putih yang bisa melepaskan diri dari bahaya termasuk dikepung prajurit berapapun jumlahnya. Oleh karena itu setelah kembali ke kerajaan Wengker Bujang Anom diangkat menjadi Patih Kerajaan. Mendengar janji Prabu Klana Sewandana untuk menghentikan kebiasaan jeleknya maka Bujang Anom bersedia melamar Dewi Sanggalangit untuk menjadi permaisuri kerajaan Wengker.
Patih Bujang Anom sebetulnya putra Mahkota kerajaan Kediri dan kakak kandung Dewi Sanggalangit. Pada saat itu dia sengaja menyembunyikan identitasnya untuk mencari pengalaman hidup, bahkan Sang Prabu Klana Sewandana pun tidak mengetahuinya. Untuk menyembunyikan identitasnya pada waktu melamar, Bujang Anom menggunakan topeng dengan mata melotot, hidung yang besar, gigi tonggos dan rambut gimbal sehingga siapapun yang melihatnya akan merasa ngeri, oleh karena itu di disebut juga Bujang Ganong. Pada waktu melamar Sang Dewi, Bujang Anom mengaku sebagai adik raja Wengker Prabu Klana Sewandana. Dewi Sanggalangit yang melihat Patih Bujang Anom yang bertopeng mengira wajahnya pasti cacat atau buruk, lalu berpikir bahwa wajah kakaknya pasti tidak jauh berbeda. Untuk menolak secara halus, Dewi Sanggalangit mempunyai permintaan yang mustahil bisa dipenuhi yaitu:
1. Harus mampu mempertunjukkan suatu kesenian yang belum pernah ada yaitu pertunjukan diiringi tetabuhan gamelan dengan barisan berkuda sebanyak 144 ekor kuda kembar.
2. Rombongan pengantin pria dari kerajaan Bantarangin harus membuat terowongan bawah tanah untuk dilewati rombongan sampai ke Kediri.
3. Membawa binatang berkepala dua tetapi lain jenis.
Patih Bujang Anom segera kembali ke kerajaan Bantarangin untuk melaporkan hal tersebut.
Singkat cerita, berkat kesaktiannya seluruh permintaan Dewi Sanggalangit bisa dipenuhi oleh Prabu Klana Sewandana kecuali binatang berkepala dua lain jenis. Rupanya saat itu di kerajaan Wengker ada penyusup yang merupakan utusan Raja Lodaya, Prabu Singabarong yang bertubuh manusia berkepala macan, untuk merampas semua persyaratan yang diminta Dewi Sanggalangit, karena dia sendiri juga menginginkan Dewi Sanggalangit sebagai permaisuri kerajaan Lodaya. Namun para penyusup yang terdiri dari prajurit pilihan dan menyamar sebagai pedagang keliling itu ketahuan oleh para prajurit Wengker, kemudian dibantai habis. Karena merasa jengkel dan marah, prajurit Wengker dan para Warok yang sakti dipimpin langsung oleh Sang Prabu Klana Sewandana segera menyerbu kerajaan Lodaya.
Pada waktu itu Prabu Singabarong sedang mengelus-elus burung Merak kesayangannya sambil berbincang-bincang serta menunggu berita dari para penyusupnya. Si burung Merak segera mematuk-matuk kutu di kepala Singabarong sehingga Singobarong tertidur pulas. Tiba-tiba Prabu Singabarong terkejut dan bangun dari tidurnya ketika didengar ribut-ribut di dalam keraton. Ternyata dihadapannya telah berdiri Prabu Klana Sewandana dengan gagahnya dan segeralah terjadi perang tanding yang dahsyat karena keduanya sama-sama sakti. Akhirnya Prabu Klana Sewandana mengeluarkan cemeti Pecut Samandiman dan menyabet Singabarong dengan suara menggelegar bagaikan sambaran petir sehingga Singabarong tergeletak lemas dan menyerah kalah. Dengan kesaktiannya pula Prabu Klana Sewandana menjadikan burung merak yang bertengger di atas kepala Singabarong melekat menjadi satu, sehingga Singabarong berkepala macan dan burung merak serta tidak bisa berbicara lagi. Rombongan pengantin pria Prabu Klana Sewandana menelusuri lorong bawah tanah diiringi suara tetabuhan seperti gendang, terompet, gong yang bunyinya aneh dan unik diikuti para Warok dan Singabarong sambil berjoget mengibas-ngibaskan bulu merak yang megar dengan indahnya, bahkan Bujang Anom dengan memakai topengnya ikut menari. Rakyat kerajaan Kediri yang berdiri berjajar di sepanjang jalan menyaksikan tontonan yang sangat menarik itu bersorak-sorai tiada henti dan ikut menari-nari. Akhirnya Dewi Sanggalangit bersedia menjadi permaisuri Prabu Klana Sewandana, dan ketika Patih Bujang Anom membuka topengnya seluruh yang hadir terkejut karena ternyata Bujang Anom adalah putera Mahkota Kerajaan Kediri.
Dewi Sanggalangit diboyong ke kerajaan Wengker, sementara Bujang Anom menggantikan kedudukan ayahandanya sebagai raja di Kediri. Seni tari dan tetabuhan gamelan yang mengiringi ombongan pengantin pria itulah yang kemudian hari menjadi Reyog Ponorogo.Jadi kalau dihitung-hitung umur Reyog Ponorogo sampai saat ini sekitar 780 tahun. Bukan main! Satria Pinandhito.
Suksesi di Mataram bagian 4
Memperluas jajahan
Pada saat pisowanan agung yang dihadiri seluruh pejabat kerajaan, Sultan Agung memerintahkan kepada Tumenggung Suratani yang kemudian diangkat menjadi Senopati Manggala Yuda untuk merebut Bang Wetan.
Tumenggung Suratani dengan diiringi pasukan kerajaan berangkat ke Bang Wetan melalui pesisir utara, dan para Bupati pesisir beserta pasukannya ikut bergabung dalam ekspedisi tersebut. Setelah pasukan Suratani meninggalkan kota Mataram, Sultan Agung memerintahkan Ki Jaya Suprana untuk mengawal dari belakang dan kadipaten Pasuruan supaya dilewati saja dulu karena belum tiba waktunya. Sesampai di Winongan Tumenggung Suratani memerintahkan Tumenggung Alap-alap untuk menggempur Lumajang dan Renon. Ketika malam hari pasukan Mataram memasuki kota Lumajang ternyata Bupati Lumajang telah melarikan diri ke arah gunung dan dikejar pasukan Mataram. Banyak pasukan Lumajang yang gugur dan pasukan Mataram menjarah rayah harta benda dan perempuan-perempuan menjadi putri boyongan. Tumenggung Alap-alap lalu menggempur Renon dan menguasai Renon, sementara Bupati Renon lolos dari penyergapan tetapi harta benda rakyat Renon dijarah serta perempuan-perempuannya diangkut sebagai putri boyongan.
Selanjutnya pasukan Mataram menyerbu Malang dihadang Bupati Malang Rangga Tohjaya dengan pasukannya, namun karena melihat musuh begitu besar jumlahnya Rangga Tohjaya melarikan diri dan Malang dikuasai prajurit Mataram.
Pangeran Surabaya yang mendapat laporan bahwa prajurit Mataram menuju Kadipaten Surabaya segera menyiapkan pasukannya. Dikumpulkannya para Bupati Lasem, Gresik, Madura, Pasuruan, Kediri, Tuban dan Lamongan beserta para prajuritnya kemudian mengejar pasukan Mataram.
Ketika pasukan Mataram mengetahui dikejar musuh segera mengatur barisan di sebelah barat sungai Andaka. Pasukan Pangeran Surabaya berada di sebelah timur sungai kemudian para prajurit berteriak-teriak saling ejek dan menantang. Pasukan Mataram tidak tahan dengan tantangan dan ejekan segera terjun ke sungai berniat menyerbu pasukan Surabaya. Sampai di tengah sungai mereka diberondong tombak dan panah dari atas sungai. Banyak prajurit mataram yang tewas dan tenggelam termasuk Tumenggung Suratani. Para prajurit Mataram melihat Senopatinya gugur segera mundur sambil mencari jenazah Suratani. Setelah jenazah diketemukan maka dimasukkan ke dalam bandosa atau peti mati. Waktu itu sungai Andaka airnya berubah merah karena darah pasukan Mataram.
Pada malam hari Pasukan Mataram secara diam-diam menyeberang sungai Andaka dan dilihatnya pasukan Surabaya sedang mabuk kemenangan menjadi kurang waspada sehingga ketika diserbu banyak prajurit Surabaya yang tewas. Sisa-sisa prajurit Surabaya lari kocar-kacir termasuk para Bupatinya, kecuali pimpinan prajurit Madura Raden Panji Pulang Jiwa yang tetap bertahan dan gugur di tengah peperangan. Prajurit Mataram dibawah pimpinan Ki Jaya Suprana kembali ke Mataram sambil membawa jenazah Tumenggung Suratani.'
Menyerang Batavia
Awal abad ke-16 Belanda mendirikan kongsi dagang yang diberi nama VOC. Utusan VOC yang bernama Caspar van Surck menemui Sultan Agung di Mataram. Hasilnya, dibuatlah perjanjian sbb,:
Pertama, Sultan Agung menginginkan Belanda membangun loji di Jepara yang pembangunannay akan dibantu Mataram.
Kedua, Belanda akan memberikan apa saja yang diminta Sultan Agung sebagai mbalannya.
Namun perjanjian itu tidak berjalan mulus karena VOC minta pembangunan loji dipercepat sementara VOC mengingkari perjanjian kedua karena sebagai pedagang tidak mau rugi sehingga terjadilah perselisihan pendapat yang berujung menjadi perang. Berkali-kali Belanda merampok kapal-kapal kerajaan Mataram, namun JP Coen menyangkal bahwa yang merampok itu orang-orang Inggris. Akhirnya bulan Agustus 1618 Sultan Agung memerintahkan Adipati Jepara untuk menyerang loji Belanda di Jepara serta membakarnya. Kemudian Sultan Agung memutuskan untuk menyerang Belanda di Batavia.
Sepuluh tahun kemudian Sultan Agung kembali memerintahkan pasukan Mataram dibawah Tumenggung Bahureksa dan Bupati Kendal menyerang Belanda di Batavia. Tiga bulan kemudian 10.000 pasukan Mataram dibawah pimpinan Pangeran Mandurareja (cucu Ki Juru Martani) menyusul Tumenggung Bahureksa untuk membantu menyerang Belanda. Perang besarpun tak terelakkan, pasukan Mataram hancur karena kurang perbekalan dan adanya pengkhianat bangsa kita yang membantu Belanda dengan imbalan uang sehingga ribuan prajurit gugur dalam pertempuran tersebut. Begitu marahnya Sulatn Agung mendengar kehancuran pasukan Mataram, maka segera mengutus algojo untuk menghukum mati Tumenggung Bahureksa dan Pangeran Mandurareja. Pihak VOC menemukan 744 mayat prajurit Mataram yang berserakan tanpa kepala. Pada tahun berikutnya kembali Sultan Agung menyerang Batavia yang dipimpin oleh Dipati Ukur kemudian disusul Adipati Juminah beserta pasukannya. Keseluruhan prajurit yang diberangkatka sekitar 14.000 orang dengan mendirikan lumbung-lumbung beras di Karawang dan Cirebon, namun pihak VOC berhasil membakarnya berdasarkan laporan para pengkhianat bangsa. Meski dua kali penyerangan terhadap VOC di Batavia gagal, namun tekad untuk mengusir penjajah tiada berhenti, dengan mengirim puluhan ribu prajurit dan ratusan perahu serta berton-ton perbekalanuntuk menyerang Belanda di Batavia bahkan menyebabkan matinya Gubernur Jenderal JP Coen, pantaslah kalau Sultan Agung merupakan Raja Besar di Mataram dan mendapat gelar Susuhunan.
Akhir Kekuasaan Sultan Agung
Pada masa pemerintahan Sultan Agung seluruh Jawa sempat tunduk kepada Mataram, kecuali Batavia yang dikuasai VOC. Sultan agung berhasil menjadikan Mataram kerajaan besar yang tidak hanya dibangun dengan pertumpahan darah dan kekerasan, tetapi juga kebudayaan rakyat yang adiluhung.
Sultan Agung memadukan kalender Hijriah yang dipakai di pesisir utara dengan kalender Saka yang masih dipakai di pedalaman. Hasilnya terciptalah kalender Jawa Islam sebagai pemersatu rakyat Mataram. Selain itu Sultan agung juga dikenal sebagai sastrawan dengan menulis naskah berbau mistik yang diberi nama Sastra Gendhing.
Seperti para raja pendahulunya, Sultan Agung disamping tinggal di kota Karta sebagai ibukota kerajaan juga sering berada di kraton Laut Kidul bersama Nyai Ratu Kidul memerintah para jin, setan dan peri perayangan. Sultan Agung berputera dua orang laki-laki yaitu Raden Mas Sayidin yang bergelar Adipati Arya Mataram, yang menikah dengan putri Pangeran Pekik di Surabaya dan Raden Mas Syahwawrat atau Raden Mas Alit yang bergelar Pangeran Danupaya. Saat itu Sultan Agung sakit keras dan sedang ditunggui oleh para kerabat keraton kemudian Kanjeng Sultan berkata kepada Pangeran Purbaya :
“Uwa Purbaya, rasanya saat ini saya sudah waktunya menghadap yang Kuasa. Pesan saya, yang pantas menggantikan kedudukan saya sebagai Sultan di Mataram adalah putra saya tertua Pangeran Adipati Arya Mataram, sementara Pangeran Danupaya biar ikut mulia bersamanya. Tolonglah agar Uwa Purbaya berkenan membimbing cucu, putra saya dan seluruh kerabat semua.”
Kemudian Sultan Agung wafat diiringi hujan tangis kerabat keraton dan Gunung Merapi menggelegar disertai angin ribut dan sindhung riwut serta Laut Selatan pun ombaknya menggelora. Sebelum wafat Sultan Agung sempat membangun Astana Imogiri sebagai pusat pemakaman keluarga raja-raja kesultanan Mataram, yang diawali dengan pemakaman Jenazah Sultan Agung pada tahun 1578. *sumber Babad Tanah Jawi .
Pada saat pisowanan agung yang dihadiri seluruh pejabat kerajaan, Sultan Agung memerintahkan kepada Tumenggung Suratani yang kemudian diangkat menjadi Senopati Manggala Yuda untuk merebut Bang Wetan.
Tumenggung Suratani dengan diiringi pasukan kerajaan berangkat ke Bang Wetan melalui pesisir utara, dan para Bupati pesisir beserta pasukannya ikut bergabung dalam ekspedisi tersebut. Setelah pasukan Suratani meninggalkan kota Mataram, Sultan Agung memerintahkan Ki Jaya Suprana untuk mengawal dari belakang dan kadipaten Pasuruan supaya dilewati saja dulu karena belum tiba waktunya. Sesampai di Winongan Tumenggung Suratani memerintahkan Tumenggung Alap-alap untuk menggempur Lumajang dan Renon. Ketika malam hari pasukan Mataram memasuki kota Lumajang ternyata Bupati Lumajang telah melarikan diri ke arah gunung dan dikejar pasukan Mataram. Banyak pasukan Lumajang yang gugur dan pasukan Mataram menjarah rayah harta benda dan perempuan-perempuan menjadi putri boyongan. Tumenggung Alap-alap lalu menggempur Renon dan menguasai Renon, sementara Bupati Renon lolos dari penyergapan tetapi harta benda rakyat Renon dijarah serta perempuan-perempuannya diangkut sebagai putri boyongan.
Selanjutnya pasukan Mataram menyerbu Malang dihadang Bupati Malang Rangga Tohjaya dengan pasukannya, namun karena melihat musuh begitu besar jumlahnya Rangga Tohjaya melarikan diri dan Malang dikuasai prajurit Mataram.
Pangeran Surabaya yang mendapat laporan bahwa prajurit Mataram menuju Kadipaten Surabaya segera menyiapkan pasukannya. Dikumpulkannya para Bupati Lasem, Gresik, Madura, Pasuruan, Kediri, Tuban dan Lamongan beserta para prajuritnya kemudian mengejar pasukan Mataram.
Ketika pasukan Mataram mengetahui dikejar musuh segera mengatur barisan di sebelah barat sungai Andaka. Pasukan Pangeran Surabaya berada di sebelah timur sungai kemudian para prajurit berteriak-teriak saling ejek dan menantang. Pasukan Mataram tidak tahan dengan tantangan dan ejekan segera terjun ke sungai berniat menyerbu pasukan Surabaya. Sampai di tengah sungai mereka diberondong tombak dan panah dari atas sungai. Banyak prajurit mataram yang tewas dan tenggelam termasuk Tumenggung Suratani. Para prajurit Mataram melihat Senopatinya gugur segera mundur sambil mencari jenazah Suratani. Setelah jenazah diketemukan maka dimasukkan ke dalam bandosa atau peti mati. Waktu itu sungai Andaka airnya berubah merah karena darah pasukan Mataram.
Pada malam hari Pasukan Mataram secara diam-diam menyeberang sungai Andaka dan dilihatnya pasukan Surabaya sedang mabuk kemenangan menjadi kurang waspada sehingga ketika diserbu banyak prajurit Surabaya yang tewas. Sisa-sisa prajurit Surabaya lari kocar-kacir termasuk para Bupatinya, kecuali pimpinan prajurit Madura Raden Panji Pulang Jiwa yang tetap bertahan dan gugur di tengah peperangan. Prajurit Mataram dibawah pimpinan Ki Jaya Suprana kembali ke Mataram sambil membawa jenazah Tumenggung Suratani.'
Menyerang Batavia
Awal abad ke-16 Belanda mendirikan kongsi dagang yang diberi nama VOC. Utusan VOC yang bernama Caspar van Surck menemui Sultan Agung di Mataram. Hasilnya, dibuatlah perjanjian sbb,:
Pertama, Sultan Agung menginginkan Belanda membangun loji di Jepara yang pembangunannay akan dibantu Mataram.
Kedua, Belanda akan memberikan apa saja yang diminta Sultan Agung sebagai mbalannya.
Namun perjanjian itu tidak berjalan mulus karena VOC minta pembangunan loji dipercepat sementara VOC mengingkari perjanjian kedua karena sebagai pedagang tidak mau rugi sehingga terjadilah perselisihan pendapat yang berujung menjadi perang. Berkali-kali Belanda merampok kapal-kapal kerajaan Mataram, namun JP Coen menyangkal bahwa yang merampok itu orang-orang Inggris. Akhirnya bulan Agustus 1618 Sultan Agung memerintahkan Adipati Jepara untuk menyerang loji Belanda di Jepara serta membakarnya. Kemudian Sultan Agung memutuskan untuk menyerang Belanda di Batavia.
Sepuluh tahun kemudian Sultan Agung kembali memerintahkan pasukan Mataram dibawah Tumenggung Bahureksa dan Bupati Kendal menyerang Belanda di Batavia. Tiga bulan kemudian 10.000 pasukan Mataram dibawah pimpinan Pangeran Mandurareja (cucu Ki Juru Martani) menyusul Tumenggung Bahureksa untuk membantu menyerang Belanda. Perang besarpun tak terelakkan, pasukan Mataram hancur karena kurang perbekalan dan adanya pengkhianat bangsa kita yang membantu Belanda dengan imbalan uang sehingga ribuan prajurit gugur dalam pertempuran tersebut. Begitu marahnya Sulatn Agung mendengar kehancuran pasukan Mataram, maka segera mengutus algojo untuk menghukum mati Tumenggung Bahureksa dan Pangeran Mandurareja. Pihak VOC menemukan 744 mayat prajurit Mataram yang berserakan tanpa kepala. Pada tahun berikutnya kembali Sultan Agung menyerang Batavia yang dipimpin oleh Dipati Ukur kemudian disusul Adipati Juminah beserta pasukannya. Keseluruhan prajurit yang diberangkatka sekitar 14.000 orang dengan mendirikan lumbung-lumbung beras di Karawang dan Cirebon, namun pihak VOC berhasil membakarnya berdasarkan laporan para pengkhianat bangsa. Meski dua kali penyerangan terhadap VOC di Batavia gagal, namun tekad untuk mengusir penjajah tiada berhenti, dengan mengirim puluhan ribu prajurit dan ratusan perahu serta berton-ton perbekalanuntuk menyerang Belanda di Batavia bahkan menyebabkan matinya Gubernur Jenderal JP Coen, pantaslah kalau Sultan Agung merupakan Raja Besar di Mataram dan mendapat gelar Susuhunan.
Akhir Kekuasaan Sultan Agung
Pada masa pemerintahan Sultan Agung seluruh Jawa sempat tunduk kepada Mataram, kecuali Batavia yang dikuasai VOC. Sultan agung berhasil menjadikan Mataram kerajaan besar yang tidak hanya dibangun dengan pertumpahan darah dan kekerasan, tetapi juga kebudayaan rakyat yang adiluhung.
Sultan Agung memadukan kalender Hijriah yang dipakai di pesisir utara dengan kalender Saka yang masih dipakai di pedalaman. Hasilnya terciptalah kalender Jawa Islam sebagai pemersatu rakyat Mataram. Selain itu Sultan agung juga dikenal sebagai sastrawan dengan menulis naskah berbau mistik yang diberi nama Sastra Gendhing.
Seperti para raja pendahulunya, Sultan Agung disamping tinggal di kota Karta sebagai ibukota kerajaan juga sering berada di kraton Laut Kidul bersama Nyai Ratu Kidul memerintah para jin, setan dan peri perayangan. Sultan Agung berputera dua orang laki-laki yaitu Raden Mas Sayidin yang bergelar Adipati Arya Mataram, yang menikah dengan putri Pangeran Pekik di Surabaya dan Raden Mas Syahwawrat atau Raden Mas Alit yang bergelar Pangeran Danupaya. Saat itu Sultan Agung sakit keras dan sedang ditunggui oleh para kerabat keraton kemudian Kanjeng Sultan berkata kepada Pangeran Purbaya :
“Uwa Purbaya, rasanya saat ini saya sudah waktunya menghadap yang Kuasa. Pesan saya, yang pantas menggantikan kedudukan saya sebagai Sultan di Mataram adalah putra saya tertua Pangeran Adipati Arya Mataram, sementara Pangeran Danupaya biar ikut mulia bersamanya. Tolonglah agar Uwa Purbaya berkenan membimbing cucu, putra saya dan seluruh kerabat semua.”
Kemudian Sultan Agung wafat diiringi hujan tangis kerabat keraton dan Gunung Merapi menggelegar disertai angin ribut dan sindhung riwut serta Laut Selatan pun ombaknya menggelora. Sebelum wafat Sultan Agung sempat membangun Astana Imogiri sebagai pusat pemakaman keluarga raja-raja kesultanan Mataram, yang diawali dengan pemakaman Jenazah Sultan Agung pada tahun 1578. *sumber Babad Tanah Jawi .
Gembala Punya Cerita: Arjuna Menjadi Batu
Kalau di Minangkabau ada legenda yang terkenal Malin Kundang menjadi batu, maka kali ini dalam cerita wayang ada lakon yang serupa tapi tak sama yaitu Arjuna menjadi batu.
Alkisah dalam sidang kabinet paripurna kerajaan Astina yang tidak beda jauh dengan sidang paripurna di DPR Senayan, banyak pejabat kerajaan yang tertidur lelap. Hanya beberapa pejabat saja yang dengan tekun mengikuti jalannya sidang yang dipimpin Prabu Duryudana. Patih Sengkuni duduk dengan khidmat sambil menundukkan kepala, disampingnya Pendita Durna sibuk menghitung tasbihnya dan Adipati Karna dengan kupingnya yang tajam mendengarkan dengan seksama. Prabu Baladewa Raja Mandura yang juga hadir dalam persidangan itu sesekali memelintir kumisnya sambil mendengarkan Sang Prabu berbicara.
Di deretan belakangnya terlihat Dursasana sebentar-sebentar menguap tanda serangan kantuk telah tiba, dan untuk menahan kantuknya dia memijit-mijit hidungnya sampai merah. Durmagati yang duduk disebelahnya bahkan sempat mendengkur dalam tidurnya dan Citraksi antara merem dan melek sebentar-sebentar menghapus iler nya. Dari seratus Kurawa yang hadir, tidak ada seperempatnya yang mendengarkan pidato Duryudana. Sebagian ngobrol sendiri-sendiri, bahkan ada yang berani bercanda meski suaranya lirih, sebagian lagi kepalanya terangguk-angguk karena kantuk. Soal kehadiran memang lebih disiplin Kurawa dibandingkan sidang di Senayan yang banyak kursi kosongnya.
Di tengah persidangan tiba-tiba dikejutkan dengan datangnya seorang tamu yang tak diundang, yaitu Indrajala utusan Prabu Tegalelana dari kerajaan Buluketiga, bukan Bulukerta-Wonogiri. Indrajala menceritakan keadaan negerinya di Buluketiga yang sedang dilanda kekacauan karena adanya pageblug atau wabah penyakit yang mengerikan, banyak penduduk yang tewas secara misterius. Pagi sakit sore meninggal, sore sakit pagi meninggal, sehingga banyak penduduk yang mengungsi ke negara tetangga atau masuk hutan.
Menurut wangsit dari Dewata, yang bisa menghentikan wabah tersebut apabila ada tumbal ksatria berdarah putih. Oleh Prabu Duryudana diberitahu bahwa ksatria berdarah putih adalah Prabu Puntadewa raja negeri Amarta. Jalan satu-satunya untuk memperolehnya adalah dengan cara menculiknya. Dalam hatinya dia berharap Prabu Pandu menjadi tumbal dan amanlah negara Astina dari tuntutan Pandawa. Mendengar penjelasan itu Indrajala dengan sukacita segera mohon diri untuk menuju Amarta, sementara Prabu Baladewa marah bukan main mendengar penuturan Prabu Duryudana. Meski wilayahnya berdekatan dengan Astina sehingga setiap sidang beliau pasti hadir, namun para Pandawa adalah kerabatnya, apalagi Arjuna merupakan adik iparnya. Prabu Baladewa sambil menahan marah segera melompat dan mengejar Indrajala untuk mencegah jangan sampai ke Amarta dan menculik Prabu Puntadewa.
Patih Sengkuni yang melihat gelagat mencurigakan segera memerintahkan para Kurawa untuk membantu Indrajala melawan Baladewa, dengan secara bisik-bisik: “Kalau ada apa-apa jangan bilang kalau yang menyuruh saya, ya!”
Pertempuran antara Indrajala dan Prabu Baladewa berlangsung seru, namun karena faktor usia Prabu Baladewa agak keteteran dan segera mengeluarkan pusaka andalannya yaitu Nanggala. Para Kurawa yang semula berniat membantu Indrajala begitu melihat pusaka Nanggala segera lari ngibrit saking takutnya, demikian juga Indrajala yang merasa terdesak segera mundur digantikan adiknya Indrajali. Indrajala segera menyelinap dan dengan menggunakan aji panglemunan yang menyebabkan dirinya tidak terlihat, segera lari ke Amarta numpang truk pengangkut semen. Sampai di Amarta sudah tengah malam, dia segera masuk istana dan mencari kamar tidur Prabu Puntadewa. Prabu Puntadewa sedang tertidur pulas namun Dewi Drupadi permaisurinya tidak berada disampingnya, barangkali baru kebelet ke toilet.
Prabu Puntadewa adalah raja yang sakti mandraguna keturunan Dewa, oleh karena itu ketika Indrajala mendekat ke pembaringan segera terpental sehingga kliyengan karena kepalanya terbentur dinding kamar tidur. Mendengar suara benturan itu Prabu Puntadewa terbangun dan dilihatnya Indrajala klejingan sambil cengar-cengir. Indrajala segera mencium kaki Puntadewa dan mohon maaf atas kelancangannya sambil ngrerepa:
“Mohon ampun sang Prabu atas kelancangan hamba, hal ini terpaksa hamba lakukan karena negeri kami Buluketiga sedang terserang wabah penyakit yang ganas hingga banyak rakyat kami yang meninggal karenanya. Menurut petunjuk Dewata yang Agung, hanya Paduka ksatria berdarah putih yang bisa menghentikan peristiwa tersebut.”
Prabu Puntadewa sungguh terkenal sebagai ksatria yang sangat taat akan hukum kasih sehingga karena kasih akan sesama, permintaan Indrajala dipenuhinya dan segera berangkat dini hari itu juga ke Buluketiga tanpa pamit siapapun. Keesokan harinya istana Amarta geger dengan hilangnya Prabu Puntadewa yang tak tentu rimbanya. Semua kerabat kerajaan pating bilulung lari kesana-kemari salang tunjang tak karuan juntrungannya. Di kolong ranjang, di balik pintu, dibalik pepohonan taman bahkan di gudang beraspun dicari tidak ketemu. Untung segera datang Prabu Baladewa yang memberitahu bahwa Prabu Puntadewa diculik Indrajala dibawa untuk tumbal di kerajaan Buluketiga.
Prabu Kresna raja Dwarawati yang juga hadir di situ segera memerintahkan Arjuna untuk memburu Indrajala ke Buluketiga dengan naik pesawat Perkutut Airline. Werkudara dan kerabat yang lain menyusul dengan kereta ekspres Arga Kendeng karena kehabisan tiket pesawat, sementara Gatutkaca terbang di atas Perkutut Airline. Turun dari pesawat Arjuna segera menuju keraton Buluketiga dekat daerah Randublatung. Ketika memasuki hutan jati Arjuna mengoleskan minyak jayeng katong di pelipisnya sehingga bisa melihat makhluk halus termasuk Indrajala yang menggunakan aji panglemunan.
Ketika sampai di bawah pohon jati growong tiba-tiba Arjuna badannya kaku dan berubah menjadi patung batu seperti patung bikinan pengrajin batu warga Srumbung, akibat memasuki area black magic yang dipasang para dukun Buluketiga. Werkudara dan rombongan yang melihat Arjuna menjadi batu meratap sedih bukan main. Atas petunjuk Batara Kresna patung tersebut dilemparkan oleh Werkudara dan jatuh tepat di Taman Keputren Buluketiga. Para putri raja yang sedang bercengkerama di situ terperanjat sekaligus kagum akan keindahan dan ketampanan patung itu. Rombongan Werkudara dilarang memasuki area black magic agar tidak menjadi batu juga dan diminta menunggu di tapal batas.
Prabu Puntadewa oleh Indrajala segera diserahkan kepada Prabu Tegalelana yang segera memerintahkan untuk membawa Puntadewa ke alun-alun. Sesuai wangsit, konon Puntadewa harus disembelih dan darah yang menetes ke bumi akan menghancurkan wabah penyakit tersebut. Ketika Puntadewa diikat di sebuah tonggak dia diam saja, dan seorang algojo segera mengambil pedang samurai untuk menebas lehernya. Tetapi berkali-kali ditebas, samurai itu tidak mempan malah gripis sehingga tumpul. Ganti tombak yang sangat runcing dijojoh ke leher Puntadewa tetapi tombaknya malah bujel. Patih Brajalelana yang tidak tega menyaksikan hal itu secara sembunyi-sembunyi memberikan air kelapa muda untuk diminum Prabu Puntadewa.
Saking jengkelnya nggak mati-mati dan tidak ada darah suci mancur, para prajurit melempari Prabu Puntadewa dengan batu beramai-ramai seperti orang Yahudi merajam Stefanus. Tidak setitikpun luka yang dialami Prabu Puntadewa, namun sesabar-sabarnya orang pasti ada batasnya, demikian juga dengan Prabu Puntadewa yang kemudian menjadi marah manakala dipermainkan sedemikian rupa. Tiba-tiba tubuhnya bergetar hebat dan menjelma menjadi Dewa Amral, raksasa sebesar Gunung Tidar yang sungguh mengerikan sehingga Prabu Tegalelana, Patih Brajalelana, Indrajala, Indrajali dan hulubalang kerajaan lari terbirit-birit saking takutnya. Dengan langkah kakinya yang berdebum seperti gempa bumi Dewa Amral mengejar mereka sampai Indrajala terkencing-kencing dan Indrajali sampai tercebur ke sungai.
Sampai di Taman Keputren Prabu Tegalelana dengan nafas terengah-engah melihat patung batu Arjuna. Segera diambilnya patung itu dan dilemparkan kepada Dewa Amral sekuat tenaga sehingga terjadi benturan yang sangat dahsyat menggelegar seperti gunung meletus, tiba-tiba dari balik kepulan asap tebal Dewa Amral berubah menjadi Puntadewa kembali dan patung batu menjadi Arjuna. Karena marah dan malu dijadikan patung batu yang sering dibuat mainan para putri kerajaan, segera Arjuna memburu Tegalelana sampai perbatasan namun dihadang Werkudara. Ketika tertangkap oleh Werkudara maka diinjak-injaknya Prabu Tegalelana sehingga mecedhel, lidahnya melet-melet dan mati. Indrajala yang mendhelik dibalik pohon ditangkap Gatutkaca kemudian dipithing sehingga lehernya pothel dan kepalanya ngglindhing sambil nyengir seperti glundhung pringis. Indrajali yang megap-megap seperti ikan mas koki kehabisan air dan njerum di sungai langsung diseret Antareja dibawa kepinggir sungai kemudian disembur sehingga mati seketika dengan badan mlonyoh. Maklum soalnya yang nyembur keturunan Antaboga Dewanya para naga yang ludahnya sangat berbisa.
Patih Brajalelana yang ketangkap oleh Antasena langsung pasrah dan sumarah kalau mau dibunuh, namun Antasena justru tidak tega melihat kepasrahan itu. Apalagi konon Patih Brajalelana di TKP tidak terlibat dalam tindak kriminal terhadap Prabu Puntadewa, maka segera dibebaskan dari segala tuduhan dan kemudian dilantik menjadi raja Buluketiga. *sumber pewayangan.
Alkisah dalam sidang kabinet paripurna kerajaan Astina yang tidak beda jauh dengan sidang paripurna di DPR Senayan, banyak pejabat kerajaan yang tertidur lelap. Hanya beberapa pejabat saja yang dengan tekun mengikuti jalannya sidang yang dipimpin Prabu Duryudana. Patih Sengkuni duduk dengan khidmat sambil menundukkan kepala, disampingnya Pendita Durna sibuk menghitung tasbihnya dan Adipati Karna dengan kupingnya yang tajam mendengarkan dengan seksama. Prabu Baladewa Raja Mandura yang juga hadir dalam persidangan itu sesekali memelintir kumisnya sambil mendengarkan Sang Prabu berbicara.
Di deretan belakangnya terlihat Dursasana sebentar-sebentar menguap tanda serangan kantuk telah tiba, dan untuk menahan kantuknya dia memijit-mijit hidungnya sampai merah. Durmagati yang duduk disebelahnya bahkan sempat mendengkur dalam tidurnya dan Citraksi antara merem dan melek sebentar-sebentar menghapus iler nya. Dari seratus Kurawa yang hadir, tidak ada seperempatnya yang mendengarkan pidato Duryudana. Sebagian ngobrol sendiri-sendiri, bahkan ada yang berani bercanda meski suaranya lirih, sebagian lagi kepalanya terangguk-angguk karena kantuk. Soal kehadiran memang lebih disiplin Kurawa dibandingkan sidang di Senayan yang banyak kursi kosongnya.
Di tengah persidangan tiba-tiba dikejutkan dengan datangnya seorang tamu yang tak diundang, yaitu Indrajala utusan Prabu Tegalelana dari kerajaan Buluketiga, bukan Bulukerta-Wonogiri. Indrajala menceritakan keadaan negerinya di Buluketiga yang sedang dilanda kekacauan karena adanya pageblug atau wabah penyakit yang mengerikan, banyak penduduk yang tewas secara misterius. Pagi sakit sore meninggal, sore sakit pagi meninggal, sehingga banyak penduduk yang mengungsi ke negara tetangga atau masuk hutan.
Menurut wangsit dari Dewata, yang bisa menghentikan wabah tersebut apabila ada tumbal ksatria berdarah putih. Oleh Prabu Duryudana diberitahu bahwa ksatria berdarah putih adalah Prabu Puntadewa raja negeri Amarta. Jalan satu-satunya untuk memperolehnya adalah dengan cara menculiknya. Dalam hatinya dia berharap Prabu Pandu menjadi tumbal dan amanlah negara Astina dari tuntutan Pandawa. Mendengar penjelasan itu Indrajala dengan sukacita segera mohon diri untuk menuju Amarta, sementara Prabu Baladewa marah bukan main mendengar penuturan Prabu Duryudana. Meski wilayahnya berdekatan dengan Astina sehingga setiap sidang beliau pasti hadir, namun para Pandawa adalah kerabatnya, apalagi Arjuna merupakan adik iparnya. Prabu Baladewa sambil menahan marah segera melompat dan mengejar Indrajala untuk mencegah jangan sampai ke Amarta dan menculik Prabu Puntadewa.
Patih Sengkuni yang melihat gelagat mencurigakan segera memerintahkan para Kurawa untuk membantu Indrajala melawan Baladewa, dengan secara bisik-bisik: “Kalau ada apa-apa jangan bilang kalau yang menyuruh saya, ya!”
Pertempuran antara Indrajala dan Prabu Baladewa berlangsung seru, namun karena faktor usia Prabu Baladewa agak keteteran dan segera mengeluarkan pusaka andalannya yaitu Nanggala. Para Kurawa yang semula berniat membantu Indrajala begitu melihat pusaka Nanggala segera lari ngibrit saking takutnya, demikian juga Indrajala yang merasa terdesak segera mundur digantikan adiknya Indrajali. Indrajala segera menyelinap dan dengan menggunakan aji panglemunan yang menyebabkan dirinya tidak terlihat, segera lari ke Amarta numpang truk pengangkut semen. Sampai di Amarta sudah tengah malam, dia segera masuk istana dan mencari kamar tidur Prabu Puntadewa. Prabu Puntadewa sedang tertidur pulas namun Dewi Drupadi permaisurinya tidak berada disampingnya, barangkali baru kebelet ke toilet.
Prabu Puntadewa adalah raja yang sakti mandraguna keturunan Dewa, oleh karena itu ketika Indrajala mendekat ke pembaringan segera terpental sehingga kliyengan karena kepalanya terbentur dinding kamar tidur. Mendengar suara benturan itu Prabu Puntadewa terbangun dan dilihatnya Indrajala klejingan sambil cengar-cengir. Indrajala segera mencium kaki Puntadewa dan mohon maaf atas kelancangannya sambil ngrerepa:
“Mohon ampun sang Prabu atas kelancangan hamba, hal ini terpaksa hamba lakukan karena negeri kami Buluketiga sedang terserang wabah penyakit yang ganas hingga banyak rakyat kami yang meninggal karenanya. Menurut petunjuk Dewata yang Agung, hanya Paduka ksatria berdarah putih yang bisa menghentikan peristiwa tersebut.”
Prabu Puntadewa sungguh terkenal sebagai ksatria yang sangat taat akan hukum kasih sehingga karena kasih akan sesama, permintaan Indrajala dipenuhinya dan segera berangkat dini hari itu juga ke Buluketiga tanpa pamit siapapun. Keesokan harinya istana Amarta geger dengan hilangnya Prabu Puntadewa yang tak tentu rimbanya. Semua kerabat kerajaan pating bilulung lari kesana-kemari salang tunjang tak karuan juntrungannya. Di kolong ranjang, di balik pintu, dibalik pepohonan taman bahkan di gudang beraspun dicari tidak ketemu. Untung segera datang Prabu Baladewa yang memberitahu bahwa Prabu Puntadewa diculik Indrajala dibawa untuk tumbal di kerajaan Buluketiga.
Prabu Kresna raja Dwarawati yang juga hadir di situ segera memerintahkan Arjuna untuk memburu Indrajala ke Buluketiga dengan naik pesawat Perkutut Airline. Werkudara dan kerabat yang lain menyusul dengan kereta ekspres Arga Kendeng karena kehabisan tiket pesawat, sementara Gatutkaca terbang di atas Perkutut Airline. Turun dari pesawat Arjuna segera menuju keraton Buluketiga dekat daerah Randublatung. Ketika memasuki hutan jati Arjuna mengoleskan minyak jayeng katong di pelipisnya sehingga bisa melihat makhluk halus termasuk Indrajala yang menggunakan aji panglemunan.
Ketika sampai di bawah pohon jati growong tiba-tiba Arjuna badannya kaku dan berubah menjadi patung batu seperti patung bikinan pengrajin batu warga Srumbung, akibat memasuki area black magic yang dipasang para dukun Buluketiga. Werkudara dan rombongan yang melihat Arjuna menjadi batu meratap sedih bukan main. Atas petunjuk Batara Kresna patung tersebut dilemparkan oleh Werkudara dan jatuh tepat di Taman Keputren Buluketiga. Para putri raja yang sedang bercengkerama di situ terperanjat sekaligus kagum akan keindahan dan ketampanan patung itu. Rombongan Werkudara dilarang memasuki area black magic agar tidak menjadi batu juga dan diminta menunggu di tapal batas.
Prabu Puntadewa oleh Indrajala segera diserahkan kepada Prabu Tegalelana yang segera memerintahkan untuk membawa Puntadewa ke alun-alun. Sesuai wangsit, konon Puntadewa harus disembelih dan darah yang menetes ke bumi akan menghancurkan wabah penyakit tersebut. Ketika Puntadewa diikat di sebuah tonggak dia diam saja, dan seorang algojo segera mengambil pedang samurai untuk menebas lehernya. Tetapi berkali-kali ditebas, samurai itu tidak mempan malah gripis sehingga tumpul. Ganti tombak yang sangat runcing dijojoh ke leher Puntadewa tetapi tombaknya malah bujel. Patih Brajalelana yang tidak tega menyaksikan hal itu secara sembunyi-sembunyi memberikan air kelapa muda untuk diminum Prabu Puntadewa.
Saking jengkelnya nggak mati-mati dan tidak ada darah suci mancur, para prajurit melempari Prabu Puntadewa dengan batu beramai-ramai seperti orang Yahudi merajam Stefanus. Tidak setitikpun luka yang dialami Prabu Puntadewa, namun sesabar-sabarnya orang pasti ada batasnya, demikian juga dengan Prabu Puntadewa yang kemudian menjadi marah manakala dipermainkan sedemikian rupa. Tiba-tiba tubuhnya bergetar hebat dan menjelma menjadi Dewa Amral, raksasa sebesar Gunung Tidar yang sungguh mengerikan sehingga Prabu Tegalelana, Patih Brajalelana, Indrajala, Indrajali dan hulubalang kerajaan lari terbirit-birit saking takutnya. Dengan langkah kakinya yang berdebum seperti gempa bumi Dewa Amral mengejar mereka sampai Indrajala terkencing-kencing dan Indrajali sampai tercebur ke sungai.
Sampai di Taman Keputren Prabu Tegalelana dengan nafas terengah-engah melihat patung batu Arjuna. Segera diambilnya patung itu dan dilemparkan kepada Dewa Amral sekuat tenaga sehingga terjadi benturan yang sangat dahsyat menggelegar seperti gunung meletus, tiba-tiba dari balik kepulan asap tebal Dewa Amral berubah menjadi Puntadewa kembali dan patung batu menjadi Arjuna. Karena marah dan malu dijadikan patung batu yang sering dibuat mainan para putri kerajaan, segera Arjuna memburu Tegalelana sampai perbatasan namun dihadang Werkudara. Ketika tertangkap oleh Werkudara maka diinjak-injaknya Prabu Tegalelana sehingga mecedhel, lidahnya melet-melet dan mati. Indrajala yang mendhelik dibalik pohon ditangkap Gatutkaca kemudian dipithing sehingga lehernya pothel dan kepalanya ngglindhing sambil nyengir seperti glundhung pringis. Indrajali yang megap-megap seperti ikan mas koki kehabisan air dan njerum di sungai langsung diseret Antareja dibawa kepinggir sungai kemudian disembur sehingga mati seketika dengan badan mlonyoh. Maklum soalnya yang nyembur keturunan Antaboga Dewanya para naga yang ludahnya sangat berbisa.
Patih Brajalelana yang ketangkap oleh Antasena langsung pasrah dan sumarah kalau mau dibunuh, namun Antasena justru tidak tega melihat kepasrahan itu. Apalagi konon Patih Brajalelana di TKP tidak terlibat dalam tindak kriminal terhadap Prabu Puntadewa, maka segera dibebaskan dari segala tuduhan dan kemudian dilantik menjadi raja Buluketiga. *sumber pewayangan.
Bahasa Jawa: Urip Bebrayan
Di dalam hidup bermasyarakat orang Jawa mempunyai pedoman yang menjunjung tinggi kebersamaan dalam kekerabatan.
Aja adigang adigung adiguna – jangan menyombongkan kekuatan, kekuasaan, kepandaian
Di dalam hidup bermasyarakat janganlah menyombongkan akan kekuatan, kekuasaan, kekayaan dan kepintaran yang dimilki. Orang harus mengingat adanya pepatah bahwa di atas langit masih ada langit. Kesombongan sering membuat orang lupa diri yang berdampak buruk, baik bagi orang lain maupun dirinya sendiri. Sifat menyombongkan diri akan merugikan diri sendiri, lagipula tidak akan disukai oleh Allah. Untuk membangun kehidupan yang harmonis dalam bermasyarakat, seseorang harus membuang jauh-jauh sifat tersebut.
Aja dumeh – jangan sok
Orang hidup bermasyarakat jangan suka pamer, meremehkan orang lain, menggunakan apa yang dimiliki untuk menekan orang lain. Jangan mentang-mentang kaya, lalu menggunakan kekayaannya itu berperilaku yang kurang baik. Dan jangan mentang-mentang berkuasa berbuat semaunya terhadap orang lain. Kekayaan dan kekuasaan yang dimiliki itu semua sesungguhnya hanya titipan Tuhan, yang artinya segalanya itu bersifat tidak kekal. Kalau suatu saat Tuhan berkenan mengambilnya maka seseorang itu tidak akan mempunyai apa-apa lagi untuk berlaku sok. Menurut adat Jawa, sikap seperti itu sangat tercela dan bisa menyakiti hati orang lain, lebih baik dijauhi saja.
Ana catur mungkur – menghindari pembicaraan yang tidak baik
Berusahalah untuk tidak membicarakan keburukan orang lain karena berakibat kurang baik. Andaikata yang dibicarakan itu tidak benar dan hanya kata orang, bisa mengundang fitnah. Lebih baik membicarakan hal-hal apa saja, tetapi yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Karena iri hati bisa juga menimbulkan pembicaraan yang tidak bermutu karena dari awal sumbernya sudah salah.
Cuplak andheng-andheng – kutil dan tahi lalat
Kutil dan tahi lalat yang tidak pas pada tempatnya sebaiknya dibuang saja. Ini merupakan peringatan kepada kita dalam hal hidup bermasyarakat, segala sesuatu yang tidak baik dan mengganggu harus disingkirkan jauh-jauh. Sikap atau tabiat yang kurang baik, sekecil apapun harus dibuang karena akan mengganggu dalam pergaulan bermasyarakat.
Gotong royong – kerja bersama-sama
Gotong royong yang sudah dilakukan oleh nenek moyang kita sejak dulu kala adalah hal yang sangat baik untuk diteladani. Dengan bekerja secara gotong royong maka semua pekerjaan akan mudah dilaksanakan dan idak merasa berat. Gotong royong merupakan cara yang paling mudah untuk memobilisasi massa sehingga segala persoalan yang rumit dapat dibicarakan bersama dan dipecahkan bersama. Di pedesaan di Jawa gotong royong sangat melekat di hati masyarakat sehingga orang tidak lagi menghitung untung ruginya, semata-mata untuk kebahagiaan bersama.
Menang ora kondhang, kalah malah wirang - menang tidak terkenal, kalah memalukan
Dalam hidup bermasyarakat kita harus dapat menempatkan diri, tidak terlibat dalam masalah menang dan kalah dan hindarkan pertikaian yang tidak perlu. Misalnya orang yang pintar dan luas pengetahuannya berdebat dengan orang bodoh yang minim pengetahuan. Laki-laki gagah perkasa ribut dengan wanita yang lemah, orang kaya ribut dengan orang miskin masalah harta benda dan segala sesuatu yang berlawanan. Semua itu akan menimbulkan ganjalan dalam hidup bermasyarakat.
Mendhema pari kang jero - tanamlah padi yang dalam
Artinya menanam padi yang umurnya panjang, yang menyiratkan menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Bisa juga menggambarkan orang yang dengn tekun bekerja dan hasilnya baik meski imbalannya tak seberapa. Yang penting adalah hasilnya di kemudian hari.
Rukun agawe santosa – rukun menjadi kuat atau kekuatan
Hidup secara rukun akan menimbuahkan ketenteraman, karena jauh dari perselisihan.
Rukun merupakan modal dasar dalam membina keharmonisan rumah tangga, karena sesungguhnya pertikaian akan mengakibatkan keretakan baik dalam persahabatan, apalagi dalam rumah tangga. Meski terjadi perbedaan paham, harus dicari solusinya sehingga kerukunan tetap terjaga.
Saiyeg saeka praya – bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan
Melakukan pekejaan bersama-sama untuk mendapatkan hasi yang diinginkan, misalnya gotong royong membangun jalan lingkungan yang tidak layak untuk dilewati, memperbaiki rumah tetangga yang rusak karena bencana dsb. Semua itu dilakukan dengan sukacita dan tanpa mengharapkan imbalan apapun.
Guyub rukun – perasaan sukarela membentuk kebersamaan
Dengan suka rela menggabungkan diri dalam suatu kegiatan yang positif. Seperti kebiasaan orang punya hajat di kampung, tanpa disuruh para tetangga membantu dengan sukarela. Ada yang membantu di dapur, membantu menghias ruangan, membantu melayani tamu, menyumbang beras, kelapa, ayam dsb. dengan sukarela. Begitu pentingnya arti guyub bagi orang Jawa maka banyak dibentuk Paguyuban tertama dalam bidang sosial.
Sing gedhe ora kena gumedhe, sing cilik ora kena mitik – yang besar tidak boleh sombong, yang kecil jangan seperti ayam
Hidup bermasyarakat haruslah saling menghargai, janganlah yang merasa besar lalu berbuat seenaknya kepada orang kecil. Demikian juga yang merasa kecil jangan juga berbuat semaunya seperti ayam makan dan berak di sembarang tempat. Kalau ayam bisa dimengerti, tetapi kalau orang berbuat seperti ayam itu berarti tidak mengindahkan sopan santun.* dari berbagai sumber. Andreas Hutomo.
Aja adigang adigung adiguna – jangan menyombongkan kekuatan, kekuasaan, kepandaian
Di dalam hidup bermasyarakat janganlah menyombongkan akan kekuatan, kekuasaan, kekayaan dan kepintaran yang dimilki. Orang harus mengingat adanya pepatah bahwa di atas langit masih ada langit. Kesombongan sering membuat orang lupa diri yang berdampak buruk, baik bagi orang lain maupun dirinya sendiri. Sifat menyombongkan diri akan merugikan diri sendiri, lagipula tidak akan disukai oleh Allah. Untuk membangun kehidupan yang harmonis dalam bermasyarakat, seseorang harus membuang jauh-jauh sifat tersebut.
Aja dumeh – jangan sok
Orang hidup bermasyarakat jangan suka pamer, meremehkan orang lain, menggunakan apa yang dimiliki untuk menekan orang lain. Jangan mentang-mentang kaya, lalu menggunakan kekayaannya itu berperilaku yang kurang baik. Dan jangan mentang-mentang berkuasa berbuat semaunya terhadap orang lain. Kekayaan dan kekuasaan yang dimiliki itu semua sesungguhnya hanya titipan Tuhan, yang artinya segalanya itu bersifat tidak kekal. Kalau suatu saat Tuhan berkenan mengambilnya maka seseorang itu tidak akan mempunyai apa-apa lagi untuk berlaku sok. Menurut adat Jawa, sikap seperti itu sangat tercela dan bisa menyakiti hati orang lain, lebih baik dijauhi saja.
Ana catur mungkur – menghindari pembicaraan yang tidak baik
Berusahalah untuk tidak membicarakan keburukan orang lain karena berakibat kurang baik. Andaikata yang dibicarakan itu tidak benar dan hanya kata orang, bisa mengundang fitnah. Lebih baik membicarakan hal-hal apa saja, tetapi yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Karena iri hati bisa juga menimbulkan pembicaraan yang tidak bermutu karena dari awal sumbernya sudah salah.
Cuplak andheng-andheng – kutil dan tahi lalat
Kutil dan tahi lalat yang tidak pas pada tempatnya sebaiknya dibuang saja. Ini merupakan peringatan kepada kita dalam hal hidup bermasyarakat, segala sesuatu yang tidak baik dan mengganggu harus disingkirkan jauh-jauh. Sikap atau tabiat yang kurang baik, sekecil apapun harus dibuang karena akan mengganggu dalam pergaulan bermasyarakat.
Gotong royong – kerja bersama-sama
Gotong royong yang sudah dilakukan oleh nenek moyang kita sejak dulu kala adalah hal yang sangat baik untuk diteladani. Dengan bekerja secara gotong royong maka semua pekerjaan akan mudah dilaksanakan dan idak merasa berat. Gotong royong merupakan cara yang paling mudah untuk memobilisasi massa sehingga segala persoalan yang rumit dapat dibicarakan bersama dan dipecahkan bersama. Di pedesaan di Jawa gotong royong sangat melekat di hati masyarakat sehingga orang tidak lagi menghitung untung ruginya, semata-mata untuk kebahagiaan bersama.
Menang ora kondhang, kalah malah wirang - menang tidak terkenal, kalah memalukan
Dalam hidup bermasyarakat kita harus dapat menempatkan diri, tidak terlibat dalam masalah menang dan kalah dan hindarkan pertikaian yang tidak perlu. Misalnya orang yang pintar dan luas pengetahuannya berdebat dengan orang bodoh yang minim pengetahuan. Laki-laki gagah perkasa ribut dengan wanita yang lemah, orang kaya ribut dengan orang miskin masalah harta benda dan segala sesuatu yang berlawanan. Semua itu akan menimbulkan ganjalan dalam hidup bermasyarakat.
Mendhema pari kang jero - tanamlah padi yang dalam
Artinya menanam padi yang umurnya panjang, yang menyiratkan menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Bisa juga menggambarkan orang yang dengn tekun bekerja dan hasilnya baik meski imbalannya tak seberapa. Yang penting adalah hasilnya di kemudian hari.
Rukun agawe santosa – rukun menjadi kuat atau kekuatan
Hidup secara rukun akan menimbuahkan ketenteraman, karena jauh dari perselisihan.
Rukun merupakan modal dasar dalam membina keharmonisan rumah tangga, karena sesungguhnya pertikaian akan mengakibatkan keretakan baik dalam persahabatan, apalagi dalam rumah tangga. Meski terjadi perbedaan paham, harus dicari solusinya sehingga kerukunan tetap terjaga.
Saiyeg saeka praya – bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan
Melakukan pekejaan bersama-sama untuk mendapatkan hasi yang diinginkan, misalnya gotong royong membangun jalan lingkungan yang tidak layak untuk dilewati, memperbaiki rumah tetangga yang rusak karena bencana dsb. Semua itu dilakukan dengan sukacita dan tanpa mengharapkan imbalan apapun.
Guyub rukun – perasaan sukarela membentuk kebersamaan
Dengan suka rela menggabungkan diri dalam suatu kegiatan yang positif. Seperti kebiasaan orang punya hajat di kampung, tanpa disuruh para tetangga membantu dengan sukarela. Ada yang membantu di dapur, membantu menghias ruangan, membantu melayani tamu, menyumbang beras, kelapa, ayam dsb. dengan sukarela. Begitu pentingnya arti guyub bagi orang Jawa maka banyak dibentuk Paguyuban tertama dalam bidang sosial.
Sing gedhe ora kena gumedhe, sing cilik ora kena mitik – yang besar tidak boleh sombong, yang kecil jangan seperti ayam
Hidup bermasyarakat haruslah saling menghargai, janganlah yang merasa besar lalu berbuat seenaknya kepada orang kecil. Demikian juga yang merasa kecil jangan juga berbuat semaunya seperti ayam makan dan berak di sembarang tempat. Kalau ayam bisa dimengerti, tetapi kalau orang berbuat seperti ayam itu berarti tidak mengindahkan sopan santun.* dari berbagai sumber. Andreas Hutomo.